Cerita Field Marketing (part 1)

Bagaimana bisa sampai disini?

Well, sejak tahun 2005, pertama kali bergabung di perusahaan consumer goods ini, sudah diplot sebagai team leader SPG. Saya bilang dalam hati saat pertama handle mereka : “What the hell am I supposed to do with this women, this young girls? ” Karena boro2 tahu bagaimana untuk handle team SPG, kenal bagaimana hendle wanita dengan baik saja saat itu masih belum tahu benar… 😉

Coverage? Jabodetabek saja bos…
Udah apal Jakarta? Jadi kalau visit market ke toko-toko mereka, bisa langsung tahu posisi tiap tokonya dimana?
Boro2…. Dulu masih suka dipanggil Dora. Well, karena teman sekantor suka geli karena saya dulu suka bawa dan baca peta Jakarta 🙂

Jadi mulailah meraba Jakarta. Dari Buaran, sampai ke Kemayoran, lanjut Sunter, lalu jadi tahu Kelapa Gading dan Cempaka Putih. Besok coba ke Bekasi, lanjut Cikarang hingga hampir sampai Cikarang. On motorcycle,mostly sendiri…

Tahu area Cibubur, Cimanggis, lalu Depok, pulang lewat Kampus UI Depok, lanjut Pasar Minggu (di area ini, hampir selalu diguyur hujan), tapi sampai Pasar Mingu, pasti kering kerontang dan panas. Di sore hari….

Itu salah satu bagian terseru hidup sendirian di Jakarta, berusaha mencari makan sendiri. Pertama kali hidup lepas dari orang tua. But life’s good. In fact, he treat me so good. Somehow…

Well, itu keseruan hidup saat pertama hijrah (baca : merantau) di Jakarta.

Back to topic, Field Marketing, atau lebih lumrah disebut sebagai SPG..

Sebenarnya, dari pertama lihat dan betemu dengan mereka, banyak dari mereka, para wanita muda tersebut yang punya potensi dan leadership yang luar biasa. Dan tugas yang paling crucial dari manajemen SPG tiap perusahaan adalah mengeluarkan potensi itu dari dalam diri mereka, keluar dari comfort zone mereka, menantang mereka untuk punya tujuan kerja yang lebih dari sekedar achieve target tiap bulannya. Dan pada saat itu, 2005, kami semua melihat mereka sebagai hal yang ‘kalau ada ya syukur, kalau ga ada ya gapapa juga’ 😦

Gampangnya, rindu omzet dari mereka, tapi benci biaya yang harus dikeluarkan untuk menggaji mereka.

Ya, begitulah…

Saya off menjadi PIC yang handle SPG ini dari tahun 2006 akhir, hingga handle kembali untuk Field Marketing Management tahun 2009. Tahun dimana saya handle team sales, bukan hanya team SPG saja.

Dan percaya tidak, per-SPG-an saat tidak saya handle,saya rasa mengalami kemunduran. Karena banyak sekali pihak-pihak yang merasa berkepentingan, dan akibatnya mereka merasa bingung. Aku ini induknya siapa? Ujar mereka saat itu.

But like I said before, I’m back on this business at 2009 🙂 Back with them.

Pemikiran saya saat itu adalah, bagaimana membentuk mereka, menjadikan mereka semua sosok-sosok yang lebih kompeten di bidangnya dengan pertama kali membuat PIC yang handle mereka, para Team Leader lebih kompeten.

Membuat mereka punya sesuatu yang harus dikejar, jadi kerja itu punya purpose, punya tujuan, punya goal, punya karier.

Bukan hanya dapat target bulanan yang harus dicapai, tapi diluar itu, mereka punya ‘paket’ yzng harus dikejar.

Paket itu adalah ; jenjang karier, kesejahteraan yang lebih baik, posisi yang kebih baik, punya tangung jawab kebih besar.

It’s a better self recognition and apraisal from management. Knowing thet their front liners could do better than what they’ve expected. More than just a front liners whose task are only achieving some kind of routine sales targets and some of other daily routine.

Then, I put in on some actions :

1. Membuat mereka tahu perusahaan tempat mereka bekerja, tahu bagaimana bisnis yang dijalankan oleh perusahaan, sehingga dengan demikian, salah satu hasil yang diharapkan adalah mereka punya sense of belonging yang kebih besar. Karena merasa terlibat.

2. Membuat perusahaan tahu tentang karyawan mereka, tahu bahwa dari ‘komunitas grass root’ atau lazim disebut front liners masih ada potensi yang bisa dikembangkan lebih jauh. Dibanding selalu melihat para SPG dengan hanya sebelah mata.

3. Membuat serangkaian program berkesinambungan, dimana lewat program tesebut bisa didapatkan empowerment sekaligus

4. Basically, everybody is learning about something 🙂 Bukan hanya mereka yang belajar sesuatu yang ada diluar mereka, membuka mata akan hal-hal yang belum pernah mereka ketahui, atau mereka pahami sebelumnya, tapi juga saya pun, dan saya yakin, orang-orang di manajemen (kalau cukup open minded yah…) pasti juga belajar sesuatu. Salah satunya bagaimana meng-empower front liners.

Yang saya percaya dari pertama kali melakukan field marketing empowering ini adalah, jika kita buat pintar front liners, maka para users, lazim disebut team operasional, dari supervisor sampai manajer, akan punya kerja yang lebih ringan. Kenapa? Karena front liners-nya tahu banyak akan apa yang harus dilakukan. Because they’re already empowered.

Satu lagi, pendapat bijaksana tentang women empowering ini,  jika anda memintarkan seorang laki-laki, maka anda hanya memintarkan satu orang saja. Namun, jika anda memintarkan seorang wanita, anda akan memintarkan satu generasi 🙂 Ain’t that sweet?

Bottom line, dalam hal ini, anda perlu dukungan dari banyak orang. Banyak orang yang open mind.

 

Nah, sekian part 1. Akan disambung di part. 2

 

Advertisements