Say Goodbye to Path

Saya pernah buat unggahan tentang Path, jejaring sosial dengan pengguna aktif terbanyak di Indonesia (kurang lebih 5 juta pengguna), dengan total pengguna dilaporkan pernah mencapai 23 juta pengguna secara global, yang sempat membuat keluarga Bakrie menanamkan modal sebesar Rp 304 Miliar ke pengembangan aplikasi ini. Path, saya anggap sama dengan media sosial yang lain, yaitu kita sebagai center of attention. Hidup kita, keseharian kita, pencapaian-pencapaian kita (kalau ada), dan masih banyak lagi sebagai pusat atraksi. Namun bedanya, kita hanya punya 50 orang (pada awalnya), yang lalu berkembang menjadi 150 orang (masih bisa diterima), hingga berkembang menjadi 500 orang di jejaring kita.

Well, saat punya hanya 50 orang, kita tahu persis siapa-siapa saja yang menjadi teman kita. Yang setiap hari melihat unggahan-unggahan kita, curahan hati kita, keluhan-keluhan kita. Sangat intim. Jadi, saat itu saya senang sekali saat ada teman yang add akun Path saya, dan banyak yang bertahan sampai saat ini. Karena saya dianggap teman dekat, yang mungkin dipercaya untuk melihat unggahan mereka yang bersifat sangat personal. Sampai akhirnya Path mengumumkan diri untuk tutup di bulan September 2018, dan akan fully terminated di tanggal 18 Oktober 2018.

The end of Path. 

Goodbye Path!

Saya masih ingat dimana setiap buka Path, saya sampai hampir capai scrolling layar smartphone atas ke bawah, kemudian refresh dan scrolling lagi kalau-kalau ada teman yang mengunggah hal baru. Saya juga masih ingat saat unggahan kita dilihat sampai hampir 140-an teman, hampir mendekati 149 orang, jumlah teman dekat saya di Path. Yang memang saya batasi sejumlah itu, bahkan meskipun Path melebarkan jejaring pertemanan penggunanya hingga 499 teman.

Sumber: tirto.id (infografis)

Kenapa pertemanan di Path harus dibatasi di angka 500, 150, dan 50?

“Kami memilih 50 berdasarkan penelitian Profesor Oxford Evolusi Psikologi, Robin Dunbar, yang telah menyatakan bahwa 150 adalah jumlah maksimum hubungan sosial yang dapat dipertahankan oleh otak manusia. Jadi, 5 orang kira-kira kita anggap sebagai relasi terdekat dan 20 adalah jumlah orang yang sudah terbiasa berhubungan dengan kita. 50 adalah batasan maksimum dari jaringan yang kita miliki. Mereka adalah orang-orang yang kita percaya dan yang kita anggap sebagai orang yang paling penting dan berharga dalam hidup kita.” (Dave Morin dan Shawn Fanning, co-founder Path)

Lebih lengkapnya, berikut pernyataan resmi Path di blog mereka:

“Here at Path, our goal is to help you develop a high quality network to connect more deeply and share personal moments with your closest friends and family. We are inspired by Oxford University Professor Robin Dunbar, whose research delves deeply into the number of trusted relationships humans can maintain throughout life.”

“We tend to have 5 best friends, 15 good friends, 50 close friends and family, and 150 total friends. At Path, we’re building tools for you to share with the people who matter most in your life. Our intent is to nurture quality relationships to offer you the comfort to share all your personal moments.”

Unggahan saya dilihat banyak orang (dan kita tahu siapa-siapa saja yang melihatnya), cukup membuat saya senang. Karena teman-teman terdekat saya tahu apa yang sedang saya lakukan, atau apa yang sedang saya rasakan dan demikian sebaliknya. Saat saya sedang gembira saat Liverpool FC menang lawan siapapun di liga apapun. Saat saya senang saat ada di sekitar keluarga dan teman-teman saya, merayakan ulang tahun, merayakan ulang tahun bekerja di perusahaan yang sudah ‘mengisi perut’ saya selama 14 tahun terakhir ini. Kedekatan dan hubungan sosial yang ter-capture lewat unggahan-unggahan saya.  Tentu saja, kita pun senang saat teman-teman kita memberikan ekspresi atas unggahan kita; smile, gasp, love, sad, dan smile.

My last Path post (18/9/2018)

Path sempat menjadi akun media sosial utama saya, bahkan saat Instagram Stories sedang naik pesat. Facebook? No, saya hanya pakai Facebook hanya untuk cross posting unggahan blog, dan melihat-lihat saja (walking-strolling) unggahan teman-teman Facebook saya yang saat tulisan ini saya buat, sedang sibuk mengomentari atau sharing post tentang pilihan politik mereka. Bebas sih, akun-akun mereka juga kok! Dikit-dikit posting di Path, dan saat itu bukan pengalaman atau keseharian saya yang saya bagikan, malahan postingan-postingan menarik yang saya temukan di (kebanyakan) Twitter, yang saya unggah ulang di Path. Kenapa? Karena bagus, unggahan tersebut punya nilai shareworthy. Yang kurang lebih berarti: saya suka dengan unggahan atau konten ini, dan saya berpikir kalau teman-teman yang ada di jejaring saya bakal suka juga. At least, mereka akan klik emoticon love atau smile, atau di-rePath nantinya. Alay banget ya? 😀

Goodbye, Path!

Well, thank you, Path! Sudah menjadi bagian dari berbagi cerita hidup saya selama beberapa tahun terakhir ini. Wadah ke-alay-an saya, wadah gembira dan sedihnya saya.

Referensi:

  1. Nasib Path dan Media Sosial yang Sekarat (2018), Tirto.id.
  2. Beredar Kabar akan Ditutup, Path Masih Bisa Digunakan (2018), Tirto.id.
  3. New Social Network Path = iPhone + Instagram + Facebook – 499,999,950 Friends (2010), Forbes.com.
  4. In Indonesia, Path Still Hangs On-But the mobile-first social network has already been supplanted by Instagram (2010), E-marketer.com.
  5. Media Sosial Path Tutup, Bagaimana Nasib Investasi Rp 304 miliar Bakrie Telecom? (2018), Nextren.grid.id
  6. Why can I only share with 150 people? (2012), Path Official Blog.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s