[Christmas Homecoming Story] Bagian 8-Kampus FEB Unibraw Tercinta

Last day in Malang!

Ada beberapa agenda di hari terakhir saya dan istri di Kota Malang, yang pasti salah satunya adalah makan bersama dengan keluarga. Tidak harus mewah dan mahal, yang penting kebersamaan kalau orang bilang. Dan agenda yang pasti kami lakukan hari itu adalah: ziarah ke makam keluarga di dua tempat-TPU Samaan dan TPU Landungsari, mampir ke kampus tercinta Universitas Brawijaya Malang, tepatnya ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis (dulu cukup disebut Fakultas Ekonomi saja), dan belanja beberapa bahan olahan makanan untuk oleh-oleh di Pasar Oro-Oro Dowo.

Tujuan pertama: TPU Samaan.

Di pemakaman ini cukup banyak anggota keluarga saya dari garis keturunan bapak saya dikebumikan di sini, dari buyut, kakek, nenek, pakdhe, budhe, bulik (tante) saya. Hanya 2 tempat saja yang saya hafal karena sering singgahi, yaitu makam nenek saya, Mbah Sadikyah (mbah Yah-ibu dari bapak saya) dan kakek saya (ayah dari ibuk saya), Mbak Kung Suitbertus Harjosuprapto (atau dipanggil Mbah Prapto). Hampir setiap saya pulang ke Malang, dan menjelang keberangkatan saya kembali ke perantauan, saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke makam mereka. Mendoakan mereka, agar tenang dan bahagia di alam sana.

TPU/Makam Samaan, Malang
TPU/Makam Samaan, Malang

Continue reading

Advertisements

[Christmas Homecoming Story] Bagian 6-Pantai Ngliyep, Malang Selatan

Selepas kunjungan ke Kampung Warna-Warni Jodipan, untuk membandingkannya dengan Kampung Pelangi Kalisari, Semarang (IMHO, Kampung Jodipan punya lebih banyak point of interests dibanding Kampung Kalisari), kami beranjak pulang dengan agenda berikutnya: Pantai Ngliyep di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Kira-kira 65 km dari tempat tinggal saya, kira-kira 3 jam perjalanan. Jauh memang! πŸ™‚

Seingat saya, sebelumnya saya baru satu kali mengunjungi pantai cantik ini. Itupun saat saya sedang KKB (Kuliah Kerja Bisnis) di Kelurahan Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang sekitar 15 tahun yang lalu. Dan artinya, selain bernostalgia di Kedai Chinese Food Jalan Dempo kemarin malam, saya juga akan melewati kembali (baca: napak tilas) jalur saya berangkat pulang pergi naik motor untuk KKB dulu, saat masih duduk di semester 5 Fakultas Ekonomi Unibraw-Malang. Saya masih ingat dengan harga makanan yang jauh lebih murah dibanding di Kota Malang. Pernah saya makan salah satu warung makan di Pasar Desa Pagak, nasi lauk pauk dan es teh manis dihargai hanya Rp2.000,- saat itu. Jika makan di warung makan biasa di Kota Malang, mungkin sudah dihargai Rp3.000,- s/d Rp3.500,-

Nah, kembali ke pokok bahasan Pantai Ngliyep..

Beda dengan pantai-pantai yang pernah saya kunjungi di gugusan pantai selatan di Kabupaten Malang lainnya, Pantai Ngliyep cenderung merupakan pantai solitaire, mungkin hanya ditemani oleh Pantai Pasir Panjang saja di gugusan yang sama. Sementara di gugusan pantai selatan lainnya, sudah dihubungkan oleh Jalur Pantai Selatan (Pansela), atau jalan raya baru yang menghubungkan kota-kota di pesisir pantai Pulau Jawa, dari Propinsi Banten hingga Propinsi Jawa Timur. Saya sudah membayangkan nanti, selain jalur Pantura (Pantai Utara) dan jalur tol Trans Jawa, saya bisa pulang ke Malang dengan melalui Jalur Pansela, yang akan selalu terekspos dengan pantai-pantai cantik! Gugusan pantai di sebelah yang bisa dinikmati dengan 1 kali jalan antara lain: Pantai Balekambang, Pantai Sendang Biru, dan diantara kedua pantai utama itu masih ada belasan pantai yang lain. Diantaranya: Pantai Banyu Meneng, Pantai Goa Cina, Pantai Batu Bengkung, Pantai Bajul Mati, dan masih banyak lagi.

Pantai Ngliyep, Donomulyo, Kabupaten Malang

Continue reading

[Christmas Homecoming Story] Bagian 5-Cantiknya Kampung Warna Warni Jodipan!

It’s Christmas!

But I got no time to be lazy. Got lots food eaten. Now, it’s time to run!

Bergegas pagi itu, saya dan istri (tanpa keponakan-keponakan jahil saya, karena mengikuti misa anak pukul 08.00 WIB di gereja yang sama dimana kami misa kemarin malam) menuju lapangan Rampal untuk (lagi-lagi) ambil jatah lari. Saya berencana ambil jatah 10 kilometer hari itu. Karena banyaknya asupan kalori yang masuk, terlebih dari arisan keluarga kemarin. Yuk!

Lintasan lari ini sungguh istimewa. Pemandangannya terutama. Dari kejauhan, tampak Gunung Arjuno yang membiru, dan udara yang masih sangat segar dan sejuk membuat semangat saya untuk lari semakin tinggi. Yang asyik juga dari lokasi ini, banyak penjual makanan dan minuman murah meriah berjejer di sepanjang trek lari besar. Menjadikan saya yang asyik lari malah ‘cuci mata’ melihat-lihat ada hidangan apa saja yang ditawarkan. Sampai lari di putaran ke-5, saya melihat istri saya sudah duduk di kedai Lumpia Semarang sambil minum teh botol dingin. Sepertinya jalan cepat 3 putaran sudah membuatnya lapar. Hahahahaha.. πŸ˜€

Lari 10 kilometer? Done! Waktunya jalan-jalan sekarang. Kalau di hari pertama kami jalan-jalan di sekitar Alun-Alun Tugu dan Pasar Ikan Splendid, hari ini kami berencana mengunjungi salah satu spot yang sekarang sangat terkenal di Kota Malang; Kampung Warna-Warni Jodipan. Ide perkampungan yang di-cat warna warni ini sudah familiar, seperti di Kampung Kali Code Yogyakarta, dan yang pernah saya kunjungi, Kampung Pelangi Kalisari di Semarang, Jawa Tengah.

Continue reading

[Christmas Homecoming Story] Bagian 4-Arisan Keluarga dan Misa Malam Natal

Simak perjalanan saya menuju dan selama hari pertama berada di Kota Malang disini dan disini.

Sudah jadi suatu tradisi sepertinya, kalau setiap Hari Natal tiba, saudara-saudara dari garis keluarga bapak (Keluarga Sadik dari Oro-Oro Dowo) datang berkumpul untuk sekedar arisan bersama, makan siang bersama, dan kemudian ngobrol ngalor ngidul. Kalau saya bilang kumpul-kumpul keluarga seperti ini masih diperlukan, salah satunya agar tidak putus hubungan persaudaraan. Agar setiap orang yang berada di garis keturunan bisa datang, saling bertemu, berbincang-bincang tentang apa yang terjadi di hidupnya masing-masing selama kurun waktu mereka tidak bertemu satu sama lain. Pasti banyak cerita tercurah. Masing-masing anggota keluarga ingin tahu apa yang terjadi dengan anggota keluarga yang lainnya selama kurun waktu tidak bertemu. Turut senang saat ada yang berbahagia, turut merasakan duka jika ada yang sedang tertimpa musibah. Dan biasanya bantuan akan datang dengan sendirinya, tidak melulu dalam bentuk dana, namun bisa dalam tepukan lembut di pundak dan doa pun terkadang sudah cukup untuk meringankan beban.

Keluarga Saya-Rumah Palmira Graha

I’m a family man. Or at least that’s what I’m trying to become.Β 

Continue reading

[Christmas Homecoming Story] Bagian 3-Family Day, Alun-Alun Tugu hingga Bedengan, Dau

Tulisan saya tentang perjalanan dari Bekasi ke Kota Semarang, dan dari Kota Semarang ke Kota Malang lewat 2 ruas tol baru bisa dibaca disini dan disini.

 

Saya ingat kalau saat liburan, akan banyak asupan makanan lezat dan penuh memori yang masuk ke perut. Dan salah satu hal yang bisa saya lakukan adalah, lari! Saya sudah siapkan sepatu lari dan sepatu basket saya, just in case teman-teman basket saya dulu mengajak saya main basket. Entah di kampus saya, atau di lapangan-lapangan dimana kami dulu sering bermain, termasuk di dalamnya lapangan basket legendaris Bima Sakti, Sukun-Malang, dimana dulu saya belajar basket dengan benar dan punya mimpi menjadi pemain basket profesional saat masih muda.

Tapi ya akhirnya harus sadar diri πŸ™‚

Sadar dengan kemampuan basket saya yang pas-pasan, postur dan kecepatan yang kurang mendukung. Saya biasa bermain di posisi power forward, dimana selain harus punya postur tinggi dan besar, harus punya dasar skill dan kelenturan seorang forward (drive, lay up, shoot), namun juga handal dan kuat beradu badan di bawah keranjang, selayaknya pemain center (rebound, under basket, block). Apa daya, saya hanya punya tinggi 179 cm. Tergolong pendek untuk ukuran power forward. So, I must go on chasing another dream that somehow already paved and blessed for me. Sampai hari ini, berkarya di jalan lain.

Masih main basket kok sekali-sekali, yang kini saya lakukan untuk jaga kondisi dan bersosialisasi. Tak lebih πŸ™‚

Lapangan Rampal, Malang

Lanjut! Sabtu pagi hari, saya beserta kedua adik saya, dan 3 keponakan saya, berangkat ke Lapangan Rampal, lapangan milik TNI-AD, yang sering dijadikan arena konser band atau festival clothing expo. Agak berat sih (dan agak memaksakan diri) berlari saat tubuh sedang kurang istirahat. Pagi itu, saya ‘ambil jatah’ lari 6,75 km saja. Cukup 6 putaran trek lari besar cukup membuat saya mandi keringat. Sesuatu yang sangat saya sukai! The moment when endorphine kicks in πŸ™‚

Continue reading

[Christmas Home Coming Story] Bagian 2-Menuju Kota Malang, Kampung Halaman

Cerita #Christmas Homecoming Story bagian 1, jalan-jalan singkat di Kota Semarang bisa dibaca disini.

Malanjutkan perjalanan dari Kota Semarang tanggal 22 Desember, selepas sarapan pagi bersama dengan Mas Wendy Hantoro dan Mbak Jeanette, dua rekan saya dari kantor perwakilan Campina Semarang. Kami sarapan di warung sederhana yang menyajikan soto khas Semarang, tepat di seberang Faustine Hotel, tempat kami menginap semalam. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, sudah cukup siang. Setelah selesai berkemas dan check out, langsung kami melaju menuju GT Gayamsari yang hanya 10 menit saja dari hotel kami.

GT Gayamsari, Semarang, pukul 07.59 WIB
Ruas Tol Semarang-Bawen-Salatiga, pukul 08.22 WIB

Continue reading

[Christmas Home Coming Story] Bagian 1-Dari Bekasi ke Malang, Lewat Kota Semarang

Kok pakai mampir di Kota Semarang segala? Kenapa gak langsung saja ‘bablas’ ke Malang seperti perjalanan pulang kampung sebelumnya? Bukannya energi saat pulang biasanya berlimpah, sehingga rasa capek seakan-akan hanya datang hinggap sebentar saja? Iya, kami (saya dan istri) mampir semalam di kota Semarang karena ingin lebih santai di perjalanan pulang kampung kali ini. Ditambah ingin jalan-jalan sebentar melepas penat, ditemani oleh seorang teman lama yang kini tinggal di kota ini. Lebih tepatnya, ditugaskan di kota Semarang.

Tol Cikampek Palimanan, pukul 05.55 WIB

Dan ternyata pilihan untuk mengambil waktu beristirahat semalam di kota Semarang adalah pilihan yang tepat (disamping sudah mempersiapkan budget khusus untuk #SemarangTrip ‘colongan’ tersebut), karena saat berangkat dari Bekasi tanggal 21 Desember pukul 00.25 WIB, kami melintasi ‘ganasnya’ kemacetan di tol Cikampek sejak KM19 hingga KM 57 (menjelang simpang Cipularang-Cikampek) selama kurang lebih 3 jam saja. Selepas rest area KM 57, perjalanan sangat lancar hingga keluar di Tol Brebes Timur.

Saya, kartu Tap Cash BNI andalan, dan istri yang sedang terlelap menjelang GT Palimanan pukul 06.26 WIB

Oiya, sepanjang perjalanan dari Bekasi hingga kembali ke Bekasi lagi, untuk semua pembayaran tol yang kini cashless, saya menggunakan kartu Tap Cash dari BNI. Hanya di beberapa gerbang tol (GT) saja saya mengalami hambatan (kartu tidak terbaca), terlebih untuk jalan tol dengan sistem tertutup (tap kartu di GT awal dan tap kartu yang sama di GT akhir untuk pembayaran). Diantaranya di ruas tol Palimanan hingga tol Cikampek (berangkat dan pulang), tol Warugunung di ruas tol Surabaya-Kertosono, kartu tersebut bermasalah. Sehingga saya sempat bayar cash di GT Warugunung dan tap di mesin EDC di GT Cikarang Utama saat kembali ke Bekasi.

Continue reading