Jadi Dosen Pembimbing Tugas Akhir? Why Not!

Begin with the end mind.

Mulailah dengan gambaran akan bagaimana nantinya saat langkah yang akan atau sedang kita ambil mencapai tahap akhir, disaat kita mencapai tujuan akhir sementara. Yes, there is no end, I believe. Because the end of something is a beginning of something new. We just have to keep on going!

KOM-FISIP UI Class of 2016 (Edgina, Marella, Novia, dan Sella)

Saya unggah foto yang diambil di hari keempat mahasiswi bimbingan saya maju sidang Tugas Karya Akhir nya di tanggal 18 Desember 2019 yang lalu. Edgina Callista Lunadi (Gina), Marella Ekaputri Muslich (Ella), Novia Giselaputri Sunandar (Novia), dan Sella Enoviana (Sella). Plus satu lagi, Ruth Audrey (Ruth), yang maju sidang TKA tanggal 19 Desember 2019, sehari setelah jadwal manggung keempat rekan-rekannya yang lain. Setelah proses yang cukup panjang, dengan tambahan sedikit drama.

Foto yang menjadi hasil akhir atau tujuan yang mereka ingin capai saat memulai menggoreskan tema dan judul penelitian mereka, mengambil jalur Tugas Karya Akhir (TKA, bukannya skripsi, atau bahkan jurnal. Momen yang mereka nanti-nantikan semenjak Sidang Outline TKA, dimana mereka masing-masing memaparkan merek atau usaha apa yang akan mereka teliti, yang akan mereka amati dengan seksama, menemukan hal-hal apa yang dapat diperbaiki dari merek atau usaha yang mereka teliti, dan menyampaikan ide besar dari langkah-langkah yang dapat mereka buat untuk perbaikan.

Dari Sidang Outline TKA ini, dosen pembimbing dan ketua sidang akan menentukan apakah proposal penelitian yang diajukan dapat dilanjutkan sebagai penelitian atau tidak. Jika tidak, si mahasiswa mungkin harus mencari topik baru, merek atau usaha yang lain untuk diteliti. Mulai lagi dari awal. Jika lolos Sidang Outline TKA ini, artinya tugas saya sebagai dosen pembimbing pun dimulai. Tugas menjadi teman berpikir mahasiswa, tanpa harus mengendalikan dan mengarahkan cara berpikir mereka pun dimulai. Jika semua ini selesai, harapan saya, si mahasiswa akan merasa fulfilled. Merasa bahwa TKA yang sudah final ini adalah hasil karyanya seorang!

Output dari  TKA sendiri adalah business proposal (deck), yang disajikan ke merek atau usaha yang diteliti, yang dinilai membutuhkan perbaikan di beberapa bagian. Dan karena mereka datang dari peminatan Periklanan dan Hubungan Masyarakat, hal-hal yang mereka ulik adalah pengembangan sisi komunikasi si merek di media digital, media yang sangat erat dengan keseharian hidup mereka. Yang pesannya ditujukan kepada khalayak yang satu segmen usia dengan mereka. Dengan demikian, akan lebih mudah mencoba menterjemahkan langkah-langkah perbaikan merek tersebut dalam konteks komunikasi.

Sella (kiri) dan Ruth (kanan), saat Sidang Outline TKA 11 September 2019
(ki-ka) Edgina, Novia, dan Marella, juga saat Sidang Outline TKA 23 September 2019

Kecuali Ella, saat Sidang Outline TKA, adalah kali pertama saya bertemu dengan Gina, Novia, Sella, dan Ruth. Ella pernah ikut kelas Pemasaran Digital Terpadu di saat masih duduk di semester lima. But it all runs well. Semuanya bisa saling menyesuaikan diri, antara saya ke mereka masing-masing, dan mereka masing-masing ke saya, dengan gayanya masing-masing. TKA adalah tugas yang harus mereka selesaikan dalam deadline yang ditentukan, dimana sempat ada drama deadline dimajukan semata-mata agar para mahasiswa ‘gas pol rem blong’ menyelesaikan TKA-nya, yang uniknya perlahan-lahan dimundurkan kembali ke tanggal deadline semula, yang entah saya lupa tanggal berapa. Di awal bulan Desember 2019 kalau tidak salah. Ada beberapa mahasiswa yang gave up, menyerah karena merasa tidak mungkin menyelesaikan TKA-nya tepat waktu. Dan menyesal di kemudian hari, “Ah, di -PHP-in deadline nih, mas! Tahu gitu saya kelarin TKA-nya semester ini!”, kata seorang mahasiswa yang juga pernah ikut kelas saya dulu, yang dengan sangat terpaksa harus menyelesaikannya di semester depan, dengan nada kesal.

Gina menulis tentang “Perencanaan Program Humas Pemasaran dalam Meningkatkan Brand Awareness Pop The Cold Brew Coffee”, Novia meneliti tentang “Strategi Marketing Public Relation untuk meningkatkan Brand Awareness terhadap Sate Taichan Kusbar di Daerah Tangerang Selatan”, Ella menulis tentang “Rancangan Program Komunikasi Pemasaran Terpadu Kopi Tuli Periode Juli-Desember 2020”, Sella menulis tentang “Perencanaan Marketing Public Relations sebagai Upaya Meningkatkan Brand Awareness PINTEK melalui Program Komunikasi Duta Edupreneur”. Satu lagi, Ruth menulis tentang “Perencanaan Humas Pemasaran dalam Meningkatkan Brand Awareness White Purple Patisserie and Bakery”.

Foto bersama setelah saya approve TKA mereka
Ruth Audrey dan TKA-nya

Pokok bahasan mereka masing-masing sangat unik, dan tidak ada yang sama. Hal ini menuntut saya untuk juga update tentang informasi tentang bahasan mereka, agar saat diskusi pun obrolan kami bisa nyambung. Dan semua bahasan mereka relate dengan pemasaran digital, meskipun keempat mahasiswi Humas menggunakan pendekatan marketing public relation (MPR), dan satu orang mahasiswi Periklanan mengambil pendekatan integrated marketing communication (IMC). Ada beda yang sangat mencolok saat membahas MPR vs IMC. MPR lebih membahas tentang brand image, reputasi, dan brand awareness. Sedangkan IMC akan membahas lebih jauh tentang bagaimana merancang strategi komunikasi pemasaran yang berimbas terhadap penjualan, lewat program promosi, direct selling, dan lain-lain. MPR sama sekali tidak membahas sampai penjualan. Ini perbedaannya. Artinya, Gina, Sella, Ruth, dan Novia akan merancang program MPR yang bertujuan utama meningkatkan brand awareness di Pop The Cold Brew, Sate Taichan Kusbar, Pintek, dan White Purple Bakery and Patisserie. Sedangkan Ella akan merancang strategi IMC yang akan sangat berimbas pada brand awareness dan pengembangan potensi penjualan di Kopi Tuli.

Saat bimbingan TKA, Kantin Psikologi UI
Saat bimbingan TKA, MAXX COffee FISIP UI

Gimana sih, rasanya jadi teman diskusi mereka?

Asik! Karena pada dasarnya mereka masing-masing cerdas, dan punya kelebihan sendiri-sendiri secara unik. Dan rumusnya masih sama, saya tidak boleh mengarahkan jalan berpikir mereka, karena saya yakini akan berpengaruh pada hasil akhirnya nanti. Lebih ke teman diskusi. Saya pun mengakui, pengetahuan dan wawasan saya atas pokok bahasan mereka pun tidak mendalam. Saya tidak bisa memberikan masukan yang teramat detail di bidang usaha kuliner makanan-minuman, karena saya tidak menjalaninya. Demikian juga dengan bisnis rintisan di bidang peer to peer lending-financial technology (fintech). Mau tidak mau saya harus banyak baca dan cari referensi tentang beberapa hal yang baru buat saya tersebut, dan kadang juga kami mencari bersama informasi yang kami tidak tahu namun dirasa penting, yang membuat kami penasaran. Disamping tetap berpegang pada teori-teori komunikasi dan pemasaran.

The day!

Ella dan “Rancangan Program Komunikasi Pemasaran Terpadu Kopi Tuli Periode Juli-Desember 2020”
Novia dan”Strategi Marketing Public Relation untuk meningkatkan Brand Awareness terhadap Sate Taichan Kusbar di Daerah Tangerang Selatan”
Gina dan “Perencanaan Program Humas Pemasaran dalam Meningkatkan Brand Awareness Pop The Cold Brew Coffee”
Sella dan “Perencanaan Marketing Public Relations sebagai Upaya Meningkatkan Brand Awareness PINTEK melalui Program Komunikasi Duta Edupreneur”
Ruth dan “Perencanaan Humas Pemasaran dalam Meningkatkan Brand Awareness White Purple Patisserie and Bakery”

Satu per satu dari mahasiswi saya bergiliran masuk ruang sidang, berhadapan dengan ketua sidang dan dosen penguji ahli yang berbeda-beda. Mas Bambang Wahyudianto, mas Erwin Panigoro, mbak Yulia Fitri Utami, mbak Wahyuni Pudji Astuti, mbak Inaya Rakhmani, dan mbak Henny S. Widianingsih. Untuk bimbingan TKA semester ganjil 2019 ini, saya team up dengan 2 orang dosen akademisi senior, mbak Clara Endah Triastuti dan mbak Ken Renciana Sanjoto. Alasan adanya team up ini karena Departemen Komunikasi FISIP UI ingin output TKA tetap terjamin kualitasnya. Maklum, kebanyakan dosen pembimbing TKA adalah dosen praktisi seperti saya, yang kebanyakan lemah di teknis penulisan, teori, dan beberapa hal detail lainnya. Karena itu, agar teknis penulisan, teori, dan masukan-masukan practical lengkap ada di dalam TKA, dibutuhkan kolaborasi dua dosen, praktisi dan akademisi.

Put on your ‘after final test happy and relieved’ face!

Tidak semuanya berjalan mulus. Ada drama. Dan tentunya banyak perbaikan yang harus dilakukan. Semuanya dinyatakan lulus, dengan perbaikan. Kontennya, mereka lulus. Konteks untuk sidang-sidang TKA semester ini sangat berwarna. Jauh lebih ‘berwarna’ dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana hanya ada hitam (tidak lulus), abu-abu (lulus dengan perbaikan), dan putih (lulus). Warna yang lebih banyak ini juga memberikan pembelajaran buat saya untuk jadi dosen pembimbing yang lebih baik di semester-semester berikutnya. Lebih paham konten dan konteks, lebih perdalam lagi teori, lebih banyak baca dan cari referensi, lebih bisa memberikan persiapan dan latihan mental buat anak-anak bimbingan TKA saya, bukan hanya persiapan mereka menyajikan seluruh isi TKA dalam 15-20 slides dan disajikan . Namun saya yakin lebih dari itu. Mempersiapkan mereka untuk sesi tanya jawab dengan dosen penguji ahli, terutama dari segi mental, tidak peduli siapa dosen penguji ahli dan ketua sidangnya.

Put on your ‘after final test happy and relieved’ face!

Kini, jadi dosen pembimbing saya rasa tidak cukup untuk menjadi teman diskusi TKA saja, tapi juga ke teman ngobrol dan berbagi apa saja. Disaat dukungan dalam menyelesaikan TKA sebelum deadline kini menjadi hal yang biasa, dan yang menjadi luar biasa adalah membantu mereka untuk siap secara mental, apapun hasilnya, siapapun dosen penguji dan ketua sidangnya, dan bagaimanapun situasi yang dihadapi nanti saat sidang TKA nanti.

Tugas saya sudah selesai, seiring dengan masing-masing mahasiswi bertemu dengan saya untuk meminta tanda tangan form revisi tanggal 8 Januari 2020, tepat dua hari sebelum deadline pengumpulan dan pelaporan revisi. Setelah sidang TKA pun, tugas membimbing belum berhenti. Supervisi terhadap poin-poin revisi masih dilakukan, meskipun tanpa tatap muka, cukup lewat Whatsapp dan email/Google Drive sharing saja.

So, it’s all good. It’s time to bloom, ladies!

2 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    jadi inget masa masa jadi dosen dulu, udah pembimbing plus nguji hehehe…

    1. haryoprast says:

      Balik jadi dosen lagi, pak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s