Cerita Semarang Trip 2017 (Bagian 1)

Kota Semarang, pesonanya membuat saya ingin kembali lagi dan lagi. Tapi tenang saja, kota ini tidak akan mampu menggeser posisi Kota Malang di hati saya. Kalau ditanya orang, “Mas dari kota mana?”, Saya pasti jawab, “Saya dari Malang”. Namun,  Kota Semarang berhasil menyodok ke peringkat ke-2, mengalahkan Kota Bekasi tempat saya tinggal sekarang ini dan Kota Bogor, yang hawanya mirip dengan kota kelahiran saya. Oh iya, Kota Bogor juga akan menjadi kota dimana saya akan menghabiskan banyak waktu dalam 3-4 tahun kedepan, mengingat saya berencana mengambil studi S3 di Sekolah Bisnis-IPB. Tahun ini 🙂

Warung Bu Fat, Jalan Ariloka-Kerobokan

Dan sudah dua tahun ini saya bolak-balik ke Semarang di hari ulang tahun saya, tepat di tanggal 1 April. Saya memutuskan, kalau saya berulang tahun, saya akan merayakannya di kota ini, dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Cerita sedikit pengalaman tahun lalu, tepat tanggal 1 April 2016, saya dan istri melaju dari Bekasi pukul 03.55 WIB dan sampai di Semarang pukul 12.00 WIB hanya untuk menikmati lezatnya masakan Warung Selera Bu Fat, Mangut Kepala Ikan Manyung. Ikan Manyung adalah sejenis ikan laut, yang sering pula kita sebut ikan jambal. Kita sering mengkonsumsinya dalam bentuk olahan ikan asin jambal roti. Namun di warung ini, kepala ikan dan daging ikan berukuran sedang-besar ini dimasak pedas dengan santan, setelah sebelumnya diolah dengan cara diasap. Sehingga menimbulkan aroma yang sangat khas. Duh, saya ngiler pengen makan Mangut Kelapa Manyung lagi!

Mangut Kepala Manyung a la Bu Fat

Tahun ini, saya berangkat hari Jumat tanggal 30 Maret dini hari, pukul 02.00 WIB dari Kota Bekasi. Sampai di Kota Semarang, di lokasi yang sama, untuk makan pagi menjelang siang tepat pukul 10.00 WIB bersama dengan istri dan kedua mertua saya. Tapi tidak, saya tidak pesan Mangut Kepala Manyung hari itu, alih-alih saya makan Mangut Kepala Ikan Sembilang (sejenis lele laut). Sensasi yang dihasilkan masakan kurang lebih sama (pedas membuat berkeringat), namun dari ukuran dan tekstur jauh berbeda. Lebih kecil. Ingin tahu penampakan masakan Mangut Kepala Ikan Sembilang? Nih!

Mangut Kepala Ikan Sembilang

Setelah puas menggabungkan makan pagi dengan makan siang, kami berempat pun melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, Kelenteng Sam Po Kong. Kelenteng ini masih ada di tengah-tengah kota, sangat mudah menemukannya via Google Maps. Kira-kira 30 menit dari Warung Bu Fat, kami pun sampai. Pertama kali kami disuguhi pemandangan kuil yang didominasi warna merah yang mencolok di bangunan-bangunan yang megah dibelakang tembok, dengan tulisan SAM POO KONG besar-besar.

Sam Poo Kong-Semarang

Tiket masuk pun tergolong murah, Rp5.000,00 saja per orang, dan ada extra biaya Rp20.000,00 lagi kalau ingin pakai kostum khusus a la Laksamana Ceng Ho untuk berfoto di dalam komplek kelenteng. Kelenteng ini sangat luas, dengan beberapa bangunan megah di beberapa titik, dan patung-patung raksasa. Salah satu patung raksasa yang menarik perhatian saya adalah patung Laksamana Cheng Ho sendiri (atau dituliskan Zheng He) di tengah-tengah area kelenteng.

Patung Laksamana Cheng Ho-Sam Poo Kong
Suasana di dalam komplek Kelenteng Sam Poo Kong
Ramalan Shio. Anyone? 🙂

Iseng-iseng saya foto banner vinyl yang menunjukkan ramalan berdasarkan shio. Tidak semua shio saya tampilkan, hanya shio kambing, ayam, anjing, monyet, dan babi. Buat yang ber-shio naga dan seterusnya yang tidak ada di gambar, coba cari sendiri ya? Dan nampaknya peruntungan saya di tahun 2017 ini (keberuntungan, karir, dan akademik) cukup bagus! Coba tebak apa shio saya :p

The famous Lawang Sewu!

Selesai mengitari kelenteng Sam Poo Kong, kami lanjut ke tujuan berikutnya. Yaitu komplek Lawang Sewu, yang ada di seberang Tugu Muda, masih di pusat kota Semarang. Untuk lahan parkir sebenarnya sangat terbatas, para pengunjung memarkir mobilnya di jalan kecil di samping kompleks Lawang Sewu, yang nantinya akan mengarah ke Jalan Pandanaran (pusat oleh-oleh khas Semarang). Cuaca Kota Semarang cukup terik hari itu. Namun tak menghilangkan semangat kami untuk menjelajah terus kecantikannya. Untungnya bangunan tua peninggalan jaman Belanda ini sudah direnovasi. Kalau tidak? Hmmmm…

Halaman dalam Lawang Sewu

Saya mendapat informasi dari petugas security-penjaga karcis masuk (hanya Rp10.000,00 per orang), kalau objek wisata ini buka dari pukul 10.00-21.00 WIB. “Buka sampai jam 9 malam, Pak?” tanya saya agak kaget. Maklum, bangunan tua pasti punya kesan mistis tersendiri. Tapi tenang saja, semua bangunan Lawang Sewu terang benderang koq waktu malam hari. “Terus, bangunan penjara bawah tanah apakah sudah bisa dimasuki?” lanjut saya. “Belum mas, masih direnovasi” jawabnya. Entah apakah saya cukup berani memasuki area penjara bawah tanah yang ada di salah satu gedung tersebut.

Banyaknya pohon membuat suasana di halaman dalam Lawang Sewu membuat suasana teduh, ditambah deretan kursi-kursi panjang yang membuat nyaman para pengunjungnya. Setelah lelah berjalan-jalan mengunjungi sebagian objek wisata dan sekedar berkeliling kota Semarang (ditambah saya yang sudah menyetir non-stop selama 8 jam dari Bekasi), kami memutuskan beristirahat di hotel dahulu. Kami memilih hotel Studio Inn di kawasan Candi, yang terletak di dataran agak tinggi. Dimana hawanya masih lumayan sejuk, dan pemandangan ke bawah, ke arah Kota Semarang di malam hari juga sangat cantik. Ingin lihat bagaimana pemandangan dari lantai 4 (Sky Bar)? Ini dia!

Di sebelah kiri, terlihat Bandara Udara Achmad Yani (jika sabar menunggu bisa melihat pesawat landing dan take off). Dan sebelah kanan, nun di kejauhan terlihat pelabuhan Tanjung Emas, dengan kapal-kapal laut besar yang bersandar. Sayang belum sempat melihat pemandangan dari tempat ini saat malam hari.

Saya ingin menutup hari Jumat tanggal 30 Maret ini, H-1 sebelum saya berulang tahun, dengan sesuatu yang istimewa. Makan malam yang istimewa, tentunya! Dan yang terlewat di benak saya saat itu hanya Warung Seafood Pak Sangklak di daerah Telaga Mas. Kenapa ke tempat makan ini? Karena sejak tahun lalu (birthday trip edisi pertama), spot kuliner ini sudah masuk daftar incaran saya. Alhasil, begitu ada kesempatan saya langsung ambil saja! Jarak dari hotel kami di daerah Candi ke Telaga Sari cukup jauh. But it worth every mile taken! 

Seafood Pak Sangklak

Papan nama restoran sudah terlihat dari belokan jalan, dan saat itu restoran seafood yang terkenal dengan srimping (scallop) goreng bawang putih. Namun kali ini karena beberapa alasan, kami tidak memesan signature dish ini. Kami hanya pesan sup ikan kakap putih dan ikan kerapu bakar kecap. Ditambah 2 porsi cah kangkung terasi dan tauco dan 3 porsi nasi. Kami cukup kaget saat melihat sup ikan kakap putih sampai di meja kami. Porsinya besar, dan cukup untuk 4-5 orang, karena ikan yang dipakai juga cukup besar. Sedangkan untuk ikan kerapu bakar kecap ukurannya sedang, sehingga tidak membuat kami bingung bagaimana cara menghabiskannya 🙂

Seafood Pak Sangklak. Enak !

Baiklah, mungkin di kesempatan berikutnya saya akan pesan srimping goreng, cumi masak hitam, dan beberapa menu yang lain. Just wait for my revenge! Hahahaha…

Meninggalkan Warung Seafood Pak Sangklak dengan perut luar biasa penuh. Dan sepertinya kami perlu jalan-jalan malam sebentar di kota ini sebelum kami bertolak kembali ke hotel. Pilihan lokasi jalan-jalan jatuh pada kawasan alun-alun Simpang Lima Semarang, yang tidak terlalu penuh di Jumat malam. Setelah parkir di seberang Ace Hardware, kami menyeberang dan berjalan berkeliling kawasan ini. Sepeda, becak dan kereta dengan lampu warna-warni disediakan untuk disewa di hampir sekeliling alun-alun tersebut. Di tengah alun-alun saya melihat adanya lapangan olah raga, salah satunya lapangan basket dan satunya lagi lapangan bola voli atau badminton. Saya kurang jelas melihatnya saat itu, mungkin karena saya fokus melihat lapangan basketnya. Terlihat beberapa anak muda bermain basket, padahal saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB dan tidak ada lampu penerangan khusus. Saya cukup heran olah raga basket masih hits di kota ini, karena mungkin di beberapa kota lain, lapangan basket sudah dipakai bermain bola (futsal).

Alun-alun Simpang Lima Semarang
Lapangan basket- alun-alun Simpang Lima Semarang

So, this Semarang Trip day 1 is over. Time to crash. Dan mungkin, saya akan kembali melewatkan detik-detik dimana usia saya bertambah 1 tahun seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti halnya beberapa perayaan tahun baru karena tertidur pulas. Besok pagi saya sudah ada rencana untuk lari pagi sendiri di Water Polder Tawang (kawasan Kota Lama) tepat di seberang Stasiun Semarang Tawang, dilanjutkan dengan jalan-jalan singkat di kawasan Kota Lama sebelum bertolak ke Kota Ambarawa.

Kira-kira apakah saya bisa terjaga sampai pergantian hari dan bangun di pagi hari untuk oleh raga? Simak cerita #SemarangTrip edisi kedua dan ketiga saya dengan tambahan #AmbarawaTrip di tulisan berikutnya!

 (to be continued)

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Semarang Trip 2017 (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s