Pola Perilaku Belanja Konsumen Terkini. Ada Pergeseran?

Sebenarnya keinginan membuat tulisan ini muncul karena kebingungan saya mencari sumber inspirasi untuk presentasi dan wawancara proposal penelitian S3 saya, yang rencananya akan dilakukan bulan September 2017 yang akan datang. Bulan depan, man! OMG! 😮

Sesaat sebelum ide ini muncul, jujur selama berbulan-bulan saya clueless, bingung mau bahas apa di proposal penelitian nanti. Yang tentunya, kini saya tidak lagi meneliti suatu perusahaan dengan dinamikanya sebagai variabel-variabel penelitian, namun kini saya meneliti suatu industri, dan hubungan antar industri. Bukan saja satu brand saja, namun berbagai brand yang masuk dalam industri. Dan tulisan ini menceritakan ide penelitian saya, yang didukung oleh beberapa artikel yang saya baca di media-media online yang terpercaya, dari narasumber yang terpercaya pula. Singkatnya, saya ingin melihat lebih dalam, meneliti tentang hubungan antara industri fast moving consumer goods, retaile-commerce, e-hailing, logistic/express delivery dalam frame digital economy yang dapat saling menguntungkan dan meningkatkan satu sama lain.

Keterbukaan dalam komunikasi pesan merek, pola kebutuhan konsumen yang semakin on demand, dan soft selling (Nielsen Consumer 360 Seminar)

Sederhananya seperti ini; era internet membuat perilaku konsumen berubah. Ini yang harus kita ketahui dan sadari, bahwa di luar sana perubahan terjadi demikian massive dan cepat! Konsumen kini mulai gemar belanja online karena banyak keuntungannya, bila dibandingkan dengan belanja secara offline di pusat-pusat perbelanjaan, atau sesederhana belanja di brick and mortar stores. Keuntungannya, tentunya lebih mudah (karena belanja kini bisa menggunakan aplikasi di smartphone-nya, lebih banyak pilihan (dari market place, classified, sampai layanan pesan makanan/minuman yang langsung melayani pengiriman dalam satu aplikasi), lebih praktis dan nyaman (bisa bayar (belakangan atau dicicil nantinya) pakai kartu kredit, transfer via e-banking, e-money, atau bahkan cash on delivery dengan opsi product return jika tidak sesuai harapan), banyak program promosi dan potongan harga, bahkan bebas biaya kirim. Alih-alih belanja di pusat perbelanjaan atau toko-toko biasa, konsumen kini cenderung memilih belanja via online. Beberapa karena alasan diatas. Kenyamanan juga dirasakan oleh konsumen saat mereka menyelesaikan proses check out (payment), pesanan mereka dapat dikirimkan langsung ke alamat rumah, ke kantor (biar nggak ketahuan kalau sering belanja online, tahu-tahu barang sudah rapi tertata di rak lemari), atau diambil saat perjalanan pulang lewat layanan POPBOX, yang kini mulai banyak kita temui di stasiun-stasiun KRL, apartemen, supermarket, pusat perbelanjaan, dan lokasi-lokasi strategis lainnya.

Pergeseran pola komunikasi merek-kini lebih fokus ke value yang diterima konsumen dibandingkan pesan dan benefit yang ditawarkan merek (Nielsen Consumer 360 Seminar)

Daya beli itu ada, namun dimana konsumen menghabiskannya, ini yang bergeser. Kita belum membahas topik khusus tentang kegemaran konsumen kini untuk travelling ya? Yang sedikit banyak dipengaruhi oleh media sosial juga, Path dan Instagram misalnya. Media sosial ini kini menjadi ájang pamer’ kegiatan leisure mereka. Entah yang sedang bepergian ke destinasi wisata eksotis, makan di tempat-tempat makan premium, ngopi-ngopi di kedai kopi mahal, dan sebagainya.

Continue reading

Advertisements

Belajar Category Management – bagian 1

Well, sudah lama saya tidak menulis tentang trade marketing dan shopper marketing seperti ini.Terakhir saya menulis tentang hal tersebut di bulan Februari 2012. Tulisannya bisa dilihat disini. Trade marketing dan shopper marketing adalah dua hal yang saya pelajari sebelum saya belajar lebih jauh tentang internet marketing, dunia yang saya geluti sekarang.

It was and it still very interesting…

Trade atau kegiatan perdagangan dilihat secara berbeda, bukan hanya dari berapa banyak yang dihasilkan, tapi apa yang bisa kita lakukan di perdagangan tersebut agar bukan hanya produk sebagai komoditas saja yang tampil, namun juga menampilkan merek atau brand kita. Kegiatan trade marketing disini bisa berupa kegiatan branding. Branding dilakukan di dalam atau luar area store/outlet. Kalau didalam, bisa lewat lantai toko, sekitar kasir, rak-shelving, hanging banner, island freezer, dan bahkan seragam SPG sekalipun. Branding diluar toko atau outlet pasti akan mendapatkan awareness yang lebih besar, dan pasti biaya yang lebih besar (advertising dan termasuk didalamnya pajak). Pihak retailer (HO jika merupakan chain store) akan happy dengan kegiatan branding dari supplier ini. Pertama karena beberapa bagian tokonya lebih cantik dan berwarna, yang kedua karena supplier yang pasang branding akan membayar sewa space.

Double happiness…

4bafe452afcbdbc4e778dac132760fbd_alfamart-next-g-pasar-minggu
Alfamart Pasar Minggu

Sebenarnya ini adalah hubungan yang saling menguntungkan. Pihak retailer happy karena tokonya dipercantik dan menerima uang sewa, pihak supplier juga happy karena brand-nya lebih terlihat dengan kegiatan branding ini, ditambah jika di dekat lokasi branding di outlet tersedia produk yang ditawarkan (dijual). Akan ada convertion rate disitu, atau tingkat konversi dari calon konsumen yang melihat branding tersebut, tertarik, lalu berniat membeli secara impulsif. Secara singkat ada keterkaitan antara kegiatan branding, brand awareness, konsumen via ‘prinsip purba’ AIDA (attention, interest, desire, action), pricing (including special price on promotion scheme), product availability and placement, dan sales! Yes, sales… Kenapa harus keluar banyak effort dan biaya di outlet kalau tidak menghasilkan sales? Benar demikian? That’s a simple understanding of trade marketing.

Lalu (menurut saya), ada lagi disiplin ilmu shopper marketing.

Supplier dan retailer sudah bekerjasama dengan demikian rupa untuk mempercantik toko. Bukan hanya 1 toko, tapi ribuan toko. Supermarket, minimarket, dan bahkan hypermarket dihiasi hasil kegiatan branding supplier. Tujuannya, meningkatkan traffic konsumen ke toko, dari sisi retailer, dan meningkatkan awareness sekaligus sales (kalau bisa branding sekaligus create extra space), dari sisi supplier. Konsumen-lah yang sekarang menjadi objek. Karena masing-masing toko tersebut berebut perhatian konsumen untuk datang dan belanja di tempatnya. Akhirnya, toko akan melakukan segala macam cara untuk meningkatkan daya saingnya dibanding toko lain, atau toko lain dari account yang berbeda 🙂

Salah satunya, dengan meningkatkan kenyamanan pelanggan/konsumen yang datang ke toko untuk :

1. Menemukan produk yang ia cari dengan mudah. Antara lain dengan :

a. Menata rak sedemikian rupa (posisi rak, lebar antar rak-lorong, tinggi antar shelf, eye leveling, dsb) agar konsumen yang belanja bisa dengan segera menemukan produk yang ia cari.

b. Membagi produk berdasarkan kategori dan sub kategori untuk ditata sedemikian rupa di rak-rak atau divisi yang tujuannya mempermudah konsumen ber-navigasi didalam toko (manajemen kategori).

c. Membuat signage-signage besar diatas rak, untuk membantu menemukan lorong-rak yang ia cari dengan segera (untuk supermarket/hypermarket)

2. Memberikan added value untuk pelanggan, antara lain dengan memberikan penawaran harga yang lebih murah saat masa promosi (dengan menggunakan trading term budget atau on top budget, budget ‘siluman’ diluar budget trading term-perjanjian jual beli selama satu tahun antara supplier dan retailer yang diambil dari budget marketing si supplier), gimmick untuk setiap pembelian (lagi-lagi dari suppliers), dan lain-lain.

3. Setting harga bersaing dalam situasi normal (non-promo) dibandingkan dengan toko lain yang sekelas, yang ada dalam satu area. Biasanya masing-masing toko melakukan com-check (competitor check), suatu kegiatan melihat harga suat produk yang sama-sama dijual oleh 2 toko atau lebih. Ada kegiatan com-check yang terang-terangan (misalnya antara Giant-Carrefour-Hari Hari Bintaro yang kebetulan saling berdekatan), atau secara sembunyi-sembunyi (resiko kena sanksi/denda/hukuman jika ‘agen rahasia’ yang checking harga tertangkap basah).

4. Jaminan kualitas produk yang dijual, biasanya berlaku untuk produk fresh/perishable (produk segar, mudah rusak, tanggal expired dekat). Toko berusaha berkomitmen untuk menjaga kepuasan konsumen dengan menyiapkan kantong plastik untuk memisahkan produk segar (buah-sayur) yang sudah tidak layak konsumsi.

Beberapa chain store (bekerjasama dengan lembaga – perusahaan riset) bahkan menginstall eye tracking device – atau alat untuk tracking mata konsumen bila berbelanja biasanya melihat ke bagian atau arah mana saja didalam toko. Mengamati kebiasaan mereka dalam ber-navigasi di dalam lorong-lorong toko, pada saat berbelok dengan mendorong trolley matanya melihat ke arah/bagian dari rak yang mana saja. Usaha ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan konsumen dalam berbelanja, sehingga mereka (retailer) bisa setting tokonya agar senyaman mungkin untuk konsumen berbelanja. Stay longer due to some comfortness usually means shop for more 😉

Jadi secara singkat, shopper marketing adalah usaha yang semakin mengerucut dari kegiatan sales dan marketing yang dilakukan di toko, yang bertujuan untuk memanjakan konsumen yang berbelanja di toko tersebut, salah satunya dengan memberikan convenience (kenyamanan). Ada sedikit wawancara kecil dengan seorang teman yang sudah terbiasa belanja di Carrefour MT. Haryono-Jaksel. Dulu ia tinggal di sekitar Tebet-Jaksel, kini setelah pindah ke Cibubur ia dan keluarganya tetap belanja di toko tersebut. Alasannya : “Gue nyaman belanja disini, udah terbiasa. kalau anak-anak gue lari-larian gue nyarinya juga gampang. Udah hafal lorong-lorong disini” Well, for me, to that store, it’s some kind of achievement. Kenyamanan bisa menjadi daya tarik toko, kenyamanan menjual.

IMG04707-20111208-1558
Food Hall Grand Indonesia

Nah, itu tadi sedikit review tentang shopper marketing dan trade marketing yang  diceritakan dalam bahasa saya sendiri, hasil pengalaman dan pengamatan beberapa tahun terakhir. Tulisan diatas adalah pengantar untuk bahasan Category Management yang akan ditulis menjadi beberapa bagian. Mulai dari tulisan ini. So, let’s start it!

Category management yang sempat disebut di bahasan diatas dapat diartikan sebagai  mengelompokkan (grouping) produk-produk yang dijual, dimana masing-masing group produk yang ditentukan mememenuhi kebutuhan yang sejenis.

Jadi bisa dibayangkan jika suatu supermarket tidak punya manajemen kategori yang jelas. Semua produk ditata di rak, tanpa pengelompokan, asal ditata saja. Susu ditata berdekatan dengan semir sepatu, telur ditata disamping rak alat tulis, dan snack ditata berdampingan dengan air aki. Akibatnya? Pelanggan atau konsumen yang belanja di toko tersebut akan bingung mencari produk yang ia cari. Ketidaknyamanan ini akan berujung pada keengganan pelanggan untuk belanja lagi di toko tersebut lebih diutamakan karena lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencari produk atau merek yang ia cari. Bingung.

Tata letak produk ditoko diawali dari pengelompokan produk. Awalnya, produk-produk yang disediakan akan dibagi menjadi dua bagian, food dan non food. Biasanya, setelah pintu masuk pelanggan akan menemui produk-produk non-food, berlanjut menemui produk food, dan produk fresh dibagian paling ujung. Biasanya produk fresh diletakkan diujung, untuk menjaga kesegaran-nya. Misalnya : produk-produk beku (frozen-dairy frozen-perishable).

Bersambung ke Belajar Category Management – bagian 2 (segera)

 

 

 

Connect – Colaborate – Convert

It’s funny how two young professional meet, talk and discussing something, about their job off course, in an open mind way. With no ego, without any personal motives. It just like building sand castle together.

Continue reading

Cerita Field Marketing (part.4)

Persuading stage, taken at Yogya Bogor Junction

Pemikiran pagi ini (Senin, 6 Februari 2012) berkutat dengan Field Marketing dan juga Shopper Marketing. Just how to connect two of them, use them as a tools. Sebuah alat untuk membantu kita menentukan bagaimana keputusan pembelian seorang konsumen dibuat di toko. Antara lain dengan :

Continue reading

Cerita Field Marketing (part.3)

 

Dua cerita yang lalu, tentang Field Marketing ini banyak banget mengisahkan tentang apa yang saya alami, jalani, pelajari, ikuti, ketahui, dan pahami selama menjadi ‘pawang’ SPG. Perfect years? No, I don’t think so. Hustle years? Yes, it is.

Seorang teman lama, yang mungkin ga sengaja baca BBM status saya, @haris_rahmanto baca juga blog ini, haryoprast.wordpress.com dan memberikan response positif. Lebih ke sisi penulis blog, yaitu saya sendiri 8) yang menurut beliau, ‘very passionate about his job’ Itu kata dia lho… Trully is, I can’t judge myself of it.

Ok, start typing…

Di dunia barat, Eropa atau Amerika misalnya, jarang sekali ada mbak-mbak SPG di lorong-lorong supermarket / hypermarket. Buat sebagian shopper disana, jika sedang belanja bertemu dengan para SPG, mereka dianggap mengganggu. Buat mereka, shopping is enjoying the process. Mampir ke salah satu lorong. Melihat seisi lorong dari ujung, dengan melihat apa yang ada di end gondola terlebih dahulu. Lalu melihat bagian per bagian dari rak yang ada. Dengan santainya, dan tanpa buru-buru. Well, behavior ini hanya berlaku untuk mereka yang ‘rich in time’

SPG Sariwangi, LSI Kalimalang

Melihat satu group SKU atau kategori, minyak goreng misalnya. Membanding-banding harga (melihat price tag tiap brand-size-pack dari minyak goreng yang didisplay), disinilah peran penting price tag dan segala informasi tentang harga yang harus terpasang dengan benar. Resiko? Fatal. Loss sales, brand switch, dan sebagainya.

Lorong susu di LSI Cirendeu

Lalu setelah melihat dari jauh, shopper mulai mendekat. Memegang kemasan satu demi satu. Membaca kandungan  tiap brand minyak goreng yang ada. mencari ada kandungan omega-3, dan sebagainya. Memegang, moment of truth. Disinilah dimana shopper berinteraksi dengan sebuah brand via produk yang dijualnya. Apa yang dipikirkan oleh shopper saat memegang produk minyak goreng itu. Either it’s in a pouch, bottle, or even in a mineral water plastic glass. Mungkin akan sedikit ilfill (ilang feeling) kalau produk yang dipegang berasa berminyak ditangan (mungkin gara-gara packaging minyak goreng lain bocor, dsb), sehingga harus buru-buru mencari tissue untuk melap tangannnya.

Island Freezer, Tip Top Pondok Bambu

Ini feature. Apa yang dapat dilihat-dirasa oleh shopper dari suatu produk tersebut. Apa yang tertulis di packaging produk, apa yang dirasa saat memegang packaging produk. Belum sampai pada manfaat atau keuntungan yang didapat oleh shopper setelah membeli produk minyak goreng merek A.

Gak tahu yah, tapi somehow… Buat saya, jika belanja di supermarket atau hypermarket yang cenderung sepi, dan labih bagus juga kalau sepi dari mBak-mBak SPG, saya jadi lebih enjoy dalam menikmati proses belanja. Bisa dorong trolley dengan nyaman dan santai dari lorong ke lorong, salah satu hobby istri saya juga, @vitadasilva99. Bisa browsing dengan bebas dari satu rak ke rak yang lain. Melihat price tag yang terpasang, dan kadang saling berkomentar… “Eh, kayaknya price tag-nya keliru deh, masa harga buat pack size A dipasang di pack size B ?” “Katanya lagi promo, koq harganya normal-normal saja sih?  Coba, tanya orang tokonya deh”

Beverage alley, Robinson Cinere (closed)

Dan kadang, saat belanja jika ada SPG di suatu lorong, akan buat saya, dan mungkin beberapa shopper lainnya, menghabiskan waktu lebih singkat dibandingkan di lorong yang tidak ada SPG-nya. Ga enakeun, kata orang Sunda. Kalau kita menolak tawaran mereka. Lebih ke alasan emosional. Yup! Indonesian mostly thinks this way.

Merasa ga enak kalau dikelilingi SPG yang siap menawarkan produk-brand-nya, merasa ga enak kalau harus menolak tawaran tiap SPG yang menawarkan dengan sopan. Kadang kalau berempati, kasihan juga dengan para SPG tersebut. Response dari shopper yang ketemu dengan mereka pasti bermacam-macam. Mulai dari penolakan sopan, tidak dianggap, dijahili, hingga penolakan keras. Dibentak. Ada? Pasti ada…

Bisa di Indonesia suatu supermarket/hypermarket jalan tanpa SPG ?

Saya rasa belum  bisa. Kenapa?

1.  Pihak supermarket masih merasa kalau dengan adanya kontribusi tenaga SPG-SPB dari para supplier, mereka bisa menghemat biaya tenaga kerja

2.  Supplier sendiri, baik dari FMCG (terutama yang produknya impulse – es krim, snack, permen, dsb) atau dari industri lain, masih merasa perlu memasang tenaga SPG di toko. Bukan hanya untuk meningkatkan selling out, namun juga sebagai good will kepada toko atau account (ini alasan yang paling tidak masuk akal)

3.  SPG masih dipandang sebagai bagian dari suatu service kepada konsumen. Get lost at stores, and no ‘store attandant’ to find ? Go to one of SPG to show you the way. Karena itu, salah satu retailer ‘menjual’ kaos polo ke suppliernya sebagai seragam untuk para SPG-SPB yang bertugas di toko-tokonya, agar terlihat SPG sebagai karyawan toko. Terlihat padat karya (wan/wati). Hmmm…

SPG ice cream at Carrefour MT Haryono

Mungkin nanti, ada suatu era dimana SPG atau SPB tidak dibutuhkan lagi sebagai persuader. Tapi lebih sebagai stock builder, stock refiller, person in charge in rack facing, etc. Hanya bertugas memajang, refill, stock update, dan sebagainya. Penjualnya siapa? Nah, ini akan kembali ke pemahaman awal tentang merchandising. Sesuatu yang saya pelajari dari awal bekerja disini. Kalau ‘product with good merchandising will sell itself” =) Make sense now…

Back to standard of 4Ps. Product-Placement-Price-Promotion. True marketers and trade marketers must fully understand of this 4P stuffs.

Dan shopper yang sudah terbiasa belanja di modern market akan dengan nyamannya melanggang di tiap – tiap lorong dan area. Melihat dari dekat suatu produk, baca komposisi produk yang ada, melihat price tags dan promotional signage,  membaca stores sign sebagai navigator mereka, dan toko akan dan bisa jadi menyediakan alat komunikasi (bisa telepon, intercomm, etc) untuk memanggil awak toko untuk bertanya, minta dibantu, dihampiri, dan sebagainya as their service. Bukan service yang selalu ada bahkan saat tidak dibutuhkan, tapi service yang ada real time, juat in time, saat dibutuhkan.

Someday, mungkin pasar modern trade di supermarket dan hypermarket akan menjadi beda… tanpa SPG. Namun diimbangi dengan pelayanan yang canggih. How? I don’t know for sure… Wait, let me see my crystal ball first, hehehehe… =)

See you on another chapter of Cerita Field marketing (part.4)

 

 

 

 

Cerita Field Marketing (part.2)

Sambungan Cerita Field Marketing…

SPG LuVe Litee di C4 Cempaka Mas

Sales Promotion Girl – SPG, Sales Push Team, Brand Promoter, dan masih banyak julukan untuk tenaga penjual berjenis kelamin perempuan ini. Kenapa harus perempuan? Kenapa ga bahas Sales Promotion Boy saja?

Karena :

1.  Sebagian besar shoppers/consumers lebih suka dilayani-dipersuade-ditawari oleh perempuan…

2.  Perempuan punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh laki-laki, yaitu kelembutan. Baik di tutur kata, gaya bicara, dan gesture.

3.  Kerena perempuan itu cantik. Dan somehow, perempuan cantik yang pintar akan terlihat luar biasa 🙂

SPG Nutrifood at Giant Bekasi

Okay, let’s not now talking about gender. Kita tahu, bahwa di hampir lorong-area suatu supermarket atau hypermarket pasti ada ‘penjaga lorong’ yaitu SPG. Yang mungkin akan membuat kita ‘reluctant’ atau nggak enak. Takut ga enak kalau nolak penawaran mbak-mbak SPG itu, takut kalau kita terbujuk dengan sales talk mbak-mbak SPG tersebut… Jadi males lewat lorong yang banyak SPG-nya. Hahaha…mungkin itu salah satu shopper behaviour saat sedang ada di dalam supermarket/hypermarket.

SPG Joy Tea

Beberapa shopper mungkin berpikiran seperti diatas. Berpikir bahwa somehow, mbak-mbak SPG yang ada di toko bisa dengan mudah (karena dilatih sedemikian rupa) membuat seseorang yang berpikir ‘no – later on – ntar ajah’ dan sebagainya dan sebagainya bisa menjadi ‘yasudah, gw coba deh – ok, aku ambil satu yaaa… –  eemmmm, boleh deh kalo gitu – dan sebagainya.  Convertion rate dari tertarik pada suatu brand, via in store branding, packaging, display akan diperbesar dengan hadirnya SPG di lokasi. Buat mereka yang bekerja di industri FMCG pasti paham betul akan peran SPG. Terlebih jika produk yang dijual adalah produk impulsif. Yang hanya butuh ‘snap’ untuk membuat suatu keputusan pembelian. No such thing as planning to do some impulsive buying, right? 😉 It just happens.

SPG Hula Paradise at Tip Top Rawamangun

Yang paling saya ingin tahu sebenarnya adalah, berapa waktu yang sebenarnya dipunyai oleh seorang SPG untuk persuading shoppers. Mulai ucapkan salam pertama, menarik perhatian shoppers via senyum dan sales talk yang persuasif, hingga menunggu response dari shoppers. Berapa detik waktu rata-ratanya?

Sehingga kita, jika kita berperan di perusahaan sebagai penanggungjawab per-SPG-an bisa memperkirakan, butuh waktu berapa detik dari ucapkan salam pertama hingga menutup sales talk, menunggu response dari shoppers. Apakah tertarik atau tidak, apakah hanya sekedar memberikan senyum, atau malah mengacuhkan saja.

Sekedar pengamatan saja, tiap SPG yang melakukan persuasi mungkin butuh sekitar 5-7 detik untuk menarik perhatian shoppers dengan sales talk-nya. Tidak boleh terlalu panjang, karena pesan yang masuk ke shoppers akan banyak yang ter-reduksi, tidak sempat didengar secara utuh. Sehingga kalaupun tertarik, shoppers tersebut akan meminta pengulangan kata untuk memperjelas maksud SPG yang bersangkutan. Biasanya akan bertanya, “Gimana, mbak?” atau “Apa’an tadi, mbak?” nah, capek juga kalau ada SPG yang sudah mengucapkan sales talk panjang lebar, namun tidak terdengar dan terserap semuanya oleh shopper. Terlalu panjang.

Nah, apa jadinya kalau terlalu pendek. Mostly, shoppers akan kurang tertarik. Pernah jalan ke lorong baju-baju atau fashion di ITC-ITC? Kebanyakan SPG atau pramu toko menawarkan barang dagangannya dengan berkata :  “Boleh kakak…” atau “Silahkan kakak…” atau ” Masuk dulu kakak, lihat-lihat dulu…”

Sangat standard…

Kita tidak mau SPG-SPG kita mengucapkan sales talk yang se-standard itu bukan? Nggak mau dong…

Nah, bagaimana seharusnya sales talk dimulai? Mungkin begini (ini menurut saya lho) :

1. Opening – prefix : bisa salam-selamat pagi-apapun

2. Probing : setelah berhasil menarik perhatian si shoppers, maka SPG tersebut menggal apa yang dicari/dimau shopprs

3. Seal the deal : pada tahap ini, SPG sudah berhasil meyakinkan shoppers, tinggal ditawari ambil berapa pack/pcs/unit

4. Penutup – suffix : selain berucap terima kasih, as service people, SPG layaknya customer service suatu industri bank atau telco, wajib menawarkan bantuan lagi, dengan kata-kata : “Terima kasih bu, ada lagi yang bisa saya bantu?”

That’s suffix. Kata-kata yang jarang diucapkan SPG-SPG baik di stores manakala shoppers sudah mau memindakan produk yang ia tawarkan ke dalam keranjang/trolley belanjaannya.

 

Nah, sampai disini dulu Cerita Field Marketing (part.2), akan disambung ke part 3 yah… Very soon 🙂