Bagaimana Kami Menyesuaikan Diri dengan PJJ (bagian 3)

Selesai sudah perkuliahan Pemasaran Digital Terpadu Semester Ganjil 2020/2021, masing-masing tanggal 11 dan 12 Januari yang lalu, tepat pada saat ujian akhir semester (UAS) dilaksanakan. Dimulai tanggal 14 dan 15 September 2020, untuk masing-masing kelas yang saya ajar. Bright and witty, sometimes scary and intimidating, without them knowing the fact. Glad that they are our future.

Format UAS di semester ganjil kali ini tidak berebeda dengan UAS-UAS 2 tahun terakhir berturut-turut. 5 kelompok per kelas yang sebelumnya bertemu dalam format group discussion untuk role play pitching, masing-masing mendapatkan tugas dari saya untuk menemukan sebuah brand UMKM yang bersedia menerima mereka untuk lakukan penelitian. Brand UMKM tersebut harus mereka pilih sendiri berdasarkan kriteria saya. Salah satunya memiliki target market dan target audience anak-anak muda, usia 18-24 tahun, sudah memiliki digital assets; social media accounts, website, dan bahkan sudah punya toko resmi di marketplace terkemuka. Let’s call it UAS Project.

Hasil akhir dari UAS Project ini, masing-masing mahasiswa yang tergabung dalam kelompok ‘digital agency’ ini bisa mempraktekkan ilmu, wawasan, pengalaman yang mereka miliki seputar digital marketing dalam memberikan dampak ke bisnis dari brand UMKM tersebut. Dengan memberikan masukan-masukan seputar cara berkomunikasi yang tepat untuk target audience anak muda lewat strategi content marketing dan content distribution lewat social media platform yang lebih tepat. Aktivitas audit juga dilakukan ke aktivitas komunikasi lewat website (untuk brand UMKM yang sudah punya), dengan memberikan saran untuk melakukan aktivitas SEO dan SEM yang menurut mereka lebih tepat, termasuk juga ke strategi untuk hadir di marketplace.

It’s part of their learning by doing experience.

Setelah langkah-langkah audit terhadap aktivitas komunikasi dan mewawancarai pemilik brand UMKM langsung lewat serangkaian online meeting, mereka akan meminta waktu kembali untuk memaparkan temuan-temuan mereka, kendala dan permasalahan yang mereka temukan. Paparan tersebut mereka rangkai dalam bentuk deck, berisi pilihan-pilihan solusi dalam digital marketing plan, time schedule untuk eksekusi rencana yang sudah dibuat, hingga budgeting plan yang tentunya dibuat dan diajukan ke pemilik brand untuk diberikan masukan hingga approval.

Ingin tahu brand UMKM apa saja yang mereka garap? Yuk, kita ikuti satu per satu dari sepuluh brand yang mereka teliti!

UAS Project-A+ Team untuk Hamperskuy

Hamperskuy adalah salah satu brand penyedia flower bouquet dan karangan bunga dari Kota Semarang, yang membuka diri untuk sekelompok mahasiswa/i yang menamakan diri mereka A+. Temuan-temuan mereka cukup banyak, karena sense yang sudah terbentuk sebagai anak komunikasi yang sangat dekat dengan digital media. Satu ide keren mereka datang dari sebuah insight yang datang dari pemilik brand: ‘afeksi bisa datang kapan saja’. Afeksi menjadi salah satu alasan timbulnya pesanan bunga untuk dikirimkan ke orang tersayang, dan challenge-nya adalah bagaimana mereka fulfill demand yang datang tiba-tiba? Misalnya karena adanya seorang suami yang lupa hari ulang tahun istrinya, dan berkeinginan mengirimkan flower bouquet ke kantornya sebelum pulang kerja, agar sesampai di rumah ia ‘selamat’ dari seorang istri yang merasa terlupakan?

Strategi instant demand vs. instant delivery menjadi kunci, mendorong Hamperskuy untuk menjalankan strategi khusus, yaitu memiliki kontak langsung ke beberapa petani bunga, untuk bisa pesan bunga segar secara offline, dan bekerjasama dengan aplikasi khusus yang memungkinkan pemesana bunga dilakukan secara online dan on demand. Untuk instant delivery, mereka bisa memanfaatkan jasa ojek online, atau layanan e-hailing untuk delivery flower bouquet-nya

UAS Project-Bang Jago for Vinnies Tummy

Brand UMKM kedua yang dikupas adalah Vinnies Tummy, brand mini cupcakes kekinian bergaya Korea yang digemari oleh anak-anak muda. Sang pemilik, Vincent Alvin yang juga masih sangat muda, bermurah hati untuk membuka diri ke team Bang Jago Digital Agency dari kelas Pemasaran Digital terpadu hari Senin. Beberapa saran dan solusi dari Bang Jago pun diserap oleh Vinnies Tummy, diantaranya area coverage pengiriman yang sangat luas, kemudian difokuskan ke area kota Jakarta saja, menghilangkan area Bodetabek yang sebelumnya masuk. Kenapa? Karena produknya yang sangat membutuhkan sisi presentasi, alias tampilan sempurna dari cupcakes-yang bisa dipesan secara customize, sangat terkait dengan ekspektasi pemesan. Happy mind when ordering must be kept in the same place as the product arrived, delivered for themselves or for their loved ones. Selain hal tersebut, team Bang Jago juga memberikan insights untuk strategi branding yang lebih baik.

UAS Project-Genepan for 303 Bites

303 Bites adalah brand UMKM yang menyediakan home made cookies. Bermula dari kedua pemilik brand, Luqman dan Dunda, yang mempunyai misi menyediakan cookies berkualitas dengan harga terjangkau, sebuah refleksi dari pengalaman pribadi dimana mereka pernah mencoba membeli cookies yang diinginkan, namun harganya belum terjangkau oleh mereka. Berawal dari hobby masak Luqman, jadilah 303 Bites ini, yang punya kemasan premium. Kurang fokus dalam menjalankan bisnis (karena keduanya masih duduk di bangku kuliah), menjadikan brand ini susah berkembang. Masalah mendasar ini tidak dibantu selesaikan oleh team Genepan Digital Agency, yang sebelumnya bermain peran sebagai client dalam role play pitching. Melainkan mereka lebih fokus untuk memperbaiki tampilan Instagram-stories, highlight, feed, dan caption yang digunakan, sebagai salah satu strategi komunikasi 303 Bites di social media. Agar in line dengan pembelajaran mereka.

UAS Project-Necis for Cupcake by Chocoholics

Kembali di dunia per-cupcakes-an, team Necis digital agency membedah brand UMKM keempat, Cupcakes by Chocoholics, yang di Instagram dikenal juga dengan brand Cupcakes Jakarta. Trend yang menyatakan bahwa bisnis cupcakes yang sedang menurun, tidak membuat team Necis Digital Agency surut semangat dan pendek akal untuk membantu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi brand UMKM ini, dimana kompetisi adalah faktor yang patut untuk sangat dipertimbangkan. Persaingan bisnis dengan penyedia cupcakes yang lebih besar dan mapan dalam bisnis di Jakarta, membuat pemilik brand ini berkenan untuk membuka diri ke anak-anak muda ini, bertukar pikiran, menyampaikan pain points-nya, dan berharap bisa mendapatkan insights dan masukan-masukan baru dari mereka.

Karena sudah masuk ke ranah pengembangan bisnis, yang team Necis teliti bukan saja tentang strategi komunikasi di digital media, namun juga bagaimana mengelola online-offline selling channel. Di kanal penjualan online, mereka menggunakan GO-FOOD, GRAB FOOD, dan Tokopedia. Untuk offline, Cupcakes Jakarta punya satu gerai di Jakarta Selatan, yang di masa pandemi praktis hanya berperan sebagai dapur produksi saja. Saran-saran untuk perbaikan juga diberikan untuk pengelolaan digital assets mereka yang sudah ada, yaitu Youtube channel dan juga website mereka, yang kurang terkeloka dengan baik.

UAS Project-Rayu for SEPOOLOO

Banyak hobi-hobi lama yang kembali booming di masa pandemi ini, yang salah satunya dikarenakan kebutuhan untuk mengisi waktu luang. Gardening, farming, dan merawat tanaman hias menjadi salah satu hobi paling populer, yang berdampak pada melangitnya harga-harga tanaman hias. Hal ini yang dilihat team Rayu Digital Agency sebagai salah satu hal yang menarik untuk diangkat di UAS Project mereka. Mereka meneliti brand SEPOOLOO (baca: sepuluh), pehobi tanaman di kebun sebuah rumah nomor sepuluh, yang menawarkan adopsi tanaman hias (karena dirawat dengan sepenuh hati), dan jasa konsultasi dalam merawat tanaman-tanaman tersebut. Adalah ibu dan anak, yang ditemui team Rayu, yang berkenan membagikan cerita tentang passion mereka merawat tanaman hias ini. Hanifa Rayna, yang juga rekan team member Rayu, sangat terbuka dengan ide-ide baru, salah satunya dengan memperbaiki dan mengoptimalkan digital media untuk berkomunikasi, menjangkau target audience dan target market-nya. Untuk mendapatkan pasar baru yang lebih luas, tentunya Sepooloo tidak bisa hanya bergantung pada pelanggan lama, para pehobi tanaman yang mereka kenal. Mereka harus mengajak orang-orang non-hobiist tanaman untuk mau menerima pesan mereka, yang rajin berbagi expertise, yang lewat team Rayu, dapat diamplifikasi lewat platform social media Tik Tok dan tentunya, Instagram.

Tips merawat tanaman, garden tour, trivia tentang nama dan jenis tanaman hias dijadikan konten yang menarik, yang dibagikan lewat kedua media sosial tadi. Branding Sepooloo pun diperkuat dan diperjelas, yang bisa membuatnya stand out dibandingkan penyedia tanaman hias serupa.

UAS Project-after class virtual photo

Pada awal kuliah dulu, susah dibayangkan jika perkuliahan jarak jauh ini bisa dilaksanakan dengan baik, setidaknya menurut saya. Tidak adanya tatap muka membuat saya kesulitan mendapatkan pantulan energi saat menyampaikan materi dalam slides. Karena selama presentasi, praktis saya hanya melihat slide demi slide saya sendiri, dimana anak-anak mahasiswa memilih untuk off-camera, yang lumayan bisa menghemat pemakaian bandwith. Membuat lebih irit kuota, katanya.

It’s ok for me.

Namun seiring dengan berjalannya perkuliahan, masing-masing dari kami saling menyesuaikan terhadap ‘kondisi sulit’ yang kami temui, dan akhirnya saling mendukung hingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan sangat baik. Karena mereka bisa melihat saya berbagi, tentunya saya harus tetap bahkan lebih ekspresif dalam penyampaian materi. Intonasi, mimik wajah, dan gerakan tangan tak lupa saya lakukan. Sesekali saya juga bertanya, melempar pertanyaan untuk sekedar memeriksa apakah mereka masih bersama saya, atau entah pergi kemana 🙂

Ini pengalaman pertama saya, mengampu kelas secara virtual sepanjang satu semester penuh, yang dimulai agak terlambat, yaitu di pertengahan bulan September, yang mengakibatkan kelas terpotong di liburan Nataru (saya harus mudik ke kota kelahiran tercinta), dan berlanjut lagi setelah tahun baru. Tidak mudah memang, tapi kuncinya adalah banyak-banyak menyesuaikan diri dengan ketidaknyamanan ini. Dan satu lagi, terus wawas agar tetap sehat.

Terima kasih sudah menyimak, cerita akan disambung ke bagian 4, UAS Project untuk kelima brand UMKM lainnya di kelas Selasa yang tak kalah menariknya!

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s