Belajar Category Management – bagian 1

Well, sudah lama saya tidak menulis tentang trade marketing dan shopper marketing seperti ini.Terakhir saya menulis tentang hal tersebut di bulan Februari 2012. Tulisannya bisa dilihat disini. Trade marketing dan shopper marketing adalah dua hal yang saya pelajari sebelum saya belajar lebih jauh tentang internet marketing, dunia yang saya geluti sekarang.

It was and it still very interesting…

Trade atau kegiatan perdagangan dilihat secara berbeda, bukan hanya dari berapa banyak yang dihasilkan, tapi apa yang bisa kita lakukan di perdagangan tersebut agar bukan hanya produk sebagai komoditas saja yang tampil, namun juga menampilkan merek atau brand kita. Kegiatan trade marketing disini bisa berupa kegiatan branding. Branding dilakukan di dalam atau luar area store/outlet. Kalau didalam, bisa lewat lantai toko, sekitar kasir, rak-shelving, hanging banner, island freezer, dan bahkan seragam SPG sekalipun. Branding diluar toko atau outlet pasti akan mendapatkan awareness yang lebih besar, dan pasti biaya yang lebih besar (advertising dan termasuk didalamnya pajak). Pihak retailer (HO jika merupakan chain store) akan happy dengan kegiatan branding dari supplier ini. Pertama karena beberapa bagian tokonya lebih cantik dan berwarna, yang kedua karena supplier yang pasang branding akan membayar sewa space.

Double happiness…

4bafe452afcbdbc4e778dac132760fbd_alfamart-next-g-pasar-minggu
Alfamart Pasar Minggu

Sebenarnya ini adalah hubungan yang saling menguntungkan. Pihak retailer happy karena tokonya dipercantik dan menerima uang sewa, pihak supplier juga happy karena brand-nya lebih terlihat dengan kegiatan branding ini, ditambah jika di dekat lokasi branding di outlet tersedia produk yang ditawarkan (dijual). Akan ada convertion rate disitu, atau tingkat konversi dari calon konsumen yang melihat branding tersebut, tertarik, lalu berniat membeli secara impulsif. Secara singkat ada keterkaitan antara kegiatan branding, brand awareness, konsumen via ‘prinsip purba’ AIDA (attention, interest, desire, action), pricing (including special price on promotion scheme), product availability and placement, dan sales! Yes, sales… Kenapa harus keluar banyak effort dan biaya di outlet kalau tidak menghasilkan sales? Benar demikian? That’s a simple understanding of trade marketing.

Lalu (menurut saya), ada lagi disiplin ilmu shopper marketing.

Supplier dan retailer sudah bekerjasama dengan demikian rupa untuk mempercantik toko. Bukan hanya 1 toko, tapi ribuan toko. Supermarket, minimarket, dan bahkan hypermarket dihiasi hasil kegiatan branding supplier. Tujuannya, meningkatkan traffic konsumen ke toko, dari sisi retailer, dan meningkatkan awareness sekaligus sales (kalau bisa branding sekaligus create extra space), dari sisi supplier. Konsumen-lah yang sekarang menjadi objek. Karena masing-masing toko tersebut berebut perhatian konsumen untuk datang dan belanja di tempatnya. Akhirnya, toko akan melakukan segala macam cara untuk meningkatkan daya saingnya dibanding toko lain, atau toko lain dari account yang berbeda 🙂

Salah satunya, dengan meningkatkan kenyamanan pelanggan/konsumen yang datang ke toko untuk :

1. Menemukan produk yang ia cari dengan mudah. Antara lain dengan :

a. Menata rak sedemikian rupa (posisi rak, lebar antar rak-lorong, tinggi antar shelf, eye leveling, dsb) agar konsumen yang belanja bisa dengan segera menemukan produk yang ia cari.

b. Membagi produk berdasarkan kategori dan sub kategori untuk ditata sedemikian rupa di rak-rak atau divisi yang tujuannya mempermudah konsumen ber-navigasi didalam toko (manajemen kategori).

c. Membuat signage-signage besar diatas rak, untuk membantu menemukan lorong-rak yang ia cari dengan segera (untuk supermarket/hypermarket)

2. Memberikan added value untuk pelanggan, antara lain dengan memberikan penawaran harga yang lebih murah saat masa promosi (dengan menggunakan trading term budget atau on top budget, budget ‘siluman’ diluar budget trading term-perjanjian jual beli selama satu tahun antara supplier dan retailer yang diambil dari budget marketing si supplier), gimmick untuk setiap pembelian (lagi-lagi dari suppliers), dan lain-lain.

3. Setting harga bersaing dalam situasi normal (non-promo) dibandingkan dengan toko lain yang sekelas, yang ada dalam satu area. Biasanya masing-masing toko melakukan com-check (competitor check), suatu kegiatan melihat harga suat produk yang sama-sama dijual oleh 2 toko atau lebih. Ada kegiatan com-check yang terang-terangan (misalnya antara Giant-Carrefour-Hari Hari Bintaro yang kebetulan saling berdekatan), atau secara sembunyi-sembunyi (resiko kena sanksi/denda/hukuman jika ‘agen rahasia’ yang checking harga tertangkap basah).

4. Jaminan kualitas produk yang dijual, biasanya berlaku untuk produk fresh/perishable (produk segar, mudah rusak, tanggal expired dekat). Toko berusaha berkomitmen untuk menjaga kepuasan konsumen dengan menyiapkan kantong plastik untuk memisahkan produk segar (buah-sayur) yang sudah tidak layak konsumsi.

Beberapa chain store (bekerjasama dengan lembaga – perusahaan riset) bahkan menginstall eye tracking device – atau alat untuk tracking mata konsumen bila berbelanja biasanya melihat ke bagian atau arah mana saja didalam toko. Mengamati kebiasaan mereka dalam ber-navigasi di dalam lorong-lorong toko, pada saat berbelok dengan mendorong trolley matanya melihat ke arah/bagian dari rak yang mana saja. Usaha ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan konsumen dalam berbelanja, sehingga mereka (retailer) bisa setting tokonya agar senyaman mungkin untuk konsumen berbelanja. Stay longer due to some comfortness usually means shop for more 😉

Jadi secara singkat, shopper marketing adalah usaha yang semakin mengerucut dari kegiatan sales dan marketing yang dilakukan di toko, yang bertujuan untuk memanjakan konsumen yang berbelanja di toko tersebut, salah satunya dengan memberikan convenience (kenyamanan). Ada sedikit wawancara kecil dengan seorang teman yang sudah terbiasa belanja di Carrefour MT. Haryono-Jaksel. Dulu ia tinggal di sekitar Tebet-Jaksel, kini setelah pindah ke Cibubur ia dan keluarganya tetap belanja di toko tersebut. Alasannya : “Gue nyaman belanja disini, udah terbiasa. kalau anak-anak gue lari-larian gue nyarinya juga gampang. Udah hafal lorong-lorong disini” Well, for me, to that store, it’s some kind of achievement. Kenyamanan bisa menjadi daya tarik toko, kenyamanan menjual.

IMG04707-20111208-1558
Food Hall Grand Indonesia

Nah, itu tadi sedikit review tentang shopper marketing dan trade marketing yang  diceritakan dalam bahasa saya sendiri, hasil pengalaman dan pengamatan beberapa tahun terakhir. Tulisan diatas adalah pengantar untuk bahasan Category Management yang akan ditulis menjadi beberapa bagian. Mulai dari tulisan ini. So, let’s start it!

Category management yang sempat disebut di bahasan diatas dapat diartikan sebagai  mengelompokkan (grouping) produk-produk yang dijual, dimana masing-masing group produk yang ditentukan mememenuhi kebutuhan yang sejenis.

Jadi bisa dibayangkan jika suatu supermarket tidak punya manajemen kategori yang jelas. Semua produk ditata di rak, tanpa pengelompokan, asal ditata saja. Susu ditata berdekatan dengan semir sepatu, telur ditata disamping rak alat tulis, dan snack ditata berdampingan dengan air aki. Akibatnya? Pelanggan atau konsumen yang belanja di toko tersebut akan bingung mencari produk yang ia cari. Ketidaknyamanan ini akan berujung pada keengganan pelanggan untuk belanja lagi di toko tersebut lebih diutamakan karena lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencari produk atau merek yang ia cari. Bingung.

Tata letak produk ditoko diawali dari pengelompokan produk. Awalnya, produk-produk yang disediakan akan dibagi menjadi dua bagian, food dan non food. Biasanya, setelah pintu masuk pelanggan akan menemui produk-produk non-food, berlanjut menemui produk food, dan produk fresh dibagian paling ujung. Biasanya produk fresh diletakkan diujung, untuk menjaga kesegaran-nya. Misalnya : produk-produk beku (frozen-dairy frozen-perishable).

Bersambung ke Belajar Category Management – bagian 2 (segera)

 

 

 

Advertisements

Menyimpan files di Google Drive

Saya ingat dulu, sekitar tahun 2002-an, terheran-heran saat seorang teman membawa flash disk 128 MB, dengan digantungkan di lehernya. Heran karena saat itu, saya masih simpan file-file saya di floppy disk. Yup, floppy disk! Benda berbentuk persegi empat dengan packaging luar plastik dengan space untuk menulis identitas disket /apa isi disket, dan kepingan plastik super tipis didalamnya yang sangat rapuh. Tersentuh bisa berarti tergores, dan tidak dapat dibaca oleh komputer.

Old days floppy disks
Old days floppy disks

Saya hidup di jaman dimana belajar komputer dengan DOS, Lotus 123, Basica, dan program-program lain yang saya lupa entah apa namanya, menyimpan file di floppy disk hitam (ada juga yang warna-warni) yang kira-kira 5-6 kali pakai sudah rusak karena tergores atau apa. File hilang… Saya dulu menyebutnya ‘komputer jangkrik’ Layar cembung 14 inch monochrome, CPU kotak horizontal segede gaban, dan keyboard. Belum ada mouse ya… 😀

Komputer jangkrik
Komputer jangkrik

Saat itu, sekitar tahun 1993-1994, CPU (central processing unit) hanya bisa dipakai untuk operating, belum menyimpan data-data. Programnya ada di disket-disket yang kita masukkan. Sempat merasa cukup canggih saat itu, setelah bisa dan tahu cara copy file dari disk satu ke disk lainnya dalam satu CPU. Disket masuk, lalu kita kaitkan penguncinya sampai kencang. Klik!

Masukkan dan kunci. Klik!
Masukkan dan kunci. Klik!

Continue reading

Pinterest. Yuk main Pinterest…

Pinterest.

“Itu artinya ‘yang paling pinter’ celetuk seorang teman 😀

Saat itu tahun 2010, dua tahun yang lalu. Saat saya dengar social media platform bernama Pinterest. Saat itu, adalah @aaprat teman saya yang sudah sign up dulu ke Pinterest, namun masih menunggu approval dari admin Pinterest, mungkin saat itu masih versi closed beta jadi masih belum welcome untuk new user. Dan ajaibnya, malah saya yang dapat approval terlebih dahulu, dia malah saya invite. Yes, me! A Pinterest approved user back then, and only users can invite/add. When its’ still limited. 

Mungkin sekarang Pinterest sudah terbuka. Lebih mudah buat socmed enthusiast  untuk punya akun Pinterest. Buat saya, Pinterest itu cool dan (bisa jadi) addictive. Karena scrolling sampai kapanpun juga ga ada habisnya, apalagi kalau kita follow board-board buatan user lain, atau pin-pin buatan user lain.

Tunggu… Board? Pin? Pinterest? Repin? Maksudnya apa tuh?

Okay, ini review saya tentang Pinterest.

Pinterest_3

Ingat jaman dulu kita punya papan untuk menempel artikel atau kliping (potongan artikel di koran/tabloid/majalah) atau foto atau apapun? Prinsip dasarnya adalah seperti itu. Jadi, secara virtual, kita punya papan-papan untuk tempel-tempel gambar yang kita mau, sekaligus tiap papan berfungsi untuk mengelompokkan foto-foto, artikel-artikel, atau apapun yang kita mau.

Gambar dapat dari mana? Masuk ke stream utamanya saja. Dari awal buka akun Pinterest, sudah banyak foto-foto dengan link bertebaran, entah itu hasil Repin (reposting dalam bahasa Pinterest) ataupun posting artikel, foto dengan link atau foto sendiri.

Continue reading

Catatan Liverpool Football Club Tour 2013 – Jakarta, Indonesia

SU-GBK 20 Juli 2013. Merah!
SU-GBK 20 Juli 2013. Merah!

Bukan. Ini bukan foto supporter-fans timnas merah putih yang sedang berlaga di SU-GBK (Stadion Utama – Gelora Bung Karno), yang selalu all out memberikan yang terbaik buat bangsa Indonesia. Ini adalah supporter – fans Livepool FC yang datang berduyun-duyun ke SU-GBK untuk mendukung team kebanggaannya. Melihat penampilan Steven Gerrard dkk untuk pertama kalinya di Jakarta-Indonesia. Menyanyi tanpa henti selama 90 menit (bahkan lebih, terhitung 2 jam sebelum laga dimulai, fans LFC sudah mulai menyanyikan chant-chant kebanggaan mereka, hingga pertandingan berakhir juga masih terdengar chant-chant tersebut dinyanyikan). Menyalakan pyro (flammable stuffs), flares dan smoke bombs. Mengibarkan scarf mereka manakala lagu-lagu dan chant-chant kebesaran LFC dinyanyikan. Menangis terharu…

Itu saya.

Itu apa yang saya lakukan dan alami bersama-sama dengan fans LFC lainnya, yang tergabung di sektor 9-11 SU-GBK dalam nama Big Reds (Bold indonesian Group of Liverpool Supporters), official fans club di Indonesia yang diakui oleh LFC sendiri. Kami menyebut diri kami Kopites, atau Wools. Bukan Liverpudlians dimana dulu nama ini adalah nama sebutan untuk fans LFC.

Bukan. Liverpudlians adalah sebutan untuk warga kota Liverpool-Inggris, tidak peduli ia fans Liverpool FC ataukah ia fans Everton FC. Klub bola yang stadion-nya, Goodison Park yang hanya sepelemparan batu saja dari Anfield Stadium, stadion kebanggaan LFC. Sama-sama tim dari tepi sungai Mersey. Hanya beda di prestasi 😉

Kopites? Ini adalah sebutan untuk kami, fans LFC secara global. Atau Wools, sebutan untuk fans LFC yang tinggal diluar kota Liverpool. Dan Liverpudlians yang seorang Kopite, akan menyebut-memanggil kami, fans Liverpool dari Indonesia ini dengan sebutan demikian. Yes, we are Indonesian Kopites. We’re Wools. Some proud and loyal Liverpool FC fans!

Bulan Juli adalah bulan yang istimewa buat Kopites Indonesia. Selain bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, juga diramaikan dengan kedatangan team kesayangan, hampir seluruh crew, termasuk Ian Ayre (Managing Director LFC). Ini berarti, selain melakukan laga persahabatan, ada perjalanan bisnis juga. Perjalanan panjang ini dimulai dari tanggal 17 Juli 2013 di Bandara Halim Perdanakusumah, tanggal dimana team LFC menjejakkan kakinya untuk pertama kali di Indonesia hingga tanggal 21 Juli 2013, saat mereka bertolak meninggalkan Bandara Halim Perdanakusumah untuk melanjutkan tour ke Melbourne, Australia. Namun tanggal yang kami, Kopites, ingat adalah saat mereka berlaga di depan mata kami semua di SU-GBK. Saat yang mungkin bakal  kami ingat seumur hidup kami, karena mungkin beberapa dari kami (termasuk saya), tidak akan bisa melihat mereka berlaga lagi di Indonesia, maupun melihat mereka berlaga di Anfield Stadium secara langsung. Karena alasan finansial atau umur yang tidak panjang….

Continue reading