Sudut Pandang Saya Tentang 7Eleven

Enam tahun yang lalu, saya pernah mengunggah tulisan tentang convenience store ini  (bisa dibaca disini). Saat itu, tentunya 7Eleven masih ada pada puncak kejayaannya. Masih ramai jadi tempat tongkrongan anak-anak muda selama seharian, sehingga muncul kelompok-kelompok anak muda yang berbasis outlet 7Eleven. Masih ingat nggak sih dengan sapaan: “Anak Sevel mana lo?” Dan bahkan, saya dan istri pun ikut dalam euforia convenience store ini selama beberapa waktu. Beli Slurpee yang dicampur hingga punya gradasi warna-warni cantik (saat diaduk langsung berubah warna menjadi cokelat ala Coca Cola), Big Bite rasa blackpepper dengan limpahan saus keju, chili, mustard, dengan cacahan tomat dan mentimun segar, Big Gulp ukuran paling besar, hingga seremeh beli Cheetos sebungkus lalu melumurinya dengan saus keju melimpah, dan mengambil sumpit yang disediakan secara gratis!

Itu mungkin pengalaman menyenangkan saya dengan 7Eleven di masa jayanya. I’ve been there, we’ve been a part of the (hi)story.  Dan saya pun masih ingat, beberapa ahli komunikasi memuji-muji konsep convenience store ini setinggi langit. Sebuah convenience store yang bukan hanya tempat belanja, namun juga tempat berkumpul, berkomunitas hingga melahirkan identitas ‘anak Sevel mana’. A food store destination!

Salah satu outlet 7Eleven-Jalan Prof. Dr Satrio (sumber: koleksi pribadi)

Continue reading

Advertisements

Shareworthy, Millennials’ New Currency

Just found a very interesting article, which I can relate that into #shoppermarketing or #trademarketing kind of understanding. It’s about millennials, or individuals who were born between 1980-2000, and this group recently surpassed Boomers as the largest and likely most-influential generation in America. Well, America it is. But I’m pretty sure that it goes all the way to Indonesia as well. A generation that ‘married’ to their smart phones, that loves to eat healthier, and 70% are willing to pay more for quality. I was born in 1980, so I’m one of those millennials 🙂

 

Cellfish

 

Let’s dive!

Continue reading

Toko Roti Favorit, Tous Les Jours

Raisin pastry, my favorite!

Saya ingat roti pertama yang saya coba dari Tous Les Jours ini, raisin pastry. Pastry lembut dengan rasa yang kaya susu, dengan taburan raisin/kismis yang kaya didalamnya. Saya ingat, mencobanya pertama kali di gerai  Grand Indonesia. Porsinya pas, cocok dengan harga Ro 16.000,- per piece-nya, dan enak! Saat itu, sore hari tanggal 28 Juni 2013, saya sedang menunggu event Detikcom, yang membahas tentang buzzer. Kebetulan belum makan siang, jadi 2 pastry ini pas untuk mengisi perut saya 🙂

Raisin Pastry & Donuts
Raisin Pastry & Donuts
Bubble drink latte, lupa namanya...
Bubble drink latte, lupa namanya…

Apa itu Tous Les Jours, by the way?

Bahasa Perancis bukan? Artinya apa? Kenapa diberi merek atau disebut, Tous Les Jours? Pertanyaan itu yang pertama kali muncul di benak saya. Saya jadi ingin tahu lebih jauh tentang bakery shop yang kemudian saya tahu disebut sebagai bakery cafe ini. Yuk, kenal dengan Tous Les Jours lebih jauh…

Setelah saya buka official website-nya Tous Les Jours (selanjutnya akan disebut TLJ agar lebih singkat), saya temukan banyak informasi-informasi menarik.

Continue reading

Belajar Category Management – bagian 1

Well, sudah lama saya tidak menulis tentang trade marketing dan shopper marketing seperti ini.Terakhir saya menulis tentang hal tersebut di bulan Februari 2012. Tulisannya bisa dilihat disini. Trade marketing dan shopper marketing adalah dua hal yang saya pelajari sebelum saya belajar lebih jauh tentang internet marketing, dunia yang saya geluti sekarang.

It was and it still very interesting…

Trade atau kegiatan perdagangan dilihat secara berbeda, bukan hanya dari berapa banyak yang dihasilkan, tapi apa yang bisa kita lakukan di perdagangan tersebut agar bukan hanya produk sebagai komoditas saja yang tampil, namun juga menampilkan merek atau brand kita. Kegiatan trade marketing disini bisa berupa kegiatan branding. Branding dilakukan di dalam atau luar area store/outlet. Kalau didalam, bisa lewat lantai toko, sekitar kasir, rak-shelving, hanging banner, island freezer, dan bahkan seragam SPG sekalipun. Branding diluar toko atau outlet pasti akan mendapatkan awareness yang lebih besar, dan pasti biaya yang lebih besar (advertising dan termasuk didalamnya pajak). Pihak retailer (HO jika merupakan chain store) akan happy dengan kegiatan branding dari supplier ini. Pertama karena beberapa bagian tokonya lebih cantik dan berwarna, yang kedua karena supplier yang pasang branding akan membayar sewa space.

Double happiness…

4bafe452afcbdbc4e778dac132760fbd_alfamart-next-g-pasar-minggu
Alfamart Pasar Minggu

Sebenarnya ini adalah hubungan yang saling menguntungkan. Pihak retailer happy karena tokonya dipercantik dan menerima uang sewa, pihak supplier juga happy karena brand-nya lebih terlihat dengan kegiatan branding ini, ditambah jika di dekat lokasi branding di outlet tersedia produk yang ditawarkan (dijual). Akan ada convertion rate disitu, atau tingkat konversi dari calon konsumen yang melihat branding tersebut, tertarik, lalu berniat membeli secara impulsif. Secara singkat ada keterkaitan antara kegiatan branding, brand awareness, konsumen via ‘prinsip purba’ AIDA (attention, interest, desire, action), pricing (including special price on promotion scheme), product availability and placement, dan sales! Yes, sales… Kenapa harus keluar banyak effort dan biaya di outlet kalau tidak menghasilkan sales? Benar demikian? That’s a simple understanding of trade marketing.

Lalu (menurut saya), ada lagi disiplin ilmu shopper marketing.

Supplier dan retailer sudah bekerjasama dengan demikian rupa untuk mempercantik toko. Bukan hanya 1 toko, tapi ribuan toko. Supermarket, minimarket, dan bahkan hypermarket dihiasi hasil kegiatan branding supplier. Tujuannya, meningkatkan traffic konsumen ke toko, dari sisi retailer, dan meningkatkan awareness sekaligus sales (kalau bisa branding sekaligus create extra space), dari sisi supplier. Konsumen-lah yang sekarang menjadi objek. Karena masing-masing toko tersebut berebut perhatian konsumen untuk datang dan belanja di tempatnya. Akhirnya, toko akan melakukan segala macam cara untuk meningkatkan daya saingnya dibanding toko lain, atau toko lain dari account yang berbeda 🙂

Salah satunya, dengan meningkatkan kenyamanan pelanggan/konsumen yang datang ke toko untuk :

1. Menemukan produk yang ia cari dengan mudah. Antara lain dengan :

a. Menata rak sedemikian rupa (posisi rak, lebar antar rak-lorong, tinggi antar shelf, eye leveling, dsb) agar konsumen yang belanja bisa dengan segera menemukan produk yang ia cari.

b. Membagi produk berdasarkan kategori dan sub kategori untuk ditata sedemikian rupa di rak-rak atau divisi yang tujuannya mempermudah konsumen ber-navigasi didalam toko (manajemen kategori).

c. Membuat signage-signage besar diatas rak, untuk membantu menemukan lorong-rak yang ia cari dengan segera (untuk supermarket/hypermarket)

2. Memberikan added value untuk pelanggan, antara lain dengan memberikan penawaran harga yang lebih murah saat masa promosi (dengan menggunakan trading term budget atau on top budget, budget ‘siluman’ diluar budget trading term-perjanjian jual beli selama satu tahun antara supplier dan retailer yang diambil dari budget marketing si supplier), gimmick untuk setiap pembelian (lagi-lagi dari suppliers), dan lain-lain.

3. Setting harga bersaing dalam situasi normal (non-promo) dibandingkan dengan toko lain yang sekelas, yang ada dalam satu area. Biasanya masing-masing toko melakukan com-check (competitor check), suatu kegiatan melihat harga suat produk yang sama-sama dijual oleh 2 toko atau lebih. Ada kegiatan com-check yang terang-terangan (misalnya antara Giant-Carrefour-Hari Hari Bintaro yang kebetulan saling berdekatan), atau secara sembunyi-sembunyi (resiko kena sanksi/denda/hukuman jika ‘agen rahasia’ yang checking harga tertangkap basah).

4. Jaminan kualitas produk yang dijual, biasanya berlaku untuk produk fresh/perishable (produk segar, mudah rusak, tanggal expired dekat). Toko berusaha berkomitmen untuk menjaga kepuasan konsumen dengan menyiapkan kantong plastik untuk memisahkan produk segar (buah-sayur) yang sudah tidak layak konsumsi.

Beberapa chain store (bekerjasama dengan lembaga – perusahaan riset) bahkan menginstall eye tracking device – atau alat untuk tracking mata konsumen bila berbelanja biasanya melihat ke bagian atau arah mana saja didalam toko. Mengamati kebiasaan mereka dalam ber-navigasi di dalam lorong-lorong toko, pada saat berbelok dengan mendorong trolley matanya melihat ke arah/bagian dari rak yang mana saja. Usaha ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan konsumen dalam berbelanja, sehingga mereka (retailer) bisa setting tokonya agar senyaman mungkin untuk konsumen berbelanja. Stay longer due to some comfortness usually means shop for more 😉

Jadi secara singkat, shopper marketing adalah usaha yang semakin mengerucut dari kegiatan sales dan marketing yang dilakukan di toko, yang bertujuan untuk memanjakan konsumen yang berbelanja di toko tersebut, salah satunya dengan memberikan convenience (kenyamanan). Ada sedikit wawancara kecil dengan seorang teman yang sudah terbiasa belanja di Carrefour MT. Haryono-Jaksel. Dulu ia tinggal di sekitar Tebet-Jaksel, kini setelah pindah ke Cibubur ia dan keluarganya tetap belanja di toko tersebut. Alasannya : “Gue nyaman belanja disini, udah terbiasa. kalau anak-anak gue lari-larian gue nyarinya juga gampang. Udah hafal lorong-lorong disini” Well, for me, to that store, it’s some kind of achievement. Kenyamanan bisa menjadi daya tarik toko, kenyamanan menjual.

IMG04707-20111208-1558
Food Hall Grand Indonesia

Nah, itu tadi sedikit review tentang shopper marketing dan trade marketing yang  diceritakan dalam bahasa saya sendiri, hasil pengalaman dan pengamatan beberapa tahun terakhir. Tulisan diatas adalah pengantar untuk bahasan Category Management yang akan ditulis menjadi beberapa bagian. Mulai dari tulisan ini. So, let’s start it!

Category management yang sempat disebut di bahasan diatas dapat diartikan sebagai  mengelompokkan (grouping) produk-produk yang dijual, dimana masing-masing group produk yang ditentukan mememenuhi kebutuhan yang sejenis.

Jadi bisa dibayangkan jika suatu supermarket tidak punya manajemen kategori yang jelas. Semua produk ditata di rak, tanpa pengelompokan, asal ditata saja. Susu ditata berdekatan dengan semir sepatu, telur ditata disamping rak alat tulis, dan snack ditata berdampingan dengan air aki. Akibatnya? Pelanggan atau konsumen yang belanja di toko tersebut akan bingung mencari produk yang ia cari. Ketidaknyamanan ini akan berujung pada keengganan pelanggan untuk belanja lagi di toko tersebut lebih diutamakan karena lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencari produk atau merek yang ia cari. Bingung.

Tata letak produk ditoko diawali dari pengelompokan produk. Awalnya, produk-produk yang disediakan akan dibagi menjadi dua bagian, food dan non food. Biasanya, setelah pintu masuk pelanggan akan menemui produk-produk non-food, berlanjut menemui produk food, dan produk fresh dibagian paling ujung. Biasanya produk fresh diletakkan diujung, untuk menjaga kesegaran-nya. Misalnya : produk-produk beku (frozen-dairy frozen-perishable).

Bersambung ke Belajar Category Management – bagian 2 (segera)

 

 

 

Catatan Liverpool Football Club Tour 2013 – Jakarta, Indonesia

SU-GBK 20 Juli 2013. Merah!
SU-GBK 20 Juli 2013. Merah!

Bukan. Ini bukan foto supporter-fans timnas merah putih yang sedang berlaga di SU-GBK (Stadion Utama – Gelora Bung Karno), yang selalu all out memberikan yang terbaik buat bangsa Indonesia. Ini adalah supporter – fans Livepool FC yang datang berduyun-duyun ke SU-GBK untuk mendukung team kebanggaannya. Melihat penampilan Steven Gerrard dkk untuk pertama kalinya di Jakarta-Indonesia. Menyanyi tanpa henti selama 90 menit (bahkan lebih, terhitung 2 jam sebelum laga dimulai, fans LFC sudah mulai menyanyikan chant-chant kebanggaan mereka, hingga pertandingan berakhir juga masih terdengar chant-chant tersebut dinyanyikan). Menyalakan pyro (flammable stuffs), flares dan smoke bombs. Mengibarkan scarf mereka manakala lagu-lagu dan chant-chant kebesaran LFC dinyanyikan. Menangis terharu…

Itu saya.

Itu apa yang saya lakukan dan alami bersama-sama dengan fans LFC lainnya, yang tergabung di sektor 9-11 SU-GBK dalam nama Big Reds (Bold indonesian Group of Liverpool Supporters), official fans club di Indonesia yang diakui oleh LFC sendiri. Kami menyebut diri kami Kopites, atau Wools. Bukan Liverpudlians dimana dulu nama ini adalah nama sebutan untuk fans LFC.

Bukan. Liverpudlians adalah sebutan untuk warga kota Liverpool-Inggris, tidak peduli ia fans Liverpool FC ataukah ia fans Everton FC. Klub bola yang stadion-nya, Goodison Park yang hanya sepelemparan batu saja dari Anfield Stadium, stadion kebanggaan LFC. Sama-sama tim dari tepi sungai Mersey. Hanya beda di prestasi 😉

Kopites? Ini adalah sebutan untuk kami, fans LFC secara global. Atau Wools, sebutan untuk fans LFC yang tinggal diluar kota Liverpool. Dan Liverpudlians yang seorang Kopite, akan menyebut-memanggil kami, fans Liverpool dari Indonesia ini dengan sebutan demikian. Yes, we are Indonesian Kopites. We’re Wools. Some proud and loyal Liverpool FC fans!

Bulan Juli adalah bulan yang istimewa buat Kopites Indonesia. Selain bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, juga diramaikan dengan kedatangan team kesayangan, hampir seluruh crew, termasuk Ian Ayre (Managing Director LFC). Ini berarti, selain melakukan laga persahabatan, ada perjalanan bisnis juga. Perjalanan panjang ini dimulai dari tanggal 17 Juli 2013 di Bandara Halim Perdanakusumah, tanggal dimana team LFC menjejakkan kakinya untuk pertama kali di Indonesia hingga tanggal 21 Juli 2013, saat mereka bertolak meninggalkan Bandara Halim Perdanakusumah untuk melanjutkan tour ke Melbourne, Australia. Namun tanggal yang kami, Kopites, ingat adalah saat mereka berlaga di depan mata kami semua di SU-GBK. Saat yang mungkin bakal  kami ingat seumur hidup kami, karena mungkin beberapa dari kami (termasuk saya), tidak akan bisa melihat mereka berlaga lagi di Indonesia, maupun melihat mereka berlaga di Anfield Stadium secara langsung. Karena alasan finansial atau umur yang tidak panjang….

Continue reading