Malang Trip di Bulan Juni (bagian 1-Jakarta ke Malang via Ambarawa)

Saya sempat berpikir bahwa pulang ke kampung halaman sama seperti saat memesan es krim. Tidak terbersit sama sekali pikiran sedih, kecewa, atau merana. Yang ada hanya pikiran bahagia. Bahagia saat membayangkan orang-orang yang akan menerima paket es krim tersebut, tersenyum gembira.

Bahkan, kita yang mengirimkan es krim ke orang-orang tersayang pun, dan mungkin kita tidak merasakan es krim yang kita pesan, akan merasakan kegembiraan yang kurang lebih sama. Perasaan gembira itu mudah menular dan menyebar.

Saat menulis unggahan “Beli Momen, Bukan Hanya Beli Barangnya“, saya sudah merasakan rasa gembira tersebut. Saat packing baju dan semua keperluan selama cuti satu minggu (iya, permohonan cuti saya selama 7 hari penuh disetujui), saya sudah membayangkan momen-momen saat pertama kali melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah yang selama enam bulan tidak saya kunjungi. Wajah-wajah yang sejak bulan Desember tahun lalu tidak saya lihat. “Ah, senangnya!”, batin saya.

Family is everything.

Saya sayang ke keluarga saya. Saya berikan perhatian ke mereka, sehingga saya tidak ingin terjadi hal-hal yang buruk terjadi pada mereka. Karena itu, salah satu langkah yang saya dan istri saya ambil adalah menjalani swap test antigen di klinik terdekat. Saya harus yakin kalau saya tidak membawa virus Corona, dan menulari orang-orang yang kami kasihi. Dan puji Tuhan, hasilnya: negatif! We’re good to go!

Saya mengambil cuti satu minggu, dari tanggal 22-25 Juni 2021. Saya dan keluarga berangkat mudik ke Malang via Ambarawa di tanggal 19 Juni 2019, hari Sabtu pagi. Pukul 07.00 WIB saya sudah sampai di daerah Gandaria-Jaksel untuk menjemput Tante Rini dan Rensi, sepupu saya. Mereka akan ikut serta menemani perjalanan mudik kami, hingga sampai Kota Ambarawa saja.

Saya, istri, tante Rini, dan Rensi

Tante Rini dan Rensi (duduk di baris kursi tengah), akan menengok ibu dan neneknya, Mbah Jah, yang kini sudah berusia sangat tua, 94 tahun. Usia yang menurut saya sudah merupakan bonus yang sebonus-bonusnya dari Tuhan. Beliau menjadi saksi hidup Indonesia saat dijajah Belanda, beralih ke Nippon, dan merdeka kemudian. Mengalami perang saudara di era tahun 1965-an, pasang surut usaha keluarga, dan konon tetap sehat hingga saat tulisan ini dibuat.

Saya dan istri sebenarnya berencana untuk singgah beberapa kali untuk menikmati kekayaan kuliner lokal di sepanjang jalur tol Trans Jawa. Kota Cirebon dengan Nasi Jamblang dan Empal Gentong/Empal Asem, lalu Kota Pemalang dengan Nasi Grombyangnya, Kota Tegal dengan pertongsengan dan persatean kambingnya, dan Kota Semarang dengan Mangut Kepala Manyungnya. Juga dengan kota-kota lain di sepanjang jalan.

Jembatan Kalikuto, icon Tol Trans Jawa

Namun, karena kondisi akibat pandemi saat ini semakin memburuk, kami harus mengesampingkan keinginan tersebut, untuk memperkecil kemungkinan tertular virus jahanam itu. Alih-alih jajan ‘ngiras’ atau makan di tempat hidangan-hidangan khas setempat, kami memutuskan untuk makan siang di rest area mana saja di sapanjang Tol Trans Jawa. Adalah tante saya yang menganjurkan hal tersebut, beliau khawatir dengan semakin menggilanya pandemi di sepanjang bulan Mei dan Juni ini, terlebih setelah musim Lebaran. For your information, saya dan Tante Rini sudah mendapatkan dosis lengkap dua kali vaksin Sinovac, istri saya baru mendapatkan injeksi Astra Zeneca pertama, sedangkan sepupu saya, Rensi, belum mendapatkannya. Fakta bahwa saya yang sudah mendapatkan dua kali vaksin ini tidak membuat saya pongah dan takabur, tidak akan tertular. Justru saya harus lebih hati-hati, untuk melindungi diri sendiri, dan yang terpenting melindungi keluarga tercinta.

Setelah berkendara selama 7 jam, sampai juga kami di check point Ambarawa. Sampai di sebuah rumah asri di ujung sebuah jalan, di sebuah perkampungan bernama Kalipawon. Perkampungan ini sangat dekat dengan Gereja Katolik Santo Yusup (Gereja Jago). Di sana, Tante Rini kembali bertemu dengan ibunya, Mbah Jah, yang saat ini sudah berusia 94 tahun. “Usia yang bonus sebonus-bonusnya”, kata saya ke Rensi. Bagaimana tidak, di usia sedemikian sepuh, beliau masih punya kondisi fisik yang cukup bagus dan bugar. Meskipun daya ingatnya sudah menurun drastis.

Tante Rini dan Mbah Jah,anak dan ibu

Terakhir kami bertemu dengan beliau saat menjelang Lebaran di tahun 2019 yang lalu. Saat itu ingatan beliau masih jauh lebih baik. Beliau masih mengenali ibu saya, dan ingat dengan saya yang beberapa tahun sebelumnya sempat berkunjung bersama bapak dan ibu mertua saya. Bahkan saat itu, beliau masih kuat menghantarkan kami sampai ke pintu gerbang rumahnya. Kini yang melekat kuat di ingatan beliau hanya ingatan berpuluh-puluh tahun yang lalu, namun short term memories beliau sudah sangat terganggu.

Kami (Tante Sri, Rensi, Tante Rini, Mbak Atik, dan Vita istri saya), bersama Mbah Jah

Kami beristirahat sejenak, kami dipersilahkan makan sore (meskipun perut kami masih kenyang setelah makan siang sebelumnya, di jeda waktu yang tidak terlalu lama) sesudah mandi oleh Tante Sri (adik dari Tante Rini), yang sudah memasakkan kami Capcay Kuah yang masih panas, ayam dan tahu tempe bumbu bacem. Mandi sore itu membuat tubuh kami menjadi lebih segar. Saya langsung merasa sanggup melahap perjalanan panjang berikutnya, langsung ke Kota Malang.

Hehehe.. Memang, level energi waktu berangkat pulang kampung sangat berbeda dengan saat kembali lagi ke perantauan ya? Berasa tidak capek, ingin buru-buru sampai di rumah.

Rumah keluarga di Ambarawa

Setelah kami berpamitan, sekitar pukul 16.30 WIB kami masuk kembali ke Tol Trans Jawa dari GT Bawen, melanjutkan perjalanan kami. Satu hal yang terus kami harapkan tidak terjadi adalah hujan besar di sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, sekitar area Ngawi, Madiun, Nganjuk, dan sekitarnya. Jika hujan deras di area tersebut, kami harus sangat ekstra hati-hati. Menyalakan lampu besar (tidak menyalakan lampu hazard, karena lampu sein adalah alat komunikasi saat berkendara), wiper di-setting dengan intensitas paling kencang, menjaga jarak cukup jauh dengan kendaraan lain di lajur yang sama, baik di belakang dan di depan.

Kenapa? Karena cipratan air dari sisi lain jalan yang mengarah ke kaca depan mobil bisa mengakibatkan black out selama beberapa detik, alias kita tidak bisa melihat apapun ke arah jendela kaca depan (ditambah dengan jarak pandang yang sangat terbatas saat hujan deras). Jika kita tidak menjaga jarak dengan mobil di depan dan di belakang kita, sangat besar terjadi tabrakan. Karena saat kaca mobil black out terkena cipratan air, secara refleks kita pasti akan menginjak rem.

Satu lagi hal yang harus diperhatikan adalah aquaplaning. Yaitu saat ban mobil dari kendaraan yang melaju kencang melindas genangan air, mengakibatkan ban sama sekali tidak terkena jalan, dan bisa terjadi hilang keseimbangan. Ditambah jalanan yang licin, hal ini bisa berakibat fatal.

Karena itu, jika menghadapi kondisi hujan deras plus angin di ruas tol ini, saran saya lebih baik pilih lajur kiri, berjalan dengan kecepatan secukupnya hingga kita merasa aman, nyalakan lampu besar (lampu hazard off), aktifkan wiper, dan jaga jarak dengan kendaraan di depan dan di belakang kita.

Leganya, kami tidak bertemu dengan kondisi ekstrem seperti diatas, perjalanan kami lancar-lancar saja. Kami keluar di GT Singosari tepat pukul 21.00 WIB. Empat setengah jam saja, perjalanan kami dari GT Bawen ke GT Singosari, dari Kota Ambarawa hingga ke Kota Malang. Senangnya!

Referensi:

  1. Bahaya Aquaplaning, Ini Kecepatan Ideal Menerabas Genangan Air, artikel ditulis oleh Tempo.co, diakses pada hari Rabu, 30 Juni 2021, pukul 09.24 WIB.

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s