Digital Marketing And Social Media Conference 2016 (A Late Review-Bagian 2)

Anda bisa membaca postingan saya sebelumnya tentang review DMSMC 2016 bagian 1 disini.

Setelah sesi Pak Anthony Liem, saya berkesempatan mendengarkan presentasi dari Profesor Richardus Eko Indrajit setelah sesi makan siang. Sesi yang sangat berat untuk seorang presenter yang tampil setelah sesi istirahat ini, tak lain karena kantuk yang pasti menyerang dengan agresif setelah menyantap hidangan dari Hotel Ritz Carlton siang itu. Namun yang saya khawatirkan tidak terjadi, malah selama kurang lebih 90 menit sesi presentasi Prof Eko  semua seminar participant fokus dengan materi beliau, yang dibawakan dengan sangat passionate, dibumbui dengan celetukan-celetukan jenaka yang cerdas.

Profesor R. Eko Indrajit
Profesor R. Eko Indrajit

No wonder. Beliau adalah seorang profesor, yang kadar keilmuannya mungkin tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan sekali lagi apa yang saya lihat mematahkan persepsi dan pandangan saya akan seorang profesor. Maklum, sebagian profesor yang saya temui semasa studi S2 saya punya karakter yang sangat spesifik sehingga bisa saya jadikan suatu hal yang stereotip; killer/galak, full of judgmental, angkuh, memandang anak-anak didiknya sebagai anak-anak kecil yang baru belajar baca, dan terkadang semaunya sendiri. Namun profesor yang satu ini sungguh berbeda.

Continue reading

Advertisements

Java Jazz Festival 2015. Apa Bedanya dari Tahun Lalu?

IMG_20150308_175215

Tepat satu tahun yang lalu, 2 Maret 2014 saya buat review akan perhelatan Java Jazz Festival 2014 (JJF2014) dibandingkan dengan Java Jazz Festival 2013 (JJF2013). Secara singkat, perhelatan JJF2014 lebih meriah dibandingkan JJF2013. Ingin tahu detailnya? Bisa baca disini.

 

Lalu bagaimana dengan perhelatan Java Jazz 2015?

I think JJF2014 is better than this JJF2015. Dari sisi mana saja saya bisa katakan kalau perhelatan JJF2015 tidak lebih baik dari tahun sebelumnya?

Continue reading

Ulasan Artikel : Strategi Digital Marketing untuk Underdog Brand*

Artikel yang menarik, saya temukan di Majalah Marketing edisi 02/XV/Februari 2015 yang ditulis oleh Pak Harryadin Marhardika (vice director MM-FEUI).

Majalah Marketing edisi 02_XV_Februari 2015
Majalah Marketing edisi 02/XV/Februari 2015

Jika di artikel underdog brand dirupakan dalam format band-band indie yang cenderung punya followers atau fans yang fanatik, karena ide-ide yang disampaikan oleh band-band indie tadi lewat karya-karyanya dirasakan mewakili apa yang dirasakan oleh para fans tadi, atau disebut juga dengan identify mechanism (terwakilinya kisah hidup nyata seseorang oleh sebuah ide), saya lebih suka melihatnya dari sisi brand telco.

Saya seorang user Indosat, market challenger di industri telco, sejak tahun 2002. Sampai dengan hari ini, saya setia menggunakan kartu GSM Mentari, meskipun sudah berkali-kali berganti SIM card. Beberapa alasannya karena SIM card yang over heated, alias ‘kepanasan’ saat dipasang di 2 handset Blackberry yang pernah saya punyai. Well, alasan dulu pilih pakai kartu Indosat instead of XL maupun Telkomsel adalah karena saya percaya saat itu (pemikiran saya saat masih kuliah di Unibraw Malang), bahwa market challenger pasti akan memberikan lebih banyak kepada para penggunanya. Artinya, saya mengharapkan merek nomor 2 atau nomor 3 yang saya pakai bisa memberikan manfaat yang lebih dibandingkan jika saya menggunakan produk dari market leader. Kenapa?

Karena market leader sebenarnya tidak perlu bersusah payah layaknya merek nomor 2 atau nomor 3 dalam meretensi konsumennya. Hanya dengan memberi sentuhan-sentuhan kecil saja, update-update kecil saja, membuka diri untuk komunikasi dua arah dengan para penggemarnya (baca : pengguna), cukup. Namun beda dengan pemain kedua, ketiga, dan seterusnya. Pemain-pemain tersebut akan lebih mengeluarkan effort untuk bukan saja meretensi, namun untuk mengakuisisi pengguna merek nomor 1, nomor 3, dan seterusnya. Masih diingat beberapa tahun yang lalu saat provider telco AXIS menjadi title sponsor event jazz terbesar,  Java Jazz 2011. They’ve done so much. Or too much? They’re not even exist today…

Now, about the under dog 🙂

Continue reading

Marketing and Branding. One Simple Explanation…

Marketing vs Branding
Marketing vs Branding

The other day, I red this article. A simple explanation about branding and marketing. How to differ it, in a very easy way. Below is the link to the article :

http://blog.kissmetrics.com/where-branding-begins/

So, please allow me to repost it, the purpose is to have a clearer personal insight about what’s branding and marketing is all about, since I’m a forever learner, which actually this, marketing and branding and whole stuffs related to it, become one of my interests 🙂

What I’ve noticed from my years of experience in online marketing is that you probably think branding involves the following:

 Logos, color schemes, and website design – What should my logo be? What colors represent my business best? How do I go about with my web design?
● Brand mentions, links, and social popularity – I have to be as visible online as possible, because this promotes brand recall
● SERPs visibility, ad campaigns, and other promotional efforts

If you answered any of the above, then you’re looking at branding the wrong way. The items I mentioned are all marketing tools and strategies, and they only scratch the surface of branding.

Marketing is the set of processes and tools promoting your business. This includes SEO, social media, PPC, local search, mobile, and traditional promotional methods and tools. Branding, on the other hand, is the culture itself, the message that permeates and rules all the process of your business.

Continue reading

Presentasi REBI – Rekor Bisinis 4 April 2014

It’s a corporate event, posted as personal event, since this is a kind of achievement for me 😀

Jadi gini..

Website e-commerce company, a local ice cream company, akan diajukan sebagai salah satu rekor bisnis, dengan klaim “toko es krim online pertama dan satu-satunya di Indonesia”, salah satu mile stone buat company dan saya sendiri sebagai salah satu yang membidani lahirnya website yang merupakan portal e-commerce pertama untuk perusahaan ini.

Ini semua dimulai dengan didaftarkannya klaim ini ke Panitia REBI (Rekor Bisnis), dimana website-nya bisa dilihat disini. Klaim website e-commerce korporat sebagai toko es krim online pertama dan satu-satunya tersebut bisa diterima dengan baik, melewati tahapan seleksi berkas (seperti hanya seleksi berkas saat mengirimkan lamarkan pekerjaan dulu), dan diundang untuk sidang pembuktian REBI, di Ritz Carlton Hotel, 4 April 2014.

So, here’s the story of the day :

Harwindra Yoga di Sidang REBI
Harwindra Yoga P di Sidang REBI

Di hari itu, saya dan top management level dari perusahaan melangkah mantap ke dalam ruangan sidang yang dihadiri oleh (yang saya percayai) sebagai orang-orang yang ahli di bidangnya, bidang pemasaran, baik konvensional maupun digital. Saya, yang presentasi hari itu, mewakili generasi milenial, berhadapan dengan para panelis dan juri yang kebanyakan dari generasi baby boomers, dimana hanya 1 orang (menurut saya) yang paham tentang digital marketing dan e-commerce ini, yaitu Pak Handi Irawan, salah satu true believer in digital marketing. Kebanyakan ilmu saya, saya dapatkan dari training-training beliau, yang saya dapatkan tentunya dari perusahaan yang invest budget-nya ke training-trainingyang  relevan dengan bidang saya, yang pernah saya ikuti.

Hari itu berjalan cukup lancar, presentasi cukup sengit dengan debat-debat dan argumentasi yang baik. Ada juga argumen-argumen yang berputar-putar disitu-situ saja, tentang pemasaran yang konvensional, yang tentunya dilemparkan oleh mereka yang berasal dari generasi baby boomers tersebut, para profesor dan doktor 🙂

Sesi presentasi berjalan cukup baik dan seru, dan tidak selesai, butuh waktu yang lebih lama dari 30 menit. Bel berdenting diiringi suara “Aahhhhhhh….” dari mereka yang antusias dengan sesi tanya jawab tentang website ini.

Next to find out is off course the result of our claim, our e-commerce website as ” the first and the only online ice cream store in Indonesia” and then, the award and the inauguration 🙂

 

 

 

 

 

Toko Roti Favorit, Tous Les Jours

Raisin pastry, my favorite!

Saya ingat roti pertama yang saya coba dari Tous Les Jours ini, raisin pastry. Pastry lembut dengan rasa yang kaya susu, dengan taburan raisin/kismis yang kaya didalamnya. Saya ingat, mencobanya pertama kali di gerai  Grand Indonesia. Porsinya pas, cocok dengan harga Ro 16.000,- per piece-nya, dan enak! Saat itu, sore hari tanggal 28 Juni 2013, saya sedang menunggu event Detikcom, yang membahas tentang buzzer. Kebetulan belum makan siang, jadi 2 pastry ini pas untuk mengisi perut saya 🙂

Raisin Pastry & Donuts
Raisin Pastry & Donuts
Bubble drink latte, lupa namanya...
Bubble drink latte, lupa namanya…

Apa itu Tous Les Jours, by the way?

Bahasa Perancis bukan? Artinya apa? Kenapa diberi merek atau disebut, Tous Les Jours? Pertanyaan itu yang pertama kali muncul di benak saya. Saya jadi ingin tahu lebih jauh tentang bakery shop yang kemudian saya tahu disebut sebagai bakery cafe ini. Yuk, kenal dengan Tous Les Jours lebih jauh…

Setelah saya buka official website-nya Tous Les Jours (selanjutnya akan disebut TLJ agar lebih singkat), saya temukan banyak informasi-informasi menarik.

Continue reading

Memulai Corporate Knowledge Management

Know the WHY and somehow HOW will follow…

Ini seperti hukum yang tidak tertulis yang banyak membantu proses berpikir. Jika bingung atas suatu ide baru yang belum muncul, entah karena kurangnya informasi pendukung, kurangnya informasi tentang pemikiran-pemikiran sejenis yang serupa, bisa dimulai dari suatu pemikiran : “Kenapa hal itu harus dijalankan ?” Atau kenapa harus diadakannya hal tersebut. Dari ada jadi tidak ada, lalu implikasi dan impact-nya apa buat kehiduan kita dan pihak-pihak yang terkait? Berangkat dari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa’ tersebut, kita bisa temukan satu per satu ‘bagaimana caranya’ Atau HOW to do that thing?

Sama dengan pertanyaan yang sempat muncul di benak saya lewat beberapa diskusi informal dengan @figiluna (HRD Manager di perusahaan tempat saya bekerja) tentang knowledge management ini. Kenapa koq knowledge management perlu diterapkan atau dipunyai di suatu perusahaan? Menurut saya karena :

1. Banyak personel di perusahaan yang sudah pernah/beberapa kali melakoni sesi training dan workshop tentang apapun yang relevan dengan dunia kerja, minat dan kemampuan, serta ilmu pengetahuan yang sedang dibutuhkan-sedang dipelajari banyak orang. Dan memang, materi training/workshop selalu dibagikan baik dalam bentuk soft copy maupun hard copy. Yang entah kapan akan dibaca oleh orang lain dalam perusahaan, baik yang terkait secara langsung maupun tidak untuk berbagai motivasi. Ingin menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, misalnya. Nah, jika personel yang ikut training dan workshop tadi membuka kelas khusus yang dapat diikuti oleh mereka yang tertarik dengan disiplin ilmu tersebut atau yang dunia kerja sehari-harinya terkait dengan bidang ilmu tersebut, dalam artian mengajar selama 1-2 jam, maka besar kemungkinan lewat metode belajar mengajar seperti ini, ilmu tersebut akan besar kemungkinan akan lebih bermanfaat buat orang banyak. Karena dibagi.

2. Banyak personel yang sudah berpengalaman di beberapa bidang kerja. Misalnya di bidang sales dan distribusi. Akan ada banyak success story yang bisa dibagi, lalu dibukukan atau di-dokumentasikan untuk dijadikan guidance apabila ada kejadian atau malah yang bisa juga terkait dengan success story yang membuahkan key success. Misalnya : seorang area sales manager yang mampu menaklukkan area baru dimana dia ditugaskan, dengan berbagai pendekatan dan metode, bisa menghasilkan kontribusi sales yang signifikan lewat pertumbuhan vertikal, dengan banyaknya pelanggan-pelanggan baru di area tersebut. Lalu lewat suatu metode dokumentasi, ia bisa menceritakan pengalaman dan success story-nya, untuk dapat digunakan orang lain yang kemungkinan dapat tugas untuk membuka suatu wilayah baru.

Continue reading