Tahun 2015, Salah Satu Tahun Yang Hebat?

Hari ini sudah menjelang penghujung bulan Desember, yang artinya sebentar lagi akan berpisah dengan tahun 2015 dan berkenalan dengan tahun 2016. A goodbye can lead us to a new hello!

Kata kunci, atau lebih tepatnya kata sakti di saat-saat menjelang tutup tahun adalah : resolusi!

Iya, janji atau keinginan yang diucapkan menjelang akhir tahun, yang biasanya bertujuan bahwa keadaan di tahun 2015 menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Pastinya. Entah karir yang semoga makin melesat di tahun depan, di perusahaan yang sama atau perusahaan lain, bisnis yang makin menggurita, yang akan mengarah pada kesejahteraan yang lebih baik di tahun depan. Kebebasan finansial, mimpi karyawan seperti saya ditengah-tengah tagihan, tabungan, keinginan untuk berinvestasi, dan cicilan hutang.

Well, everybody knows that for sure.  Resolusi adalah sesuatu yang indah, buat saya. Resolusi seperti janji buat diri saya sendiri untuk melakukan banyak hal dengan apa yang ada dalam diri saya sendiri, untuk memperbaiki diri dan sekeliling saya, yang masuk dalam jangkauan saya. Yang sederhana-sederhana saja lah. Sesederhana berkeinginan kuat untuk memperbaiki penampilan (baca : mempunyai tubuh yang lebih proporsional) dan lebih sehat dan bugar.

 

20151221_144923_Pano
Pantai Goa Cina, Malang Selatan

.

Mungkin yang akan jadi prioritas saya di tahun 2016 adalah : kesehatan, karir, keluarga.

Continue reading

Advertisements

Cara Merek Masuk ke Personal Circle Media Sosial Anak Muda

Dari sebuah meeting singkat dan diskusi menarik dengan 2 orang account executive (AE) sebuah radio swasta dengan target market anak muda dan first jobber di kantor saya, Selasa – 17 Maret 2015, hari ini muncul beberapa insights yang menurut saya sangat juicy, terutama buat para penggerak dan pengelola merek yang punya target market anak muda.

Bagaimana tidak juicy?

 

1415318755
Sumber foto : Getty Images

Continue reading

Java Jazz Festival 2015. Apa Bedanya dari Tahun Lalu?

IMG_20150308_175215

Tepat satu tahun yang lalu, 2 Maret 2014 saya buat review akan perhelatan Java Jazz Festival 2014 (JJF2014) dibandingkan dengan Java Jazz Festival 2013 (JJF2013). Secara singkat, perhelatan JJF2014 lebih meriah dibandingkan JJF2013. Ingin tahu detailnya? Bisa baca disini.

 

Lalu bagaimana dengan perhelatan Java Jazz 2015?

I think JJF2014 is better than this JJF2015. Dari sisi mana saja saya bisa katakan kalau perhelatan JJF2015 tidak lebih baik dari tahun sebelumnya?

Continue reading

Ulasan Artikel : Strategi Digital Marketing untuk Underdog Brand*

Artikel yang menarik, saya temukan di Majalah Marketing edisi 02/XV/Februari 2015 yang ditulis oleh Pak Harryadin Marhardika (vice director MM-FEUI).

Majalah Marketing edisi 02_XV_Februari 2015
Majalah Marketing edisi 02/XV/Februari 2015

Jika di artikel underdog brand dirupakan dalam format band-band indie yang cenderung punya followers atau fans yang fanatik, karena ide-ide yang disampaikan oleh band-band indie tadi lewat karya-karyanya dirasakan mewakili apa yang dirasakan oleh para fans tadi, atau disebut juga dengan identify mechanism (terwakilinya kisah hidup nyata seseorang oleh sebuah ide), saya lebih suka melihatnya dari sisi brand telco.

Saya seorang user Indosat, market challenger di industri telco, sejak tahun 2002. Sampai dengan hari ini, saya setia menggunakan kartu GSM Mentari, meskipun sudah berkali-kali berganti SIM card. Beberapa alasannya karena SIM card yang over heated, alias ‘kepanasan’ saat dipasang di 2 handset Blackberry yang pernah saya punyai. Well, alasan dulu pilih pakai kartu Indosat instead of XL maupun Telkomsel adalah karena saya percaya saat itu (pemikiran saya saat masih kuliah di Unibraw Malang), bahwa market challenger pasti akan memberikan lebih banyak kepada para penggunanya. Artinya, saya mengharapkan merek nomor 2 atau nomor 3 yang saya pakai bisa memberikan manfaat yang lebih dibandingkan jika saya menggunakan produk dari market leader. Kenapa?

Karena market leader sebenarnya tidak perlu bersusah payah layaknya merek nomor 2 atau nomor 3 dalam meretensi konsumennya. Hanya dengan memberi sentuhan-sentuhan kecil saja, update-update kecil saja, membuka diri untuk komunikasi dua arah dengan para penggemarnya (baca : pengguna), cukup. Namun beda dengan pemain kedua, ketiga, dan seterusnya. Pemain-pemain tersebut akan lebih mengeluarkan effort untuk bukan saja meretensi, namun untuk mengakuisisi pengguna merek nomor 1, nomor 3, dan seterusnya. Masih diingat beberapa tahun yang lalu saat provider telco AXIS menjadi title sponsor event jazz terbesar,  Java Jazz 2011. They’ve done so much. Or too much? They’re not even exist today…

Now, about the under dog 🙂

Continue reading

Kuliah Tamu Brand Management di Kelas Digital Marketing 18 November 2014

CAM03603

 

Terhitung sejak tanggal 2 September 2014 saya terlibat dalam suatu hal yang luar biasa, suatu hal yang baru pertama kali terjadi dalam hidup saya.

Jadi gini…

Gimana sih rasanya jadi orang biasa, lalu diminta-diundang untuk melakukan hal yang luar biasa? Gimana sih rasanya terpilih dari ratusan orang di luar sana, yang mendalami pemasaran digital dan media sosial, untuk mengajar di sebuah perguruan tinggi negeri terbaik di negeri ini? Gimana sih, rasanya bisa berbagi ilmu dan pengalaman di depan para mahasiswa semester 5 Jurusan Periklanan FISIP UI – Depertemen Komunikasi? Gimana sih rasanya bisa berkontribusi untuk lingkungan kita, dalam wujud nyata membantu meningkatkan kualitas dan daya saing lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi AFTA 2016? (yang terakhir agak lebay, but that’s what it is)

Bangga!

Continue reading

Great Values from Handry Satriago – CEO General Electric

Siapa tak kenal General Electric?

Salah satu perusahaan terbesar versi Majalah Fortune yang didirikan oleh Thomas Alva Edison, sang penemu bohlam ini punya sosok yang luar biasa yang menjadi salah satu dari CEO-nya di Indonesia. Ya, perusahaan multi nasional ini dipimpin oleh Pak Handry Satriago, atau lebih dikenal dengan twitter handle @handryGE dengan sharing-sharingnya tentang leadership, proses belajar, dan lain sebagainya. Koneksi GE dan Indonesia dijembatani oleh bapak yang satu ini, yang lahir di Riau, Pekanbaru 13 Juni 1969.

Menurut saya, Pak Handry ini sosok yang luar biasa. And It admit that. Bukan saja ia bisa dan mampu menjadi seorang CEO di umur yang relatif muda (41 tahun) dengan kondisi (maaf) diatas kursi roda, namun pemikiran-pemikirannya sangat inspiratif buat saya. Orang yang hebat, namun masih tetap humble. Yes, he’s one of my rock star now! I’m his huge fan…

Handry Satriago_1

Dan saat saya nonton acara 1 Indonesia dari NET.TV beberapa waktu yang lalu membawa saya lebih mengenal beliau, yang selama ini hanya sama temui di timeline twitter saya lewat kultwit-nya, yang kini sebagian sudah dijadikan buku agak tebal dengan sampul warna biru, dengan tajuk : #sharing

Handry Satriago_3

I’d say that this talkshow is quite perfect. Marissa Anita is actually perfecting it. So here’s some values I’ve had from this inspiring conversation  (Oh, and this is the youtube video link, provided by NET.TV #Net_HANDRY : https://www.youtube.com/watch?v=G6O8mrVWvZ4 ) :

Continue reading