Ibu Pengen Juga Jalan-Jalan ke Jakarta

Iya, karena ibu saya pengen juga merasakan jalan-jalan keliling Jakarta. Naik MRT dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI, berkunjung ke rumah sepupunya di Kebayoran Baru-Jaksel, Bude Rini, dan hal lain yang dirasakan oleh bapak, Deryl, dan Dirta seminggu sebelumnya. “Le, lek sempat ibu tulung ampirno nang Kaliwungu ya”, pinta beliau.

Ibu saya ingin mampir lagi ke Kaliwungu, sebuah kecamatan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, seiring dengan perjalanan kami dari Semarang nantinya, ke arah Bekasi. Tentu saja saya iyakan, karena siapa yang bisa menolak keinginan ibunya, yang ingin melihat kembali kediaman dan lingkungan masa kecilnya. Tentu saja saya sempatkan.

So, here we go. Kami berempat berangkat dari Kota Malang tanggal 15 Juli 2022, sekitar pukul 09.00 WIB. Kepergian kami dilepas oleh adik dan keponakan-keponakan saya tentunya, yang kali ini tanpa isak tangis. “Enake mbah kung rek, iso mlaku-mlaku ping pindo nang Jakarta”, demikian rajuk Dirta, keponakan saya, saat kami hendak berangkat. Ia sedikit iri melihat bapak saya, atau Mbah Kung-nya, akan kembali ikut saya ke Jakarta. Hehehehe..

Gerbang Tol Singosari-Malang, pukul 09.55 WIB

Langit biru cerah menyambut kami, saat mobil Toyota Avanza Veloz B 2531 SOU kembali memasuki gerbang tol ini untuk kesekian kalinya. Atau mungkin terakhir kalinya sebelum saya berganti mobil dinas setelah 5 tahun mobil tersebut menemani saya. Pukul 09.55 WIB kami masuk GT Singosari, dan pukul 15.00 WIB kami sudah keluar di GT Jatingaleh, Semarang. 5 jam kami tempuh perjalanan dengan cuaca yang cerah, dan sangat bersahabat. Beberapa kali kami ambil toilet break, dan beristirahat cukup lama untuk makan siang di salah satu rest area, makan masakan ibu saya sendiri, yang sengaja mempersiapkan bekal.

Sesampai di Kota Semarang, kami makan siang dahulu di Resto Asem-Asem Koh Liem, di cabang Jalan DI Pandjaitan, Semarang. Saya pesan Asem-Asem Koyor, Asem-Asem Daging untuk istri dan bapak, dan Kuetiaw Goreng Sapi untuk ibu saya. Ada kejadian unik, dimana saya bawa masuk nasi merah dengan bekal makan siang buatan ibu saya, Pepes Tongkol Bakar, dan telor asin untuk menambah selera. Maaf ya, Koh Liem, kami bawa makanan lain. Mohon maaf juga, saya tidak sempat mengabadikan menu dan suasana restonya saat itu.

Selepas makan siang, kami rehat sejenak di penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya, Studio Inn & Suites, yang terletak di kawasan dataran tinggi Candi. Ini adalah kali kedua kami menginap disini, setelah sebelumnya sempat menginap di #SemarangTrip edisi tahun 2017. Tampilan hotel sudah tidak sebagus saat kami pertama kali menginap di tahun 2017, kini tampak lebih gelap, dengan beberapa bagian terlihat kusam. Bahkan, kami sempat mengeluhkan kondisi kamar yang kami pertama kali dapat di lantai Ground. AC tidak dingin, dan terlihat kurang bersih. Kamar pengganti terletak di Under Ground, sekilas seperti terletak di bawah tanah. Ini karena hotel dibangun di dataran tinggi, dengan kontur tanah yang berbukit-bukit.

Studio Inn & Suites, pemandangan dari balkon kamar kami

Keputusan yang tepat untuk langsung rehat, terutama untuk saya yang baru saja menyetir jarak jauh dari Malang hingga Semarang. Selepas Maghrib, kami keluar dari penginapan untuk mencari makan malam, yang khas Kota Semarang tentunya. Pilihan makan malam jatuh pada Babat Goreng Hengky, yang sudah lama saya dan istri idam-idamkan untuk nikmati. Namun nasi goreng legendaris yang sudah cukup terkenal di area Puri Anjasmoro tersebut (lagi-lagi) tutup. Sungguh mengecewakan. Sebagai gantinya, saya terpikir untuk makan di Nasi Ayam Bu Pini, salah satu merek kedai nasi ayam khas Semarang yang saya ingat, dan pernah saya coba sebelumnya.

Nasi Ayam Bu Pini, Semarang
Nasi Ayam Bu Pini, Semarang
Nasi Ayam Bu Pini, Semarang

Pertama kali saya mencoba Nasi Ayam Bu Pini ini di seberang Paragon Mall (sudah tutup, CMIIW), dan kali ini bersama bapak ibu, saya mencoba di salah satu cabangnya di Jalan Anjasmoro Raya No. 56, Kota Semarang. Masih menyediakan masakah khas yang rasanya sederhana sebenarnya. Yang membuat istimewa adalah racikan sayur labu siamnya yang cenderung pedas, dan aneka pilihan sate ayam-kulit hingga jerohan dengan bumbu areh (santan kental) untuk membuat cita rasanya makin kaya.

Kenyang, saatnya rehat. Setelah berkeliling Kota Semarang, mengagumi pemandangan kota ini di malam hari, kami pun kembali ke penginapan.

Seperti biasa, jika ada pilihan kamar tanpa sarapan, kami pasti akan memilih opsi tersebut. Karena kami yakin, banyak sekali pilihan sarapan khas dimanapun kita menginap. Namun sebelum sarapan, kami sempatkan berhenti sejenak di Loenpia Cik Meme, di Jalan Gajah Mada No. 107 Semarang. Selain Loenpia Mbak Lien dan Loenpia Semarang di Jalan Pemuda, kedai loenpia yang dimiliki oleh keturunan langsung dari pendiri Loenpia Gang Lombok ini termasuk cukup sering kami kunjungi.

Kami sering juga sempatkan membeli 1 loenpia goreng original untuk dinikmati berdua, lengkap dengan condiment daun bawang, cabai, acar mentimun, bawang putih cincang, dan kuah kental gurih berwarna kecoklatan. Tentunya sambil menunggu pesanan bungkus kami selesai dipersiapkan. Urusan loenpia, saya cukup konservatif. Selalu merasa cukup dengan varian originalnya, versi goreng isi rebung dan telor ayam. Meskipun di Cik Meme menyediakan varian isi daging kambing muda, seafood, dan beberapa varian lainnya.

Loenpia Cik Meme, Semarang

Lokasi sarapan pagi kami tentukan di warung makan yang pasti akan kami datangi lagi dan lagi di Kota Semarang, yaitu Warung Mak Tompo, yang terkenal dengan Cumi Hitamnya. Lagi-lagi saya bertemu dengan ‘lawan’, masakan favorit saya sepanjang masa!

Sarapan, yuk!

Warung Makan Mak Tompo, Semarang
Warung Makan Mak Tompo, Semarang
Warung Makan Mak Tompo, Semarang

Tidak banyak omong, saya langsung pesan 1 porsi Cumi Hitam, signature dish-nya, bersama dengan nasi putih dengan sayur lodeh rebung dan saren goreng. Istimewa sekali makan pagi saya. Masakan warung yang masuk ke dalam kategori makanan rumahan ini sukses membuat kami berempat lapar mata. Masing-masing dari kami adalah penggemar saren (darah sapi/ayam yang dikeraskan, dan digoreng dengan bumbu sederhana), sehingga selain mengambil untuk lauk makan kami, seluruh stok saren yang tersisa pun kami bungkus untuk perjalanan pulang nanti. Walah!

Seperti janji saya, bahwa selepas Kota Semarang dalam perjalanan ke Kota Bekasi, kami akan mampir sejenak ke salah satu sudut kota Kaliwungu, menghantarkan ibu menengok kota tercintanya. Kami berangkat dari Warung Mak Tompo pukul 09.15 WIB, dan keluar GT Kaliwungu pukul 10.16 WIB. Tampak raut wajah bahagia ibu saya, saat setelah bertemu dengan teman-teman di masa kecilnya.

Gerbang Tol Kaliwungu, pukul 10.16 WIB
Ibu dan teman masa kecilnya di Kaliwungu

Off we go!

Pukul 11.22 WIB, kami sudah melaju kembali di Jalan Tol Trans Jawa arah Jakarta, kembali bertemu dengan Jembatan Kalikuto yang iconic! Sepanjang perjalanan, bahkan dari Kota Malang, mungkin hanya sesekali kami bertemu dengan hujan, itu pun lokal.

Selepasnya, cerah berawan dan cenderung terik hingga kami sampai di Rest Area Banjaratma KM 260B. Eks pabrik gula yang disulap menjadi rest area ini menawarkan lebih dari tempat istirahat sejenak dan toilet untuk para pengunjungnya. Gedung pabrik gula disulap menjadi sentra kuliner dan cafe, baik yang mereknya sudah terkenal maupun yang tidak. Kedai favorit saya? Banaran 9 Resto Coffee and Tea tentunya, dan pesan Banaran Special Cream pastinya!

Rest Area Heritage Banjaratma, KM 260B
Rest Area Heritage Banjaratma, KM 260B

Saya pribadi berharap semuanya bisa merasakan kesenangan yang saya rasakan, baik istri,bapak-ibu, dan segenap keluarga besar saya. Di sepanjang perjalanan dari Bekasi ke Malang via Solo, selama kami menghabiskan waktu bersama-sama di Kota Malang, dan hari ini, perjalanan dari Malang ke Bekasi, transit di Kota Semarang. Meskipun ini dalam lingkup keluarga saya sendiri, pasti masih ada merasa yang kurang berkenan, dan untuk hal ini saya selalu berusaha berolah rasa. Apakah yang saya lakukan cukup baik untuk semua orang, atau akankah ada keluarga yang merasa terabaikan?

Mudah-mudahan tidak ada. Dan kalaupun ada, saya mohon maaf tidak bisa membuat semuanya senang, tentunya karena keterbatasan saya sendiri.

Bapak dan ibu sebenarnya punya waktu yang sangat singkat di Jakarta. Tiba di Bekasi hari Sabtu, 16 Juli, dan harus pulang kembali ke Malang di hari Senin, tanggal 17 Juli 2022. Tentunya mereka ingin tinggal lebih lama, jalan-jalan lebih puas di Bekasi, Jakarta, dan sekitarnya. Namun, mereka masing-masing punya kewajiban. Bapak dengan tanggungan puluhan burung peliharaannya yang harus dirawat setiap pagi dan sore, dan ibu yang harus menjaga keponakan saya, Adelia dan Giovani, sepulang sekolah sampai dijemput oleh kedua orang tuanya selepas mereka pulang dari kantornya.

Let’s make it count then!

Hari Minggu, 17 Juli 2022, saya punya beberapa rencana. Mengajak mereka berkeliling Jakarta via MRT Jakarta adalah salah satunya. Tentunya tidak sampai naik bus Trans Jakarta seperti saat bapak, Deryl, dan Dirta datang berkunjung sebelumnya. Karena kaki ibu sudah tidak kuat diajak berjalan-jalan jauh, terlebih harus naik turun stasiun dan bus Trans Jakarta.

Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan

At least, my parents look quite happy, don’t you think? 🙂

Naik KRL yang pertama kali untuk ibu, dan yang kedua kalinya untuk bapak. Buat bapak saya, excitement-nya masih sama, menjelang sore melihat gedung-gedung tinggi di sepanjang Jalan Fatmawati, Blok M, Sudirman, mengalami kereta yang kami naiki turun masuk ke terowongan bawah tanah dari Senayan hingga Bundaran HI. dan melihat matahari sore yang cantik kembali saat kereka naik ke permukaan di Senayan. melihat pembangunan di ibu kota yang layak untuk dibanggakan, untuk diceritakan ke semuanya sebagai oleh-oleh jalan-jalan ke Jakarta.

Let’s go home.

Saatnya kembali ke Malang, kali ini dengan moda transportasi kereta malam. Saya sudah pesankan tiket KA Eksekutif Jakarta-Malang untuk kedua orang tua saya sejak jauh-jauh hari via aplikasi, yang masih memungkinkan mendapatkan diskon khusus lansia sebesar 20%. Dan hari Senin, 17 Juli 2022, saya menghantarkan mereka ke Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Tepat dengan tanggal ganjil, sehingga aman untuk saya kembali ke rumah setelah mengantarkan mereka.

Saat menghantarkan mereka, masih diperlukan test swap antigen yang bisa didapatkan di stasiun. Suatu hal yang wajib dilakukan sebelum naik kereta jarak jauh, meskipun beliau berdua sudah mendapatkan vaksin lengkap, termasuk booster/ketiga. Puji Tuhan, hasil test keduanya negatif.

Stasiun KA Gambir, Jakarta Pusat
Stasiun KA Gambir, Jakarta Pusat
Stasiun KA Gambir, Jakarta Pusat

Sampai ketemu lagi, pak dan buk, juga keluarga semuanya di Kota Malang. Sehat-sehat semuanya, semoga Natal dan Tahun baru kita bisa berkumpul kembali.

Amin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s