Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 5 – FINAL)

Tulisan saya yang kelima ini adalah penutup untuk serial post Working-Walking-Talking With Millennials.

Ini adalah tahun ketiga saya mengajar di Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, dan tahun kedua diberikan kepercayaan sebagai dosen pembimbing mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir mereka dalam format jurnal. Semester ganjil 2016 ini, saya membimbing 6 orang, 3 orang mahasiswa dan 3 orang mahasiswi. Masing-masing dari mereka punya interests yang berbeda-beda untuk penyusunan jurnalnya. Dan saya biarkan seperti itu, dari awal mereka menguratakan ide sampai jurnal itu selesai saya mencoba tidak mematikan ide mereka. Jadi tidak pernah keluar dari mulut saya: “Ah, koq nulis tentang ini sih? Mending kamu nulis tentang bla, bla, bla...” Tidak. Saya biarkan mereka menyelesaikan apa yang mereka coba mulai, dengan usaha mereka sendiri, sehingga di tahap akhir nanti, mereka akan merasakan kepuasan luar  bisa, an orgasmic kind of satisfaction 😀

img-20161130-wa0014
(ki-ka atas) Saya, Christopher Verrel, dan Jason Lie (ki-ka bawah) Atika Mianti Malik, Imara Manaf, Khalya Karamina

Continue reading

Advertisements

Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 4- How Brand Can Tap In)

Tulisan saya sebelumnya tentang Working-Walking-Talking with Millennials dapat dilihat di link berikut ini:

  • Working-Walking-Talking with Millennials Bagian 1
  • Working-Walking-Talking with Millennials Bagian 2
  • Working-Walking-Talking with Millennials Bagian 3

 

Brand. Company. Millennials. 

Kita sudah lihat potensi yang ada di generasi muda kita, generasi Y dan generasi Z yang bisa memanfaatkan dan memaksimalkan jaringan internet untuk bermacam-macam tujuan. Diantaranya; menunjukkan expertise yang sudah mereka punyai sejak usia muda, berinteraksi dengan sesama anak muda dan jejaringnya, mencari peluang untuk magang (internship), bekerja paruh waktu (part-time), dan juga peluang untuk mendapatkan pekerjaan penuh waktu (full time), dimana mereka sudah mengambil ancang-ancang untuk membangun karirnya sebagai pekerja profesional, entah berlabuh di legacy company atau membangun start up company dengan sejawatnya.

Dari sisi perusahaan yang melihat future employee-nya ini harus juga berani menggeser paradigma. Bahwa bukan selamanya kekuatan tawar menawar ada di tangan HRD, seperti jaman saya melamar pekerjaan, yaitu mengikuti serangkaian test, dimana kekuatan tawar-menawar ada pada perusahaan. Orang-orang HR jaman dulu saya lihat sangat kuat (baca: menakutkan) dalam menentukan calon pekerja ini layak bergabung ke perusahaannya atau tidak. Simply by using singular tools. Mulai dari wawancara user dan HR, psikotest, test kesehatan, dan sebagainya. Felt just want to beg them to give me a good job, back then.

millennials_1
Sumber : http://www.iamagazine.com

Continue reading

Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 2-Different Treatment)

(tulisan sebelumnya, Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 1) bisa dilihat disini).

 

Jika saya ditanya, tiga kata apa yang pertama terlintas di benak saya saat mendengar kata millennials: confidence, (easily got) distracted, dan (want to be treated) different(ly). Yang pertama, mereka punya rasa percaya diri akan potensi masing-masing. Karena yang saya lihat mereka sudah mulai tahu kekuatan mereka dimana, minat mereka di apa, dan bagaimana memaksimalkan potensi tersebut. Bagusnya adalah mereka tidak memaksakan diri untuk melakukan apa yang mereka rasa tidak terlalu mereka kuasai. Kalau misalnya mereka bagus di public speaking, mereka tidak perlu memaksa diri untuk bagus juga di creative design atau hal-hal lainnya, misalnya: coding. Sebenarnya mereka cukup fokus untuk meningkatkan level keahlian mereka di (misalnya) public speaking dengan mengembangkan kemampuan creative and critical thinking, dan hal-hal lain yang menunjang.

Yang kedua, generasi yang juga dikenal dengan sebutan ‘langgas’ ini juga sangat mudah ter-distracted, fokus perhatiannya mudah teralih. Hal yang paling mudah mengambil alih perhatian mereka adalah notifikasi dari smartphone mereka, entah dari nada dering atau getaran yang muncul ditengah-tengah sesi kuliah, atau saat mereka sedang asyik ngobrol dengan teman-teman mereka. Bisa jadi mereka langsung melupakan topik bahasan seru dengan teman-teman satu geng-nya, manakala notifikasi chat/obrolan ‘Hi!’ dari orang terdekat (entah pacar, gebetan, atau bahkan mungkin mantan pacar) terbaca di layar smartphone mereka. Reaksi bisa bermacam-macam. Langsung gembira (umumnya), yang ditandai dengan senyum tipis di ujung bibir untuk menyembunyikan instant excitement yang muncul dari teman-temannya, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan berdasar ingin tahu, atau ‘kepo’ 😀

guru-ikhlas
Guru Ikhlas-KH. Maimoen Zubair

 

The thing is, as a lecturer or teacher, the challenge is keeping their focus on what we’re sharing. Tidak dengan menaikkan intonasi atau volume suara kita, bukan saja karena ini kurang baik (apalagi jika di naiknya volume dan intonasi suara kita terbaca rasa kesal atau emosi karena perhatian terpecah). Kalau kata KH. Maimoen Zubair, “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.” Nah kan 🙂

Continue reading

Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 1-Getting Close With Them)

Saya ketik keyword ‘millennials adalah’ di google.com dan hal pertama yang keluar adalah pengertian ini :

Millennials adalah mereka yang kelahirannya antara tahun 1981-1994 (beberapa yang lain menyebut hingga sebelum tahun 2000). Mereka juga adalah orang-orang dengan usia produktif sekaligus konsumen yang mendominasi pasar saat ini.”

Dan ada banyak sekali sumber yang menyatakan pembabakan generasi yang berbeda-beda, namun mengacu pada Brotheim, 2014, secara umum pembabakan generasi yang menggambarkan keadaan dalam dunia kerja Amerika Serikat saat ini adalah Veterans (lahir diantara tahun 1922 dan 1945), Baby Boomers (lahir diantara tahun 1946 dan 1964), Generation X (lahir diantara tahun 1965 dan 1979), dan Generation Y (lahir diantara 1980 dan 2000).

Saya lahir di tahun 1980, so I guess I’m more or less one of them 🙂 Saya termasuk dalam generasi langgas 😉

20160926_161040_pano

 

Tahun ini saya masih dipercaya untuk mengajar mata kuliah Pemasaran Digital di Komunikasi-FISIP Universitas Indonesia. Semester ganjil tahun 2016 ini sedikit berbeda dengan semester sebelumnya, bedanya adalah yang saya ajar bukan hanya dari konsentrasi Periklanan, namun juga mahasiswa/i dari Hubungan Masyarakat, Jurnalistik, dan juga Kajian Media. Artinya, saya akan dapat point of view lebih banyak tahun ini. Bukan hanya dari mereka yang memilih penjurusan di periklanan, namun juga dari konsentrasi  ilmu yang lain. I was so excited about how I will got myself inspired by them!

Continue reading