Belitung Trip. The First Ever (Bagian 5-Pulau Lengkuas Dan Pantai Tanjung Tinggi-Final)

If you see my previous post, we have some islands to enjoy that day!Β It’s all like our private islands!

Pulau Pasir Belitung

Hanya kami saja rombongan dari Belitung yang datang ke Pulau Pasir saat itu. Luar biasa indah, tak habis-habisnya kami dibuat terpesona oleh kecantikan alam Belitung ini. Dari Pulau Pasir, sudah terlihat jelas Pulau Lengkuas, pulau dengan mercu suarnya yang iconic, sebagai tujuan kami berikutnya. Tapi sebelum mendarat di Pulau Lengkuas, kami berhenti sejenak di perairan sedalam 2-3 meter yang jernih luar biasa. Ikan-ikan berukuran kecil hingga berukuran sedang tempak berkerumun di bawah kapal motor kami. Dan mas Yordan dengan sigap mempersiapkan dan memperagakan alat snorkeling dan life vest berwarna oranye cerah untuk kami pakai. Ini adalah pengalaman saya mengenakan perlengkapan tersebut untuk snorkeling ini, setelah sebelumnya saya lakukan di perairan lepas pantai Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

Snorkeling di Pulau Lengkuas, pukul 10.06 WIB

Lokasi snorkeling-Pulau Lengkuas
Lokasi snorkeling-Pulau Lengkuas
Lokasi snorkeling-Pulau Lengkuas

Ikan-ikan di bawah kapal motor seolah menyambut kedatangan kami, sama sekali mereka tidak terlihat takut atau melarikan diri saat ada orang mendekat. Saya ingat masih ada bekal roti, dan coba kami ambil sedikit demi sedikit untuk ikan-ikan tersebut. Dan ternyata roti yang kami lemparkan ke air diserbu oleh ikan-ikan berwarna loreng seperti zebra, dan malah mengundang ikan-ikan jenis lain berkumpul It’s like a fish circus. Istri saya nampak kegirangan bisa berenang bersama ikan-ikan tersebut, meski sesekali tangan dan kakinya ikut tergigit ikan-ikan kecil itu.

Lokasi snorkeling-Pulau Lengkuas
Lokasi snorkeling-Pulau Lengkuas
Lokasi snorkeling-Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas, pukul 10.43 WIB

Namun hari itu cuaca kepulauan di Belitung agak labil. Siang hari yang cerah dan panas terik seketika menjadi sangat berangin, mendung mendadak melaju ke arah kami akibat tiupan angin laut yang kami rasa kuat hari itu. Dan mendadak… Hujan! Rencana untuk naik ke lantai 3 mercusuar pun batal, diganti dengan acara meneduh bersama di area cafetaria, yang ada di samping kompleks mercusuar.

Mercusuar di Pulau Lengkuas, Belitung (masih sangat terjaga kelestariannya)
Mercusuar di Pulau Lengkuas, Belitung (mendung tebal mendadak muncul dan sekejap turun hujan lebat)

Cuaca ini tidak dapat kami prediksi sebelumnya, namun kami lebih siap dengan perubahan cuaca yang sedikit ekstrim seperti ini, mengingat 1 hari sebelumnya di kami pun mengalami hal serupa. Kami pesan kelapa muda untuk menyegarkan tenggorokan kami, tanpa es tentunya, meskipun cuaca sedang mendung dan berubah mendadak menjadi hujan deras. Oh iya, 1 butir kelapa muda utuh di Pulau Lengkuas dihargai Rp 25.000,- ya! Jangan kaget kalau harganya sedikit lebih mahal. πŸ™‚

Kurang lebih meneduh selama 30 menit di pulau ini, sebelum Pak Yuli dan Mas Yordan muncul mengajak kami untuk ‘nekat’ menerobos hujan yang sudah mulai reda, naik ke kapal motor kembali, menuju Pulau Kepayang untuk makan siang dan sekaligus mengejar waktu. Karena waktu kami terbatas, harus mengejar penerbangan Sriwijaya Air-SJ 053 kembali ke Jakarta pukul 16.00 WIB. Sebenarnya kasihan juga melihat kedua orang tua/mertua saya dan istri hujan-hujanan lagi dengan terpaan angin laut yang lumayan kencang. Namun seperti biasa, bapak mertua saya, member tour group yang paling senior (sudah 80 tahun, bos!), bisa sangat enjoy dengan kondisi yang jauh dari ideal ini. Dibawa asik aja, katanya. “Kan kita lagi piknik, kalau gak gini gak seru kan?”, ujarnya. Rencananya kami akan makan siang di pulau tersebut, dengan ‘ransum’ atau bekal seafood mentah yang sudah dibawa oleh Pak Yuli dari rumah. Dan yang dilakukan Pak Yuli ini pasti bisa memangkas biaya sekian persen, karena bahan mentah dibawa dan diserahkan ke ‘chef’ di Kepayang Resto untuk diolah.

Pulau Kepayang, pukul 12.07 WIB.Β 

Makan siang! Setelah berganti pakaian kering, menikmati kopi dan teh manis free flow-refill dan menunggu sebentar, pramusaji Kepayang Resto pun datang menyajikan 6 macam masakan seafood yang terdiri atas; 1 ekor ikan kakatua diolah 2 macam-dibakar bumbu dan dibakar kecap, sate udang bakar, cumi goreng tepung, cah kangkung, kepiting asam manis, dan nasi putih. Istimewa! Semula saya ragu apakah kami berempat bisa menyikat habis kelima menu tersebut. Dan seperti biasa juga, menghabiskan makanan lezat dalam sekejap di saat lapar menjadi hal yang biasa πŸ˜€

Saya ingat saat selesai makan dan ibu-ibu berjilbab yang ternyata chef di Kepayang Resto ini datang membereskan meja dari piring-piring kotor dan sisa makanan kami. Saya pun menghampiri beliau dan bertanya, “Ibu yang masak semua ini?” Beliau tidak menjawab, hanya mengangguk sambil tersenyum. “Masakannya enak banget bu! Ini sampai habis tak bersisa”, puji saya disambut ucapan terima kasih beliau. Dan saat itu, saya lihat tak henti-hentinya senyum terlihat di wajah si ibu pertanda hatinya senang, karena hasil kerja kerasnya dihargai.

Pulau Kepayang, Belitung (masih sedikit gerimis)
Pulau Kepayang, Belitung (muka-muka kekenyangan)

Di sela gerimis, kami beranjak kembali menaiki perahu motor dan kembali ke Pelabuhan-Pantai Tanjung Kelayang. Meskipun masih agak gerimis, namun langit sudah mulai terang, dan cuaca kembali cerah saat kami sampai di Pulau Batu Garuda. Batu Garuda ini adalah batu granit besar yang tertata secara alami di salah satu pulau tak berpenghuni tepat di sebelah Pulau Kelayang (yang belum sempat kami kunjungi, kabarnya ada wisata Goa Kelayang disana). Karena tidak turun, nahkoda perahu motor pun berhenti sejenak, memberi kesempatan kami untuk berfoto dari atas perahu dengan latar belakang Batu Garuda tersebut.

Pulau Batu Garuda, Belitung (susunan batu granit yang membentuk kepala burung garuda)
Pulau Batu Garuda, Belitung

Pantai Tanjung Tinggi, pukul 13.56 WIB

Berlawanan dari arah kami datang tadi, mobil kami beranjak dari Pantai Tanjung Kelayang menuju Pantai Tanjung Tinggi, lokasi eksotis selanjutnya, yang ada di bagian utara Pulau Belitung. Kami pun berpamitan dengan Pak Yuliyadi sekaligus mengucapkan terima kasih atas keramahan dan pelayanan yang ia berikan selama kami ada di Pulau Belitung ini. It was such an excellent service! Will come and pick your service again for our next trip for sure, pak!

Pantai Laskar Pelangi, Belitung

Kurang lebih 20 menit berkendara, sampai juga kami di Pantai Laskar Pelangi ini. Dinamakan demikian, karena di pantai ini tahun 2008 diambil beberapa adegan film Laskar Pelangi. Kami sungguh terpesona lagi-lagi dengan deretan batu granit hitam raksasa yang tertata di sepanjang gugus pantai, sampai jauh dari pantai pun masih kami lihat batu-batu besar tersebut. Dan decak kagum itupun masih berlanjut saat kami melangkah masuk ke dalam area pantai lebih jauh. Hingga kami bisa melihat garis pantai yang berpasir putih dan luasnya laut bergradasi warna hijau-tosca-biru muda-biru tua cantik. Dan decak kagum pun berganti dengan ucapan syukur yang tak henti-henti.

Pantai Laskar Pelangi, Belitung
Pantai Laskar Pelangi, Belitung
Pantai Laskar Pelangi, Belitung

Dan Pantai Tanjung Tinggi alias Pantai Laskar Pelangi ini pun jadi lokasi eksotis kami yang terakhir selama perjalanan #BelitungTrip kami. Kagum? Pasti! Ingin kembali lagi? Pasti!

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s