Java Jazz Festival 2014. Apa Bedanya dari Tahun Lalu?

Well, perhelatan Java Jazz Festival yang ke-10 ini adalah Java Jazz yang ke-9 buat saya. Artinya, saya tidak pernah absen nonton event rangkaian konser jazz yang digelar sejak tahun 2006. Sejak tahun-tahun awal saya bekerja di Jakarta, Java Jazz saya yang pertama tentunya masih ada di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan-Jaksel. Terus menerus demikian sampai tahun 2009, event dipindah ke JI Expo – Kemayoran. Yak, pindah ke arena Pekan Raya Jakarta – PRJ, demikian lebih gampang dikenal orang.

Salah satu capture di Java Jazz 2013
Salah satu scene di Java Jazz 2013

Saya ingat saat perhelatan Java Jazz Festival yang terakhir di JCC, tempat demikian sesak oleh orang, dan tentunya panas. Kurang nyaman. Saya ingat batal nonton Rene Olstead saat itu, gara-gara sudah tidak bisa masuk lagi di alah satu hall. Namun sebelum itu, buat saya, pengalaman pertama nonton Java Jazz yang paling saya ingat. Kenapa? Karena saat itu, saya masih menjadi karyawan di masa-masa awal meniti karir, masih sebagai management trainee, berani beli tiket Java Jazz yang buat anak perantauan seperti saya lumayan mahal, Rp 350.000,- kalau tidak salah saat itu, tahun 2006. Namun semua itu terbayar, karena saya, penggemar Jazz yang berasal dari kota Malang, Jawa Timur, bisa menyaksikan langsung Incognito, Al MacKay All Stars aka Earth Wind and Fire Experience, dan masih banyak lagi secara langsung. Saya sempat ternganga-nganga saat itu. Tidak percaya saya menonton Bluey cs (Incognito, dengan lead vocalist-nya Maysa Leak saat itu).

Well, ini tahun ke-9 saya nonton. Dan tahun ketiga saya nonton secara gratis. Koq bisa? Bisa dong!

Karena perusahaan tempat saya bekerja sekarang menjadi salah satu sponsor event jazz tahunan terbesar di Indonesia, dan bahkan di Asia ini selama 3 tahun berturut-turut. Well, it’s a brand or marketing stuffs. Don’t ask whether or not the sponsor got the profit from this marketing effort. Nothing to compare 🙂

Continue reading