(Kalau Bisa) Pilih Boss-mu, Pekerjaanmu, dan Rancang Karirmu Sendiri

“It such a luxury, bro!”

Itu kata teman saya, begitu tahu kalau saya diberikan ijin oleh perusahaan tempat saya bekerja untuk mengajar di salah satu universitas terbaik di Indonesia, di jam kerja. Mengingat rekan saya ini harus mendapatkan ijin dari regional director-nya saat menerima undangan sebagai dosen tamu di kelas Digital Marketing saya. Dan ada teman satu lagi berkata, “Udah, gak usah pindah kemana-mana lah. Jarang banget ada company yang ngasih luxury seperti ini. Stay aja bro!” πŸ™‚

Mahasiswa, dosen tamu, dan saya (belakang) di kelas Digital Marketing saya (29 September 2017)

Deskripsi diatas menunjukkan kalau ruang untuk bertumbuh dan berkembang sungguh diberikan oleh perusahaan ini kepada saya, salah satu karyawannya. Dari satu sisi saya lihat hal ini sebagai retensi, or simply call itΒ a ‘perk’, sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan gaji, bonus, atau apapun dalam rupiah. Dari sisi saya sebagai karyawan, previlege ini jadi vehicle buat karyawan untuk selalu up date dengan informasi, trend, perkembangan di di dunia digital yang saling berkejar-kejaran antara ilmu dan perkembangan teknologi. Sehingga kita bisa berkontribusi lebih besar dan meaningful ke perusahaan tempat kita bekerja, bisa berkontribusi di bidang yang kita kuasai dengan baik, yang tidak dikuasai oleh banyak orang, forΒ being unique to stay ahead of the game.

Continue reading

Advertisements

Menyelesaikan Studi S2 Tentang Pemasaran Digital di Tahun 2016

Iya, sudah selesai. Maksudnya studi S2 saya πŸ™‚

Saya mulai memutuskan untuk mengambil program studi S2 Magister Manajemen di Universitas Mercubuana dalam waktu yang cukup singkat. Kata sepupu saya yang sesama Aries dan bergolongan darah O, saya cenderung nekat dalam mengambil keputusan – kurang data pendukung, namun pada saat ada kejadian di luar perhitungan, saya bisa dengan mudah melakukan improvisasi dengan mempertimbangkan beberapa pilihan, kadang sangat beresiko, agar tujuan saya tercapai. Ariesian and O blood group people are the pioneers!
Kurang lebih demikian gambaran saya πŸ˜‰
Nah, salah satu pertimbangan saat itu tentunya seberapa besar cash reserve yang saya punyai untuk membiayai kuliah saya selama dua tahun, atau dua puluh empat bulan kedepan. Cukup nggak dana yang saya peroleh dari gaji bulanan untuk dialokasikan sebagian besar ke urusan kembali ke bangku kuliah ini.
Once decision has made, I go through!
Sedikit ber-flash back, kuliah S1 saya di Universitas Brawijaya Malang selesai di tahun 2002, tepat 4 tahun setelah saya masuk di tahun 1998. IPK 3,40, lumayan lah. Saya ambil jurusan Manajemen, konsentrasi Pemasaran. Satu bidang yang buat saya sangat menarik, bukan karena terlihat yang paling mudah. Beruntung selama saya pertama kali merasakan bekerja di tahun 2001, saya tidak jauh dari dunia pemasaran dan penjualan. Iya, saya beruntung. Hingga bergabung di perusahaan tempat saya bekerja sekarang, bidang yang saya geluti dan tekuni juga berkutat di pemasaran dan penjualan.
Setelah berkarir secara profesional selama 12 tahun (2001-2013), saya memutuskan untuk bersekolah lagi. Memutuskan kuliah dimana pun juga diputuskan cepat, saya memutuskan berkuliah di Universitas Mercubuana Jakarta. Kampus saya pilih yang terdekat dari rumah, karena ingin kuliah hanya di hari Sabtu saja. Mulai pukul 07.30 – 16.30 WIB. Tiga mata kuliah per hari, 3 SKS per mata kuliah di semester satu dan dua. Kenapa saya pilih kampus ini? Karena saya terekspos informasi yang disebar lewat media digital Facebook fanpage, saya baca, budget masuk, para pengajar cukup OK, dan saya tertarik untuk ambil.

Draft sidang tesis saya :)
Draft sidang tesis saya πŸ™‚

Kuliah lagi. Seperti merapikan kertas-kertas catatan yang berserakan selama 15 tahun berkarir, kertas-kertas hasil merekam informasi, ingatan, pengalaman, pengetahuan sedemikian rupa, dikumpulkan jadi satu, lalu dijilid menjadi buku, dan dirapikan di rak-rak khusus agar kapanpun saya butuh informasinya, saya bisa mengaksesnya dengan mudah. Saya melihatΒ studi di magister atau S2 seperti itu. Seperti memantapkan pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat, untuk dibandingkan dengan teori-teori yang saya dapatkan kembali dari bangku kuliah.
Hal yang paling exciting?

Continue reading

Key Highlight Saya Di Tahun 2015

Mungkin ini blog terakhir yang saya tulis di tahun 2015. Sebuah penutup, yang membawakan cerita yang boleh dibilang salah satu highlight di tahun 2015.

Pengalaman yang saya pikir jadi salah satu key highlight saya di tahun 2015 ini, proudly saidΒ adalah semester kedua saya menjadi pengajar/dosen tidak tetap di Prodi Periklanan, Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia. Well, pengalaman saya berbagi saya yang pertama bisa dibaca disini. Β Mana yang lebih berkesan? Dua-duanya sama berkesan. Pengalaman yang pertama di tahun 2014 mungkin agak kikuk, karena belum ada pengalaman mengajar jangka panjang sebelumnya πŸ˜€ Hanya mengisi kuliah tamu-kuliah tamu saja. Namun di pengalaman mengajar kedua ini lebih siap secara mental, karena simply sudah punya gambaran bagaimana mengajar yang bukan hanya sehari, namun selama empat setengah bulan, atau tujuh belas kali pertemuan, atau satu semester. Gambaran yang lain adalah, para mahasiswa yang saya ajar ini sudah paham benar berkomunikasi lewat digital media. Saya melihat bahwa mereka-mereka ini sudah teramat terbiasa dengan menggunakan media sosial yang umum seperti facebook, twitter, instagram, linkedin, hingga yang bisa dibatasi jangkauannya seperti path. Bukan lagi teramat terbiasa, namun sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Internet menjadi salah satu kebutuhan dasar dalam bersosialisasi.

 

20151204_144006_Pano
Inside Gedung KOMUNIKASI FISIP UI

 

Mereka punya feel yang disebut FOMO, atau Fear Of Missing Out. Rasa takut akan tertinggal informasi, menjadi seseorang yang paling update terhadap suatu informasi yang penting di jejaringnya, menjadi seseorang yang pertama membaginya dengan komunitasnya atas dasar shareworthiness, sebagai social currency.

Di pengalaman yang kedua ini, materi ajar benar-benar tidak bisa disamakan dengan semester ganjil sebelumnya. Ilmu pemasaran digital ini terus berkembang, berevolusi, terus berubah. Ilmu ini tidak statis. Sehingga apa yang saya berikan di semester ganjil sebelumnya pasti akan obsolete. Usang. Out of date. Basi!

Continue reading

August and A Brand New Hope.

Learn
Not to stop questioning…

“Bye July, hello August!”

“Dear August, please be nice…”

That’s what I’ve red in some of my friends’ social media accounts. Whether it is from path, instagram, twitter, facebook, google+ and any other social media. The point is, the ask August to be nicer to them. They ask for a sweeter and more kind August. Well, this early of August went so nice. At least for me.

 

How so?

Here’s the thing. I was invited, asked to be precise, to be one of FISIP ( Faculty of Social and Political Science) Universitas Indonesia – Communication Major lecturer. Well, not yet to be permanent by the way. I was asked to be their temporary lecturer for just 1 semester only. Another intriguing 6 months ahead. It will all start at September 2014 until February 2015. Start quite the same as my master degree class. I’m now at the 3rd semester of my master degree. In Business and Economics. Hopefully, I will be graduated at September 2015. 2 years of college.

And it all start from a facebook message that told me this :

“Hi Harwindra, my name is Titut. I’m working at S1 Komunikasi – UI. And I would like to ask you to be our lecturer, in Digital Marketing for one semester. You’ll be teaching regular S1 students. Would you do that ?” (Ms. Titut is a nick name of Head of Communication Program, Ms. Clara Endah Triastuti)

And I instantly said : “Yes, with pleasure!”

 

Now, being a lecturer is a kind of my hidden log time dream.

Felt like I’ve been given talent and everything but still got no room or space to use it. And now here’s my chance. Here’s my opportunity. To make it all come true. One step at the time! I can not hide it. I can Β not hide my joy and happiness. Surely. I used to say that during my senior year, I will be retiring at the age of 45. Meaning, I will no longer working 8 to 5 just like what I did until today. Joining the rush every morning just to get to the office right on time. Back to the road again at the end of the day. Every single day, Monday to Friday (and sometimes Saturday).

See, everyday I’m not just stock-piling (saving) money and other materials, but more important things are I also stock-piling, collecting experience, new people/networks, skills, expertise, knowledge, and stuffs. And try to stay healthy everyday (although it’s hard being healthy – eat clean train dirty).

Being a regular lecturer Β is a new experience for me. But if it is just lecturing, or being guest lecturer, I’ve done that before. You can follow my story here. Β Oh, surely it’s gonna be so much exciting!

Just wait for my next story, about this πŸ™‚

 

 

 

 

 

Be Happy (or Fall In Love) with Your Job First :)

Choose a great job

 

I saw the message on the pic, then instantly loved it!

It’s not the job that choose us, it’s us to choose the job that we loved.

It’s not other person to decide we are happy or not, it’s our decision to choose to be happy.

So, the power is within us. The power to choose. To act. To do.

Continue reading

Pemimpin yang jago adalah…

“The best leaders is when people do not notice his attendance” – Lao Tsu

Lights up others
Leaders show the way to others…

Tiap kali baca quote jenius seperti diatas, pasti jadi pengen ngisi blog ini lagi (which I think it’s just positive) πŸ˜€ Because those words just inspire me, like a lot! Beberapa interpretasi yang muncul antara lain :

Continue reading