Jembatan dan Jaring

Sebuah refleksi.

Saya adalah seorang acrophobic, takut dengan ketinggian. Saya teringat saat menyeberang jembatan gantung yang sedemikian tingginya-melintas diatas Sungai Brantas, dulu saat duduk di bangku SMP di kota Malang, kaki saya gemetar hebat. Merasa takut dan panik luar biasa, hingga sontak menjadi perhatian orang-orang yang ikut menyeberang.

Pun demikian saat menyeberang jembatan gantung di Bendungan Selorejo, Ngantang, Kabupaten Malang. Saya sempat berhenti di tengah, ketakutan setengah mati, dan dituntun untuk kembali ke titik awal. Takut jatuh, takut tali pengaman jembatan tiba-tiba putus, terlebih saat jembatan bergoyang hebat. Dan ketakutan-ketakutan yang lain. Bagaimana dengan gedung-gedung tinggi? Masih menakutkan untuk saya, saat melihat dari ketinggian ke arah bawah. Namun seingat saya, tidak separah ketakutan saya saat meniti jembatan gantung yang bergoyang kiri dan kanan, apalagi yang terlihat panjang hingga terlihat seperti cekungan panjang dan dalam.

Persis seperti jembatan gantung ini.

Jembatan Gantung Merah, Lido Lakes and Resort

Saat hendak melangkah menaiki platform jembatan, saya coba memberanikan diri saya untuk ambil satu langkah pertama. Sudah lama saya tidak merasakan hal ini, mencoba sesuatu yang menegangkan, yang mungkin sungguh menakutkan bagi saya. Saya tidak tahu bagaimana keadaannya nanti saat sampai di tengah-tengah jembatan. Apakah jembatan akan bergoyang kencang saat ada orang lain ikut bergabung meniti jembatan yang sama? Atau apakah tali jembatan mendadak putus dan menumpahkan seluruh penumpangnya ke bawah, seperti di adegan film Indiana Jones-Temple of Doom?

Itu sungguh menakutkan!

Lalu, saya sadar apa yang jadi ketakutan saya yang sebenarnya. Saya takut tenggelam, saya takut jatuh saat tidak ada lagi jaring dan jejaring yang bisa menyelamatkan saya dari jatuh.

Jadi, jika jembatan dan jaring dibawa sebagai refleksi dalam hidup, secara naluriah saya harus mempersiapkan ‘jaring pengaman’ yang bisa menyangga saya jika saya jatuh, dan yang kedua, jaring yang sanggup menyangga orang-orang terdekat saya. Keluarga kecil saya. Jika dilihat dari konteks rohaniah, mungkin saya bisa menganggap diri saya kurang berserah pada yang sudah merancang dan merencanakan hidup saya sedemikian rupa. Namun, bagaimanapun juga, saya sebagai manusia yang masih punya daya, akal, dan pikir, wajib bertindak, bukan? Bukan hanya berharap hal-hal buruk pergi jauh, dan hanya hal-hal baik saja yang akan terjadi.

Naluri ini makin menjadi saat saya memasuki usia 41, yang bisa jadi masuk ke persiapan menuju survival zone, disaat saya menua nanti di masa purna kerja. Prioritas saya adalah tetap sehat dan bugar hingga hari tua, dan menyiapkan ‘jaring pengaman’ untuk saya dan orang-orang terdekat untuk masa pensiun yang enjoyable. Reward untuk segala kerja keras yang sudah saya lakukan di masa muda.

Jika, Tuhan ijinkan dan berikan umur panjang.

Ketakutan terbesar saya adalah terjebak di sebuah situasi dimana saya seharusnya bisa mempersiapkan diri untuk menghindari, atau punya persiapan yang bagus saat tidak punya pilihan selain masuk ke keadaan tersebut. Contohnya, saya tidak mau terjebak kemacetan di suatu ruas jalan saat menuju ke suatu tempat, sementara seharusnya saya sudah membaca peta jalan harus melalui jalan mana yang aman dan lancar dari sekian banyak pilihan rute yang bisa saya ambil. Namun jika ternyata semua jalur macet, saya pasti akan mengambil rute terpendek, dan merasa baik-baik saja dengan keadaan tersebut, karena sudah melakukan ‘riset kecil’, mengambil keputusan berdasarkan data, bukan feeling atau naluri belaka.

Saat melihat seluruh ruas jembatan gantung yang panjang tadi, saat bersiap mengambil langkah pertama, anehnya saya tidak merasa takut. Padahal jarak antara jembatan dan permukaan air danau di bawahnya cukup jauh. Saat jembatan bergoyang saat ada beberapa pengunjung lain yang juga menaiki jembatan tersebut, saya pun tidak merasakan eskalasi rasa takut. Saya merasakan tenang. Apakah acrophobia saya sudah hilang? Saya tidak tahu, saya hanya merasa bahwa ini hanya sebuah momen yang sedang saya jalani, dimana saya pernah menjalaninya sebelumnya, dan pasti akan lewat. Dan masuk ke momen-momen lainnya, disertai rasa takut atau tidak, dan demikian selanjutnya.

Sampai titik, bukan lagi koma.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s