SEAMLESS (Payments E-commerce Retail) Jakarta, 10-11 Oktober 2017 (Day 1)

Kata ‘seamless‘ saya gambarkan sebagai tidak adanya jahitan/keliman di celana atau kemeja kita,  karena itu tidak akan terasa apabila diraba. Mulus! Kata seamless dewasa ini dekat sekali dengan frictionless, alias tanpa gesekan, apabila kita bicara konteks omni-channel, atau istilah kerennya O2O-offline to online. Frictionless dan seamless juga saya bayangkan sebagai pengalaman yang dirasakan oleh seorang konsumen yang merasakan tidak adanya perbedaan saat belanja di online, mengembalikan atau tukar barang yang tidak ia inginkan di toko offline suatu brand. Atau serangkaian pengalaman lain yang ia rasakan saat berinteraksi dengan brand tersebut dalam konteks membeli. Retailer brand yang sering menggaungkan omni-channel ini antara lain: MatahariMall.com, Sephora, dan Alfacart (dulu). Satu level lebih rendah adalah multi-channel. Ini terjadi saat brand yang sudah mengelola toko offline membuka online channel, namun masih beda divisi-belum terintegrasi. Akibatnya, konsumen masih merasakan beda saat berinteraksi dengan retailer brand tersebut. Ia mengalami friction saat hendak menukarkan produk yang ia beli di internet (entah lewat online channel resmi brand atau lewat lapak e-commerce lain) di toko-toko brand tersebut. “Kita beda divisi, bu. Mohon maaf ibu tidak bisa menukarkan produk tersebut di toko, coba hubungi customer care kami saja” ujar seorang perwakilan brand di toko tersebut.

Padahal apa bedanya? Ibu tersebut sudah memilih brand tersebut diatas brand yang lain. Namun saat ia mencoba mendapatkan pelayanan ekstra, ia merasa berbicara dengan brand yang lain. Ini yang idealnya jadi perbedaan yang paling  mencolok antara omni-channel dan multi-channel. Terletak di seamlessness dan frictionless-nya.

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 1)

Dan tema ini yang dibawa oleh TERAPINN, event organizer yang menjalankan seminar e-commerce bertajuk SEAMLESS Payments-E-commerce-Retail di Pullman Hotel Jakarta, 10-11 Oktober yang lalu. Jadi seminar ini dibagi menjadi beberapa track besar;

  • PAYMENT (tentang P2P Payment, Mobile Money, Fraud & Security, Blockchain & Cryptocurrency, Cross Border & Remitance, Regulation, B2B Payment, dan inovasi di bidang financial technology lainnya).
  • E-COMMERCE (tentang Business Model & Trend, Data & Analytics, Discovery & Customer Journey, Disruptive Startups and Brands, Digital Marketing Trend, Cross Border E-commerce, UI & UX Design, Warehousing & Logistics).
  • RETAIL (tentang Merchandising & Pricing, Retail Strategy: Local vs Global, Inventory Management, Smart Malls, Click and Collect, O2O, Designing The Future Store, Human Capital, dan Proximity Retail).

Continue reading

Advertisements

(Kalau Bisa) Pilih Boss-mu, Pekerjaanmu, dan Rancang Karirmu Sendiri

“It such a luxury, bro!”

Itu kata teman saya, begitu tahu kalau saya diberikan ijin oleh perusahaan tempat saya bekerja untuk mengajar di salah satu universitas terbaik di Indonesia, di jam kerja. Mengingat rekan saya ini harus mendapatkan ijin dari regional director-nya saat menerima undangan sebagai dosen tamu di kelas Digital Marketing saya. Dan ada teman satu lagi berkata, “Udah, gak usah pindah kemana-mana lah. Jarang banget ada company yang ngasih luxury seperti ini. Stay aja bro!” 🙂

Mahasiswa, dosen tamu, dan saya (belakang) di kelas Digital Marketing saya (29 September 2017)

Deskripsi diatas menunjukkan kalau ruang untuk bertumbuh dan berkembang sungguh diberikan oleh perusahaan ini kepada saya, salah satu karyawannya. Dari satu sisi saya lihat hal ini sebagai retensi, or simply call it a ‘perk’, sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan gaji, bonus, atau apapun dalam rupiah. Dari sisi saya sebagai karyawan, previlege ini jadi vehicle buat karyawan untuk selalu up date dengan informasi, trend, perkembangan di di dunia digital yang saling berkejar-kejaran antara ilmu dan perkembangan teknologi. Sehingga kita bisa berkontribusi lebih besar dan meaningful ke perusahaan tempat kita bekerja, bisa berkontribusi di bidang yang kita kuasai dengan baik, yang tidak dikuasai oleh banyak orang, for being unique to stay ahead of the game.

Continue reading

Digital Marketing dari Sudut Pandang Pekerja Industri Consumer Goods

Digital marketing kalau dilihat dari sudut pandang orang advertising agency akan sangat berbeda fokusnya dibandingkan sudut pandang orang FMCG (fast moving consumer goods), pun demikian juga sudut pandang tentang digital marketing dari sisi brand management-marketing communication, akan berbeda juga dengan sudut pandang orang sales and distribution. Fokus dari orang agency akan lebih cenderung ke impression, reach, dan engagement atas konten yang disebar. Fokus ini tidak jauh beda dengan fokus orang brand dan marcomm, bagaimana konten yang dibuat dengan sedemikian rupa dapat dilihat sebanyak mungkin audience dari targetting yang sudah disusun, yang pada akhirnya akan mengarah ke engagement dan sales leads tentunya. Setting target ini sangat bervariasi, tergantung tujuan dari campaign itu sendiri.

Sumber: http://www.facebook.com

Apakah tujuan digital campaign hanya sebatas impression saja? Tentu tidak. Misalnya sebuah brand mengeluarkan produk baru, dan brand tersebut ingin produk barunya dikenal oleh masyarakat luas dengan cepat. Dengan demikian, setting target audience dapat dibuat lebih longgar dari sisi usia, gender, tempat tinggal, dan interest-nya. Namun jika tujuannya lebih ke sales leads creation, targeting dapat dibuat lebih ketat.

Continue reading

Antara Branding, PR, dan Marcomm di Ulang Tahun Ke-13 Majalah MIXMarcomm

Ketiga hal diatas saat ini sangat dekat dengan saya. Menjadi dunia yang sedang saya pelajari dan geluti saat ini. Dan terima kasih karena keberadaan internet dan khususnys sosial media saya jadi bisa tahu lebih banyak, belajar lebih banyak tentang ketiga hal ini; (personal) branding-public relation-marketing communication.

Lebih tepatnya kebanyakan saya pelajari sendiri, sehingga terkadang dulu saya jadi bertanya-tanya apakah apa yang saya lakukan ini sudah tepat atau belum? Sudah sesuai kaidah yang ada dan berlaku atau belum? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Intinya, saya harus yakin bahwa aktivitas-aktivitas  yang saya lakukan tersebut sudah tepat atau belum. Salah satu hal yang saya lakukan adalah mengajukan diri ke divisi Human Resource (HR) di perusahaan tempat saya bekerja, untuk melakukan gap analysis (mulai berat nih ngomongnya) tentang apa-apa saja yang saya dan team sudah kuasai dan apa yang belum. Dari gap analysis tersebut, kami bersama-sama bisa menentukan program-program pelatihan dan lokakarya apa saja yang perlu dilakukan untuk mengisi gap yang ada. Dan akhirnya, setelah melewati dua hari pelatihan dan lokakarya, belajar dari pakar dan ahli di bidang ini, saya semakin yakin bahwa apa yang saya lakukan sudah berada di jalur yang benar. Ini terjadi di tahun 2016 yang lalu.

PR & Writing Skill Training & Worshop, Mei 2016
PR & Writing Skill Training & Worshop, 27-28 Mei 2016

Dan hari Rabu, 26 Februari 2017 yang lalu, saya kembali mendapat kesempatan untuk belajar lagi tentang ilmu personal branding-public relation-marketing communication ini lewat event ulang tahun majalah MIXMarcomm yang ke-13, salah satu majalah favorit saya, di Ballroom Gedung Pusat Indosat Ooredoo, Jl. Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat.

Continue reading

Kolaborasi ‘E-commerce Powered Consumer Goods Company’ dengan E-hailing Company

Di tulisan-tulisan sebelumnya, saya pernah menulis berseri tentang manfaat yang bisa didapatkan oleh FMCG company maupun F&B businesses yang belum siap (atau belum mampu) beriklan di media ATL (above the line), dan juga menyediakan layanan pesan antar yang didukung oleh dedicated delivery man. Tulisan saya tersebut bisa dibaca disini dan disini.

Layanan e-hailing yang kini banyak bermunculan di kota Jakarta khususnya dan kota-kota besar lainnya di Indonesia memberikan kemudahan yang luar biasa untuk penjual, khususnya di sisi media komunikasi (promosi), logistik (delivery), dan juga word of mouth (earned media) dalam bentuk review dan testimoni yang dengan kesadaran sendiri diberikan oleh si pengguna layanan (konsumen).

Tahun 2017 adalah tahun ketiga, perusahaan tempat saya bekerja, Campina Ice Cream bekerja sama dengan e-hailing company GO-JEK. Ada dua (kalau boleh dibilang) layanan dari GO-JEK ini, yaitu: GO-FOOD (yang nanti akan segera migrasi ke GO-MART) dan yang terbaru GO-POINTS.

Suasana Launching & Media Gathering GO-POINTS
Suasana Launching-Media & Partner Gathering GO-POINTS, 8 Februari 2017 di Hook Cafe & Resto

Continue reading

Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 5 – FINAL)

Tulisan saya yang kelima ini adalah penutup untuk serial post Working-Walking-Talking With Millennials.

Ini adalah tahun ketiga saya mengajar di Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, dan tahun kedua diberikan kepercayaan sebagai dosen pembimbing mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir mereka dalam format jurnal. Semester ganjil 2016 ini, saya membimbing 6 orang, 3 orang mahasiswa dan 3 orang mahasiswi. Masing-masing dari mereka punya interests yang berbeda-beda untuk penyusunan jurnalnya. Dan saya biarkan seperti itu, dari awal mereka menguratakan ide sampai jurnal itu selesai saya mencoba tidak mematikan ide mereka. Jadi tidak pernah keluar dari mulut saya: “Ah, koq nulis tentang ini sih? Mending kamu nulis tentang bla, bla, bla...” Tidak. Saya biarkan mereka menyelesaikan apa yang mereka coba mulai, dengan usaha mereka sendiri, sehingga di tahap akhir nanti, mereka akan merasakan kepuasan luar  bisa, an orgasmic kind of satisfaction 😀

img-20161130-wa0014
(ki-ka atas) Saya, Christopher Verrel, dan Jason Lie (ki-ka bawah) Atika Mianti Malik, Imara Manaf, Khalya Karamina

Continue reading

Digital Marketing And Social Media Conference 2016 (A Late Review-Bagian 2)

Anda bisa membaca postingan saya sebelumnya tentang review DMSMC 2016 bagian 1 disini.

Setelah sesi Pak Anthony Liem, saya berkesempatan mendengarkan presentasi dari Profesor Richardus Eko Indrajit setelah sesi makan siang. Sesi yang sangat berat untuk seorang presenter yang tampil setelah sesi istirahat ini, tak lain karena kantuk yang pasti menyerang dengan agresif setelah menyantap hidangan dari Hotel Ritz Carlton siang itu. Namun yang saya khawatirkan tidak terjadi, malah selama kurang lebih 90 menit sesi presentasi Prof Eko  semua seminar participant fokus dengan materi beliau, yang dibawakan dengan sangat passionate, dibumbui dengan celetukan-celetukan jenaka yang cerdas.

Profesor R. Eko Indrajit
Profesor R. Eko Indrajit

No wonder. Beliau adalah seorang profesor, yang kadar keilmuannya mungkin tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan sekali lagi apa yang saya lihat mematahkan persepsi dan pandangan saya akan seorang profesor. Maklum, sebagian profesor yang saya temui semasa studi S2 saya punya karakter yang sangat spesifik sehingga bisa saya jadikan suatu hal yang stereotip; killer/galak, full of judgmental, angkuh, memandang anak-anak didiknya sebagai anak-anak kecil yang baru belajar baca, dan terkadang semaunya sendiri. Namun profesor yang satu ini sungguh berbeda.

Continue reading