Kota Semarang dan Lima Bucket List Kuliner

Mampir lagi ke Kota Semarang. Mungkin buat anda yang pernah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya di blog ini, akan membatin: “Hah, orang ini ke Semarang lagi? Apa nggak bosen? Apa ya istimewanya Semarang?”

Gereja Blenduk, kawasan Kota Lama, Semarang

Belum dong! Saya masih punya keluarga dari keturunan kakek saya di kota ini, tepatnya di belakang Sam Poo Kong, masih punya bucket list kuliner yang belum sempat dikunjungi dan dicoba keajaiban rasanya, dan suasana kota ini yang buat saya sanggup membuat betah berlama-lama. Karena jarak tempuh dari GT Kalimalang/Bekasi Barat hingga GT Krapyak ‘hanya’ kira-kira 5 jam saja, makin bisa sering-seringlah main ke kota Semarang ini.

Tol Trans Jawa KM 667

Ceritanya, kami mampir Kota Semarang untuk istirahat, saat kembali setelah pulang mudik Kota Malang. Karena saya tahu semangat untuk road tripping kembali ke Bekasi tidak akan sesemangat saat berangkat pulang dari Bekasi sampai ke Malang, saya sanggup nyetir non stop selama 12 jam. Titik tengah perjalanan, demikian saya dan istri berpikir.

Semarang dan pesona kulinernya. Ada 5 target lokasi kuliner yang masuk daftar kami khusus untuk #SemarangTrip kali ini; Nasi Goreng Babat Pak Karmin Mberok, Warung Mak Tompo, Tahu Pong Karangsaru, Spiegel Bar & Bistro, dan Lumpia Cik Me Me, untuk oleh-oleh di hari terakhir sebelum kembali ke Bekasi. Kota Lama masih jadi tujuan utama, mengingat ada 2 tujuan disana, Nasi Goreng Babat Pak Karmin dan Sipegel Bar.

Oh iya, kami menginap di Rooms Inc. Hotel Pemuda Semarang, sebuah hotel keren yang design interiornya sangat kami suka, muda, modern, dan minimalis. Lokasinya juga, tepat diatas DP Mall, yang saat berkunjung kembali sudah banyak berubah. Sudah berubah ke arah life style mall, banyak outlet-outlet yang kekinian, dan banyak cafe dan tempat makan. Mari kita mulai perjalanan kuliner kita!

1st spot: Nasi Goreng Babat Pak Karmin Mberok

Nasi Goreng Babat dan Babat Gongso Pak Karmin
The living legend, Pak Karmin himself

Tempat makannya rame banget! Kami pun bersiap kalau harus mengantre 30-60 menit, hanya untuk mendapatkan sepiring Nasi Goreng Babat dan Babat Gongso lezat itu. Setelah pesan, dan sudah dapat tempat duduk, kami mengamati tingkah laku pengunjung lainnya. Kami menemukan ada pengunjung, nampaknya sekeluarga, sudah memesan makanan dan minuman via telepon duluan, jadi tinggal duduk, bilang pesanan atas nama siapa, dan tak lama pesanan pun datang. Mereka sudah memperkirakan jam berapa harus sampai di tempat. Benar juga, tidak sampai 5 menit setelah mereka duduk, pesanan makanan dan minuman disajikan ke meja. Tidak sampai 10 menit mereka selesai makan bersama, dan digantikan dengan rombongan lainnya.

“Wah, lain kali harus mencontoh cara mereka nih!”, kata saya, disambung dengan istri saya yang langsung mencatat nomor telepon warung makan ini, untuk kunjungan berikut tentunya. Satu hal lagi yang kami amati, nada dering GO-BIZ/GO-FOOD dari GO-JEK tak henti-hentinya terdengar. Diselingi dengan pemandangan driver GO-JEK dan GRAB yang sabar menanti pesanan pelanggannnya siap untuk dihantarkan, di sekeliling meja kasir, tempat dimana Pak Karmin duduk mengawasi operasional warung makannya.

Nasi Goreng Babat Pak Karmin

30 menit kami menunggu, datanglah pesanan kami masing-masing. Karena hanya bilang pesan Babat Gongso saja, kami tidak menyangka yang datang adalah sepiring Babat Gongso, dengan telor dadar, dan sepiring nasi putih. “Wah, pakai nasi ternyata. Nasinya dibungkus aja deh, buat makan nanti-nanti. Kita makan Nasi Goreng Babatnya dengan Babat Gongsonya saja ya. Takut kekenyangan ntar”, ujar istri saya. Rasa Nasi Goreng Babat dan Babat Gongsonya dominan kecap manis, irisan bawang merah, dan potongan-potongan babat, iso, dan jerohan sapi lainnya yang empuk, dan cukup melimpah!

Babat Gongso Pak Karmin

Karena letak warung ini berada tepat di arah masuk kawasan Kota Lama, kami pun memutuskan untuk berjalan saja menjelajahi Kota Lama di malam hari, di Sabtu malam, yang ternyata ramai sekali. Anak-anak muda mendominasi kerumunan, sebagian besar mengenakan masker, sebagian tidak. A bit scarry, but we’re maintaining social distance somehow. Kami menyusuri sisi kanan jalan dari arah Jembatan Mberok kearah Gereja Blenduk, dan menyeberang di depan Spiegel Bar & Bistro. Melongok ke dalam, kami menemukan beberapa kursi kosong dan langsung melangkah masuk.

Mask on!

2nd spot : Spiegel Bar & Bistro

Minum kopi di tempat yang eksotis di salah satu sudut Kota Lama Semarang. Salah satu momen romantis buat saya. Cuma sayangnya cuaca cerah malam itu, kalau gerimis sedikit saja, bukan main romantis suasananya! Saya pesan Flat White dan istri saya pesan Hot Chocolate, yang tersaji dengan sepotong marshmallow. Interior Spiegel Bar ini buat saya keren sekali, mempertahankan sebagian bangunan aslinya, dengan atapnya yang tinggi. Bartender dan barista diberikan spot tepat di tengah, sebagai titik tengah dari bar. “Mau datang ngopi disini lagi?”, tanya saya. “Ya, mau lah”, balas istri saya cepat.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di Spiegel, sebelum beranjak kembali ke parkiran Nasi Goreng Babat Par Karmin, tempat kami memarkir mobil. Kota Lama Semarang is nicely so walk able area.

Spiegel Bar & Bistro, Kota Lama Semarang

Spiegel Bar & Bistro, Kota Lama Semarang
Spiegel Bar & Bistro, Kota Lama Semarang
Spiegel Bar & Bistro, Kota Lama Semarang

Menyusuri sisi kiri jalan kembali ke arah jembatan Mberok, kami masuk lewat taman di samping Gereja Blenduk, melewati jalanan di belakangnya. Kami menemukan warung kopi klasik, seperti halnya Spiegel disitu. “Next destination nih, kayaknya”, batin saya.

Javara Culture, Kota Lama Semarang

Tak jauh dari Javara, melewati bagian belakang bangunan Gereja Blenduk, kami menemukan spot menarik baru, yang saat kunjungan kami sebelumnya, sepertinya belum dibuka; Galeri Industri Kreatif Semarang, yang ditemani warung kopi klasik lagi di sampingnya. Luar biasa ini Kota Lama. Semakin mempesona!

Galeri Industri Kreatif Semarang

Mari kita tengok seperti apa bagian dalam dari galeri ini, yang sekilas kami lihat menampilkan (dan menjual) barang-barang antik. Surga bagi para kolektor!

Galeri Industri Kreatif Semarang
Galeri Industri Kreatif Semarang
Galeri Industri Kreatif Semarang
Galeri Industri Kreatif Semarang

Malam itu, kami masih punya satu misi lagi sebenarnya. Kami masih penasaran dengan Tahu Pong Karangsaru, salah satu penjual kuliner khas Kota Semarang. Berbekal Google Maps, kami pun menjelajah kembali jalanan Kota Semarang ke kedai tahu pong tersebut, dan ternyata tutup. Damn! Ini adalah kali kedua kami datang ke tempat ini (kali pertama tutup dan berujung beralih makan di Bakmi Jawa Boeng John, tak jauh dari situ), yang berujung pada kegagalan. Pokoknya besok harus dapat, demikan tekad kami.

3rd spot: Lunpia Cik Me Me

Selepas check out dari Rooms Inc Hotel jam 10.00 WIB keesokan harinya, kami langsung menuju toko lunpia Cik Me Me, yang baru kali ini kami coba dan datangi. Kami tahu toko lunpia ini dari referensi YouTube tentunya, dan langsung berencana ingin mencoba saat jalan-jalan ke Semarang. DI kedai lunpia ini masih menyajikan menu Lunpia Polos, tanpa tambahan daging. Hanya rebung dan telor ayam saja sebagai isiannya. Buat saya, inilah lunpia sebenarnya. Tanpa embel-embel tambahan daging sapi, seafood, atau bahkan kambing muda yang disediakan di tempat ini.

Lunpia Cik Me Me

Kami membeli 2 pcs Lunpia Polos goreng untuk dimakan nanti di perjalanan kembali ke Bekasi, dan 6 Lunpia Original basah untuk dimakan di rumah. Condiment daun bawang, acar mentimun, cabe rawit hijau, dan kuah kanji kental kecoklatan dengan irisan kecil bawang putih benar-benar menyempurnakan rasanya yang sudah istimewa. Anyway Lunpia Cik Meme ini recommended ya!

4th spot: Tahu Pong Karangsaru
Malaju ke Jalan Pringgading untuk sarapan tahu pong! Buat yang belum tahu, nama tahu pong diambil dari ‘tahu kopong’, alias tahu yang berongga di bagian tengah, didapat karena teknik menggoreng dengan minyak panas. Tahu Pong Karangsaru yang berlokasi di Jalan Pringgading ini buka pukul 11.00, dan tutup pukul 19.30 WIB. Ini adalah jam buka tutup sementara, karena di masa normal, mereka buka sampai pukul 22.00 WIB. Let’s go!

Tahu Pong Karangsaru

Kami pesan 1 porsi Tahu Pong Komplit untuk dinikmati berdua, karena kami lihat porsinya cukup banyak. 1 porsi berisi: 10 potong tahu pong, 1 potong emplek (tahu padat), 1 potong gimbal udang, dan 1 potong telor rebus yang digoreng, yang disajikan dengan saus petis untuk cocolan, dan acar lobak. Disediakan pula sambal cabai hijau untuk tune up rasa sausnya, agar didapat sensasi pedas yang semakin menggugah selera makan. Cukup mengenyangkan sebenarnya 1 porsi komplit Tahu Pong ini. Bahkan untuk kami berdua.

5th spot: Warung Mak Tompo

Long time bucket list! Jauh sebelum dulu saya memberanikan diri untuk menyetir jarak jauh ke Semarang lewat jalur pantura, sebelum ada tol Trans Jawa, saya sudah ingin mencoba masakan cumi hitam di warung makan ini. Dan baru kesampaian tanggal 22 November yang lalu. Saya hanya punya 1 menu di benak saya: cumi hitam! Dan memang warung makan yang terletak di sebuah gang di Jalan Karang Anyar, tepat di seberang warung Asem-Asem Koh Liem ini terkenal dengan cumi hitamnya.

Warung Mak Tompo
Warung Mak Tompo

Ladies and gentlemen, this is Cumi Hitam Mak Tompo Semarang!

Warung Mak Tompo

“Ngagem lauk nopo, mas”, tanya mbak-mbak pelayan warung. “Kulo cumi kemawon, mbak”, balas saya. “Mboten ngagem sayur, mas? Lauk lintune?”, tanya si mbak kembali. “Saya khusus datang hari ini hanya untuk makan cumi hitam, sama nasi putih aja, mbak”, ujar saya balik. Buat saya, nasi putih dan cumi hitam sudah lebih dari cukup. Pun demikian saat makan Nasi Jamblang di Cirebon, nasi putih 2 porsi (karena kecil-kecil), dan 2 potong balakutak (sotong, sejenis cumi), sudah lebih cukup. Lauk gorengan hanya pemanis saja.

Warung Mak Tompo

Makan pagi dan makan siang yang berdekatan. But what the hell, this is Semarang! Sikat saja, ahahahahahaha… 😀 Saya hanya makan 3 ekor cumi saja dengan kuahnya, dari 1 porsi yang saya pesan. 1 porsi cumi hitam isi 8-9 ekor dibandrol Rp40.000,- yang menurut saya sangat pantas. Dengan rasa yang sesuai ekspektasi saya. Makan siang di Warung mak Tompo akan jadi agenda rutin sepertinya.

Jembatan Kalikuto, 22 November 2020 pukul 13.15 WIB

Kenyang, dan sekarang waktunya pulang. Kembali melaju di jalan Tol Trans Jawa. Terima kasih, Semarang. Njenengan masih istimewa, panjenengan masih salah satu kota favorit saya.

Bonus scene: Rest Area KM 260B Pabrik Gula Banjaratma, Brebes.

A must stop spot untuk perjalanan pulang ke arah Jakarta, untuk rehat sejenak, ngopi sejenak. Terlebih ada warung kopi Banaran Coffee and Art di rest area 260 B Brebes, eks Pabrik Gula Banjaratma. Eksotis!

Banaran Coffee and Art, Rest Area KM 260B
Banaran Coffee and Art, Rest Area KM 260B
Banaran Coffee and Art, Rest Area KM 260B
Banaran Coffee and Art, Rest Area KM 260B

Terima kasih sudah mengikuti perjalanan kami di Kota Semarang, tulisan akan disambung dengan cerita perjalanan di dan dari Kota Malang di unggahan selanjutnya. Sehat-sehat semuanya!

4 Comments Add yours

  1. Avant Garde says:

    mampir dan foto2 di rest area banjaratma ini wishlist saya mas 😀

    1. haryoprast says:

      Sumonggo mampir, mas. Cuma jembatan yang menghubungkan Rest Area A dan B masih tutup, khusus untuk karyawan dulu. Highlight-nya: Banaran Coffee and Art di Rest Area A, selain ada juga di Rest Area brebes Banjaratma.

      1. Avant Garde says:

        Sip mas, terimakasih infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s