Digital Marketing dari Sudut Pandang Pekerja Industri Consumer Goods

Digital marketing kalau dilihat dari sudut pandang orang advertising agency akan sangat berbeda fokusnya dibandingkan sudut pandang orang FMCG (fast moving consumer goods), pun demikian juga sudut pandang tentang digital marketing dari sisi brand management-marketing communication, akan berbeda juga dengan sudut pandang orang sales and distribution. Fokus dari orang agency akan lebih cenderung ke impression, reach, dan engagement atas konten yang disebar. Fokus ini tidak jauh beda dengan fokus orang brand dan marcomm, bagaimana konten yang dibuat dengan sedemikian rupa dapat dilihat sebanyak mungkin audience dari targetting yang sudah disusun, yang pada akhirnya akan mengarah ke engagement dan sales leads tentunya. Setting target ini sangat bervariasi, tergantung tujuan dari campaign itu sendiri.

Sumber: http://www.facebook.com

Apakah tujuan digital campaign hanya sebatas impression saja? Tentu tidak. Misalnya sebuah brand mengeluarkan produk baru, dan brand tersebut ingin produk barunya dikenal oleh masyarakat luas dengan cepat. Dengan demikian, setting target audience dapat dibuat lebih longgar dari sisi usia, gender, tempat tinggal, dan interest-nya. Namun jika tujuannya lebih ke sales leads creation, targeting dapat dibuat lebih ketat.

Continue reading

Pola Perilaku Belanja Konsumen Terkini. Ada Pergeseran?

Sebenarnya keinginan membuat tulisan ini muncul karena kebingungan saya mencari sumber inspirasi untuk presentasi dan wawancara proposal penelitian S3 saya, yang rencananya akan dilakukan bulan September 2017 yang akan datang. Bulan depan, man! OMG! 😮

Sesaat sebelum ide ini muncul, jujur selama berbulan-bulan saya clueless, bingung mau bahas apa di proposal penelitian nanti. Yang tentunya, kini saya tidak lagi meneliti suatu perusahaan dengan dinamikanya sebagai variabel-variabel penelitian, namun kini saya meneliti suatu industri, dan hubungan antar industri. Bukan saja satu brand saja, namun berbagai brand yang masuk dalam industri. Dan tulisan ini menceritakan ide penelitian saya, yang didukung oleh beberapa artikel yang saya baca di media-media online yang terpercaya, dari narasumber yang terpercaya pula. Singkatnya, saya ingin melihat lebih dalam, meneliti tentang hubungan antara industri fast moving consumer goods, retaile-commerce, e-hailing, logistic/express delivery dalam frame digital economy yang dapat saling menguntungkan dan meningkatkan satu sama lain.

Keterbukaan dalam komunikasi pesan merek, pola kebutuhan konsumen yang semakin on demand, dan soft selling (Nielsen Consumer 360 Seminar)

Sederhananya seperti ini; era internet membuat perilaku konsumen berubah. Ini yang harus kita ketahui dan sadari, bahwa di luar sana perubahan terjadi demikian massive dan cepat! Konsumen kini mulai gemar belanja online karena banyak keuntungannya, bila dibandingkan dengan belanja secara offline di pusat-pusat perbelanjaan, atau sesederhana belanja di brick and mortar stores. Keuntungannya, tentunya lebih mudah (karena belanja kini bisa menggunakan aplikasi di smartphone-nya, lebih banyak pilihan (dari market place, classified, sampai layanan pesan makanan/minuman yang langsung melayani pengiriman dalam satu aplikasi), lebih praktis dan nyaman (bisa bayar (belakangan atau dicicil nantinya) pakai kartu kredit, transfer via e-banking, e-money, atau bahkan cash on delivery dengan opsi product return jika tidak sesuai harapan), banyak program promosi dan potongan harga, bahkan bebas biaya kirim. Alih-alih belanja di pusat perbelanjaan atau toko-toko biasa, konsumen kini cenderung memilih belanja via online. Beberapa karena alasan diatas. Kenyamanan juga dirasakan oleh konsumen saat mereka menyelesaikan proses check out (payment), pesanan mereka dapat dikirimkan langsung ke alamat rumah, ke kantor (biar nggak ketahuan kalau sering belanja online, tahu-tahu barang sudah rapi tertata di rak lemari), atau diambil saat perjalanan pulang lewat layanan POPBOX, yang kini mulai banyak kita temui di stasiun-stasiun KRL, apartemen, supermarket, pusat perbelanjaan, dan lokasi-lokasi strategis lainnya.

Pergeseran pola komunikasi merek-kini lebih fokus ke value yang diterima konsumen dibandingkan pesan dan benefit yang ditawarkan merek (Nielsen Consumer 360 Seminar)

Daya beli itu ada, namun dimana konsumen menghabiskannya, ini yang bergeser. Kita belum membahas topik khusus tentang kegemaran konsumen kini untuk travelling ya? Yang sedikit banyak dipengaruhi oleh media sosial juga, Path dan Instagram misalnya. Media sosial ini kini menjadi ájang pamer’ kegiatan leisure mereka. Entah yang sedang bepergian ke destinasi wisata eksotis, makan di tempat-tempat makan premium, ngopi-ngopi di kedai kopi mahal, dan sebagainya.

Continue reading

Digital Marketing And Social Media Conference 2016 (A Late Review-Bagian 2)

Anda bisa membaca postingan saya sebelumnya tentang review DMSMC 2016 bagian 1 disini.

Setelah sesi Pak Anthony Liem, saya berkesempatan mendengarkan presentasi dari Profesor Richardus Eko Indrajit setelah sesi makan siang. Sesi yang sangat berat untuk seorang presenter yang tampil setelah sesi istirahat ini, tak lain karena kantuk yang pasti menyerang dengan agresif setelah menyantap hidangan dari Hotel Ritz Carlton siang itu. Namun yang saya khawatirkan tidak terjadi, malah selama kurang lebih 90 menit sesi presentasi Prof Eko  semua seminar participant fokus dengan materi beliau, yang dibawakan dengan sangat passionate, dibumbui dengan celetukan-celetukan jenaka yang cerdas.

Profesor R. Eko Indrajit
Profesor R. Eko Indrajit

No wonder. Beliau adalah seorang profesor, yang kadar keilmuannya mungkin tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan sekali lagi apa yang saya lihat mematahkan persepsi dan pandangan saya akan seorang profesor. Maklum, sebagian profesor yang saya temui semasa studi S2 saya punya karakter yang sangat spesifik sehingga bisa saya jadikan suatu hal yang stereotip; killer/galak, full of judgmental, angkuh, memandang anak-anak didiknya sebagai anak-anak kecil yang baru belajar baca, dan terkadang semaunya sendiri. Namun profesor yang satu ini sungguh berbeda.

Continue reading

Digital Marketing And Social Media Conference 2016 (A Late Review-Bagian 1)

Ini adalah keikutsertaan saya yang ketiga kalinya di seminar yang diselenggarakan oleh Marketing Academy, bagian dari Frontier Consulting, holding company yang menaungi Majalah Marketing dan beberapa perusahaan lainnya. Seminar yang saya ikuti, saya saya ajukan ke perusahaan memang tidak pernah jauh-jauh dari dunia digital marketing. Saluran komunikasi pemasaran yang pada prinsipnya sama saja, menghubungkan brand dengan audience-nya lewat media digital untuk penyampaian pesan yang tidak berhenti di satu titik saja, creating awareness (attention), namun lebih jauh menciptakan engagement dan acquisition (change of behavior). Hal yang paling jauh membedakan digital marketing dengan non-digital marketing adalah kemampuannya untuk diukur, dari sejak pesan disampaikan ke target audience (sales leads), audience yang melihat iklan lalu klik link iklan dan masuk ke website (click through), kemudian melakukan sesuatu-melihat-lihat halaman demi halaman di website hingga mendaftar/sign-up menjadi member (engagement), dan pada akhirnya melakukan pembelian dan mengulang melakukan pembelian di kemudian hari (purchase-repurchase).

Di digital marketing ini pula, kita mengenal istilah ZMOT, atau zero moment of truth, yaitu saat dimana calon konsumen berinteraksi pertama kali dengan brand lewat virtual touch points, tanpa memegang-meraba-menyentuh langsung produk yang dijual, yaitu lewat internet. Sebelum pembelian, kita mengenal adanya istilah ZMOT. Lalu bagaimana setelah terjadi pembelian dan konsumsi? Kita juga mengenal istilah UMOT, atau ultimate moment of truth. Saat dimana konsumen membagikan ke jejaring online-nya, pengalaman dengan brand yang dimaksud dengan menceritakan apa yang dirasakan-didapatkan setelah mencoba membeli kemudian mencoba mengkonsumsi produk dari brand yang dimaksud. Apakah kesan yang didapatkan positif (puas), biasa saja (netral), atau bahkan tidak puas (negatif). Informasi yang dibagikan lewat media sosial dan digital platform lainnya akan menjadi informasi yang bisa diakses calon konsumen lainnya sebagai ZMOT.

Nah, secara lengkapnya path to purchase ZMOT yang dikenalkan oleh Aichner dari Google ini dapat diuraikan sebagai berikut: Stimulus-ZMOT-FMOT (first moment of truth)-SMOT (second moment of truth)-UMOT. Stimulus bisa berupa iklan atau pesan yang disampaikan oleh brand lewat media, online dan offline, atau gabungan dari keduanya. FMOT adalah saat dimana konsumen berinteraksi dengan produk dari sebuah brand secara langsung dan mencoba mengkonsumsinya. Sementara SMOT adalah saat dimana konsumen mencoba produk untuk pertama kalinya. Sebelum era digital, ZMOT dan UMOT tidak ada, sehingga bagaimanapun reaksi dan kesan yang diberikan dan didapatkan oleh pelanggan tidak dapat diketahui secara langsung oleh pemilik-pengelola brand. Yang ada hanya Stimulus-FMOT-SMOT saja. Stop.

20161215_083057

Continue reading

A ‘Million Dollar Afilliate Marketing Idea’ : yesbossnow.com

Hari Senin, 22 Agustus yang lalu di lantai dua Lucky Cat Coffee & Kitchen Pasar Festival – Jakarta Selatan, saya terlibat dalam perbincangan seru (bisa juga disebut meeting) dengan dua orang rekan dari kaskus.co.id. Saya sebut demikian, karena sekarang ini saya lebih suka menyebutkan domain dari suatu nama perusahaan dibanding nama perusahaan itu sendiri. Kenapa? Mempermudah yang mungkin ingin tahu untuk mencari tahu.

Inti dari perbincangan kami adalah bagaimana berkolaborasi semakin menjadi keharusan di dunia digital, terutama di dunia dimana saya berada, digital marketing. Dengan kolaborasi, saya percaya kalau kita akan dapat segudang manfaat. Salah satunya adalah network yang sangat luas dan sangat accessible. Dari kenal satu orang dari company/start up A, kita bisa berkomunikasi dengan seseorang dari company/start up B, atas dasar rekomendasi dari si A. Kemudian bisa berlanjut ke C, ke D, dan seterusnya untuk membuka peluang dan kesempatan baru.

 

20160822_144351
That Lucky Cat cafe interior

 

Continue reading

Sudut Pandang Digital Marketing #3 : Koneksikan Marketing – Logistik – Sales Lewat E-hailing (part 2)

Masih di sudut pandang Digital Marketing, dan masih di e-hailing. Namun di blog post saya ini, saya akan bahas e-hailing dari sudut pandang korporasi-manufacturing yang memanfaatkan layanan e-hailing paling populer, Go-Jek, yang mempunyai layanan pesan makanan dan minuman via online, Go-Food.

Sudut pandangnya hampir sama dengan tulisan saya sebelumnya. Bagaimana UKM bisa mendapatkan banyak manfaat dan kemudahan jika menggunakan layanan e-hailing, dari sisi marketing, logistik, dan meningkatkan penjualan. Tanpa membuat website, produknya UKM bisa tampil di mobile apps as in website untuk dilihat pengguna aplikasi (ratusan ribu pengguna), tanpa memperkerjakan tenaga pengiriman UKM bisa mengirimkan pesanan sampai di tangan konsumen, dan tentunya ‘merekrut’ pelanggan-pelanggan baru. Karena bisnis tidak akan bertumbuh tanpa adanya pelanggan-pelanggan baru.

Bagaimana dengan korporasi, yang non-digital hendak terjun di dunia online commerce? Kurang lebih sama. How?

Continue reading

Sudut Pandang Digital Marketing #3 : Koneksikan Marketing – Logistik – Sales Lewat E-hailing (part 1)

E-hailing menjadi kata kunci yang mulai dikenal orang karena adanya layanan ojek online yang menjamur belakangan ini. Hailing a taxi, now we can do it through online media. Technology has making it all a lot easier, especially for consumer who want to do anything. Termasuk yang ingin pergi dari titik A ke titik B, dimanapun dan kapanpun ia butuhkan. On demand is another keyword. Dulu kalau ingin order taksi, kita harus telepon call center taksi. Kemudian akan dikirimkan armada taksi yang kita pesan. Kalau armadanya ada, terutama saat di peak hours. Misalnya saat kita harus berangkat ke bandara di pagi buta.

E-hailing. On demand.

Lewat postingan blog kali ini, kita akan banyak menemukan kata ini. Layanan ojek online menjadi kebutuhan masyarakat di perkotaan saat ini. Terlebih saat layanan e-hailing ini menawarkan jasa lainnya, yang menaikkan value dari korporasi e-hailing di mata konsumen. Pesan makanan-minuman, grocery shopping di mini market atau supermarket, mengirimkan paket dokumen, hingga mempermudah orang untuk pindahan rumah, karena ada layanan angkutan dengan menggunakan mobil box. On demand, kita bahas karena saat ini pelanggan ingin mendapatkan apapun yang ia inginkan, produk dan jasa, kapanpun dan dimanapun. Saat itu juga.

Kita yang sudah sedemikian dekat dengan digital mungkin sudah jarang menonton siaran TV konvensional, ditambah dengan bombardir iklan TV yang luar biasa banyak. Kita cenderung mengakses internet untuk menonton konten-konten visual yang ingin kita lihat. Youtube.com saat ini menjadi solusi untuk on demand media consumer. Bukan hanya menonton video-video yang sudah di-posting, kita bisa menonton tayangan langsung suatu acara, seperti saat saya menonton tayangan liga bola basket nomor satu di tanah air, IBL lewat channel IBL TV di Youtube. Pertandingan basket yang ada di kota Surabaya, Semarang, Bandung, dan sebagainya, bisa saya tonton langsung via laptop saya di rumah, di Bekasi 🙂

Awesome!

E-hailing kini mengkoneksikan marketing, logistic, dan sales! Bagaimana?

Continue reading