Antara Branding, PR, dan Marcomm di Ulang Tahun Ke-13 Majalah MIXMarcomm

Ketiga hal diatas saat ini sangat dekat dengan saya. Menjadi dunia yang sedang saya pelajari dan geluti saat ini. Dan terima kasih karena keberadaan internet dan khususnys sosial media saya jadi bisa tahu lebih banyak, belajar lebih banyak tentang ketiga hal ini; (personal) branding-public relation-marketing communication.

Lebih tepatnya kebanyakan saya pelajari sendiri, sehingga terkadang dulu saya jadi bertanya-tanya apakah apa yang saya lakukan ini sudah tepat atau belum? Sudah sesuai kaidah yang ada dan berlaku atau belum? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Intinya, saya harus yakin bahwa aktivitas-aktivitas  yang saya lakukan tersebut sudah tepat atau belum. Salah satu hal yang saya lakukan adalah mengajukan diri ke divisi Human Resource (HR) di perusahaan tempat saya bekerja, untuk melakukan gap analysis (mulai berat nih ngomongnya) tentang apa-apa saja yang saya dan team sudah kuasai dan apa yang belum. Dari gap analysis tersebut, kami bersama-sama bisa menentukan program-program pelatihan dan lokakarya apa saja yang perlu dilakukan untuk mengisi gap yang ada. Dan akhirnya, setelah melewati dua hari pelatihan dan lokakarya, belajar dari pakar dan ahli di bidang ini, saya semakin yakin bahwa apa yang saya lakukan sudah berada di jalur yang benar. Ini terjadi di tahun 2016 yang lalu.

PR & Writing Skill Training & Worshop, Mei 2016
PR & Writing Skill Training & Worshop, 27-28 Mei 2016

Dan hari Rabu, 26 Februari 2017 yang lalu, saya kembali mendapat kesempatan untuk belajar lagi tentang ilmu personal branding-public relation-marketing communication ini lewat event ulang tahun majalah MIXMarcomm yang ke-13, salah satu majalah favorit saya, di Ballroom Gedung Pusat Indosat Ooredoo, Jl. Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat.

Continue reading

Advertisements

Cerita Di Balik Indomie Kuah vs Goreng

Siapa sih yang tidak tergoda dengan harumnya mie instan sesaat setelah matang/sebelum diaduk? Harumnya cepat menyebar ke seluruh ruangan, entah itu mie instan yang kuah ataupun goreng.

Saya adalah salah satu penggemar mie instan sejak kecil, dan ingat betul saat Indomie mengeluarkan inovasi terdahsyatnya saat saya masih duduk di bangku kelas 4 SD (sekitar 27 tahun yang lalu), Indomie Goreng. Sesaat saat itu kesukaan saya terhadap Indomie rasa Ayam Bawang, Kaldu Ayam, dan Ayam Spesial (no, I’m not a fan of Indomie Rasa Soto atau Kari Ayam), seketika berbelok sementara ke Indomie Goreng. Salah satunya karena aromanya yang sungguh luar biasa! Sampai saat ini  pun, jika ada rekan sekantor yang tahu-tahu pesan dibuatkan Indomie (kuah atau goreng) lewat office boy kantor di sore hari, pasti akan menyebabkan ‘gejolak’ di kantor. Coba saja, aduk mie dan bumbu Indomie Goreng yang baru saja matang, di ruangan. Pasti sebagian besar akan menoleh dan ada yang berseru : “Eh, gue mau dong! Boy, tolong bikinin sekalian yak,  double pake telor”. Nah! 😀

Indomie (atau mie instan lain) punya ‘ultimate weapon’ sebagai pemicu selera, yaitu di aromanya.

Dan ada satu pertanyaan lagi yang belum bisa saya jawab, yaitu kenapa Indomie buatan abang-abang di warung Indomie kaki lima (biasanya menyediakan juga minuman hangat semacam Milo, Ovaltine, dan pastinya kopi dengan berbagai variannya) lebih enak dibanding Indomie buatan sendiri? Well, menu yang sederhana saja. Hanya dengan tambahan telor dan sawi hijau, tanpa ada tambahan kornet atau bahkan keju cheddar parut.

 

That’s my personal Indomie story.

Belakangan ini, di media sosial muncul kata kunci baru : Chitato dengan rasa Indomie Goreng. What a killer combination! Bola salju ini menggelinding sedemikian kencangnya, menjadi viral akibat postingan key opinion leader, yang mendapatkan kiriman berupa paket berisi Chitato rasa Indomie Goreng. Melakukan unpacking, ambil foto, dan posting di media sosial. Sontak semuanya heboh! Pengen coba. Viral Chitato Rasa Indomie Goreng ini dibawa ke dunia offline oleh Indofood (produsen Chitato dan Indomie), lewat penyediaan produk Chitato varian baru ini dengan sangat terbatas di outlet-outlet modern (mini market). Saya sempat kebagian satu bungkus, sempat mencoba. Enak, seperti layaknya Chitato, keripik kentang tipis dengan isi hanya setengah bungkus. Rasa dan aroma Indomie Goreng-nya samar-samar terasa dan tercium. Entah karena benar-benar ada atau karena pikiran saya sudah tersugesti dengan keyakinan bahwa keripik kentang di kemasan ini akan memberikan rasa dan aroma a la Indomie Goreng. Not sure 🙂

 

Sumber : fahrurrojihasan.wordpress.com
Sumber : fakhrurrojihasan.wordpress.com

 

Continue reading

Football Club, Fans-Supporters, and Brand Engagement (part two)

Well actually it should have been titled : ‘brands and football’ because I’ve mentioned some of well known brands in football industry. Part one was posted more than 2 years ago, at January 13, 2012. The first part was telling you about how fanaticism in football that can drive football fans (or should I call consumers) to purchase and own items related to their hobby, playing football or futsal (an indoor football games played on flat floored pitch or synthetic grass pitch in somewhat net cage preventing ball not to went out), which so very popular here in Indonesia.

I’m an Indonesian. As an addition to my identity, I’m a big Liverpool FC  fan.

Me in LFC home 2006/2008 long sleeve shirt
Me in LFC home 2006/2007 long sleeve shirt (UEFA Champions League Final 2007 edition)

A fan. Fanatic. Somehow different with what so called football supporters. They support football clubs. More than one. While (in my own terms and understanding), a football fan only support fanatically one club. Like me, only supporting Liverpool FC. Other than this club’s jersey, I won’t wear any. So, you won’t find me wearing blue Chelsea shirt, or yellow-black Dortmund’s jersey, or a nasty red MUFC shirt. Ever. It’s just Liverpool FC jerseys.

So what’s with the brand engagement?

Continue reading