Social Currency. Apa itu ‘social currency’?

Saat sedang mencari inspirasi di sudut warung kopi, tidak sengaja saya menyimak perbincangan beberapa anak muda. Satu laki-laki dan dua lagi wanita, masih belia. Dari yang saya perhatikan, si anak muda laki-laki ini (sebut saja James) cukup mendominasi perbincangan. Ada saja yang diperbincangkan dengan dua teman wanitanya ini (sebut saja Desy dan Indah).

James : “Eh, tahu nggak sih, jadi nyesel pake lensa kamera yang ini (sambil menunjukkan kamera DSLR-nya dan lensa yang dipakai), foto-foto kita tadi siang jadinya malah agak blurry gitu”
Desy : “Eh, sayang dooong…”
Indah : ” Iya, sayang banget, padahal kalo keren-keren pingin aku jadiin avatar aku di twitter”
Desy : “Eh, avatar lo udah keren lagi. Mata lo bagus banget di foto itu. Ngapain juga diganti?”

(beberapa saat kemudian, waitress mengantarkan pesanan makanan minuman mereka)

James : “Eh, lucu nih, piring-cup-botol botol saus ini. Lighting-nya lagi bagus, gue foto terus upload ke instagram ama path ahh..” Eh, lu follow @jamieoliver gak sih? Foodporn-nya keren!

Indah : “Udah, gw suka banget Jamie Oliver… Omagah! Ganteng banget, jago masak lagi! Seksiiiii….!”

Itu tadi penggalan percakapan dari tiga anak muda di warung kopi kemarin sore, si James punya banyak bahan obrolan untuk meramaikan acara ngopi bareng mereka.

Continue reading

Tips Campina #1 : Tips Memilih Es Krim

To ice cream lovers, here’s something you should know ๐Ÿ™‚

mycampinaicecream

Es krim..

Creamy, enak, susu, memanjakan, bersama, santai bersama keluarga, segar, cokelat, vanilla, strawberry, dingin, mood, lembut, beku, manis..

Mungkin itu tadi beberapa kata yang diasosiasikan atau kata-kata yang muncul di benak kita saat mendengar/membaca kata โ€˜es krimโ€™ Sebagian besar pasti menyenangkanโ€ฆ Karena es krim sesuatu yang โ€˜lovableโ€™ Sesuatu yang menyenangkan, membuat kita yang membayangkannya saja sudah merasa senang. Apalagi saat menikmati es krim bersama orang-orang terdekat untuk berbagi keceriaan. Sehingga kalau berbicara tentang es krim, seolah tidak ada habisnya. Setuju?

View original post 2,251 more words

Konsumen Kelas Menengah Indonesia dan Konsumerisme

Starbucks Tumblers, at Starbucks Kota Kasablanka

Starbucks Coffee…

Saya rasa di Jakarta, brand warung kopi ini jadi salah satu brand yang paling familiar. Tempat mereka ngopi, nongkrong, meeting, istirahat sejenak setelah belanja dengan segambreng tentengan mereka, nge-charge smartphone, komputer tablet, bahkan komputer canggih mereka.

Sudah disadari, bahwa menghabiskan kopi dan snacks sambil duduk-duduk manis (atau biasanya disebut ngopi-ngopi centil) di gerai Starbucks bisa menciptakan image keren. Mungkin yang sudah biasa ngopi disana merasa biasa saja, ya ini sama saja dengan ngopi di warung-warung kopi lainnya. Biasa? Minuman ukuran sedang Rp 37.000,- itu biasa? Wow!

Mungkin seseorang akan merasa keren saat memesan kopi ke salah satu barista, saat menyebutkan pesanannya. “Satu iced hazelnut latte extra shot grande!” Kemudian perbincangan dilanjutkan dengan “Mbak, BCA ada promo apa? Upsize doang? Okay, kalau gitu upsize ke venti aja deh” ๐Ÿ™‚ Selanjutnya setelah mengambil minumannya, ia akan menuju meja racik di dekat pick up point. Menambahkan simple syrup, chocolate powder, cinnamon powder, mengaduknya lalu mencicipi minumannya yang customized” Sluurp! Duduk di salah satu sofa, membuka komputer tabletnya lalu entah melakukan apa dengan gadget-nya itu. Oh ya, satu lagi… Sebelum duduk, ia akan mencari spot sofa/kursi dengan colokan listrik. Udah tahu kira-kira buat apa’an kan? ๐Ÿ˜‰

That’s what usually happen at Starbucks ๐Ÿ™‚

Continue reading