April, Bulan untuk Homecoming (Bagian 2-Malang Trip Day 1)

Ada beberapa alasan kenapa saya memutuskan untuk menempuh 834 kilometer dari Bekasi ke Malang diluar moment Natal dan Tahun Baru. Alasan yang paling kuat adalah saya rindu rumah. Dan percaya atau tidak, the spirit and the feeling of going home thrust me forward! Seperti punya energi melimpah saat tangan memegang stir dan kaki kanan menginjak pedal gas 🙂

The Kiddos-Adelia, Dirta, Deryl

Ini adalah foto yang saya ambil pertama kali, pagi-pagi di hari kedua di kota Malang, keponakan-keponakan saya dan jajanan favoritnya masing-masing. Jadi, saya sudah ada di kota kelahiran saya. Mau kemana kita hari ini? Museum Angkut! Tempat dimana kita bisa berekreasi sekaligus belajar tentang sejarah moda transportasi dari jaman purba hingga yang paling mutakhir, dari sepeda, gerobak hingga pesawat jet!

Museum Angkut-Batu (Lantai 1)

Dan benar saja, mata mereka berbinar-binar saat saya bilang kalau hari ini mau ke Museum Angkut, yang terletak di kota Batu. Tempat wisata ini masih satu group dengan Jatim Park, (IMHO) salah satu lokasi wisata terbaik di Indonesia. Kami berangkat dari Malang pukul 10.00 WIB, setelah mengetahui kalau Museum angkut dibuka pukul 11.00 WIB saat long weekend. Dan tarif regular weekend yang semula Rp80.000,- melonjak menjadi Rp100.000,-/orang. Dapat dimengerti sebenarnya, karena di saat long weekend mereka harus mempekerjakan lebih banyak personel untuk mengelola pengunjung yang pasti melonjak tajam. That’s what I have in mind.

Continue reading

Advertisements

April, Bulan untuk Homecoming (Bagian 1-Road Trip)

Saya baru sadar kalau menyetir adalah hobi 🙂

Itu kenapa mungkin menyetir jarak jauh jadi sangat menyenangkan (meskipun pastinya juga melelahkan), karena sama halnya seperti hidup. Sekali kita sampai di tujuan, kita akan merasa puas. Puas karena apa yang kita inginkan tercapai. Puas juga, karena sepanjang perjalanan menuju tujuan tersebut, kita melihat dan mengalami banyak hal. Karena itu, jika kita hanya fokus ke tujuan saja, tanpa bisa menikmati ‘pemandangan di kiri kanan jalan’, kita akan melewatkan banyak hal, dan bahkan melewatkan makna perjalanan itu sendiri.

Bulan April ini terhitung sudah ada dua perjalanan luar kota yang saya lakukan. Yang pertama, ‘birthday trip‘ ke Semarang dan Ambarawa, yang ceritanya bisa dibaca disini. Yang kedua adalah ‘homecoming trip’ ke kota kelahiran saya, di Jawa Timur. Lalu apa saja pemandangan di ‘kanan kiri jalan’ yang bisa dinikmati dan bisa diceritakan?

Here we go, let the story begin!

Kemacetan cukup panjang di Tol Cikampek, pukul 20.52 WIB

Kamis, 28 April 2017 pukul 20.34 WIB saya mulai perjalanan setelah menjemput istri pulang kerja dan mengisi BBM di Rest Area Tol Cikampek KM 19. KM kendaraan saya saat itu: 138965. Ini adalah kali pertama saya lakukan perjalanan jauh tanpa istirahat dahulu seperti biasanya. Saya biasa tidur 5-6 jam dahulu sepulang kerja, sebelum memulai perjalanan pukul 01.00 atau pukul 02.00 WIB. Dan sudah bisa ditebak, stamina pasti tidak akan sebagus kalau saya ‘menabung’ tidur sebelumnya.  Saya sudah mencatatkan istirahat pertama di Rest Area KM 57 Tol Cikampek selama 30 menit , dan kemudian istirahat kedua di Rest Area KM 137 Tol Cipali, untuk kembali tidur selama 30 menit setelah makan malam.

Padahal kalau menyempatkan diri istirahat (tidur dahulu), saya baru ambil waktu istirahat agak panjang di Rest Area Palikanci, atau di SPBU-SPBU setelah exit Brebes.

Continue reading

Cerita Semarang Trip 2017 (Bagian 3-Ambarawa Trip)

Yuk, lanjut lagi Ambarawa Trip-nya!

Setelah mengunjungi Danau Rawa Pening (bisa dibaca di tulisan sebelumnya), tujuan selanjutnya adalah Museum Kereta Api Ambarawa, yang letaknya cukup dekat dengan Danau Rawa Pening tadi. Tiket masuk dipatok Rp 20.000,00/pengunjung. Dan namanya juga museum kereta api, begitu masuk ke area museum kita akan menemui infografis tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia, dari jaman Belanda hingga kini dibangun MRT dan LRT di Jakarta, di sepanjang dinding sebelah kanan, dan deretan lokomotif tua berwarna hitam berukuran besar di sebelah kiri.

Museum Kereta Api Ambarawa
Museum Kereta Api Ambarawa
Museum Kereta Api Ambarawa

Continue reading

Cerita Semarang Trip 2017 (Bagian 2-Ambarawa Trip)

Cerita saya selama trip ke Kota Semarang di hari pertama bisa dibaca disini.

Tanggal 1 April 2017, saya terbangun pukul 01.45 WIB. Yup, saya melewatkan lagi moment dimana umur saya berkurang 1 tahun lagi, seperti yang sudah-sudah. 37 tahun boss! 3 tahun lagi akan masuk usia 40 tahun, where people say that life begins at 40! Hahaha! Baiklah, saya melewatkan lagi moment pergantian usia, namun saya tidak mau kehilangan moment lari pagi pertama di usia saya yang baru! Hup!

Water Polder Tawang-kolam air raksasa seberang Stasiun Semarang Tawang

Setelah bangun dan bersiap-siap, saya meninggalkan hotel tepat pukul 05.30 WIB, menuju kawasan Kota Lama Semarang. Well, sebenarnya saya sudah Google-ing lokasi jogging pagi yang enak. Komplek kampus Undip Tembalang dan beberapa spot lari favorit lain di kota Semarang sempat jadi pilihan. Namun sepertinya, ide lari pagi di Water Polder Tawang ini sangat menarik!

Water Polder Tawang dan Stasiun Tawang dari kejauhan

Sesampai di lokasi, dan setelah melakukan beberapa gerakan pemanasan, saya mulai berlari. Nampak di sekeliling kolam air masih ada ‘sisa-sisa kehidupan malam’, antara lain: tukang angkringan yang tengah membereskan gerobak dagangannya, beberapa orang yang masih lelap tertidur di beberapa bangku di sekitar lokasi, dan beberapa ‘pemandangan menarik’ lainnya. Satu putaran di water polder ini kira-kira berjarak 450m, hampir sama dengan 1 putaran lapangan atletik standar. Jadi lumayan, saya dapat 5,16 km (dari hasil tracking Endomondo apps saya) dari 11 lebih putaran. Cukup sepertinya membakar kalori yang kemarin saya timbun hasil makan malam di Warung Seafood Pak Sangklak 🙂

Continue reading

Cerita Semarang Trip 2017 (Bagian 1)

Kota Semarang, pesonanya membuat saya ingin kembali lagi dan lagi. Tapi tenang saja, kota ini tidak akan mampu menggeser posisi Kota Malang di hati saya. Kalau ditanya orang, “Mas dari kota mana?”, Saya pasti jawab, “Saya dari Malang”. Namun,  Kota Semarang berhasil menyodok ke peringkat ke-2, mengalahkan Kota Bekasi tempat saya tinggal sekarang ini dan Kota Bogor, yang hawanya mirip dengan kota kelahiran saya. Oh iya, Kota Bogor juga akan menjadi kota dimana saya akan menghabiskan banyak waktu dalam 3-4 tahun kedepan, mengingat saya berencana mengambil studi S3 di Sekolah Bisnis-IPB. Tahun ini 🙂

Warung Bu Fat, Jalan Ariloka-Kerobokan

Dan sudah dua tahun ini saya bolak-balik ke Semarang di hari ulang tahun saya, tepat di tanggal 1 April. Saya memutuskan, kalau saya berulang tahun, saya akan merayakannya di kota ini, dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Cerita sedikit pengalaman tahun lalu, tepat tanggal 1 April 2016, saya dan istri melaju dari Bekasi pukul 03.55 WIB dan sampai di Semarang pukul 12.00 WIB hanya untuk menikmati lezatnya masakan Warung Selera Bu Fat, Mangut Kepala Ikan Manyung. Ikan Manyung adalah sejenis ikan laut, yang sering pula kita sebut ikan jambal. Kita sering mengkonsumsinya dalam bentuk olahan ikan asin jambal roti. Namun di warung ini, kepala ikan dan daging ikan berukuran sedang-besar ini dimasak pedas dengan santan, setelah sebelumnya diolah dengan cara diasap. Sehingga menimbulkan aroma yang sangat khas. Duh, saya ngiler pengen makan Mangut Kelapa Manyung lagi!

Mangut Kepala Manyung a la Bu Fat

Continue reading