[Pemasaran Digital Terpadu FISIP -UI] Semester Ini Ngapain Aja (Bagian 5-Praktikum UAS)

Semester ini buat saya cukup mengasyikkan. Paling mengasyikkan malah. Karena saya banyak mengalami hal-hal baru, termasuk membuat beberapa project yang memungkinkan mahasiswa-mahasiswi saya bisa belajar sambil melakukan (kok nggak enak ya? lebih enak nyebutnya learning by doing kayaknya). Di semester-semester sebelumnya, saya kurang lebih melakukan apa yang sudah saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Project role play pitching digital agency-brand/client, dua sesi kuliah tamu per kelas yang menghadirkan para ahli yang saya anggap bisa memberikan pencerahan atau wawasan ke mahasiswa-mahasiswi saya, rencana untuk company visit ke salah satu e-commerce company terkemuka, dan juga mengundang beberapa alumni Komunikasi FISIP UI yang keren-keren di sesi kuliah tamu kedua.

Namun di hampir tengah semester, saya berpikir, hal baru apa yang bisa saya hadirkan di kelas yang dapat memberikan penyegaran sekaligus pengalaman baru?  Lalu terlintaslah satu ide dimana saya memberikan para mahasiswa-mahasiswi saya sebuah project yang menantang, yang kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat memberikan pengalaman yang berharga untuk mereka, sebelum membuat tugas karya akhir, lulus dari kuliah, dan melanjutkan hidup di tahapan selanjutnya. Ujian Akhir Semester (UAS) kali ini harus beda. Masih dalam kelompok, para mahasiswa-mahasiswi saya tugaskan untuk mencari satu brand, boleh produk atau jasa, UKM (usaha kecil dan menengah) yang menurut mereka perlu dibantu untuk meningkatkan awareness dan strategi komunikasi lewat digital media.

Mereka sudah belajar banyak tentang pemasaran dan komunikasi digital di kelas, dan lewat kehidupan mereka yang sangat dekat dengan dunia digital dan gadget, dan idealisme-kreativitas mereka, sebuah kontribusi dapat mereka berikan masing-masing ke brand yang akan mereka bantu.

Syarat mereka memilih brand untuk dibantu antara lain: brand UKM (produk dan jasa), target audience/market kaum millennials, dan yang paling penting mau direpoti, atau memberikan ijin untuk mereka masuk, melakukan observasi, menemukan permasalahan di komunikasi dan pemasaran di media digitalnya, dan berusaha menciptakan story, big ideas, yang kemudian dijabarkan dalam sebuah strategi digital campaign . Pengumuman ini saya sampaikan sebelum masa Ujian Tengah Semester (UTS), dan sontak membuat mereka kaget 😀

“Mas, soal UTS kali, kok UAS sih?”, tanya salah satu dari mereka. “Nggak, saya nggak salah ketik kok, ini soal UAS kalian”, balas saya. Dan terlihatlah muka-muka bingung mereka, dan dilanjutkan dengan diskusi pendek antar anggota kelompok. Satu minggu sesudahnya, mereka masing-masing dari dua kelas, Senin dan Selasa, harus bisa mempresentasikan brand apa yang akan mereka bantu. Berikut momen-momen presentasi awal UAS mereka, dibagi menjadi kelas Senin dan kelas Selasa:

KELAS SENIN

Trapezium x Eatever

Eatever ini adalah brand layanan katering yang punya social value, dimana para pemasaknya adalah ibu-ibu rumah tangga yang diberdayakan sedemikian rupa sehingga punya penghasilan, dari keahlian dan kegiatan memasaknya. Tim Trapezium tertarik mengangkat brand layanan katering ini karena selain punya nilai bisnis, brand ini juga ada kontribusi ke sekitar lewat aktivitasnya.

Batas Pagi x Priva Meatshop

Priva Meatshop ini adalah sebuah gerai daging di pasar modern BSD City, yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggal dan kampus masing-masing anggotatim Batas Pagi. Namun jauhnya jarak, dan ditengah kesibukan perkuliahan masing-masing mahasiswa-mahasiswi dapat berkunjung hampir setiap weekend, bertemu dan berdiskusi langsung dengan sang pemilik, yang ternyata masih sangat muda dan open minded.

Boemi x Kopi Setumbu

Jika jarak BSD City dan Depok sudah anda anggap cukup jauh, pikir sekali lagi. Tim Boemi ini harus melaju ke Kota Bandung, lebih tepatnya ke kampus ITB, karena brand yang ingin mereka garap adalah produsen kopi susu Kopi Setumbu. Brand ini juga luar biasa, karena pengelolanya adalah para mahasiswa-mahasiswi ITB sendiri, yang sudah mulai membangun bisnis semenjak mereka duduk di bangku kuliah, menitipkan minuman Es Kopi Susu Setumbu dan Es Soklat Setumbu siap minum dalam cooler box di Kantin Parkiran GKU Timur, kampus ITB.

Well Done x Smoutebollen Dessert

Tim Well Done ini berisi 7 orang perempuan, yang sangat suka dengan camilan enak sebagai reward atas kerja keras mereka mengerjakan segala tugas yang diberikan oleh dosennya, dan sangat tepat jika mereka pilih Smoutebollen Dessert. Cukup unik, dessert yang pasti digemari oleh sweet tooth person ini berisi coklat padat dengan aneka filling di dalamnya, tidak perlu dibekukan. Untuk mengkonsumsinya tinggal dipanaskan di microwave, atau dimasukkan dengan posisi terbalik (tutup jar diatas) ke air mendidih, untuk memanaskan lapisan coklat diatasnya hingga cair. Setelah cokelat turun ke bawah, membanjiri segala filling yang ada (fruit loops, rice crispy, dll), aduk rata, dan nikmati!

Salah satu varian dessert in a jar dari Smoutebollen Dessert
Tiap Minggu Ganti x Finch Jkt

Finch adalah clothing brand milik salah satu mahasiswa Komunikasi-FISIP UI juga, rekan dari tim Tiap Minggu Ganti (TMG), yang mengusung unsur retro lewat kemeja-kemeja lengan pendek dengan corak garis-garis, yang seolah membawa kenangan masa lalu, trend mode di tahun 1980/1990-an, yang banyak digandrungi anak-anak muda sekarang. Coba cari profilnya di Instagram untuk cari tahu lebih banyak tentang kiprah tim TMG ini dan konten-konten kreatif yang dibuat mereka untuk Finch Jkt.

KELAS SELASA

Bashic x Ffandi.Co

Siapa sangka lewat tangan dingin tim Bashic, Ffandi.co, brand hijab lukis yang modis dapat lebih dikenal di kalangan mahasiswi, target audience-nya, lewat strategi komunikasi digital di media sosial, yang mereka fokuskan di Instagram. Mereka membantu merapikan feed dan stories dari akun Instagram Ffandi.co, termasuk menyediakan konten foto yang mengambil anggota tim sebagai model-nya. Sungguh kreatif!

Intuit vs Isengopi

Siapa yang tidak suka kopi? Hmmm.. Saya pun yang sudah terkena ‘gastritis kambuhan’ pun sepertinya tidak bisa lepas dari minuman mood booster yang satu ini. Dan brand warung kopi pun tak lepas dari perhatian mahasiswa-mahasiswi yang tergabung di tim Intuit ini.  yang memenangkan role play pitching games di kelas hari Selasa ini pun mendatangi Isengopi, sebuah kedai kopi unik di daerah Srengseng. Memang, sudah seharusnya kedai kopi third wave menjadikan kopi sebagai fokus utama. Memberikan experience untuk pengunjung melihat bagaimana kopi diolah, di-roast hingga di-grind, menimbulkan suara khas mesin kopi yang somehow menjadi musik yang merdu buat penikmat kopi yang ingin memanjakan inderanya. Bukan saja indera pengecap, namun juga indera penglihatan, penciuman, dan pendengaran. Yang terakhir ini yang paling menarik, yang melahirkan kedai kopi fourth wave!

Boemi x Llighswitch

K-pop! Buat saya yang tidak banyak tahu tentang budaya pop Korea (halju), jadi semakin tahu lewat presentasi-presentasi dari tim Boemi ini. Brand Llighswitch, yang namanya diambil dari sebuah video viral musisi pop Korea yang joget sambil memainkan saklar lampu (lightswitch) ini, menyediakan merchandise a la boy band atau girl band Korea yang digandrungi penggemarnya di Indonesia. Kesan ‘alay’ dari non-fans K-pop memang kerap menghampiri, namun brand ini berusaha menampilkan dirinya dalam kelas tertentu.

Secret x Ostach Bamboo Clothing

Lewat presentasi tim Secret, saya baru tahu kalau serat bambu bisa dipakai untuk pakaian, yang konon katanya lebih adem jika dipakai, mengurangi bau badan dari keringat setelah beraktivitas seharian. Dan karena cukup unik, dan punya kedekatan tersendiri dengan sang pemilik brand, tim Secret mengajukan diri untuk membantu pengelolaan brand Ostach Bamboo Clothing di media digital. Dan tim ini belajar banyak dari pengalaman menjadi agency untuk brand, karena tidak semua ide-ide yang dianggap keren dan cocok dengan brand, akan diterima begitu saja oleh sang pemilik brand.

Satoe x Moi.by Moeira

Brand hijab kedua yang dipakai sebagai project UAS ini adalah Moi.by Moeira yang kebetulan dimiliki oleh salah satu dari anggota tim Boemi. Kerelaan sang owner untuk mengijinkan strategi komunikasi brand-nya di media digital diulik oleh para mahasiswa-mahasiswi yang bergabung di tim Boemi ini perlu diapresiasi. Demikian juga dengan effort yang dilakukan oleh tim Boemi sendiri.

PROGRESS REPORT SESSIONS

Progress report session, on stage: Satoe x Moi.by Moeira
Progress report session, on stage: Secret x Ostach Bamboo Clothing

Selama proses project UAS ini berlangsung (hingga 18 Desember 2018), kesepuluh kelompok dari dua kelas wajib mempresentasikan progress yang mereka buat secara rutin per minggunya. Dengan harapan mereka semuanya terus fokus melanjutkan pekerjaan mereka membantu mengelola strategi komunikasi di media digital untuk masing-masing brand yang dipegang. Dan lewat project ini juga, mereka melanjutkan proses learning by doing yang sudah dijalankan dari awal perkuliahan. Merasakan ide-ide pengembangan komunikasi dan pemasaran yang diterima oleh pemilik dan pengelola brand, sehingga membuat mereka gembira. Merasakan kekecewaan karena ide-ide mereka ditolak karena beberapa hal. Dari pengalaman ini, mereka belajar lewat merasakan apa yang dirasakan oleh digital atau advertising agency diluar sana, yang harus terus berusaha menemukan ide-ide untuk pengembangan brand, baik dari sisi komunikasi, pemasaran, dan banyak hal lainnya.

Tim Secret dan daftar permasalahan yang dihadapi

Salah satu kelompok yang mengalami hambatan paling besar adalah tim Secret, dari kelas Hari Selasa. Dari beberapa sesi progress report, mereka sudah menunjukkan usaha-usaha yang mereka lakukan untuk clothing brand dari serat bambu tersebut, termasuk photo sessions dan video creation, namun selalu mengalami penolakan. Pesan saya buat mereka, jangan berkecil hati. Saya paham apa yang mereka alami, kekecewaan yang dirasakan saat konten-konten yang sudah dibuat tidak dapat diunggah sebagai konten karena sang pemilik brand sudah punya rencana tersendiri di akun Instagram-nya, yang memang tidak harus mengikuti kemauan dari mereka sebagai digital agency, selaku pihak yang bisa memberikan second or third opinion, memberikan sajian trend dan bench mark akan apa yang terjadi di luar sana, terlebih di dunia dimana target audience berada, kaum millennials.

Finally, UJIAN AKHIR SEMESTER!

Final presentation of FINCH JKT – clothing company
Final presentation of SMOUTEBOLLEN – dessert in a jar
Final presentation of PRIVA – meat shop in BSD City
Final presentation of KOPI SETUMBU – es kopi di kampus ITB
Final presentation of EATEVER – socialpreneur catering service

Lega rasanya! Kesepuluh tim tinggal mempresentasikan apa yang sudah mereka buat selama 6 minggu terakhir di brand UKM-nya masing-masing, sekaligus menjadi sesi penutup untuk perkuliahan Pemasaran Digital Terpadu di semester ganjil 2018. Dan buat saya, mudah untuk menilai pekerjaan mereka, baik secara tim atau secara individu. Saya cukup hafal dengan mereka, dan keaktifan mereka masing-masing di kelas, baik saat saya menyajikan materi, maupun saat diskusi-presentasi kelompok. Hasil yang diharapkan dari praktikum UAS ini adalah tentang memberikan dampak terhadap brand yang telah memberikan kepercayaan ke tim mahasiswa ini. Dampak yang diharapkan, yang mereka masing-masing set sebagai KPI adalah: pertumbuhan jumlah followers-fans, pertumbuhan engagement rate, dan jumlah fanbase di aplikasi/platform lain, misalnya LINE @ atau LINE Official yang dimiliki oleh brand. Namun semua itu juga harus dicapai dengan usaha. Tim mahasiswa-mahasiswi harus terjun langsung merancang konten (foto/image dan caption, plus hashtag), merencanakan kapan akan diunggah, membalas komentar yang masuk, dan mengamati perkembangan akun-akun media sosialnya.

Satu lagi, sudah jadi kebiasaan dari saya untuk meminta feedback dari mereka, apa-apa saja yang bisa dikembangkan lagi dari sistem perkuliahan ini, sehingga adik-adik kelas mereka yang semester ganjil tahun 2019, saat mereka duduk di semester 5, bisa mendapatkan perkuliahan Pemasaran Digital Terpadu yang materinya lebih aplikatif dan lebih meaningful. Hampir di setiap sesi quiz (saya adakan 4 sesi, semuanya take home quiz), saya selipkan pertanyaan yang mengundang feedback dari mereka. Antara lain: materi apa yang menarik dan akan berguna untuk mereka dan materi mana yang tidak, materi apa yang seharusnya ada-diajarkan namun belum muncul di semester ini, company visit ke perusahaan apa (korporasi FMCG, media, digital-advertising agency, atau e-commerce), dan dosen-dosen tamu dari industri apa yang harus diundang untuk berbagi. Alhasil, sistem perkuliahan di kelas saya semester ganjil tahun depan, sudah dibantu rancangannya oleh kakak-kakak kelasnya. Saya tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dan butuhkan dalam belajar sesuatu hal yang sudah sangat dekat dengan mereka, Pemasaran Digital Terpadu, sehingga sebagai expected output-nya, para mahasiswa mendapatkan extra value, bukan saja dari slide-slide presentasi saya, namun juga dari proses learning by doing yang mereka lakukan.

And as a closing, this is us!

Harwindra Yoga x Intuit
Harwindra Yoga x Bashic
Harwindra Yoga x Boemi
Harwindra Yoga x Satoe
Harwindra Yoga x Secret

This  semester is officially closed. Thank you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s