Sudut Pandang Saya Tentang 7Eleven

Enam tahun yang lalu, saya pernah mengunggah tulisan tentang convenience store ini Β (bisa dibaca disini). Saat itu, tentunya 7Eleven masih ada pada puncak kejayaannya. Masih ramai jadi tempat tongkrongan anak-anak muda selama seharian, sehingga muncul kelompok-kelompok anak muda yang berbasis outlet 7Eleven. Masih ingat nggak sih dengan sapaan: “Anak Sevel mana lo?” Dan bahkan, saya dan istri pun ikut dalam euforia convenience store ini selama beberapa waktu. Beli Slurpee yang dicampur hingga punya gradasi warna-warni cantik (saat diaduk langsung berubah warna menjadi cokelat ala Coca Cola), Big Bite rasa blackpepper dengan limpahan saus keju, chili, mustard, dengan cacahan tomat dan mentimun segar, Big Gulp ukuran paling besar, hingga seremeh beli Cheetos sebungkus lalu melumurinya dengan saus keju melimpah, dan mengambil sumpit yang disediakan secara gratis!

Itu mungkin pengalaman menyenangkan saya dengan 7Eleven di masa jayanya. I’ve been there, we’ve been a part of the (hi)story. Β Dan saya pun masih ingat, beberapa ahli komunikasi memuji-muji konsep convenience store ini setinggi langit. Sebuah convenience store yang bukan hanya tempat belanja, namun juga tempat berkumpul, berkomunitas hingga melahirkan identitas ‘anak Sevel mana’. A food store destination!

Salah satu outlet 7Eleven-Jalan Prof. Dr Satrio (sumber: koleksi pribadi)

Continue reading

Advertisements