Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 5 – FINAL)

Tulisan saya yang kelima ini adalah penutup untuk serial post Working-Walking-Talking With Millennials.

Ini adalah tahun ketiga saya mengajar di Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, dan tahun kedua diberikan kepercayaan sebagai dosen pembimbing mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir mereka dalam format jurnal. Semester ganjil 2016 ini, saya membimbing 6 orang, 3 orang mahasiswa dan 3 orang mahasiswi. Masing-masing dari mereka punya interests yang berbeda-beda untuk penyusunan jurnalnya. Dan saya biarkan seperti itu, dari awal mereka menguratakan ide sampai jurnal itu selesai saya mencoba tidak mematikan ide mereka. Jadi tidak pernah keluar dari mulut saya: “Ah, koq nulis tentang ini sih? Mending kamu nulis tentang bla, bla, bla...” Tidak. Saya biarkan mereka menyelesaikan apa yang mereka coba mulai, dengan usaha mereka sendiri, sehingga di tahap akhir nanti, mereka akan merasakan kepuasan luar  bisa, an orgasmic kind of satisfaction 😀

img-20161130-wa0014
(ki-ka atas) Saya, Christopher Verrel, dan Jason Lie (ki-ka bawah) Atika Mianti Malik, Imara Manaf, Khalya Karamina

  • Khalya Karamina (Iklan 2013), menulis tentang how brand tap in with millennials, especially gen Y and gen Z, setelah melihat dan menyadari potensi dari generasi ini baik di masa sekarang dan masa yang akan datang.
  • Imara Manaf (Humas 2013), menulis tentang millennials yang magang di salah satu perusahaan media radio dan publishing besar di Jakarta, menyentuh sisi corporate image, culture, dan values. Tulisan yang dibuat Imara saya khawatirkan dapat menyinggung pihak perusahaan media karena banyak membahas dan membandingkan image perusahaan dari luar dibandingkan dengan kenyataan yang ada di internal perusahaan. Oleh karena itu agar lebih subtle, saya minta Imara untuk memasukkan keyword millennials sebagai sudut pandang dan salah satu pembahasan, yang ikut merasakan bagaimana suasana dan situasi bekerja (magang) di perusahaan media tersebut.
  • Atika Mianti Malik (Iklan 2013), menulis tentang kegiatan social marketing yang dilakukan oleh dokter gigi Ferdiriva Hamzah, yang banyak menggunakan twitter untuk personal branding dan showcasing his expertise, sekaligus menjalin conversation dan membuat engagement dengan followers-nya, juga berdampak ke film Catatan Dodol Calon Dokter, yang beliau buat bersama Raditya Dika dari novel karangannya sendiri.
  • Christopher Verrel (Iklan 2013), mengulas tentang Hotel Marriott, sebuah legacy hotel yang berusaha mengajak millennials untuk merasakan feel dan atmosfer selama menginap di hotel mewah tersebut lewat teknologi virtual reality, dalam studi kasus Travel Briliantly #GetTeleported

  • Jason Lie (Iklan 2013), mengulas hal yang agak unik. Yaitu bagaimana mall Central Park melibatkan penggila permainan berbasis virtual reality dan geo-tagging, yaitu Pokemon Go, dengan menyediakan poke-stop, poke-gym dan hal-hal lainnya untuk menunjang kepuasan bermain di dalam area mall (mostly outdoor), yang seolah-olah menjadikan mall Central Park sebagai ‘rumah’ untuk penggila dan komunitas penggemar permainan Pokemon Go. Sayangnya, Jason belum berhasil mewawancarai pihak PR mall tentang aktivitas yang dapat digolongkan sebagai IMC (integrated marketing communication) ini sampai jurnalnya saya nyatakan lolos. Namun saya perlu appreciate effort-nya untuk menghubungi dan sesekali hang out dengan komunitas penggemar Pokemon Go (Pkmn-ID) untuk mandapatkan informasi dan data-data yang dibutuhkan.
The one and only, Putra Timur Djarot
The one and only, Putra Timur Djarot

 

  • Putra Timur Djarot. Anak muda yang suka musik ini dari awal bertemu dengan saya sudah mengutarakan minatnya untuk menulis tentang indie music, social media marketing, millennials, dan AISAS (Awareness, Interest, Search, Action, Share). Dan tentu saja saya tidak bisa berkata tidak, karena passion Timur ada di dunia musik, tentunya saya harus push dia untuk menyusun jurnal tentang sesuatu yang ia sukai, dan menyelesaikannya tepat waktu. Tepat waktu. Bisa tepat waktu? Tidak, molor sampai H-1 menjelang deadline day 🙂

Menyusun jurnal untuk mahasiswa S1 ini pada awalnya saya pikir seperti saya dulu membuat jurnal dari thesis saya, untuk dipublikasikan. Namun lebih sederhana, seperti menulis review tentang sesuatu. Misalnya, anda mengunjungi sebuah restoran untuk menghabiskan saat istimewa bersama keluarga. Anda diminta untuk menceritakan pengalaman anda dari awal anda mencari informasi tentang apapun di restoran itu di internet (lokasi, menu, harga, suasana, hingga review dan testimoni pelanggan-pelanggan sebelumnya) dan melakukan reservasi, pertama kali masuk ke restoran, bertemu dengan waiter, mengkonfirmasikan reservasi anda, diantar oleh waiter ke meja anda, memesan makanan, merasakan kenyamanan restoran yang sudah di-setting sedemikian rupa dari musik yang mengalun, ornamen, lighting, dan sebagainya, hingga saat memesan makanan dan minuman sambil merasakan keramahan dan kecekatan waiter tadi. Anda diminta mengingat berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga semua pesanan anda dihantarkan ke meja anda, mengecap rasa masakan hingga sampai makanan yang disajikan habis, membayar tagihan, hingga sampai waiter mengucapkan selamat jalan dan semoga datang kembali ke restoran tersebut.

Review dari pengalaman tersebut anda pergunakan dalam penulisan jurnal, tentu saja dengan mengindahkan kaidah ilmiah. Jadi, jurnal bukanlah karya ilmiah yang anda susun sendiri dari pengalaman anda, dengan kata-kata anda sendiri, namun anda susun berdasarkan jurnal-jurnal yang sudah ditulis orang lain dengan topik serupa. Anda pilih salah satu dari jurnal ilmiah yang sudah anda temukan sebagai dasar penulisan jurnal anda, yang kurang lebih mengandung kata-kata kunci yang anda pakai dalam jurnal. Tak lupa juga buku-buku atau literatur-literatur yang dapat memperkuat penulisan jurnal anda.

Saya berlakukan hal ini ke semua mahasiswa/i bimbingan saya, dimana masing-masing dari mereka harus mencari minimal 10 jurnal ilmiah dari dalam dan luar negeri yang sesuai dengan topik yang hendak mereka susun. Dari 10 jurnal ilmiah tersebut, saya minta mereka pilih 1 jurnal ilmiah yang paling relevan sebagai dasar penulisan jurnal.

Dan tugas saya sebagai dosen pembimbing untuk semester ganjil 2016 ini sudah selesai. Hari Senin, 9 Januari 2016 jurnal Putra Timur Djarot, mahasiswa terakhir yang menyelesaikan revisi jurnal-nya, saya nyatakan lolos. Dan lewat e-mail penutup, saya minta masing-masing dari mereka mem-publish jurnal-nya ke academia.edu dengan tujuan agar lebih banyak orang yang bisa menemukan dan melihat karya mereka. Dan e-mail saya di-screen captured, lalu di-posting di Instagram, dengan caption seperti dibawah ini:

Screen captured, then posted.
Screen captured, then posted…

 

I must say this semester has gave me such an incredible journey. Knowing them, how they used social media platforms for whatever reasons, learning how they mingle and communicate with their peers,  and especially knowing myself better. Thank you!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s