Belajar Stoikisme

Merunut pada video pertama dari Marissa Anita-Greatmind diatas, yaitu tentang stoikisme, kita bisa ambil beberapa nilai.

Inti dari stoikisme ini adalah penguasaan diri, yang menurut saya, berujung pada kesehatan mental kita. Banyak hal yang terjadi kepada kita, baik dan buruk, untung dan malang, yang bisa kita anggap hal eksternal, yang tidak bisa kita kontrol. Namun, yang bisa kita kontrol adalah cara pandang dan pikiran kita terhadap hal-hal dari luar kita tersebut.

Sebelum saya mengenal stoikisme ini, saya mengenal dengan hukum 90-10.

Yaitu, yang terjadi pada kita, yang kita alami, lagi-lagi baik dan buruk, itu hanya 10% saja. Namun cara kita mengelola diri, cara kita merespon kejadian tersebut, adalah bagian yang 90%, yang sekaligus menentukan siapa-bagaimana kita.

Misalnya, dalam konteks pekerjaan, kita mendapatkan sebuah upah atas atas kerja keras kita, promosi atau bonus. Ada yang senang, dan mungkin juga ada yang kurang senang. Dan misalnya, yang kurang senang tersebut menghembuskan berita miring; kalau kita melakukan A, B, C agar dapat upah tersebut.

Pertanyaannya, apakah kita akan dengan serius menanggapi berita miring tersebut? Sampai ngotot meyakinkan teman-teman kalau berita tersebut tidak benar? Atau kita berlalu saja, tetap berkarya-memberikan yang terbaik, untuk membuktikan memang kita pantas mendapatkan upah tersebut?

Pilihan ada di kita. Dan buat saya, ini adalah stoikisme, tentang penguasaan diri. Kita memilih untuk ‘woles’ atau ‘setel kendo’ (istilah saya-mohon maaf kalau pakai bahasa Jawa), atau tetap kekeuh memikirkan sesuatu yang ada diluar kontrol kita?

Dalam hal ini, kita mengharapkan yang terbaik, tapi juga mempersiapkan diri jika skenario yang buruk terjadi.

Dari saya pribadi, penguasaan diri itu seperti punya filter, yang tujuannya adalah melindungi diri kita sendiri. Kita tidak bisa mengontrol apa pendapat orang tentang kita, atau terhadap apa yang kita lakukan, tapi kita bisa mengontrol bagaimana kita menanggapinya.

Karena mungkin orang lain tidak sadar, kalau apa yang mereka katakan bisa menyinggung perasaan kita. Mungkin dari sisi mereka;

“Udah sih, omongin aja, biar lega.”

Jadi, cobalah berempati terhadap lawan bicara kita. Apakah yang akan kita sampaikan akan menyakiti perasaannya? Apakah akan menyinggung perasaannya? Meskipun kita sampaikan dengan alasan, “Gue temen lo, dan temen selalu bicara jujur dengan temannya” Dan sadar tidak, kalau yang paling punya peluang besar menyakiti kita adalah orang-orang yang justru dekat dengan kita.

Ibarat punya filter, tidak semua omongan orang, siapapun itu, kita dengarkan. Tidak semua yang kita dengarkan kita olah dengan pikiran, dan tidak semua yang kita pikirkan, kita masukkan ke hati (atau ‘baper’, istilah anak muda sekarang). Kalau tidak punya filter tadi, kalau semua omongan orang kita ambil hati, kita sendiri yang susah, bukan?

Ijinkan renungan ini saya tutup dengan sebuah ungkapan:

Berikan saya ketenangan untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah. Keberanian untuk mengubah apa yang bisa kita ubah. Dan kebijaksanaan untuk tahu perbedaan antara keduanya.”

(Reinhold Niebuhr)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s