Refleksi: Karyawan di Masa Pandemi Covid-19

Di perjalanan menuju kantor hari Senin, 6 Juli 2020 kemarin, saya sempat baca cuitan dari mbak @iimfahima. Beliau menulis begini: “Yang sampai hari ini masih kerja digaji kantor, bekerjalah sebaik-baiknya untuk perusahaan. Saat ini bahkan puluhan bisnis raksasa memutuskan menutup bisnisnya. Perusahaan yang masih mempekerjakanmu hari ini, sedang berusaha melewati ujian yang mungkin kamu ga lihat dan ga paham”.

Adik dari almarhum Mas Nukman Lutfie, @nukman, salah satu role model yang di masa hidupnya saya anggap guru untuk media sosial, mencuitkan sesuatu yang menjadi keresahan banyak pelaku bisnis, dan tentunya para karyawan. Termasuk saya, dengan sederet kata tanya dibelakang what if. Apa yang bisa para karyawan lakukan untuk terus berkontribusi di bidang sesuai keahlian dan pengalamannya masing-masing? Bagaimana kondisi perusahaan tempat kita bekerja sekarang? Seberapa parah dampak pandemi Covid-19 terhadap laju operasional perusahaan? Apa yang bisa dilakukan perusahaan untuk bisa tetap bertahan, salah satunya dengan tidak lay-off karyawannya?

Saya lebih suka menjawab pertanyaan: “Apa yang bisa dilakukan perusahaan untuk tetap bertahan, salah satunya dengan tidak lay-off karyawannya?”

Mungkin saat ini, hampir seluruh karyawan ada di barisan yang sama. Berharap bisa terus berkontribusi, agar periuk nasinya tetap aman. Para karyawan di tim fungsional, tentunya sibuk memeras otak, mencari inspirasi tentang apa-apa saja yang sukses dilakukan oleh merek-merek lain di masa krisis. Dalam jangka pendek ini, perusahaan harus survive. Beruntungnya, ada teknologi informasi berbasis internet yang memungkinkan kita bisa mendapatkan informasi apapun dengan sangat mudah, hanya dengan menggunakan kata kunci yang tepat dalam pencarian. Apapun ide-ide baru yang dilontarkan oleh tim fungsional saat krisis, sangat dinantikan oleh tim operasional.

Ini akan menjawab pertanyaan: “Apa yang bisa para karyawan lakukan untuk terus berkontribusi di bidang sesuai keahlian dan pengalamannya masing-masing?”

It’s a tough condition for almost all of us.

Office mates

Mengakhiri tulisan refleksi ini, saya berharap kita semuanya dikuatkan. Tidak hanya berdoa agar situasi dan kondisi diluar sana bisa berangsur membaik. Tapi kuncinya adalah bagaimana kita menghadapinya. Saya ingat pelajaran 1% dan 99%. Apa yang berlaku dan terjadi diluar sana merefleksikan 1% saja dari semuanya. Tapi apa feedback kita, apa yang kita lakukan terhadap kondisi tersebut, seberapa agile dan adaptive kita, adalah 99% dari semuanya. Sekaligus menentukan bagaimana dan siapa sebenarnya kita.

Team mates

Pasti ada jalan, kalau ada kemauan.

Saya juga berharap agar siapapun diluar sana yang sedang mencari pekerjaan di masa yang bisa dibilang sulit ini, teruslah berusaha. Yakin kalau kalian unik-berbeda dengan lainnya, dan pasti punya sesuatu yang ‘layak jual’, entah hard skill ataupun soft skill kalian. Tidak perlu menunggu lowongan pekerjaan yang ‘katanya’ sesuai dengan passion kalian. Temukan bidang pekerjaan yang sekiranya kalian sukai, atau yang bisa kalian sukai. Lalu lakukan pekerjaan yang kalian sukai dengan penuh gairah. Passionately.

And be a passionate person. Thank you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s