Digital Marketing And Social Media Conference 2016 (A Late Review-Bagian 2)

Anda bisa membaca postingan saya sebelumnya tentang review DMSMC 2016 bagian 1 disini.

Setelah sesi Pak Anthony Liem, saya berkesempatan mendengarkan presentasi dari Profesor Richardus Eko Indrajit setelah sesi makan siang. Sesi yang sangat berat untuk seorang presenter yang tampil setelah sesi istirahat ini, tak lain karena kantuk yang pasti menyerang dengan agresif setelah menyantap hidangan dari Hotel Ritz Carlton siang itu. Namun yang saya khawatirkan tidak terjadi, malah selama kurang lebih 90 menit sesi presentasi Prof Eko  semua seminar participant fokus dengan materi beliau, yang dibawakan dengan sangat passionate, dibumbui dengan celetukan-celetukan jenaka yang cerdas.

Profesor R. Eko Indrajit
Profesor R. Eko Indrajit

No wonder. Beliau adalah seorang profesor, yang kadar keilmuannya mungkin tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan sekali lagi apa yang saya lihat mematahkan persepsi dan pandangan saya akan seorang profesor. Maklum, sebagian profesor yang saya temui semasa studi S2 saya punya karakter yang sangat spesifik sehingga bisa saya jadikan suatu hal yang stereotip; killer/galak, full of judgmental, angkuh, memandang anak-anak didiknya sebagai anak-anak kecil yang baru belajar baca, dan terkadang semaunya sendiri. Namun profesor yang satu ini sungguh berbeda.

Continue reading

Digital Marketing And Social Media Conference 2016 (A Late Review-Bagian 1)

Ini adalah keikutsertaan saya yang ketiga kalinya di seminar yang diselenggarakan oleh Marketing Academy, bagian dari Frontier Consulting, holding company yang menaungi Majalah Marketing dan beberapa perusahaan lainnya. Seminar yang saya ikuti, saya saya ajukan ke perusahaan memang tidak pernah jauh-jauh dari dunia digital marketing. Saluran komunikasi pemasaran yang pada prinsipnya sama saja, menghubungkan brand dengan audience-nya lewat media digital untuk penyampaian pesan yang tidak berhenti di satu titik saja, creating awareness (attention), namun lebih jauh menciptakan engagement dan acquisition (change of behavior). Hal yang paling jauh membedakan digital marketing dengan non-digital marketing adalah kemampuannya untuk diukur, dari sejak pesan disampaikan ke target audience (sales leads), audience yang melihat iklan lalu klik link iklan dan masuk ke website (click through), kemudian melakukan sesuatu-melihat-lihat halaman demi halaman di website hingga mendaftar/sign-up menjadi member (engagement), dan pada akhirnya melakukan pembelian dan mengulang melakukan pembelian di kemudian hari (purchase-repurchase).

Di digital marketing ini pula, kita mengenal istilah ZMOT, atau zero moment of truth, yaitu saat dimana calon konsumen berinteraksi pertama kali dengan brand lewat virtual touch points, tanpa memegang-meraba-menyentuh langsung produk yang dijual, yaitu lewat internet. Sebelum pembelian, kita mengenal adanya istilah ZMOT. Lalu bagaimana setelah terjadi pembelian dan konsumsi? Kita juga mengenal istilah UMOT, atau ultimate moment of truth. Saat dimana konsumen membagikan ke jejaring online-nya, pengalaman dengan brand yang dimaksud dengan menceritakan apa yang dirasakan-didapatkan setelah mencoba membeli kemudian mencoba mengkonsumsi produk dari brand yang dimaksud. Apakah kesan yang didapatkan positif (puas), biasa saja (netral), atau bahkan tidak puas (negatif). Informasi yang dibagikan lewat media sosial dan digital platform lainnya akan menjadi informasi yang bisa diakses calon konsumen lainnya sebagai ZMOT.

Nah, secara lengkapnya path to purchase ZMOT yang dikenalkan oleh Aichner dari Google ini dapat diuraikan sebagai berikut: Stimulus-ZMOT-FMOT (first moment of truth)-SMOT (second moment of truth)-UMOT. Stimulus bisa berupa iklan atau pesan yang disampaikan oleh brand lewat media, online dan offline, atau gabungan dari keduanya. FMOT adalah saat dimana konsumen berinteraksi dengan produk dari sebuah brand secara langsung dan mencoba mengkonsumsinya. Sementara SMOT adalah saat dimana konsumen mencoba produk untuk pertama kalinya. Sebelum era digital, ZMOT dan UMOT tidak ada, sehingga bagaimanapun reaksi dan kesan yang diberikan dan didapatkan oleh pelanggan tidak dapat diketahui secara langsung oleh pemilik-pengelola brand. Yang ada hanya Stimulus-FMOT-SMOT saja. Stop.

20161215_083057

Continue reading

A ‘Million Dollar Afilliate Marketing Idea’ : yesbossnow.com

Hari Senin, 22 Agustus yang lalu di lantai dua Lucky Cat Coffee & Kitchen Pasar Festival – Jakarta Selatan, saya terlibat dalam perbincangan seru (bisa juga disebut meeting) dengan dua orang rekan dari kaskus.co.id. Saya sebut demikian, karena sekarang ini saya lebih suka menyebutkan domain dari suatu nama perusahaan dibanding nama perusahaan itu sendiri. Kenapa? Mempermudah yang mungkin ingin tahu untuk mencari tahu.

Inti dari perbincangan kami adalah bagaimana berkolaborasi semakin menjadi keharusan di dunia digital, terutama di dunia dimana saya berada, digital marketing. Dengan kolaborasi, saya percaya kalau kita akan dapat segudang manfaat. Salah satunya adalah network yang sangat luas dan sangat accessible. Dari kenal satu orang dari company/start up A, kita bisa berkomunikasi dengan seseorang dari company/start up B, atas dasar rekomendasi dari si A. Kemudian bisa berlanjut ke C, ke D, dan seterusnya untuk membuka peluang dan kesempatan baru.

 

20160822_144351
That Lucky Cat cafe interior

 

Continue reading

Sudut Pandang Digital Marketing #3 : Koneksikan Marketing – Logistik – Sales Lewat E-hailing (part 2)

Masih di sudut pandang Digital Marketing, dan masih di e-hailing. Namun di blog post saya ini, saya akan bahas e-hailing dari sudut pandang korporasi-manufacturing yang memanfaatkan layanan e-hailing paling populer, Go-Jek, yang mempunyai layanan pesan makanan dan minuman via online, Go-Food.

Sudut pandangnya hampir sama dengan tulisan saya sebelumnya. Bagaimana UKM bisa mendapatkan banyak manfaat dan kemudahan jika menggunakan layanan e-hailing, dari sisi marketing, logistik, dan meningkatkan penjualan. Tanpa membuat website, produknya UKM bisa tampil di mobile apps as in website untuk dilihat pengguna aplikasi (ratusan ribu pengguna), tanpa memperkerjakan tenaga pengiriman UKM bisa mengirimkan pesanan sampai di tangan konsumen, dan tentunya ‘merekrut’ pelanggan-pelanggan baru. Karena bisnis tidak akan bertumbuh tanpa adanya pelanggan-pelanggan baru.

Bagaimana dengan korporasi, yang non-digital hendak terjun di dunia online commerce? Kurang lebih sama. How?

Continue reading

Sudut Pandang Digital Marketing #3 : Koneksikan Marketing – Logistik – Sales Lewat E-hailing (part 1)

E-hailing menjadi kata kunci yang mulai dikenal orang karena adanya layanan ojek online yang menjamur belakangan ini. Hailing a taxi, now we can do it through online media. Technology has making it all a lot easier, especially for consumer who want to do anything. Termasuk yang ingin pergi dari titik A ke titik B, dimanapun dan kapanpun ia butuhkan. On demand is another keyword. Dulu kalau ingin order taksi, kita harus telepon call center taksi. Kemudian akan dikirimkan armada taksi yang kita pesan. Kalau armadanya ada, terutama saat di peak hours. Misalnya saat kita harus berangkat ke bandara di pagi buta.

E-hailing. On demand.

Lewat postingan blog kali ini, kita akan banyak menemukan kata ini. Layanan ojek online menjadi kebutuhan masyarakat di perkotaan saat ini. Terlebih saat layanan e-hailing ini menawarkan jasa lainnya, yang menaikkan value dari korporasi e-hailing di mata konsumen. Pesan makanan-minuman, grocery shopping di mini market atau supermarket, mengirimkan paket dokumen, hingga mempermudah orang untuk pindahan rumah, karena ada layanan angkutan dengan menggunakan mobil box. On demand, kita bahas karena saat ini pelanggan ingin mendapatkan apapun yang ia inginkan, produk dan jasa, kapanpun dan dimanapun. Saat itu juga.

Kita yang sudah sedemikian dekat dengan digital mungkin sudah jarang menonton siaran TV konvensional, ditambah dengan bombardir iklan TV yang luar biasa banyak. Kita cenderung mengakses internet untuk menonton konten-konten visual yang ingin kita lihat. Youtube.com saat ini menjadi solusi untuk on demand media consumer. Bukan hanya menonton video-video yang sudah di-posting, kita bisa menonton tayangan langsung suatu acara, seperti saat saya menonton tayangan liga bola basket nomor satu di tanah air, IBL lewat channel IBL TV di Youtube. Pertandingan basket yang ada di kota Surabaya, Semarang, Bandung, dan sebagainya, bisa saya tonton langsung via laptop saya di rumah, di Bekasi 🙂

Awesome!

E-hailing kini mengkoneksikan marketing, logistic, dan sales! Bagaimana?

Continue reading

Indonesia E-Commerce Summit and Expo Day 3 #IESE2016 (bagian 2)

Tulisan ini adalah bagian ke-2 dari blogpost Indonesia E-Commerce Summit and Expo Day 3 #IESE2016, yang sengaja saya bagi menjadi 2 tulisan karena ternyata kontennya cukup banyak. Tulisan sebelumnya bisa dibaca disini.

Hari Jumat ini saya ‘nonton’ 2 sesi presentasi di ruangan workshop sebelum beralih masuk kembali ke ruangan summit. Setelah melihat presentasi Ibu Lisa Widodo dari blibli.com, sempat menunggu beberapa saat untuk makan siang dan rekan-rekan yang ibadah sholat Jumat, saya melanjutkan menyimak presentasi tentang Omni-channel in e-commerce, yang dibawakan oleh Pak Haryo Suryo Putro dari Alfaonline.com.

Bapak Haryo S. Putro, CMO-COO Alfaonline
Bapak Haryo S. Putro, CMO-COO Alfaonline.com

 

Omni channel? Usaha yang dilakukan oleh peritel untuk menghubungkan diri dengan pelanggannya lewat cara apapun, kapanpun, dimanapun, sesuai dengan cara yang diinginkan oleh pelanggannya. Mempelajari dan melihat omni-channel ini pun juga harus dilakukan dari sudut pandang pelanggan.

Ada satu istilah, yaitu BA-FA-RA, atau buy anywhere – fulfill anywhere – return anywhere. Atau pelanggan Alfamart (didukung oleh Alfaonline secara digital), harus bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dimanapun, memenuhi kebutuhannya dimanapun, dan mengembalikan produk yang tidak ia kehendaki dimanapun. Saya jadi ingat dengan apa yang dibawa oleh Mataharimall.com dengan O2O-nya.

Online to offline.

Bayangkan Matahari Department Store yang punya gerai di hampir kota-kota besar di Indonesia bisa jadi sarana untuk para pelanggannya dalam mendapatkan, memenuhi kebutuhan, dan (jika terjadi) bisa menukar atau mengembalikan produk yang tidak ia inginkan kapan dan di toko Matahari mana saja. Pembelian via online (dengan menggunakan e-voucher discount dan cara-cara lainnya untuk dapat berbelanja lebih hemat) dapat diambil di toko Matahari terdekat, pelanggan bisa fitting baju atau busana lainnya sebelum ia membawanya pulang. Another case, pelanggan yang mendapatkan produk yang ia beli tidak sesuai dengan keinginnnya dapat menukarnya dengan produk serupa di toko offline. That simple 🙂

Alfamart. Bermula di 1999 dan (akan) punya market place di 2016
Alfamart. Bermula di 1999 dan (akan) punya online market place di 2016

 

Saya cukup mengamati perkembangan Alfamart ini sejak awal berdiri, dimana toko pertamanya didirikan di daerah Kebon Nanas – Tangerang, yang lokasinya cukup dekat dengan kantor pusatnya di daerah Cikokol, masih di Tangerang. Bahkan pernah bekerjasama dengan Alfaonline di awal-awal masa berdirinya di tahun 2012. Saat itu masih perpanjangan dari toko offline Alfamart yang ada, belum ada hal yang baru. Sempat menjual beberapa varian ice cream cake dari company saya saat itu. Namun mungkin karena saat itu belum fokus, kerjasama bisnis tersebut terhenti, sehingga produk ice cream cake kami tidak lagi ditemukan di website Alfaonline.com. Dan saya yakin, dalam waktu dekat, Alfaonline akan kembali mengundang kami, salah satu supplier mereka di kategori es krim (dairy – frozen food) masuk ke market place-nya 🙂

Namun sekarang Alfamart benar-benar berbenah. Manajemen mereka kelihatannya mulai memandang bisnis e-commerce ini dengan sangat serius. Diantaranya dengan merekrut seseorang yang sudah dianggap jago untuk menggawangi bisnis online-nya ini. Cukup kaget juga dengan transformasi strategi online Alfamart, lewat Alfaonline-nya yang akan merubah toko online-nya menjadi konsep market place. Artinya, bukan saja Alfamart yang bisa berjualan secara online disana, para UKM dan lainnya bisa mendaftarkan diri sebagai penjual (merchant).

Continue reading

Indonesia E-Commerce Summit and Expo Day 3 #IESE2016 (bagian 1)

Day 3!

Yes, this is the last day of the biggest and the first e-commerce summit and expo ever held, and I’m glad I’m a part of it. As participant, off course 🙂

Saya datang agak terlambat di hari Jumat ini di Indonesian E-commerce Summit and Expo 2016, tanggal 29 April. Dan pikiran saya langsung tertuju pada sesi key note speech Pak William (atau lebih tepat koh William – since he’s at my age or perhaps younger than me), dari Tokopedia. Kalangan penggiat e-commerce pasti tahu siapa beliau ini, seseorang yang berhasil mendapatkan suntikan dana sebesar US$ 100 million untuk scalling up bisnis market place-nya. And I just wonder how he managed to convince the man whom trust him and have faith in his ideas.

But first, coffee!
But first, coffee!

 

Saya bayangkan menjalankan bisnis e-commerce ini seperti menaiki tangga, yang seringkali terjadi disrupt, sehingga mungkin kita tidak menaiki tangga tersebut satu per satu, namun bisa terjadi loncatan-loncatan yang menjadikan kita menaiki dua, tiga, atau lebih anak tangga sekaligus. Pertanyaannya, apakah kita siap dengan loncatan-loncatan tersebut? Apakah kita mampu meloncati langsung dua atau tiga anak tangga sekaligus?

Dan satu hal lagi, kita belum tahu apa yang akan kita temui di atas nanti. Entah saat kita sampai di ujung tangga, atau saat kita baru sampai di tengah perjalanan. Be prepared, then…

 

Man of the hour, Mr. William Tanuwidjaja himself, on the stage kk 
Man of the hour, Mr. William Tanuwidjaja himself, on the stage

 

Itu yang sebenarnya saya alami saat mendapatkan tugas untuk mengembangkan e-commerce website di perusahaan ini. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan di awal tahun 2013 yang lalu, saat saya pertama kali memegang project ini. It may sounds cliche, but you have to be a believer when you are handed a job developing this channel. Karena belum ada orang yang pernah melakukannya sebelumnya. Belum pernah ada orang yang sukses melakukannya sebelumnya. And that makes you a pioneer. 

Continue reading