Semester Ganjil 2020/2021, Pengalaman Pertama Saya dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Saya pernah mengunggah di Linkedin, demikian:
“Mengisi sesi-sesi webinar sudah pernah mengalami.
Kalau mengisi perkuliahan selama full 1 semester dengan sistem perkuliahan jarak jauh, baru pertama kali buat saya. Dan saya lihat tantangannya lebih ke menjaga mood belajar mahasiswa dalam mengikuti materi yang kita bagikan, dalam cara belajar non-tatap muka ini. Terima kasih untuk mas-mbak pengajar sekalian atas bagi-bagi pengalamannya.
Harus merancang sistem belajar yang lebih kreatif!”

Setelah menulis unggahan tersebut, saya melanjutkan hari-hari saya dengan berpikir. Berbagi tentang sesuatu selama satu sesi plus Q&A, di suatu webinar misalnya, beberapa kali pernah saya lakoni. Merasa nyaman karena sudah ada pihak penyelenggara yang mengatur alur acara, dari pembukaan, perkenalan guest speaker, lanjut dengan memandu sesi Q&A, hingga selesai. Saya selaku speaker tinggal membawakan slides yang sudah saya susun sedemikian rupa. Kemudian menunggu dapat giliran menjawab di sesi Q&A, atau menambahkan statement speaker lain, bilamana diperlukan, yang biasanya bersifat memperkuat.

Namun ini beda. Saya memikirkan tentang bagaimana menciptakan ruang belajar yang sama-sama kondusif, meskipun saya tidak bisa melihat seisi kelas, wajah-wajah 30 mahasiswa saya. Hanya melihat dan berbicara mengahadap layar laptop saja. Bertanya ke diri sendiri, bagaimana menciptakan sesi-sesi belajar dua arah yang tetap seru, lewat sesi-sesi kerja kelompok dan sesi-sesi presentasi yang pernah saya rancang di semester-semester sebelumnya. Tentunya sebelum negara api menyerang. Sebelum pandemi Covid-19 datang.

Banyak keresahan saya rasakan selaku pengampu mata kuliah. Banyak banget. Banyak juga kekhawatiran, bahwa lewat PJJ ini saya tidak bisa maksimal memberikan yang terbaik, menularkan membagikan apa yang sudah saya ketahui, alami, pelajari, kuasai selama masa kerja saya sebagai seorang profesional, dan pengalaman selama saya mengajar, yang saya rasa masih relevan untuk pengembangan diri mereka.

Tujuan saya masih sama. Para mahasiswa yang lulus dari mata kuliah Pemasaran Digital Terpadu yang saya ampu, mendapatkan values, bukan hanya grades. Bukan saja teori-teori yang bisa mereka baca dan dapatkan dari literatur dan jurnal yang tak terbatas, yang bisa saja mereka dapatkan dengan hanya mengetikkan kata kunci yang relevan di kolom pencarian. Dimanapun.

“Tenang, Yoga. Lakukan saja yang terbaik. Bukannya kamu suka exploring? Bukannya kamu malah merasa tertantang dengan hal-hal yang belum pernah kamu alami sebelumnya? Bukannya kamu suka dengan membuka ‘area baru’? Bukannya kamu suka membuka jalan untuk yang lain, agar selanjutnya yang lain dapat mengikuti jejak yang sudah kamu tinggalkan, dan melanjutkan pekerjaan dengan mudah?”

Demikian diskusi saya dengan saya sendiri, dalam hati. Meyakinkan diri sendiri.

Dan sejatinya, saya tidak sendiri. Masih ada rekan-rekan sesama pengampu mata kuliah yang mungkin merasakan hal yang sama, first timer di PJJ. Dan para pengampu mata kuliah yang sudah mengalami hal ini di semester sebelumnya, tepat saat memulai perkuliahan di awal masa-masa PSBB. Masih ada mereka yang bisa ditanya dan diajak diskusi, tentang apa dan bagaimana cara memberikan yang terbaik untuk para mahasiswa.

Sampai akhirnya, tanggal 14 September tiba. Hari dimana saya mulai mengajar kembali di semester ganjil tahun ajaran 2020/2021. Mengajar dari rumah, di hari pertama PSBB kembali diberlakukan di DKI Jakarta. Such an advantage, bisa mengajar dari rumah dengan koneksi internet yang sangat lancar. Terima kasih, First Media!

Baru kali ini, saya kembali merasakan badan panas dingin semalam sebelumnya. Seperti halnya saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Gedung H FISIP UI lantai 3 di awal bulan September 2014. Perasaannya sama dengan saat saya berkenalan dengan mahasiswa/i dari angakatan 2012, yang saat itu duduk di semester 5, dan kami saling memperkenalkan diri sebelum saya lanjut membawakan materi. Bedanya, hari ini saya hanya bertemu mereka lewat icon avatar Whatsapp, dan avatar Google, karena saya menggunakan platform Google Meet untuk berbagi.

Perasaan resah, khawatir, dan perasaan simpang siur lainnya berangsur hilang di saat salah satu mahasiswi masuk ke meeting room. Kami sempat ngobrol sebentar, menunggu mahasiswa/i yang lain datang. “Oh, gini toh rasanya membuka dan memandu perkuliahan jarak jauh?”, ujar saya dalam hati.

Seperti perkuliahan yang sudah-sudah, saya biasakan untuk tepat waktu. Bukannya apa-apa, untuk memberikan pembelajaran soft skill ke teman-teman mahasiswa/i. Bahwa jadi orang tepat waktu itu bisa membuat kita punya mempunyai value tersendiri. Tepat waktu untuk menghargai orang yang sudah membuat janji dengan kita. Perkuliahan seperti biasa saya mulai tepat pukul 14.00 WIB. Saya mulai membawakan slide demi slide pembuka di tengah ‘gangguan’ notifikasi mahasiswa/i yang terlambat masuk, approving entry mereka satu per satu, sambil melakukan absensi.

This whole semeter is gonna be exciting. Reason? Because I’m totally clueless! đŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s