Ice Cream Cake. An Obituary.

Tidak pernah terbayang, kalau suatu hari saya harus menulis sebuah berita duka cita. Bukan untuk seseorang, namun untuk sebuah varian produk yang dengan sangat terpaksa harus dihentikan produksinya karena satu dan lain hal.  Dihentikan untuk memberikan jalan ke varian produk yang lain, yang berkontribusi lebih besar untuk semakin bertumbuh, mungkin. Well, kalau bicara tentang parity, I can not complain. Must focus on 20% of stuffs that contribute more than 80%, right?

So, if it’s just a product, why give so much blow?

Jadi, bisa dibilang saya punya keterikatan dan sense of belonging ke produk ini. Ice cream cake, produk yang selama ini jadi pembeda dengan produsen es krim lain, karena unik dan hand made. It’s more than a product, it’s heartfully handcrafted. Diberikan ke orang-orang terdekat, karena adanya saat-saat yang patut dirayakan. Dikirimkan sebagai teman ucapan selamat, selamat hari raya, selamat atas promosi yang didapatkan, selamat atas pekerjaan baru dan kantor baru, selamat atas hari lahir, dan selamat atas saat-saat berharga lainnya. Jarang sih, ada orang yang memesan ice cream cake ini untuk dikirimkan ke diri sendiri, untuk dikonsumsi sendiri. Kecuali anda Mr. Bean, yang bisa merayakan hari jadinya sendiri, senang dan bahagia sendiri, dengan boneka beruang coklatnya.

Saya jadi ingat saat memberikan es krim rasa buah strawberry, sebut saja Summer Barz, ke salah satu rekan kantor. Saya lihat pupil matanya membesar, matanya berbinar-binar. Terlihat bahagia sekali! Katanya, “Udah lama saya cari-cari es krim ini di minimarket, pak. Saya nggak pernah nemu. Terima kasih ya!”

Yes, long story short, mata berbinar, rasa gembira dan bahagia membuncah di dada, saat menerima es krim dari tangan orang lain (atau beli sendiri), adalah apa yang dicari oleh kami, para penjual dan pemasar es krim. Dan percayalah, rasa bahagia itu bisa menular. Kami yang bekerja di balik layar, memastikan kebahagiaan lewat produk yang kami berusaha jual dan pasarkan sampai ke orang  yang tepat pun, juga ikut merasa bahagia. Entah. Mungkin saat itu pupil mata kami pun ikut membesar. Seperti orang yang baru saja menang jackpot di kasino.

Let’s not get too sentimental, shall we? Eh, tapi boleh kan?

Saya mendapatkan mandat mengembangkan selling channel yang dimotori oleh ice cream cake ini sejak tahun 2012. Delapan tahun. Hingga diputuskan untuk berhenti produksi (untuk sementara waktu), di tahun 2019. Saya bersama dengan team (yang sudah sering berganti-ganti orang, hanya beberapa yang awet bertahan-termasuk saya) percaya bahwa bisnis itu bisa tumbuh kalau banyak pembeli baru yang terus berdatangan. Bagaimana caranya mendatangkan pembeli baru? Sederhana saja, yang belum tahu harus diberi tahu, bukan sekedar informasi agar tahu saja, namun lebih dari itu. Mempersuasi mereka untuk suka, dan ingat. Pada saat ingin merayakan saat-saat istimewa, mereka ingat dengan produk ice cream cake ini. Bukan parcel isi buah atau biskuit-sirup-kue yang biasa disediakan di supermarket dan toko-toko buah, yang biasa dijadikan hantaran.

Memberikan informasi yang sifatnya mempersuasi pun harus di channel dimana konsumen dan calon konsumen aktif berkomunikasi-mengirim pesan. Lewat media digital. Social media is the key, katanya. Jadinya, kami pun harus belajar banyak tentang cara berkomunikasi yang baik di media digital, kami harus tahu konten-konten kreatif seperti apa yang diinginkan oleh mereka. Bukan yang menurut kami keren atau menarik. Because it’s their time, no longer ours. Kami pengelola merek hanya punya sedikit kesempatan untuk mencuri perhatian mereka, bersaing dengan ribuan merek lainnya yang mungkin dalam waktu yang bersamaan mengirimkan pesan dengan maksud sama. Sama-sama ‘caper’, kalau orang  bilang.  Peluang pun sebenarnya tidak besar-besar amat. Namun dalam split second itu, kami maksimalkan. Kami berusaha membuat calon pelanggan tahu dan ingat tentang produk-merek-layanan pesan antar kami. Dan selanjutnya, membuat mereka ingat dengan pesan-pesan merek, disaat mereka ada kebutuhan yang bisa dipuaskan dengan produk-layanan kami.

In the end, life goes on. We have to move on.

Jadi, menutup tulisan ini, ijinkan saya mengucapkan terima kasih kepada anda, pembaca blog ini, yang mungkin pernah memesan ice cream cake kami, karena telah menambahkan ‘warna’ dalam perayaan saat-saat istimewanya. Pernah merasakan pengalaman membuka kemasan karton luar dan styrofoam putihnya, melihatnya untuk pertama kali dibawah uap dingin dry ice yang mengepul kebawah, mencoba memotongnya dengan sedikit usaha dengan pisau panas, melepaskan slice pertama tanpa merusak bagian ice cream cake yang lain. Dan lewat tulisan ini, saya sekaligus mengucapkan selamat berpisah dengan ice cream cake yang selama delapan tahun ini, sudah kami anggap seperti bagian dari kami sendiri.

Siapa tahu, mungkin suatu saat kami akan bertemu kembali. And when that day comes, for sure I’ll be the first who embrace it, give a very big hug, and say: “Welcome back, dude!” Dan berani taruhan, dia pasti lanjut bertanya sambil tertawa, “How’s life without me? Must suck, huh? Banyak gak yang nanyain saya?” 🙂

“Eh, banyak banget yang nyariin kamu lah, apalagi deket-deket Ramadhan-Idul Fitri sama Natal-Tahun Baru. Pada banyak yang sedih, soalnya sudah biasa pesan kamu buat dikirim ke saudara-saudaranya”, ujar saya.

 

Bye for now, ice cream cake!

 

2 Comments Add yours

  1. netty gan says:

    aduhhh kok berhenti di produksi.. saya salah satu pencinta ice cream ini 😭

    1. haryoprast says:

      Saya pun, ibu 🙂
      Mudah-mudahan bisa Campina produksi lagi. Terima kasih perhatiannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s