Yuk, Jalan-Jalan ke Ambarawa Lagi! (bagian 2)

Gua Maria Kerep, Ambarawa.

Boleh dibilang, tempat doa dan devosi umat Katolik kepada Bunda Maria yang paling sering keluarga kami kunjungi. Berawal dari rasa rindu ke kampung halaman, di kota tempat ibu saya dibesarkan, rasa tersebut terus mengundang kami untuk kembali lagi dan lagi. Kota Ambarawa.

Kota Ambarawa, pagi hari

Di kota kecil yang sarat makna ini di hari kedua kunjungan keluarga kami, 14 Mei 2022, dengan agenda yang cukup padat. Diawali dengan sarapan Soto Bu Jhon, yang terletak tidak jauh dari Griya LD, tempat kami sekeluarga biasa menginap. Soto ini cukup terkenal di Ambarawa, meskipun letaknya yang agak masuk ke dalam, dekat dengan RS Bunga Kasih.

Soto Bu Jhon ini seperti layaknya a la Soto Kudus. Dengan mangkuk berukuran kecil, kuah gurihnya sungguh pas beradu dengan suwiran daging ayam, perkedel kentang, sate telor puyuh, aneka condiments, dan nasi putih. Ibu saya pesan cukup untuk kami sekeluarga, masing-masing 1 porsi. Menghangatkan perut sebelum kami berangkat ke tujuan pertama Gua Maria Kerep.

Gua Maria Kerep, Ambarawa
Gio dan Adelia, dua kakak beradik keponakan saya di Gua Maria Kerep, Ambarawa

Dengan khusyuk, kami mendaraskan doa Rosario bersama-sama, dengan doa dan pengharapan masing-masing. Dan bisa jadi, kami saling mendoakan satu sama lainnya dalam hati kami. Berharap semua diberikan perlindungan selama perjalanan kami sekeluarga. Di Gua Maria Kerep ini, kami menunggu kedatangan Bude Rini, tante saya yang menginap di rumah ibunya selama di Ambarawa, yang menyusul untuk melanjutkan perjalanan ke Bandungan, bersama-sama.

Saat kunjungan kami di bulan Mei ini, patung Maria Asumpta masih dalam proses renovasi. Alhasil masih terpasang stager di seluruh bagian patung, untuk repaint job. Other than that, it’s normal.

Gua Maria Kerep, Ambarawa

Selepas berdoa bersama, berjalan-jalan di taman, dan belanja oleh-oleh dan makanan khas di sekitar Gua Maria, kami melanjutkan perjalanan ke arah Bandungan. Lokasi wisata ini seperti layaknya kawasan Puncak, Jawa Barat. Sama-sama di dataran tinggi, membuat banyak orang tertarik untuk tinggal sejenak. Banyaknya hotel, wisma, penginapan, dan bahkan pub/bar, membuat kawasan Bandungan punya citra tersendiri.

Taman Bunga New Celosia, Bandungan

Mobil Toyota Hi-Ace kami lumayan penuh. Ada 3 tambahan penumpang, Bude Rini, Bude Sri, dan Mbak Titiek, kerabat dekat Bude Rini. Total 15 orang beserta driver kami. Lokasi kedua adalah Taman Bunga New Celosia, Bandungan. Saya pikir mirip Taman Bunga Santerra de La Ponte di Pujon, Malang, namun taman bunga ini jauh lebih luas. Karena itu juga, ibu dan bude-bude saya hanya menunggu di luar, menyisakan kami-kami yang masih kuat berjalan jauh untuk masuk ke dalam. Ingin tahu seperti apa pemandangan di dalam? Silahkan…

Taman Bunga New Celosia, Bandungan
Taman Bunga New Celosia, Bandungan

Bunga-bunga dan tanaman di dalam taman sangat terawat, membuat kami betah berjalan-jalan berlama-lama. Juga spot-spot menarik untuk selfie dan wefie, yang sengaja disediakan oleh pengelola taman bunga. Tampat bermain anak? Ada banget. Kolam renang pun juga ada. Namun saat kami berkunjung, masih cenderung sepi.

Lagi-lagi, keponakan-keponakan saya, Deryl dan Dirta, menemukan wahana motor trail yang bisa dinaiki oleh anak-anak hingga remaja. Sontak mereka merengek minta untuk naik motor trail kembali. Kali ini, motor trail bukan seperti yang mereka naiki di Alun Alun Kota Ambarawa sehari sebelumnya. Motor trail menggunakan tuas kopling, menjadikannya sedikit tricky dan perlu ekstra hati-hati. Memutar tuas gas terlalu kencang dengan kopling tidak terkontrol bisa mengakibatkan laju motor tidak terkendali. Namun begitulah keponakan saya, mereka cukup berani mengambil resiko mencoba hal yang baru, tetap dalam pengawasan tentunya.

Taman Bunga New Celosia, Bandungan
Taman Bunga New Celosia, Bandungan

Entah berapa lap mereka habiskan, dan uang saya habis untuk menyenangkan mereka dengan motor-motor trail ini Bahkan Adelia, keponakan perempuan saya pun, berani mencoba naik beberapa putaran, dengan pengawasan ketat ayahnya. Hahahahaha.. 😀

Tidak terasa 3 jam berlalu di dalam taman bunga ini, dan saatnya kembali ke ibu dan para bude saya yang mungkin sudah pegal menunggu di luar. Saat sudah berkumpul kembali, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Bandungan, untuk menikmati Bakso Pak Brengos khas Bandungan yang menurut Bude Rini enak tiada bandingan, setidaknya di sekitaran Kota Bandungan.

Ada satu tempat yang kami terlewat untuk kunjungi, lebih karena tidak tahunya kami, yaitu Wisata Salib Putih. Tujuan kami adalah berenang, dan menikmati pemandangan dari atas. Setidaknya ada satu sesi dimana keponakan-keponakan kami bisa bersenang-senang di dalam air, salah satu kegemaran mereka. Sayang sekali, cuaca pun tidak mendukung. Hujan gerimis agak deras turun di kawasan Kopeng, Salatiga ini.

Karena batal berwisata di Salib Putih, kami memutuskan untuk makan Nasi Pecel Keong Mbak Toen, tepat di seberang Pemandian Muncul, Salatiga. Ini adalah kali kedua kami ke tempat makan ini, yang selain oleh Nasi Pecel Keongnya, juga dikenal dengan aneka pilihan keripiknya. Mulai dari keripik bayam, belut, ikan wader, dan masih banyak lagi. Selain itu, warung makan ini pun juga menawarkan menu Kolak Ketan yang juga enak, dengan sedikit aroma smoky.

Senang sekali tentunya hari ini, bersama-sama bisa berkeliling Bandungan, Kopeng, dan kembali ke Ambarawa kembali. Hari ini kami masih tanpa Dian, adik saya, ibu dari Deryl dan Dirta yang masih harus berkarya, dan akan menyusul sore hari ini dari Kota Malang. Travel Malang-Semarang menjadi satu-satunya pilihan, dan diperkirakan akan sampai di Terminal Bawen, keesokan dini hari.

Istirahat dulu ya..

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s