Convenience store itu bernama 7Eleven

It’s  from my own perspective. As a shoppers, consumers, and also a trade marketing enthusiast 🙂 Thus, expect less from this writings.

Convenience store 7 Eleven yang pertama saya kunjungi adalah 7Eleven Sahardjo, saat itu baru saja grand opening.

Sevel Sahardjo (view from 2nd floor)

Hmmm, rasa penasaranlah yang membawa saya ke 7Eleven. Mangamati perbincangan di twitter, anak-anak muda yang menyebut nama 7Eleven dengan nama ‘sevel’ sampai terbentuk komunitas baru yang berbasis lokasi toko. Lazim ditanyakan ke sesama anak muda, “Anak sevel mana lo?”

Continue reading

Advertisements

Celebrating Your Professional Life :)

This morning, I’ve read some nice words via twitter, from @miund and @subiakto…
Two of the hot shots at their own world. The first one is adored as radio anchor at PagiPagi 97.5 FM Motion Radio, the second one is Pak Bi. Well, Indonesian marketers and brand activation – advertising agencies must acknowledge this man. One of the best, nuff said 😀

It’s said : “Don’t go to a place you’ll be tolerated, instead, go to the place where you’ll be celebrated”

It’s a quite a strong word.

My perception is : at your professional world, you should come to the place that you only be celebrated. Always at spotlight, great contribution, new bright ideas, succesful ideas execution, determined, and last but not least, have integrity.

The last one can be easily translated as doing anything that can make you sleep well every night, less guilty. Well, you know what I mean 😉

Respected.

Never go to some place or anyplace you’ll regret. Some new place, new job you’ll only be tolerated since that’s not your passion, something you can not enjoy the most, some skills you have that actually doesn’t required at that place.

Some new professionals should take it into consideration. But it’s ok to have lots of experience first. Just to open their eyes. Wide.

Yes, money is indeed something that we’re looking for. But it means nothing when your money or job doesn’t FULFILL you. Makes you feel as a whole.

Just sharing some thoughts, folks! 😉

Cerita Field Marketing (part.3)

 

Dua cerita yang lalu, tentang Field Marketing ini banyak banget mengisahkan tentang apa yang saya alami, jalani, pelajari, ikuti, ketahui, dan pahami selama menjadi ‘pawang’ SPG. Perfect years? No, I don’t think so. Hustle years? Yes, it is.

Seorang teman lama, yang mungkin ga sengaja baca BBM status saya, @haris_rahmanto baca juga blog ini, haryoprast.wordpress.com dan memberikan response positif. Lebih ke sisi penulis blog, yaitu saya sendiri 8) yang menurut beliau, ‘very passionate about his job’ Itu kata dia lho… Trully is, I can’t judge myself of it.

Ok, start typing…

Di dunia barat, Eropa atau Amerika misalnya, jarang sekali ada mbak-mbak SPG di lorong-lorong supermarket / hypermarket. Buat sebagian shopper disana, jika sedang belanja bertemu dengan para SPG, mereka dianggap mengganggu. Buat mereka, shopping is enjoying the process. Mampir ke salah satu lorong. Melihat seisi lorong dari ujung, dengan melihat apa yang ada di end gondola terlebih dahulu. Lalu melihat bagian per bagian dari rak yang ada. Dengan santainya, dan tanpa buru-buru. Well, behavior ini hanya berlaku untuk mereka yang ‘rich in time’

SPG Sariwangi, LSI Kalimalang

Melihat satu group SKU atau kategori, minyak goreng misalnya. Membanding-banding harga (melihat price tag tiap brand-size-pack dari minyak goreng yang didisplay), disinilah peran penting price tag dan segala informasi tentang harga yang harus terpasang dengan benar. Resiko? Fatal. Loss sales, brand switch, dan sebagainya.

Lorong susu di LSI Cirendeu

Lalu setelah melihat dari jauh, shopper mulai mendekat. Memegang kemasan satu demi satu. Membaca kandungan  tiap brand minyak goreng yang ada. mencari ada kandungan omega-3, dan sebagainya. Memegang, moment of truth. Disinilah dimana shopper berinteraksi dengan sebuah brand via produk yang dijualnya. Apa yang dipikirkan oleh shopper saat memegang produk minyak goreng itu. Either it’s in a pouch, bottle, or even in a mineral water plastic glass. Mungkin akan sedikit ilfill (ilang feeling) kalau produk yang dipegang berasa berminyak ditangan (mungkin gara-gara packaging minyak goreng lain bocor, dsb), sehingga harus buru-buru mencari tissue untuk melap tangannnya.

Island Freezer, Tip Top Pondok Bambu

Ini feature. Apa yang dapat dilihat-dirasa oleh shopper dari suatu produk tersebut. Apa yang tertulis di packaging produk, apa yang dirasa saat memegang packaging produk. Belum sampai pada manfaat atau keuntungan yang didapat oleh shopper setelah membeli produk minyak goreng merek A.

Gak tahu yah, tapi somehow… Buat saya, jika belanja di supermarket atau hypermarket yang cenderung sepi, dan labih bagus juga kalau sepi dari mBak-mBak SPG, saya jadi lebih enjoy dalam menikmati proses belanja. Bisa dorong trolley dengan nyaman dan santai dari lorong ke lorong, salah satu hobby istri saya juga, @vitadasilva99. Bisa browsing dengan bebas dari satu rak ke rak yang lain. Melihat price tag yang terpasang, dan kadang saling berkomentar… “Eh, kayaknya price tag-nya keliru deh, masa harga buat pack size A dipasang di pack size B ?” “Katanya lagi promo, koq harganya normal-normal saja sih?  Coba, tanya orang tokonya deh”

Beverage alley, Robinson Cinere (closed)

Dan kadang, saat belanja jika ada SPG di suatu lorong, akan buat saya, dan mungkin beberapa shopper lainnya, menghabiskan waktu lebih singkat dibandingkan di lorong yang tidak ada SPG-nya. Ga enakeun, kata orang Sunda. Kalau kita menolak tawaran mereka. Lebih ke alasan emosional. Yup! Indonesian mostly thinks this way.

Merasa ga enak kalau dikelilingi SPG yang siap menawarkan produk-brand-nya, merasa ga enak kalau harus menolak tawaran tiap SPG yang menawarkan dengan sopan. Kadang kalau berempati, kasihan juga dengan para SPG tersebut. Response dari shopper yang ketemu dengan mereka pasti bermacam-macam. Mulai dari penolakan sopan, tidak dianggap, dijahili, hingga penolakan keras. Dibentak. Ada? Pasti ada…

Bisa di Indonesia suatu supermarket/hypermarket jalan tanpa SPG ?

Saya rasa belum  bisa. Kenapa?

1.  Pihak supermarket masih merasa kalau dengan adanya kontribusi tenaga SPG-SPB dari para supplier, mereka bisa menghemat biaya tenaga kerja

2.  Supplier sendiri, baik dari FMCG (terutama yang produknya impulse – es krim, snack, permen, dsb) atau dari industri lain, masih merasa perlu memasang tenaga SPG di toko. Bukan hanya untuk meningkatkan selling out, namun juga sebagai good will kepada toko atau account (ini alasan yang paling tidak masuk akal)

3.  SPG masih dipandang sebagai bagian dari suatu service kepada konsumen. Get lost at stores, and no ‘store attandant’ to find ? Go to one of SPG to show you the way. Karena itu, salah satu retailer ‘menjual’ kaos polo ke suppliernya sebagai seragam untuk para SPG-SPB yang bertugas di toko-tokonya, agar terlihat SPG sebagai karyawan toko. Terlihat padat karya (wan/wati). Hmmm…

SPG ice cream at Carrefour MT Haryono

Mungkin nanti, ada suatu era dimana SPG atau SPB tidak dibutuhkan lagi sebagai persuader. Tapi lebih sebagai stock builder, stock refiller, person in charge in rack facing, etc. Hanya bertugas memajang, refill, stock update, dan sebagainya. Penjualnya siapa? Nah, ini akan kembali ke pemahaman awal tentang merchandising. Sesuatu yang saya pelajari dari awal bekerja disini. Kalau ‘product with good merchandising will sell itself” =) Make sense now…

Back to standard of 4Ps. Product-Placement-Price-Promotion. True marketers and trade marketers must fully understand of this 4P stuffs.

Dan shopper yang sudah terbiasa belanja di modern market akan dengan nyamannya melanggang di tiap – tiap lorong dan area. Melihat dari dekat suatu produk, baca komposisi produk yang ada, melihat price tags dan promotional signage,  membaca stores sign sebagai navigator mereka, dan toko akan dan bisa jadi menyediakan alat komunikasi (bisa telepon, intercomm, etc) untuk memanggil awak toko untuk bertanya, minta dibantu, dihampiri, dan sebagainya as their service. Bukan service yang selalu ada bahkan saat tidak dibutuhkan, tapi service yang ada real time, juat in time, saat dibutuhkan.

Someday, mungkin pasar modern trade di supermarket dan hypermarket akan menjadi beda… tanpa SPG. Namun diimbangi dengan pelayanan yang canggih. How? I don’t know for sure… Wait, let me see my crystal ball first, hehehehe… =)

See you on another chapter of Cerita Field marketing (part.4)

 

 

 

 

Cerita Field Marketing (part.2)

Sambungan Cerita Field Marketing…

SPG LuVe Litee di C4 Cempaka Mas

Sales Promotion Girl – SPG, Sales Push Team, Brand Promoter, dan masih banyak julukan untuk tenaga penjual berjenis kelamin perempuan ini. Kenapa harus perempuan? Kenapa ga bahas Sales Promotion Boy saja?

Karena :

1.  Sebagian besar shoppers/consumers lebih suka dilayani-dipersuade-ditawari oleh perempuan…

2.  Perempuan punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh laki-laki, yaitu kelembutan. Baik di tutur kata, gaya bicara, dan gesture.

3.  Kerena perempuan itu cantik. Dan somehow, perempuan cantik yang pintar akan terlihat luar biasa 🙂

SPG Nutrifood at Giant Bekasi

Okay, let’s not now talking about gender. Kita tahu, bahwa di hampir lorong-area suatu supermarket atau hypermarket pasti ada ‘penjaga lorong’ yaitu SPG. Yang mungkin akan membuat kita ‘reluctant’ atau nggak enak. Takut ga enak kalau nolak penawaran mbak-mbak SPG itu, takut kalau kita terbujuk dengan sales talk mbak-mbak SPG tersebut… Jadi males lewat lorong yang banyak SPG-nya. Hahaha…mungkin itu salah satu shopper behaviour saat sedang ada di dalam supermarket/hypermarket.

SPG Joy Tea

Beberapa shopper mungkin berpikiran seperti diatas. Berpikir bahwa somehow, mbak-mbak SPG yang ada di toko bisa dengan mudah (karena dilatih sedemikian rupa) membuat seseorang yang berpikir ‘no – later on – ntar ajah’ dan sebagainya dan sebagainya bisa menjadi ‘yasudah, gw coba deh – ok, aku ambil satu yaaa… –  eemmmm, boleh deh kalo gitu – dan sebagainya.  Convertion rate dari tertarik pada suatu brand, via in store branding, packaging, display akan diperbesar dengan hadirnya SPG di lokasi. Buat mereka yang bekerja di industri FMCG pasti paham betul akan peran SPG. Terlebih jika produk yang dijual adalah produk impulsif. Yang hanya butuh ‘snap’ untuk membuat suatu keputusan pembelian. No such thing as planning to do some impulsive buying, right? 😉 It just happens.

SPG Hula Paradise at Tip Top Rawamangun

Yang paling saya ingin tahu sebenarnya adalah, berapa waktu yang sebenarnya dipunyai oleh seorang SPG untuk persuading shoppers. Mulai ucapkan salam pertama, menarik perhatian shoppers via senyum dan sales talk yang persuasif, hingga menunggu response dari shoppers. Berapa detik waktu rata-ratanya?

Sehingga kita, jika kita berperan di perusahaan sebagai penanggungjawab per-SPG-an bisa memperkirakan, butuh waktu berapa detik dari ucapkan salam pertama hingga menutup sales talk, menunggu response dari shoppers. Apakah tertarik atau tidak, apakah hanya sekedar memberikan senyum, atau malah mengacuhkan saja.

Sekedar pengamatan saja, tiap SPG yang melakukan persuasi mungkin butuh sekitar 5-7 detik untuk menarik perhatian shoppers dengan sales talk-nya. Tidak boleh terlalu panjang, karena pesan yang masuk ke shoppers akan banyak yang ter-reduksi, tidak sempat didengar secara utuh. Sehingga kalaupun tertarik, shoppers tersebut akan meminta pengulangan kata untuk memperjelas maksud SPG yang bersangkutan. Biasanya akan bertanya, “Gimana, mbak?” atau “Apa’an tadi, mbak?” nah, capek juga kalau ada SPG yang sudah mengucapkan sales talk panjang lebar, namun tidak terdengar dan terserap semuanya oleh shopper. Terlalu panjang.

Nah, apa jadinya kalau terlalu pendek. Mostly, shoppers akan kurang tertarik. Pernah jalan ke lorong baju-baju atau fashion di ITC-ITC? Kebanyakan SPG atau pramu toko menawarkan barang dagangannya dengan berkata :  “Boleh kakak…” atau “Silahkan kakak…” atau ” Masuk dulu kakak, lihat-lihat dulu…”

Sangat standard…

Kita tidak mau SPG-SPG kita mengucapkan sales talk yang se-standard itu bukan? Nggak mau dong…

Nah, bagaimana seharusnya sales talk dimulai? Mungkin begini (ini menurut saya lho) :

1. Opening – prefix : bisa salam-selamat pagi-apapun

2. Probing : setelah berhasil menarik perhatian si shoppers, maka SPG tersebut menggal apa yang dicari/dimau shopprs

3. Seal the deal : pada tahap ini, SPG sudah berhasil meyakinkan shoppers, tinggal ditawari ambil berapa pack/pcs/unit

4. Penutup – suffix : selain berucap terima kasih, as service people, SPG layaknya customer service suatu industri bank atau telco, wajib menawarkan bantuan lagi, dengan kata-kata : “Terima kasih bu, ada lagi yang bisa saya bantu?”

That’s suffix. Kata-kata yang jarang diucapkan SPG-SPG baik di stores manakala shoppers sudah mau memindakan produk yang ia tawarkan ke dalam keranjang/trolley belanjaannya.

 

Nah, sampai disini dulu Cerita Field Marketing (part.2), akan disambung ke part 3 yah… Very soon 🙂