A ‘Million Dollar Afilliate Marketing Idea’ : yesbossnow.com

Hari Senin, 22 Agustus yang lalu di lantai dua Lucky Cat Coffee & Kitchen Pasar Festival – Jakarta Selatan, saya terlibat dalam perbincangan seru (bisa juga disebut meeting) dengan dua orang rekan dari kaskus.co.id. Saya sebut demikian, karena sekarang ini saya lebih suka menyebutkan domain dari suatu nama perusahaan dibanding nama perusahaan itu sendiri. Kenapa? Mempermudah yang mungkin ingin tahu untuk mencari tahu.

Inti dari perbincangan kami adalah bagaimana berkolaborasi semakin menjadi keharusan di dunia digital, terutama di dunia dimana saya berada, digital marketing. Dengan kolaborasi, saya percaya kalau kita akan dapat segudang manfaat. Salah satunya adalah network yang sangat luas dan sangat accessible. Dari kenal satu orang dari company/start up A, kita bisa berkomunikasi dengan seseorang dari company/start up B, atas dasar rekomendasi dari si A. Kemudian bisa berlanjut ke C, ke D, dan seterusnya untuk membuka peluang dan kesempatan baru.

 

20160822_144351
That Lucky Cat cafe interior

 

Continue reading

Trade Marketing, Dunia Diantara Sales dan Marketing (bagian 2)

Saat ini, saya sedang menggeluti bidang yang bisa dibilang sangat enjoyable. It’s digital marketing, and whole kind of things at marketing communication. Namun, sebuah rencana in-store activation yang dipaparkan ke saya beberapa waktu yang lalu kembali membuat saya mencoba mengingat dan mengulik lagi apa yang pernah saya pelajari dulu, saat berperan sebagai seorang trade marketer (spesifically at modern trade market) di perusahaan tempat saya bekerja. Sudah pernah saya tulis di tulisan saya sebelumnya disini bahwa trade marketing adalah suatu bidang ilmu (saya sebut demikian, karena walaupun dikerjakan namun sebenarnya kita mempelajarinya secara terus menerus) yang ada diantara marketing dan sales.

Marketing punya tujuan yang bersifat lebih jangka panjang dibanding sales, meliputi kegiatan pemilihan media, pemilihan audience atau target market lewat proses segmenting-targeting-positioning, penyampaian pesan yang sudah dirancang sedemikian rupa agar bertahan di benak audience, yang pada akhirnya akan menggiring opini dan menciptakan image terhadap audience terhadap produk yang pesannya sudah disampaikan sebelumnya, pada saat ia akan memilih merek mana dari produk tertentu untuk memuaskan kebutuhannya, yang berhubungan atau berkaitan dengan produk yang dikomunikasikan atau dikampanyekan. Penyampaian pesan ini cenderung berusaha menciptakan emotional bonding antara merek dan audience.

Sales? Sales pada dasarnya adalah kegiatan demand fulfillment, pemenuhan permintaan konsumen konsumen. Permintaan ini bisa di-drive oleh keinginan atau bahkan kebutuhan konsumen. Barang yang dibutuhkan punya kemungkinan lebih besar untuk dibeli, dibandingkan dengan barang yang diinginkan. Sales mempunyai tugas untuk mengisi ulang stock yang ada di toko dengan stock yang baru, dengan didukung oleh fungsi logistik yang menyampaikan barang dari gudang sendiri ke gudang perantara, maupun langsung ke toko.

So I need this is ‘>’ I want this!

Continue reading

Open Mindedness Dalam Perubahan Digital

Karena adanya perkembangan di dunia pemasaran digital, mungkin kita tidak lagi seperti menaiki anak tangga satu per satu. Namun bisa jadi menaiki dua atau tiga anak tangga sekaligus. Kinda taking leap of faith! Kita juga tidak tahu dengan pasti apa yang akan kita temui di ‘ujung anak tangga’, berapa banyak anak tangga yang harus kita lewati, semuanya kadang tidak bisa diprediksi secara pasti. Hari ini perusahaan kita menyatakan belum membutuhkan e-commerce site, namun kurang dari seminggu para c-levels menyatakan bahwa sudah saatnya kita mempunyai toko online atau e-commerce site plus aplikasi mobile-nya untuk menunjang bisnis perusahaan.

Semuanya bisa terjadi dengan sangat cepat.

12 tahun yang lalu, siapa sangka bahwa hari ini akan punya ketergantungan terhadap produk dari perusahaan digital global kelas wahid semacam Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, Snapchat, dan masih banyak lagi, yang merubah cara kita berkomunikasi, dan bahkan merubah dengan sangat drastis cara pengelola merek berkomunikasi dengan para pelanggannya, para pemasoknya, para afiliasi, dan para perantaranya. Semua sangat bergantung dengan sesuatu yang dinamakan aplikasi.

Continue reading

Trade Marketing, Dunia Diantara Sales dan Marketing (bagian 1)

Saya lebih dahulu tertarik dengan dunia pemasaran (marketing) sebelum masuk ke dunia trade marketing, setelah merasakan serunya dunia penjualan (sales). Sejak pertama mungkin lebih tertarik ke dunia pemasaran karena feel-nya lebih enjoyable dan ‘keren’ dibanding dunia penjualan, yang sepintas lalu hanya mengejar target penjualan yang diberikan oleh perusahaan.

Kalau dilihat secara sederhana memang seperti itu, tanpa mengecilkan peran penjualan bagi perusahaan tentunya. Divisi penjualan menggerakkan perusahaan, demikian juga dengan divisi pemasaran. Hanya bedanya, divisi penjualan punya peran yang bersifat lebih short term, sedangkan divisi pemasaran punya peran yang lebih long term. Bagaimana penjelasannya?

20150502_142032
                                                              Marketing create desires, sales fulfill the stock!

 

Divisi penjualan (dan distribusi) memastikan ketersediaan produk di pasar. Memastikan semua permintaan pelanggan, baik konsumen akhir (end user) maupun pihak perantara (intermediary party) seperti toko atau gerai, terpenuhi dengan baik. Lewat komunikasi yang baik, persediaan produk akan dipindahkan dari gudang ke toko berdasarkan permintaan, sebagai persediaan toko oleh divisi distribusi atau logistik. Yang bertugas menciptakan permintaan? Divisi pemasaran tentunya.

Continue reading

Sudut Pandang Digital Marketing #3 : Koneksikan Marketing – Logistik – Sales Lewat E-hailing (part 2)

Masih di sudut pandang Digital Marketing, dan masih di e-hailing. Namun di blog post saya ini, saya akan bahas e-hailing dari sudut pandang korporasi-manufacturing yang memanfaatkan layanan e-hailing paling populer, Go-Jek, yang mempunyai layanan pesan makanan dan minuman via online, Go-Food.

Sudut pandangnya hampir sama dengan tulisan saya sebelumnya. Bagaimana UKM bisa mendapatkan banyak manfaat dan kemudahan jika menggunakan layanan e-hailing, dari sisi marketing, logistik, dan meningkatkan penjualan. Tanpa membuat website, produknya UKM bisa tampil di mobile apps as in website untuk dilihat pengguna aplikasi (ratusan ribu pengguna), tanpa memperkerjakan tenaga pengiriman UKM bisa mengirimkan pesanan sampai di tangan konsumen, dan tentunya ‘merekrut’ pelanggan-pelanggan baru. Karena bisnis tidak akan bertumbuh tanpa adanya pelanggan-pelanggan baru.

Bagaimana dengan korporasi, yang non-digital hendak terjun di dunia online commerce? Kurang lebih sama. How?

Continue reading

Sudut Pandang Digital Marketing #3 : Koneksikan Marketing – Logistik – Sales Lewat E-hailing (part 1)

E-hailing menjadi kata kunci yang mulai dikenal orang karena adanya layanan ojek online yang menjamur belakangan ini. Hailing a taxi, now we can do it through online media. Technology has making it all a lot easier, especially for consumer who want to do anything. Termasuk yang ingin pergi dari titik A ke titik B, dimanapun dan kapanpun ia butuhkan. On demand is another keyword. Dulu kalau ingin order taksi, kita harus telepon call center taksi. Kemudian akan dikirimkan armada taksi yang kita pesan. Kalau armadanya ada, terutama saat di peak hours. Misalnya saat kita harus berangkat ke bandara di pagi buta.

E-hailing. On demand.

Lewat postingan blog kali ini, kita akan banyak menemukan kata ini. Layanan ojek online menjadi kebutuhan masyarakat di perkotaan saat ini. Terlebih saat layanan e-hailing ini menawarkan jasa lainnya, yang menaikkan value dari korporasi e-hailing di mata konsumen. Pesan makanan-minuman, grocery shopping di mini market atau supermarket, mengirimkan paket dokumen, hingga mempermudah orang untuk pindahan rumah, karena ada layanan angkutan dengan menggunakan mobil box. On demand, kita bahas karena saat ini pelanggan ingin mendapatkan apapun yang ia inginkan, produk dan jasa, kapanpun dan dimanapun. Saat itu juga.

Kita yang sudah sedemikian dekat dengan digital mungkin sudah jarang menonton siaran TV konvensional, ditambah dengan bombardir iklan TV yang luar biasa banyak. Kita cenderung mengakses internet untuk menonton konten-konten visual yang ingin kita lihat. Youtube.com saat ini menjadi solusi untuk on demand media consumer. Bukan hanya menonton video-video yang sudah di-posting, kita bisa menonton tayangan langsung suatu acara, seperti saat saya menonton tayangan liga bola basket nomor satu di tanah air, IBL lewat channel IBL TV di Youtube. Pertandingan basket yang ada di kota Surabaya, Semarang, Bandung, dan sebagainya, bisa saya tonton langsung via laptop saya di rumah, di Bekasi🙂

Awesome!

E-hailing kini mengkoneksikan marketing, logistic, dan sales! Bagaimana?

Continue reading

Indonesia E-Commerce Summit and Expo Day 3 #IESE2016 (bagian 2)

Tulisan ini adalah bagian ke-2 dari blogpost Indonesia E-Commerce Summit and Expo Day 3 #IESE2016, yang sengaja saya bagi menjadi 2 tulisan karena ternyata kontennya cukup banyak. Tulisan sebelumnya bisa dibaca disini.

Hari Jumat ini saya ‘nonton’ 2 sesi presentasi di ruangan workshop sebelum beralih masuk kembali ke ruangan summit. Setelah melihat presentasi Ibu Lisa Widodo dari blibli.com, sempat menunggu beberapa saat untuk makan siang dan rekan-rekan yang ibadah sholat Jumat, saya melanjutkan menyimak presentasi tentang Omni-channel in e-commerce, yang dibawakan oleh Pak Haryo Suryo Putro dari Alfaonline.com.

Bapak Haryo S. Putro, CMO-COO Alfaonline
Bapak Haryo S. Putro, CMO-COO Alfaonline.com

 

Omni channel? Usaha yang dilakukan oleh peritel untuk menghubungkan diri dengan pelanggannya lewat cara apapun, kapanpun, dimanapun, sesuai dengan cara yang diinginkan oleh pelanggannya. Mempelajari dan melihat omni-channel ini pun juga harus dilakukan dari sudut pandang pelanggan.

Ada satu istilah, yaitu BA-FA-RA, atau buy anywhere – fulfill anywhere – return anywhere. Atau pelanggan Alfamart (didukung oleh Alfaonline secara digital), harus bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dimanapun, memenuhi kebutuhannya dimanapun, dan mengembalikan produk yang tidak ia kehendaki dimanapun. Saya jadi ingat dengan apa yang dibawa oleh Mataharimall.com dengan O2O-nya.

Online to offline.

Bayangkan Matahari Department Store yang punya gerai di hampir kota-kota besar di Indonesia bisa jadi sarana untuk para pelanggannya dalam mendapatkan, memenuhi kebutuhan, dan (jika terjadi) bisa menukar atau mengembalikan produk yang tidak ia inginkan kapan dan di toko Matahari mana saja. Pembelian via online (dengan menggunakan e-voucher discount dan cara-cara lainnya untuk dapat berbelanja lebih hemat) dapat diambil di toko Matahari terdekat, pelanggan bisa fitting baju atau busana lainnya sebelum ia membawanya pulang. Another case, pelanggan yang mendapatkan produk yang ia beli tidak sesuai dengan keinginnnya dapat menukarnya dengan produk serupa di toko offline. That simple🙂

Alfamart. Bermula di 1999 dan (akan) punya market place di 2016
Alfamart. Bermula di 1999 dan (akan) punya online market place di 2016

 

Saya cukup mengamati perkembangan Alfamart ini sejak awal berdiri, dimana toko pertamanya didirikan di daerah Kebon Nanas – Tangerang, yang lokasinya cukup dekat dengan kantor pusatnya di daerah Cikokol, masih di Tangerang. Bahkan pernah bekerjasama dengan Alfaonline di awal-awal masa berdirinya di tahun 2012. Saat itu masih perpanjangan dari toko offline Alfamart yang ada, belum ada hal yang baru. Sempat menjual beberapa varian ice cream cake dari company saya saat itu. Namun mungkin karena saat itu belum fokus, kerjasama bisnis tersebut terhenti, sehingga produk ice cream cake kami tidak lagi ditemukan di website Alfaonline.com. Dan saya yakin, dalam waktu dekat, Alfaonline akan kembali mengundang kami, salah satu supplier mereka di kategori es krim (dairy – frozen food) masuk ke market place-nya🙂

Namun sekarang Alfamart benar-benar berbenah. Manajemen mereka kelihatannya mulai memandang bisnis e-commerce ini dengan sangat serius. Diantaranya dengan merekrut seseorang yang sudah dianggap jago untuk menggawangi bisnis online-nya ini. Cukup kaget juga dengan transformasi strategi online Alfamart, lewat Alfaonline-nya yang akan merubah toko online-nya menjadi konsep market place. Artinya, bukan saja Alfamart yang bisa berjualan secara online disana, para UKM dan lainnya bisa mendaftarkan diri sebagai penjual (merchant).

Continue reading