Cerita Semarang Trip 2017 (Bagian 3-Ambarawa Trip)

Yuk, lanjut lagi Ambarawa Trip-nya!

Setelah mengunjungi Danau Rawa Pening (bisa dibaca di tulisan sebelumnya), tujuan selanjutnya adalah Museum Kereta Api Ambarawa, yang letaknya cukup dekat dengan Danau Rawa Pening tadi. Tiket masuk dipatok Rp 20.000,00/pengunjung. Dan namanya juga museum kereta api, begitu masuk ke area museum kita akan menemui infografis tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia, dari jaman Belanda hingga kini dibangun MRT dan LRT di Jakarta, di sepanjang dinding sebelah kanan, dan deretan lokomotif tua berwarna hitam berukuran besar di sebelah kiri.

Museum Kereta Api Ambarawa
Museum Kereta Api Ambarawa
Museum Kereta Api Ambarawa

Continue reading

Cerita Semarang Trip 2017 (Bagian 2-Ambarawa Trip)

Cerita saya selama trip ke Kota Semarang di hari pertama bisa dibaca disini.

Tanggal 1 April 2017, saya terbangun pukul 01.45 WIB. Yup, saya melewatkan lagi moment dimana umur saya berkurang 1 tahun lagi, seperti yang sudah-sudah. 37 tahun boss! 3 tahun lagi akan masuk usia 40 tahun, where people say that life begins at 40! Hahaha! Baiklah, saya melewatkan lagi moment pergantian usia, namun saya tidak mau kehilangan moment lari pagi pertama di usia saya yang baru! Hup!

Water Polder Tawang-kolam air raksasa seberang Stasiun Semarang Tawang

Setelah bangun dan bersiap-siap, saya meninggalkan hotel tepat pukul 05.30 WIB, menuju kawasan Kota Lama Semarang. Well, sebenarnya saya sudah Google-ing lokasi jogging pagi yang enak. Komplek kampus Undip Tembalang dan beberapa spot lari favorit lain di kota Semarang sempat jadi pilihan. Namun sepertinya, ide lari pagi di Water Polder Tawang ini sangat menarik!

Water Polder Tawang dan Stasiun Tawang dari kejauhan

Sesampai di lokasi, dan setelah melakukan beberapa gerakan pemanasan, saya mulai berlari. Nampak di sekeliling kolam air masih ada ‘sisa-sisa kehidupan malam’, antara lain: tukang angkringan yang tengah membereskan gerobak dagangannya, beberapa orang yang masih lelap tertidur di beberapa bangku di sekitar lokasi, dan beberapa ‘pemandangan menarik’ lainnya. Satu putaran di water polder ini kira-kira berjarak 450m, hampir sama dengan 1 putaran lapangan atletik standar. Jadi lumayan, saya dapat 5,16 km (dari hasil tracking Endomondo apps saya) dari 11 lebih putaran. Cukup sepertinya membakar kalori yang kemarin saya timbun hasil makan malam di Warung Seafood Pak Sangklak 🙂

Continue reading

Cerita Semarang Trip 2017 (Bagian 1)

Kota Semarang, pesonanya membuat saya ingin kembali lagi dan lagi. Tapi tenang saja, kota ini tidak akan mampu menggeser posisi Kota Malang di hati saya. Kalau ditanya orang, “Mas dari kota mana?”, Saya pasti jawab, “Saya dari Malang”. Namun,  Kota Semarang berhasil menyodok ke peringkat ke-2, mengalahkan Kota Bekasi tempat saya tinggal sekarang ini dan Kota Bogor, yang hawanya mirip dengan kota kelahiran saya. Oh iya, Kota Bogor juga akan menjadi kota dimana saya akan menghabiskan banyak waktu dalam 3-4 tahun kedepan, mengingat saya berencana mengambil studi S3 di Sekolah Bisnis-IPB. Tahun ini 🙂

Warung Bu Fat, Jalan Ariloka-Kerobokan

Dan sudah dua tahun ini saya bolak-balik ke Semarang di hari ulang tahun saya, tepat di tanggal 1 April. Saya memutuskan, kalau saya berulang tahun, saya akan merayakannya di kota ini, dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Cerita sedikit pengalaman tahun lalu, tepat tanggal 1 April 2016, saya dan istri melaju dari Bekasi pukul 03.55 WIB dan sampai di Semarang pukul 12.00 WIB hanya untuk menikmati lezatnya masakan Warung Selera Bu Fat, Mangut Kepala Ikan Manyung. Ikan Manyung adalah sejenis ikan laut, yang sering pula kita sebut ikan jambal. Kita sering mengkonsumsinya dalam bentuk olahan ikan asin jambal roti. Namun di warung ini, kepala ikan dan daging ikan berukuran sedang-besar ini dimasak pedas dengan santan, setelah sebelumnya diolah dengan cara diasap. Sehingga menimbulkan aroma yang sangat khas. Duh, saya ngiler pengen makan Mangut Kelapa Manyung lagi!

Mangut Kepala Manyung a la Bu Fat

Continue reading