Family Trip ke Jakarta di Bulan Juli

Kehebohan terjadi di awak bulan Juli ini.

Betapa tidak, saya yang ingin pulang kampung ke Kota Malang tercinta di bulan ini sengaja mengirimkan 3 anggota keluarga di Malang, ayah dan dua keponakan saya, Dirta dan Deryl ke Bekasi, untuk kemudian dengan berlima bersama-sama berangkat ke Malang.

Dirta dan Deryl yang nyata-nyata bus mania, sangat kegirangan karena kesampaian juga naik bus double decker. Sebuah pengalaman yang sangat mereka idam-idamkan, melaju di lantai dua bus Gunung Harta lewat Tol Trans Jawa. Berangkat dari Terminal Arjosari sore hari tanggal 6 Juli untuk dijadwalkan sampai di Terminal Pulogebang keesokan harinya, tanggal 7 Juli pagi hari. Saya pun yakin, di sepanjang perjalanan mereka tak henti-hentinya menikmati pemandangan sepanjang Tol Trans Jawa dari ketinggian lantai 2 bus double decker tersebut.

Day 1: 8 Juli 2022

Touch down Jakarta!

Makanan yang pertama kali mereka ingin nikmati kembali adalah Bakmi Keriting Lepodo, terletak di areal perumahan Jaka Permai, Bekasi Barat. Ini adalah kali kedua mereka makan di warung mie ayam ini, dan terus terkenang dengan rasanya. Sehingga saat main ke Bekasi lagi, makan mie ayam ini wajib hukumnya!

Bakmi Keriting Lepodo, Jakasampurna, Bekasi Barat

Bakmi Keriting Lepodo ini pada dasarnya sama dengan bakmi ayam lainnya, ayamnya cukup direbus dan dipotong-potong kecil saja sebagai topping, bersama dengan caisim , daun bawang. Bakso sapi dan pangsit rebus menjadi pilihan topping tambahan. Favorit saya adalah Yamien Manis dengan ekstra kuah, plus tambahan kecap asin dan lada melimpah pada kuahnya yang sengaja di-setting sedikit asin, cenderung tawar. Satu porsinya sebenarnya cukup banyak dan mengenyangkan. Racikan kecap manisnya pas, menjadikan rasa mienya manis dengan sentuhan rasa gurih/umami. Bisa request tanpa mecin, kalau tidak suka.

Kira-kira begini penampakan Yamien Manisnya:

Bakmi Keriting Lepodo, Jakasampurna, Bekasi Barat

Spot 1: Pekan Raya Jakarta

Lagi-lagi, ini adalah kali kedua bapak, Deryl, dan Dirta jalan-jalan ke PRJ. Dan saya sangat lega tahun ini PRJ kembali digelar setelah 2 tahun absen gegara pandemi Covid-19. Saya bisa ajak mereka menghabiskan sore hingga malam hari di perhelatan pameran, musik, dan kuliner terbesar di Indonesia ini. Salah satu spot wajib kunjungi adalah booth Campina, tentunya.

Booth Campina, Pekan Raya Jakarta 2022
Booth Campina, Pekan Raya Jakarta 2022
Booth Campina, Pekan Raya Jakarta 2022

Ada sedikit cerita lucu. Jadi saya ambil foto mereka ini yang sedang asyik makan es krim scoop bersama dengan kakeknya ini, dan mengirimkannya ke nomor WhatsApp ibu mereka. Tanpa saya ketahui, adik saya-ibu mereka, berpesan ke Deryl dan Dirta. Melarang mereka untuk makan es krim atau minuman dingin lainnya. Khawatir mereka akan batuk, dan lain-lain. Setelahnya, saya video call ibu mereka dan serempak mereka menyembunyikan es krim di tangan mereka, tanpa mengetahui foto mereka sudah terkirim sebelumnya. Busted, caught right handed, ahahahahaha…

Saat datang ke arena Pekan Raya Jakarta tahun ini, saya menyaksikan perhelatan ini sedemikian diserbu oleh lautan pengunjung, yang bukan saja datang dari Jabodetabek saja, namun datang dari seluruh Indonesia. Liburan ke Jakarta, jalan-jalan lihat pemandangan kota, mencicipi kuliner khas, dan main ke PRJ. Ini adalah perhelatan PRJ yang paling ramai sepanjang masa, nampaknya.

Di jam-jam ramai, jangan harap bisa berjalan-jalan santai di area outdoor maupun indoor (Hall A dampai E), masyarakat demikian tumpah ruah. Terutama di akhir pekan. Ditambah jika datang ke arena PRJ di sore hari akhir pekan mengantre parkir saja bisa sangat menyita waktu.

Day 2: 9 Juli 2022

Spot 2: Jakarta MRT

Tidak lengkap rasanya jika mereka jalan-jalan ke Jakarta tanpa mencoba moda transportasi paling modern, mass rapid transit (MRT) Jakarta. Keesokan pagi harinya, kami bersama-sama ke Carrefour Lebak Bulus. Bukan untuk belanja, namun untuk sekedar parkir mobil saja, Dari parkiran Carrefour, kami berjalan sebentar menuju Stasiun MRT Lebak Bulus. Sebelumnya, masing-masing dari kami, saya, istri saya, bapak, Deryl, dan Dirta sudah pegang kartu E-toll dan Flazz. Tinggal tap-tap kartu saja, dan perjalanan seru kami dengan MRT dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI), dan seterusnya akan sangat mudah.

Stasiun MRT Lebak Bulus
Stasiun MRT Lebak Bulus

Saya yang baru kali ketiga naik MRT ini pun masih merasa excited dengan pemandangan sepanjang Lebak Bulus hingga Senayan. Masih seperti turis yang mengabadikan lewat foto dan video di beberapa spot keren sepanjang perjalanan. Dari Senayan hingga Bundaran HI, praktis hanya gelap saja di luar gerbong kereta, karena sudah masuk ke terowongan bawah tanah. Cukup 30-40 menit, kami pun sampai di Stasiun MRT Bundaran HI.

Dan seketika kami punya ide untuk naik bus Trans Jakarta (TJ) untuk sampai ke Monumen Nasional (Monas). Juga, jika waktunya pas, kami akan mencoba bus double decker gratis untuk berkeliling kota Jakarta. Mudah-mudahan dimudahkan perjalanan seru ini, dengan cuaca cerah tanpa hujan.

Setelah berfoto sejenak dengan latar belakang Bundaran HI dan gedung-gedung tinggi, kami menuju halte Trans Jakarta terdekat untuk mengantarkan kedua keponakan dan bapak saya mencoba moda transportasi bus umum terintegrasi ini, untuk pertama kalinya. Saat itu, beberapa halte TJ, termasuk diantaranya Bundaran HI sedang dalam proses perbaikan-pembangunan, sehingga kami menunggu bus TJ arah Monas dari sisi samping Hotel Grand Hyatt. Tidak berselang lama, bus yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Setelah tap kartu kami di pintu keluar, kami melanjutkan perjalanan ke pintu masuk Monas yang cukup jauh dari Halte TJ Monas. Butuh effort memang, sekalian olah raga, batin saya.

Spot 3: Museum Gajah

Siang itu cuaca sangat terik, dan jam sudah menunjukkan tengah hari. Untuk berjalan menuju Tugu Monas sendiri pasti akan sangat melelahkan, terutama untuk bapak saya yang sudah berusia 70 tahun. Tidak melanjutkan perjalanan ke arah tugu, kami berbalik menuju Museum Gajah. Untuk kami semua, termasuk saya yang sudah tinggal di Bekasi-kerja di Jakarta sejak 2005 ini, adalah sama-sama pengalaman pertama. Untuk masuk ke dalam museum, dikenakan biaya yang cukup terjangkau, Rp5.000,- per peserta.

Buat saya pribadi, bangunan dan tata letak artefak-benda bersejarah di Museum Gajah ini sungguh menarik. Sayang sekali, adik bungsu saya yang sangat menggilai dunia barang-barang antik bersejarah, yang menghantarkannya menjadi Kepala Museum Singasari, Kabupaten Malang. Tentunya dia akan sangat terinspirasi dengan cara Museum Gajah memberikan excitement kepada para pengunjungnya, memberikan sentuhan teknologi, video mapping, dan lain-lainnya. Dan kemudian, dia bisa menghadirkan the same excitement dengan cara yang berbeda, dengan apapun yang dipunya di Museum Singosari.

Pengalaman yang sungguh mengasikkan. Buat saya, hari ini berjudul Sabtu Bersama Bapak, dan untuk kedua keponakan saya, hari ini bernama Sabtu Bersama ‘pakdhe-budhe-mbah kung’. Tanggal 9 Juli 2022, yang bertepatan dengan Hari Idul Adha.

Selepas kunjungan ke Museum Gajah, kami pun beranjak pulang. Naik bus Trans Jakarta untuk turun di Halte Senayan, untuk melanjutkan perjalanan dengan Jakarta MRT kembali ke Lebak Bulus. Keesokan hari, kami akan berangkat ke Malang, dengan menginap satu malam di Kota Solo, mencoba kuliner khas kota ini, baik halal dan non-halal. Nantikan cerita berikutnya ya!

Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s