Tahun 2015, Salah Satu Tahun Yang Hebat?

Hari ini sudah menjelang penghujung bulan Desember, yang artinya sebentar lagi akan berpisah dengan tahun 2015 dan berkenalan dengan tahun 2016. A goodbye can lead us to a new hello!

Kata kunci, atau lebih tepatnya kata sakti di saat-saat menjelang tutup tahun adalah : resolusi!

Iya, janji atau keinginan yang diucapkan menjelang akhir tahun, yang biasanya bertujuan bahwa keadaan di tahun 2015 menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Pastinya. Entah karir yang semoga makin melesat di tahun depan, di perusahaan yang sama atau perusahaan lain, bisnis yang makin menggurita, yang akan mengarah pada kesejahteraan yang lebih baik di tahun depan. Kebebasan finansial, mimpi karyawan seperti saya ditengah-tengah tagihan, tabungan, keinginan untuk berinvestasi, dan cicilan hutang.

Well, everybody knows that for sure.  Resolusi adalah sesuatu yang indah, buat saya. Resolusi seperti janji buat diri saya sendiri untuk melakukan banyak hal dengan apa yang ada dalam diri saya sendiri, untuk memperbaiki diri dan sekeliling saya, yang masuk dalam jangkauan saya. Yang sederhana-sederhana saja lah. Sesederhana berkeinginan kuat untuk memperbaiki penampilan (baca : mempunyai tubuh yang lebih proporsional) dan lebih sehat dan bugar.

 

20151221_144923_Pano
Pantai Goa Cina, Malang Selatan

.

Mungkin yang akan jadi prioritas saya di tahun 2016 adalah : kesehatan, karir, keluarga.

Continue reading

Advertisements

Great Values from Handry Satriago – CEO General Electric

Siapa tak kenal General Electric?

Salah satu perusahaan terbesar versi Majalah Fortune yang didirikan oleh Thomas Alva Edison, sang penemu bohlam ini punya sosok yang luar biasa yang menjadi salah satu dari CEO-nya di Indonesia. Ya, perusahaan multi nasional ini dipimpin oleh Pak Handry Satriago, atau lebih dikenal dengan twitter handle @handryGE dengan sharing-sharingnya tentang leadership, proses belajar, dan lain sebagainya. Koneksi GE dan Indonesia dijembatani oleh bapak yang satu ini, yang lahir di Riau, Pekanbaru 13 Juni 1969.

Menurut saya, Pak Handry ini sosok yang luar biasa. And It admit that. Bukan saja ia bisa dan mampu menjadi seorang CEO di umur yang relatif muda (41 tahun) dengan kondisi (maaf) diatas kursi roda, namun pemikiran-pemikirannya sangat inspiratif buat saya. Orang yang hebat, namun masih tetap humble. Yes, he’s one of my rock star now! I’m his huge fan…

Handry Satriago_1

Dan saat saya nonton acara 1 Indonesia dari NET.TV beberapa waktu yang lalu membawa saya lebih mengenal beliau, yang selama ini hanya sama temui di timeline twitter saya lewat kultwit-nya, yang kini sebagian sudah dijadikan buku agak tebal dengan sampul warna biru, dengan tajuk : #sharing

Handry Satriago_3

I’d say that this talkshow is quite perfect. Marissa Anita is actually perfecting it. So here’s some values I’ve had from this inspiring conversation  (Oh, and this is the youtube video link, provided by NET.TV #Net_HANDRY : https://www.youtube.com/watch?v=G6O8mrVWvZ4 ) :

Continue reading

Cerita Saya Membuat SIM A dan SIM C Baru

SIM A dan SIM C saya
SIM A dan SIM C saya

 

“Udah lah, ngapain repot-repot pakai ujian teori dan ujian praktek, bayar aja, beres” (komentar 1, teman)

“Mas, mau dibantu bikin SIM, mas? SIM A atau SIM C?” (komentar 2, calo SIM merangkap tukang foto kopi)

“Iya, bisa dibantu dik? Iya, buat pengajuan SIM baru lewat sana. Mau sekalian bapak bantu? Langsung foto” (komentar 3, oknum polisi-sudah bapak2, ramah)

Itu tadi beberapa komentar dan masukan dari beberapa orang saat mengetahui kalau saya ingin membuat SIM A dan SIM C baru, saat semua SIM saya sudah tidak berlaku lagi, expired. Saat saya sudah berpindah kewarganegaraan dari penduduk kota Malang, Jawa Timur menjadi penduduk kota Bekasi, Jawa Barat. Mulai was-was saat mengendarai mobil dan sedang ada razia, meskipun itu razia motor saja. Mulai juga khawatir saat mengendarai sepeda motor di kampung halaman, saat berkeliling kota Malang.

“Jangan-jangan di pengkolan Jalan Raya Langsep – depan mesjid besar (saya lupa nama mesjidnya), ada razia polisi” atau “Jangan-jangan di depan Taman Krida Budaya-Jl Soekarno Hatta Malang lagi ada razia” pikir saya saat setiap kali mengendarai sepeda motor.

Dan saat itu, saya memutuskan untuk membuat SIM A dan SIM C baru, dan saya putuskan saya akan menempuh jalan yang susah. Artinya, bukan jalan pintas. Tidak pakai bayar ke oknum polisi atau petugas pelayanan pembuatan SIM lainnya, di Polres Bekasi. Tidak sepeserpun saya mau keluarkan uang saya untuk mereka. Saya tidak peduli kalau nanti saya bakal dipersulit. Saya bakalan gagal dan mengulang di ujian praktek, dan pastinya juga ujian teori. I’m so ready!

Jadi tibalah hari itu, saya ambil cuti sehari khusus untuk mengurus ini dan itu, dan saya yakin, saya tidak akan dengan mudah mendapatkan SIM dan dan SIM C itu dalam sehari. Pasti ada cerita, pasti banyak cerita.

Dimulai dari mengambil formulir-formulir, dan membayar biaya pengajuan SIM baru, SIM A  Rp 120.000,- dan SIM C : Rp 100.000,- ditambah ongkos tes kesehatan (yang tidak jelas – bersamaan dengan saya ada anak muda yang mengajukan SIM C namun buta warna dan tetap lolos) Rp 50.000,- untuk 2 SIM. Kemudian asuransi kecelakaan, masing-masing Rp 60.000,- Jadi total uang yang saya keluarkan untuk 2 SIM A dan C : Rp 390.000,- saja.

Continue reading

Java Jazz Festival 2014. Apa Bedanya dari Tahun Lalu?

Well, perhelatan Java Jazz Festival yang ke-10 ini adalah Java Jazz yang ke-9 buat saya. Artinya, saya tidak pernah absen nonton event rangkaian konser jazz yang digelar sejak tahun 2006. Sejak tahun-tahun awal saya bekerja di Jakarta, Java Jazz saya yang pertama tentunya masih ada di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan-Jaksel. Terus menerus demikian sampai tahun 2009, event dipindah ke JI Expo – Kemayoran. Yak, pindah ke arena Pekan Raya Jakarta – PRJ, demikian lebih gampang dikenal orang.

Salah satu capture di Java Jazz 2013
Salah satu scene di Java Jazz 2013

Saya ingat saat perhelatan Java Jazz Festival yang terakhir di JCC, tempat demikian sesak oleh orang, dan tentunya panas. Kurang nyaman. Saya ingat batal nonton Rene Olstead saat itu, gara-gara sudah tidak bisa masuk lagi di alah satu hall. Namun sebelum itu, buat saya, pengalaman pertama nonton Java Jazz yang paling saya ingat. Kenapa? Karena saat itu, saya masih menjadi karyawan di masa-masa awal meniti karir, masih sebagai management trainee, berani beli tiket Java Jazz yang buat anak perantauan seperti saya lumayan mahal, Rp 350.000,- kalau tidak salah saat itu, tahun 2006. Namun semua itu terbayar, karena saya, penggemar Jazz yang berasal dari kota Malang, Jawa Timur, bisa menyaksikan langsung Incognito, Al MacKay All Stars aka Earth Wind and Fire Experience, dan masih banyak lagi secara langsung. Saya sempat ternganga-nganga saat itu. Tidak percaya saya menonton Bluey cs (Incognito, dengan lead vocalist-nya Maysa Leak saat itu).

Well, ini tahun ke-9 saya nonton. Dan tahun ketiga saya nonton secara gratis. Koq bisa? Bisa dong!

Karena perusahaan tempat saya bekerja sekarang menjadi salah satu sponsor event jazz tahunan terbesar di Indonesia, dan bahkan di Asia ini selama 3 tahun berturut-turut. Well, it’s a brand or marketing stuffs. Don’t ask whether or not the sponsor got the profit from this marketing effort. Nothing to compare 🙂

Continue reading

Sekedar Menyapa…

SAM_0794

Halo!

Sebenarnya merasa bersalah karena membiarkan blog ini, yang dari awal saya buat sebagai media untuk berbagi apa yang saya kenali, ketahui, dan pelajari ini sedikit berdebu. Terasa usang…

Terhitung 2 bulan off dari dunia blogging. Karena, kalau boleh jujur, karena keengganan atau kemalasan saya sendiri untuk berbagi. Sayasadar, bahwa saya adalah bagian dari jutaan komunitas yang aktif di dunia sosial media, suatu komunitas yang sangat enteng menggerakkan jemarinya (terutama kedua ibu jarinya) untuk berbagi informasi. Dua jempol yang akibat aktivitasnya bisa (jadi) memberikan informasi yang bermanfaat dan memberikan efek pada banyak orang. Efek baik dan  buruk.

So, hari ini, Senin-24 Februari 2014 saya kembali mengisi blog ini. Ditengah euforia kemenangan 4-3 Liverpool FC atas Swansea City semalam, di hari Senin yang sepertinya tidak terlalu hectic, thus, tidak terlalu produktif, menurut pengamatan saya di ujung hari ini.

Satu hal yang membuat saya agak excited adalah, kembali datangnya kesempatan untuk menonton event jazz besar tahunan di JI Expo Kemayoran secara cuma-cuma. Yes, 10th annual Java Jazz Festival is back! Dan kali ini adalah Java Jazz Festival saya yang ke-9. Dan kali ini adalah Java Jazz saya yang ketiga, dimana saya bisa dengan leluasa melenggang masuk tanpa bayar (malah dibayar). Hehehehehe…. Excited!

Apa kabar? 🙂