Semester Ganjil 2021: Mengajar Lagi

“Maaf, mas. Konfirmasi untuk semester depan Mas Yoga mengampu mata kuliah Pemasaran Digital Terpadu, untuk 2 kelas ya, mas.” Demikian pesan yang terbaca di layar smartphone saya, dikirimkan oleh Mbak Serli, dari sekretariat Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, siang hari itu tanggal 6 Agustus 2021 pukul 13.26 WIB. Sebelum mengiyakan, alias memberikan menyanggupi untuk kembali mengajar di semester ganjil tahun ini, saya bertanya perkuliahan akan dimulai di tanggal berapa. “Mulai tanggal 30 Agustus sampai 30 Desember 2021”, balas Mbak Serli.

Wah, artinya saya punya waktu kurang dari sebulan untuk mempersiapkan kurikulum saya, merencanakan proses perkuliahan sepanjang satu semester, yang kali ini lebih pendek dibandingkan semester ganjil tahun sebelumnya. Tahun dimana saya mengajar secara full daring. Punya waktu yang sangat singkat untuk me-review lagi bahan perkuliahan saya sesi demi sesi, merombaknya jika perlu, untuk menyesuaikan dengan apa yang saat ini sedang terjadi di dunia media sosial, e-commerce, dan pemasaran-komunikasi lewat media digital pada umumnya.

Mulai merancang rekan-rekan saya, para expert di bidangnya masing-masing, mana yang bisa saya undang untuk menularkan pengalaman, keahlian, dan wawasannya ke para mahasiswa yang nanti saya ajar. Tahun ini, tentunya saya akan melibatkan para alumni Periklanan Komunikasi FISIP UI, yang sudah melanglang buana di dunia profesional, untuk press down the elevator, membantu membukakan jalan untuk adik-adik tingkatnya, angkatan 2019, yang masih duduk di semester 5. They are pressing the elevator down, by sharing their stories, their anxiety back then, and what might be the cure. What they did right after they graduate, their struggles to pick and get the right job to help boost their career, and so forth.

Efek pandemi sungguh luar biasa.

Sumber: wearesocial.com

Terutama terkait efeknya terhadap dunia bisnis, baik negatif dan positif. Namun, mari kita bicarakan efek baiknya saja di tulisan ini. Para ahli menyebut Covid-19 ini sebagai CTO (Chief Transformation Officer), karena saking bisanya virus ini membuat orang enggan untuk bertemu, berkumpul, dan berkerumun. Membatasi keluar rumah, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, atau bahkan berobat sekalipun. Akibatnya, semuanya dipenuhi dan dikerjakan dari rumah. Sekolah, kuliah, rapat, seminar, kerja, belanja bahan kebutuhan pokok, belanja makanan dan minuman, olah raga, banking, dan lain-lainnya. Karena masih harus melakukan semuanya dari rumah, kita butuh koneksi. Kita butuh internet.

Dan seketika, saat pandemi ini internet menjelma menjadi kebutuhan pokok, selain sandang, pangan, dan papan. Mulai dari internet ‘ketengan’, alias isi ulang paket internet di smartphone/modem, sampai internet berlangganan untuk satu rumah. Dan tidak terasa, transformasi dari non-digital ke digital terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Pebisnis pun mau tidak mau berlomba-lomba untuk menghadirkan layanan online buat pelanggan, dalam waktu yang juga sangat singkat. Kenapa demikian? Karena terjadi pola pergeseran yang luar biasa di pola konsumen mendapatkan produk dan jasa yang diinginkan/dibutuhkan.

Tak jarang, para pelaku bisnis banyak yang menjadi gagap dalam transformasi digital ini. Salah satunya, bingung harus mulai dari mana? Harus menghubungi siapa, dan bagaimana caranya?

Sumber: marketoonist.com

Deskripsi diatas, yang sepertinya seru untuk diceritakan, tentunya akan saya bawa ke dalam kurikukum kuliah semester ini. Saya ingin para mahasiswa saya semakin aware akan peristiwa dan kecenderungan yang terjadi di luar sana, sehingga jika mereka membuat suatu project atau tugas dari saya, terkait komunikasi dan pemasaran di dunia digital, mereka akan masukkan poin-poin diatas sebagai bahan pertimbangan, atau bahkan faktor krusial yang menentukan. Aware bahwa pendemi ini akan berakhir dalam waktu yang cukup lama, sehingga membuat kita harus beradaptasi untuk hidup berdampingan dengannya. Aware bahwa saat mereka lulus pun, dunia tidak akan kembali ke jaman old normal, melainkan berlanjut ke next normal.

Sumber: linkedin.com

Jaman dimana kita hidup dengan pandemi, dan tetap harus produktif di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s