Open Mindedness dalam Perubahan Digital (bagian 2)

So this writing is continuing what I’ve wrote like a year a go. Let’s have it!

Saya pernah menulis sebuah blog tentang keterbukaan pemikiran dalam perubahan digital beberapa waktu yang lalu. Yang saya rasa masih relevan dengan yang terjadi sekarang, yaitu betapa disruption (jika di-Bahasa Indonesia-kan jadi bermakna negatif, yaitu mengganggu) dari start up companies sungguh dekat dengan kita. Baik kita sebagai konsumen, sebagai pengelola merek, maupun sebagai pengelola operasional sebuah perusahaan. Memang ‘gangguan’ yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan muda ini sangat mengganggu. A disruptive disruption, don”t you agree? 

Namun di lain sisi, perubahan dan gangguan inilah yang diinginkan sebagian besar konsumen kita, yang notabene adalah generasi yang lebih muda. Generasi yang saling terhubung satu sama lain lewat teknologi, yang terekspos (ingin tahu-mencari dan mendapatkan) informasi dengan sangat mudahnya, mereka yang ingin mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan dengan cepat (bukan instant). Yang akhirnya mendorong dunia lama di sekitar mereka untuk berubah. Secara drastis.

Kenyataan yang membuat mereka (atau bahkan sebagian dari kita) kalang kabut dan terkaget-kaget. Kemarin masih ngobrolin tentang hal Á’ di strategic meeting, dan bersiap untuk meluncurkan campaign A. Lalu keesokan harinya-tidak lama berselang, konsumen tersebut sudah meramaikan hal ‘B’ dengan peer-nya. Sehingga campaign yang sudah dipersiapkan dalam waktu yang lama sudah obsolete.

Pihak yang terkaget-kaget itu pasti yang sudah lamban dalam melihat perubahan jaman, cenderung melihat dan terkaget-kaget, kemudian bingung mau melakukan apa. Dan mereka yang sudah terbiasa dengan pace yang cepat dalam bisnis, akan cenderung pasang mata dan telinga lebar-lebar, menangkap apa yang sedang menjadi  kecenderungan saat ini sebagai sebuah peluang. Kecenderungan tersebut biasanya berawal dari sebuah permasalahan, yang lalu dicarikan solusinya. Dan solusi itu adalah ide bernilai jutaan US$. Mari kita coba tengok GO-JEK, yang berangkat dari permasalahan:

  • tukang ojek pangkalan yang suka mainkan tarif sesuka hati (apalagi saat jalanan macet), belum lagi pelayannya yang suka seadanya
  • repotnya mencari ojek saat dibutuhkan sementara sedang berada di dalam rumah, di dalam perumahan
  • susahnya memastikan lokasi ojek yang kita pesan (untuk mengantarkan orang terdekat misalnya), sudah sampai tujuan atau belum.
  • susahnya mencari taksi, dengan tarif tinggi dan pelayanan yang kadang kurang bagus
  • repotnya mengirimkan paket, sementara sedang tidak bisa keluar rumah ke TIKI JNE, J&T dan express delivery service yang lain.

Continue reading

Advertisements