Tahun 2015, Salah Satu Tahun Yang Hebat?

Hari ini sudah menjelang penghujung bulan Desember, yang artinya sebentar lagi akan berpisah dengan tahun 2015 dan berkenalan dengan tahun 2016. A goodbye can lead us to a new hello!

Kata kunci, atau lebih tepatnya kata sakti di saat-saat menjelang tutup tahun adalah : resolusi!

Iya, janji atau keinginan yang diucapkan menjelang akhir tahun, yang biasanya bertujuan bahwa keadaan di tahun 2015 menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Pastinya. Entah karir yang semoga makin melesat di tahun depan, di perusahaan yang sama atau perusahaan lain, bisnis yang makin menggurita, yang akan mengarah pada kesejahteraan yang lebih baik di tahun depan. Kebebasan finansial, mimpi karyawan seperti saya ditengah-tengah tagihan, tabungan, keinginan untuk berinvestasi, dan cicilan hutang.

Well, everybody knows that for sure.  Resolusi adalah sesuatu yang indah, buat saya. Resolusi seperti janji buat diri saya sendiri untuk melakukan banyak hal dengan apa yang ada dalam diri saya sendiri, untuk memperbaiki diri dan sekeliling saya, yang masuk dalam jangkauan saya. Yang sederhana-sederhana saja lah. Sesederhana berkeinginan kuat untuk memperbaiki penampilan (baca : mempunyai tubuh yang lebih proporsional) dan lebih sehat dan bugar.

 

20151221_144923_Pano
Pantai Goa Cina, Malang Selatan

.

Mungkin yang akan jadi prioritas saya di tahun 2016 adalah : kesehatan, karir, keluarga.

Continue reading

Advertisements

August and A Brand New Hope.

Learn
Not to stop questioning…

“Bye July, hello August!”

“Dear August, please be nice…”

That’s what I’ve red in some of my friends’ social media accounts. Whether it is from path, instagram, twitter, facebook, google+ and any other social media. The point is, the ask August to be nicer to them. They ask for a sweeter and more kind August. Well, this early of August went so nice. At least for me.

 

How so?

Here’s the thing. I was invited, asked to be precise, to be one of FISIP ( Faculty of Social and Political Science) Universitas Indonesia – Communication Major lecturer. Well, not yet to be permanent by the way. I was asked to be their temporary lecturer for just 1 semester only. Another intriguing 6 months ahead. It will all start at September 2014 until February 2015. Start quite the same as my master degree class. I’m now at the 3rd semester of my master degree. In Business and Economics. Hopefully, I will be graduated at September 2015. 2 years of college.

And it all start from a facebook message that told me this :

“Hi Harwindra, my name is Titut. I’m working at S1 Komunikasi – UI. And I would like to ask you to be our lecturer, in Digital Marketing for one semester. You’ll be teaching regular S1 students. Would you do that ?” (Ms. Titut is a nick name of Head of Communication Program, Ms. Clara Endah Triastuti)

And I instantly said : “Yes, with pleasure!”

 

Now, being a lecturer is a kind of my hidden log time dream.

Felt like I’ve been given talent and everything but still got no room or space to use it. And now here’s my chance. Here’s my opportunity. To make it all come true. One step at the time! I can not hide it. I can  not hide my joy and happiness. Surely. I used to say that during my senior year, I will be retiring at the age of 45. Meaning, I will no longer working 8 to 5 just like what I did until today. Joining the rush every morning just to get to the office right on time. Back to the road again at the end of the day. Every single day, Monday to Friday (and sometimes Saturday).

See, everyday I’m not just stock-piling (saving) money and other materials, but more important things are I also stock-piling, collecting experience, new people/networks, skills, expertise, knowledge, and stuffs. And try to stay healthy everyday (although it’s hard being healthy – eat clean train dirty).

Being a regular lecturer  is a new experience for me. But if it is just lecturing, or being guest lecturer, I’ve done that before. You can follow my story here.  Oh, surely it’s gonna be so much exciting!

Just wait for my next story, about this 🙂

 

 

 

 

 

Cerita Saya Membuat SIM A dan SIM C Baru

SIM A dan SIM C saya
SIM A dan SIM C saya

 

“Udah lah, ngapain repot-repot pakai ujian teori dan ujian praktek, bayar aja, beres” (komentar 1, teman)

“Mas, mau dibantu bikin SIM, mas? SIM A atau SIM C?” (komentar 2, calo SIM merangkap tukang foto kopi)

“Iya, bisa dibantu dik? Iya, buat pengajuan SIM baru lewat sana. Mau sekalian bapak bantu? Langsung foto” (komentar 3, oknum polisi-sudah bapak2, ramah)

Itu tadi beberapa komentar dan masukan dari beberapa orang saat mengetahui kalau saya ingin membuat SIM A dan SIM C baru, saat semua SIM saya sudah tidak berlaku lagi, expired. Saat saya sudah berpindah kewarganegaraan dari penduduk kota Malang, Jawa Timur menjadi penduduk kota Bekasi, Jawa Barat. Mulai was-was saat mengendarai mobil dan sedang ada razia, meskipun itu razia motor saja. Mulai juga khawatir saat mengendarai sepeda motor di kampung halaman, saat berkeliling kota Malang.

“Jangan-jangan di pengkolan Jalan Raya Langsep – depan mesjid besar (saya lupa nama mesjidnya), ada razia polisi” atau “Jangan-jangan di depan Taman Krida Budaya-Jl Soekarno Hatta Malang lagi ada razia” pikir saya saat setiap kali mengendarai sepeda motor.

Dan saat itu, saya memutuskan untuk membuat SIM A dan SIM C baru, dan saya putuskan saya akan menempuh jalan yang susah. Artinya, bukan jalan pintas. Tidak pakai bayar ke oknum polisi atau petugas pelayanan pembuatan SIM lainnya, di Polres Bekasi. Tidak sepeserpun saya mau keluarkan uang saya untuk mereka. Saya tidak peduli kalau nanti saya bakal dipersulit. Saya bakalan gagal dan mengulang di ujian praktek, dan pastinya juga ujian teori. I’m so ready!

Jadi tibalah hari itu, saya ambil cuti sehari khusus untuk mengurus ini dan itu, dan saya yakin, saya tidak akan dengan mudah mendapatkan SIM dan dan SIM C itu dalam sehari. Pasti ada cerita, pasti banyak cerita.

Dimulai dari mengambil formulir-formulir, dan membayar biaya pengajuan SIM baru, SIM A  Rp 120.000,- dan SIM C : Rp 100.000,- ditambah ongkos tes kesehatan (yang tidak jelas – bersamaan dengan saya ada anak muda yang mengajukan SIM C namun buta warna dan tetap lolos) Rp 50.000,- untuk 2 SIM. Kemudian asuransi kecelakaan, masing-masing Rp 60.000,- Jadi total uang yang saya keluarkan untuk 2 SIM A dan C : Rp 390.000,- saja.

Continue reading

Sekedar Menyapa…

SAM_0794

Halo!

Sebenarnya merasa bersalah karena membiarkan blog ini, yang dari awal saya buat sebagai media untuk berbagi apa yang saya kenali, ketahui, dan pelajari ini sedikit berdebu. Terasa usang…

Terhitung 2 bulan off dari dunia blogging. Karena, kalau boleh jujur, karena keengganan atau kemalasan saya sendiri untuk berbagi. Sayasadar, bahwa saya adalah bagian dari jutaan komunitas yang aktif di dunia sosial media, suatu komunitas yang sangat enteng menggerakkan jemarinya (terutama kedua ibu jarinya) untuk berbagi informasi. Dua jempol yang akibat aktivitasnya bisa (jadi) memberikan informasi yang bermanfaat dan memberikan efek pada banyak orang. Efek baik dan  buruk.

So, hari ini, Senin-24 Februari 2014 saya kembali mengisi blog ini. Ditengah euforia kemenangan 4-3 Liverpool FC atas Swansea City semalam, di hari Senin yang sepertinya tidak terlalu hectic, thus, tidak terlalu produktif, menurut pengamatan saya di ujung hari ini.

Satu hal yang membuat saya agak excited adalah, kembali datangnya kesempatan untuk menonton event jazz besar tahunan di JI Expo Kemayoran secara cuma-cuma. Yes, 10th annual Java Jazz Festival is back! Dan kali ini adalah Java Jazz Festival saya yang ke-9. Dan kali ini adalah Java Jazz saya yang ketiga, dimana saya bisa dengan leluasa melenggang masuk tanpa bayar (malah dibayar). Hehehehehe…. Excited!

Apa kabar? 🙂

 

Memulai Corporate Knowledge Management

Know the WHY and somehow HOW will follow…

Ini seperti hukum yang tidak tertulis yang banyak membantu proses berpikir. Jika bingung atas suatu ide baru yang belum muncul, entah karena kurangnya informasi pendukung, kurangnya informasi tentang pemikiran-pemikiran sejenis yang serupa, bisa dimulai dari suatu pemikiran : “Kenapa hal itu harus dijalankan ?” Atau kenapa harus diadakannya hal tersebut. Dari ada jadi tidak ada, lalu implikasi dan impact-nya apa buat kehiduan kita dan pihak-pihak yang terkait? Berangkat dari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa’ tersebut, kita bisa temukan satu per satu ‘bagaimana caranya’ Atau HOW to do that thing?

Sama dengan pertanyaan yang sempat muncul di benak saya lewat beberapa diskusi informal dengan @figiluna (HRD Manager di perusahaan tempat saya bekerja) tentang knowledge management ini. Kenapa koq knowledge management perlu diterapkan atau dipunyai di suatu perusahaan? Menurut saya karena :

1. Banyak personel di perusahaan yang sudah pernah/beberapa kali melakoni sesi training dan workshop tentang apapun yang relevan dengan dunia kerja, minat dan kemampuan, serta ilmu pengetahuan yang sedang dibutuhkan-sedang dipelajari banyak orang. Dan memang, materi training/workshop selalu dibagikan baik dalam bentuk soft copy maupun hard copy. Yang entah kapan akan dibaca oleh orang lain dalam perusahaan, baik yang terkait secara langsung maupun tidak untuk berbagai motivasi. Ingin menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, misalnya. Nah, jika personel yang ikut training dan workshop tadi membuka kelas khusus yang dapat diikuti oleh mereka yang tertarik dengan disiplin ilmu tersebut atau yang dunia kerja sehari-harinya terkait dengan bidang ilmu tersebut, dalam artian mengajar selama 1-2 jam, maka besar kemungkinan lewat metode belajar mengajar seperti ini, ilmu tersebut akan besar kemungkinan akan lebih bermanfaat buat orang banyak. Karena dibagi.

2. Banyak personel yang sudah berpengalaman di beberapa bidang kerja. Misalnya di bidang sales dan distribusi. Akan ada banyak success story yang bisa dibagi, lalu dibukukan atau di-dokumentasikan untuk dijadikan guidance apabila ada kejadian atau malah yang bisa juga terkait dengan success story yang membuahkan key success. Misalnya : seorang area sales manager yang mampu menaklukkan area baru dimana dia ditugaskan, dengan berbagai pendekatan dan metode, bisa menghasilkan kontribusi sales yang signifikan lewat pertumbuhan vertikal, dengan banyaknya pelanggan-pelanggan baru di area tersebut. Lalu lewat suatu metode dokumentasi, ia bisa menceritakan pengalaman dan success story-nya, untuk dapat digunakan orang lain yang kemungkinan dapat tugas untuk membuka suatu wilayah baru.

Continue reading

So, Why Not?

Why not?

Why Not? :)
Why Not? 🙂

 

That is the question that I always asked to my self whenever I heard someone called “why bother [something]” or “I think it’s ok if we only do this, without no extra thing. Why should we do anymore of that?”

See… The question that being asked by those (likely) afraid to come out of their shell, afraid to jump out from their well being, afraid to loose their comfort of current situation, afraid of steping out of their comfort zone.

Or just feel like there’s no point of doing such thing. Simple as that.

But, the attitude of always seeing things differently in logical, sometimes make someone can do more than it used to be, usually. Start with this question : “Why not?” But never instantly do, think first, before doing. Be pro active. Find the reason in not doing the given option.

Continue reading