Sharing Economy dan Konsumen Masa Kini

Kita sudah sering mendengar istilah sharing economy (entah lebih nyaman di-Bahasa-kan menjadi ekonomi berbagi atau ekonomi bersama), dan juga istilah digital economy, yang saya artikan sebagai ekonomi berbasis digital, yang sanggup menghubungkan banyak orang dengan motif ekonomi yang berbeda-beda di berbagai tempat secara bersamaan, tanpa batasan ruang dan waktu. Dengan saling terhubung nya masing-masing pihak dalam lingkup digital economy ini, di dapatlah jejak-jejak digital yang sangat banyak (big data). Jejak digital ini apabila dikumpulkan dan dipilih dan disaring sedemikian rupa, menjadi insights yang sangat kaya, untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan selanjutnya, karena dari jejak digital ini dapat dilihat pola perilaku konsumen, cara dan langkah-langkah yang mereka ambil saat membuat keputusan, bagaimana perilaku dan aktivitas mereka di media sosial, dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana hubungan antara digital economy dan sharing economy?

Kalau saya melihatnya demikian; titik berat digital economy ada pada tools (digital/electronic/information technology) yang saling menghubungkan satu pihak dengan pihak yang lain dalam ekosistem ekonomi. Dan dari literatur yang pernah saya baca, digital economy dinyatakan sebagai sistem perekonomian yang berbasis teknologi, termasuk di dalamnya jejaring komunikasi digital (internet, intranet, dan value added networks), komputer, piranti lunak, dan perangkat teknologi informasi lainnya. Digital economy juga disebut dengan internet economy, new economy, atau web economy (Brynolfsson and Kahin, 2001 and Slywotzky and Morrison, 2001).

Sharing economy adalah pergerakan yang berkembang dari para pemimpin bisnis yang diklaim merupakan alternatif baru dari model bisnis kapitalis tradisional. Dan sharing economy itu sendiri juga didefinisikan sebagai sekelompok perusahaan yang berbagi hal-hal berikut ini:

  1. Perusahaan komersial yang model bisnis nya menjadi perantara pertukaran aset dengan pemakaian rendah lewat platform P2P (peer to peer).
  2. Perusahaan komersial tersebut adalah perusahaan berbasis teknologi yang menempatkan pertukaran ini di dalam website ataupun aplikasi mobile.
  3. Perusahaan mempekerjakan pekerja kontrak independen, bukan karyawan.
  4. Perusahaan-perusahaan ini mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai bagian dari sharing economy dan karenanya punya satu pemikiran dengan ide sharing economy

Sharing economy muncul sebagai suatu konsep di pertengahan tahun 2000, bersamaan dengan istilah-istilah seperti P2P economy, collaborative consumption, dan trust economy. Dan menurut Google Trend, sharing economy sebagai suatu pemikiran mulai dikenal banyak orang di musim panas tahun 2013, diiringi dengan bermunculan nya perusahaan-perusahaan berbasis sharing economy, seperti: AirBnB, RelayRides, TaskRabbit, dan Lyft di Amerika Serikat, dan perusahaan-perusahaan serupa seperti GO-JEK (e-hailing), Uangteman (peer to peer lending), dan masih banyak lagi contohnya di Indonesia.

Ride hailing companies di Indonesia (sumber: tirto.id)

Sehingga dari kedua referensi atas sharing economy dan digital economy tersebut, perbedaan antara keduanya ada pada titik beratnya masing-masing. Sharing economy ada pada pembagian manfaat antar sesama penggunanya, sedangkan digital economy lebih ke bagaimana teknologi dapat menghubungkan banyak pihak dengan motif ekonomi yang berbeda-beda, termasuk di dalamnya proses penyampaian pesan (komunikasi) yang melibatkan teknologi informasi.

Dan salah satu poin bahasan dari sharing economy ini adalah bagaimana ide ini sanggup menciptakan gerakan industri baru, yang dipercaya bukanlah perpanjangan dari Revolusi Industri 3.0 (mengedepankan perangkat elektronik dan teknologi informasi untuk otomatisasi produksi), melainkan melahirkan Revolusi Industri 4.0. Revolusi industri baru ini didukung oleh kecerdasan buatan (AI-artificial intelligence), perkembangan robotika, IOT-internet of things, realitas maya atau VR-virtual reality, dan mesin cetak 3 dimensi. Secara sederhana, perubahan yang digadang-gadang akan menjadi Revolusi Industri 4.0 ini seolah-olah mengembalikan kekuatan yang sekian lama ada di tangan korporasi, kembali ke tangan konsumen.

Well, konsumen yang sudah semakin kuat sejak mereka saling terkoneksi dengan media sosial dan digital platform lainnya, kini semakin kuat dengan dan memperkuat sharing economy ini. Di era Revolusi Industri 3.0, brand tidak lagi menjadi kekuatan utama dalam komunikasi merek, namun kekuatan ada di konsumen. Pesan yang sampai ke konsumen tidak akan ditelan mentah-mentah, melainkan konsumen menjalankan peran sebagai pemberi verifikasi. Proses komunikasi yang berjalan dua arah. Hal ini dilakukan dengan konsumen yang mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang brand dan pesan yang disampaikan (tentang peluncuran produk baru, misalnya) sebelum konsumen membelinya di gerai minimarket terdekat, atau langsung di toko online yang dikelola oleh brand tersebut, atau di lapak-lapak e-commerce dimana brand tersebut menyediakan produk barunya untuk dipesan secara online, untuk dikirimkan di hari yang sama oleh logistic company, atau lewat layanan antar dari ride hailing company lewat mobile apps mereka. This is super awesome!

Pengalaman konsumen dalam berinteraksi dengan brand tersebut sejak awal hingga akhir (tahap menerima stimulus hingga konsumsi) akan dibagikan dengan sukarela ke jejaring nya, terlepas ia puas atau tidak dengan pengalamannya berinteraksi dengan brand dan produknya tersebut. Hal ini dikenal dengan konsep ZMOT-zero moment of truth. Dan disini saya lihat, semuanya menjadi lebih dan sangat consumer-centric.

Konsumen Masa Kini = Konsumen Digital (sumber: smartercx.com)

Cara saya melihat sharing economy ini adalah konsumen yang memegang peranan paling penting, berada di tengah-tengah elemen-elemen yang lainnya, yang bisa jadi saling terhubung satu sama lainnya;  supplier (fast moving consumer goods company dan industri lainnya), retailer (toko modern dan toko tradisional), e-commerce company (marketplace, classified, dan lain-lain) fintech company (termasuk di dalamnya peer to peer lending, payment apps/gateway, dan sebagainya) ride-hailing companies (GO-JEK, GRAB, Uber), startup companies (skala besar sampai kecil), logistic companies, express delivery companies (same day delivery, express delivery), dan digital platformmedia sosial. Masing-masing dari elemen-elemen tadi saling berhubungan satu sama lain, untuk tumbuh lebih besar bersama dalam melayani dan memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen masa kini yang punya karakteristik; saling terhubung satu sama lain lewat perangkat teknologi informasi, digital literate (sangat dekat dengan internet), aktif berbagi konten di media sosial, mulai atau sudah terbiasa dengan belanja online, dan ingin serba cepat dalam mendapatkan apa yang diinginkan nya.

Contoh kolaborasi FMCG company dengan marketplace company (sumber: Campina Ice Cream)

Contoh hubungan antar elemen dalam fokusnya ke konsumen:

  1. Konsumen- supplier (contoh: FMCG company)-ride hailing-konsumen-media sosial:
    • FMCG company  menyediakan produknya di aplikasi ride hailing yang memungkinkan konsumen memesan langsung di mobile apps-nya lewat smartphone-nya.
    • Konsumen bisa langsung memesan produk makanan dan minuman yang disediakan untuk dapat dikirimkan langsung ke alamat yang diinginkan di hari yang sama.
    • Ride hailing company akan melayani pesanan konsumen, mengambil dan membayarkan dahulu pesanan, untuk kemudian dikirimkan langsung ke konsumen dalam waktu yang diinginkan.
    • Konsumen menerima pesanan, lalu memberikan rating atas layanan petugas/driver dari ride hailing company tersebut.
    • Konsumen membagikan pengalamannya berinteraksi dengan brand, layanan ride hailing company, dan produk yang dikonsumsi lewat media sosialnya.
  2. Konsumen-supplier (contoh: FMCG company)-e-commerce-ride hailing-konsumen-media sosial:
    • FMCG company membuka toko online di marketplace/e-commerce company.
    • Konsumen yang memesan produk yang disediakan di marketplace meminta untuk dikirim menggunakan opsi pengiriman via layanan ride hailing company, dimana ride hailing company sudah bekerjasama terlebih dahulu dengan e-commerce company.
    • Konsumen punya pilihan ambil opsi pengiriman yang mana; apakah lewat ride hailing company, logistic/express delivery company, atau lewat layanan antar barang dedicated milik e-commerce company sendiri (misalnya: LEX-Lazada Express)
    • Pilihan mau dikirim lewat layanan antar barang yang mana sebagaimana di ilustrasikan diatas  akan sangat berpengaruh pada biaya pengiriman dan jangka waktu pengirimannya (hari-H, H+1, dan seterusnya)
    • Setelah konsumen menerima barang yang dipesan, ia bisa memberi rating pada layanan toko online dari FMCG company tersebut, sebagai informasi untuk calon konsumen lainnya.
    • Apabila konsumen memilih barang yang ia pesan dikirim via layanan ride hailing company, ia juga diharuskan memberikan rating terhadap pelayanan yang diberikan oleh driver-nya.
    • Konsumen pun dapat membagikan pengalamannya berinteraksi dengan brand lewat produknya yang ia beli lewat e-commerce/marketplace yang ia pilih, demikian juga dengan pengalaman dengan layanan logistic/express delivery atau ride hailing yang ia percayai untuk mengirimkan barang pesanan nya.
  3. Konsumen-supplier (FMCG company dengan own e-commerce website)-ride hailing company-konsumen-media sosial:
    • Konsumen memesan produk dari suatu brand langsung lewat e-commerce site yang dikelola oleh brand.
    • Pilihan ini diambil salah satunya karena ia ingin mengalami interaksi dengan brand tersebut secara sepenuhnya; dari saat ia terpapar pesan dari brand (lewat iklan di media sosial, misalnya), tertarik untuk mencari tahu tentang produk yang dimaksud lewat konten yang disediakan oleh brand tersebut seputar produk yang dimaksud.
    • Aktivitas pencarian informasi yang berujung ke brand engagement ini akan mengarah pada terciptanya sales leads, yaitu aktivitas klik-pencarian yang dilakukan oleh calon konsumen, akan berakhir di halaman produk di e-commerce website yang dikelola sendiri oleh brand tersebut.
    • Sesudah proses pemesanan-pembayaran selesai dilakukan, brand pengelola e-commerce website yang sudah bekerjasama dengan ride hailing company akan mendelegasikan pengiriman produk pesanan konsumen tersebut secara on demand ke ride hailing company, lewat layanan express delivery (misalnya) agar pesanan dapat sampai ke tangan pelanggan dalam waktu kurang dari satu jam.
    • Semua bermuara pada apa yang diinginkan konsumen. Tentang bagaimana ia ingin mengkonsumsi pesan dari brand, melakukan engagement dengan brand, melakukan transaksi di  e-commerce website yang dikelola oleh brand sendiri maupun lewat marketplace (karena pertimbangan harga, misalnya), memilih layanan pengiriman barang yang paling aman dan nyaman menurut keinginan konsumen sendiri, hingga memilih platform media sosial mana untuk berbagi pengalamannya.
    • Kepuasan atau ketidakpuasan tetap akan dibagikan oleh konsumen tersebut, sebagai bahan pertimbangan untuk calon konsumen lainnya dalam membuat keputusan pembelian.
  4. Retail company-start up company-konsumen-media sosial:
    • Retail company (toko tradisional, terutama toko-toko modern; minimarket, supermarket, hypermarket) memilih untuk memberikan pelayanan lebih yang bisa didapatkan konsumen dengan sedikit pengorbanan lebih banyak (baca: biaya ekstra)
    • Pelayanan ini diberikan oleh retail company dengan bekerjasama dengan startup company yang memungkinkan konsumen belanja dari rumah/kantor mereka lewat mobile apps.
    • Pesanan yang masuk ke akun retailer di mobile apps tersebut akan dipenuhi oleh mereka dengan memilih produk yang terbaik yang dimiliki retailer tersebut (jika retailer yang dipilih adalah supermarket, pihak supermarket akan mengumpulkan produk segar dan produk grocery terbaik lainnya untuk di-packing dan dikirim langsung ke konsumen)
    • Pembayaran dilakukan oleh konsumen langsung lewat mobile apps, dan startup company penyedia mobile apps untuk belanja tersebut menarik sejumlah komisi untuk transaksi yang terjadi.
    • Konsumen memberikan rating atas pelayanan retailer dan layanan belanja lewat mobile apps tersebut.
    • Konsumen pun dapat memberikan pengalamannya berinteraksi dengan retailer dan mobile apps yang disediakan startup company tersebut ke jejaring sosialnya.
  5. E-commerce company-fintech company-logistic/express delivery company atau ride hailing company-konsumen-media sosial:
    • E-commerce company berkolaborasi dengan fintech (financial technology) company untuk memberikan kemudahan bagi konsumen dalam melakukan pembayaran sesuai kebiasaan dan kenyamanan mereka dalam bentuk layanan payment gateway.
    • Lewat layanan payment gateway ini, konsumen diberikan pilihan (baca: kebebasan) dalam menentukan cara pembayaran yang diinginkan nya; transfer antar bank (dengan berbagai pilihan bank), kartu kredit (visa, master, dan pilihan penyedia kartu kredit populer lainnya), paypal, clickpay, e-money, dan beberapa cara pembayaran lainnya.
    • Kenyamanan konsumen ini juga dilanjutkan dengan menyediakan pilihan moda pengiriman barang pesanan konsumen, mulai dari yang paling murah (biasanya dikaitkan dengan waktu pengiriman-maksimal 3 hari kerja) hingga yang paling mahal (same day delivery hingga express delivery, antara 8 jam hingga 1 jam sampai).
    • Pilihan moda pengiriman pesanan ini sangat terkait dengan sifat barang yang dipesan, apabila konsumen pesan produk makanan/minuman yang membutuhkan tingkat kesegaran tertentu (panas-hangat-dingin-beku), maka pasti ia akan memilih express delivery.
    • Dan pengalaman berinteraksi dengan tingkat kepuasan yang berbeda-beda dengan toko/brand penyedia produk, payment gateway, layanan logistic company, dan layanan ride hailing company, yang sepenuhnya tergantung persepsi konsumen ini pun dibagikan ke jejaring sosialnya masing-masing.
  6. E-commerce company-startup company-konsumen-media sosial
    • Sebuah perusahaan e-commerce atau bahkan FMCG bisa langsung bekerjasama dengan sebuah startup company untuk mendapatkan bantuan atau solusi dalam menyelesaikan suatu permasalahan, atau memperluas jangkauan pesan.
    • Contohnya adalah aplikasi dari startup company ShopBack yang bekerjasama dengan sejumlah e-commerce company sebagai reseller atau affiliate partner-nya.
    • Pelanggan yang membeli produk dari e-commerce company seperti Tokopedia, Shopee, JD.ID, Bukalapak, Blibli, dan Lazada lewat Shopback.co.id akan mendapatkan tawaran yang sangat menarik (biasanya berupa cash back).
    • Cash back atau gimmick apapun yang ditawarkan oleh Shopback yang membedakan kenapa harus belanja lewat mereka, bukan langsung belanja di e-commerce tersebut.
    • Dari setiap transaksi yang terjadi lewat Shopback, masing-masing e-commerce yang terdaftar akan memberikan komisi tertentu atas setiap transaksi yang berhasil.
    • Pihak yang paling diuntungkan tentunya konsumen, yang menerima added value dari berbelanja di Shopback. Bukan hanya mendapatkan produk dengan harga terbaik, namun konsumen juga mendapatkan gimmick berupa (misalnya) cash back atas pembelian yang dilakukan.
    • Model bisnis startup ini adalah affiliate marketing, dimana setiap e-commerce yang bekerjasama menjalankan performance based marketing, atau memberikan sejumlah uang atau poin untuk setiap transaksi yang berhasil dilakukan lewat affiliate partner-nya.
    • Konsumen yang senang sudah menerima added value dari pembelian yang ia lakukan lewat affiliate system ini pasti dengan senang hati memberikan pengalamannya ke calon konsumen lainnya, atau siapapun yang ada di jejaring sosialnya.

Keenam poin di atas adalah contoh bagaimana semua elemen yang ada dalam sharing economy bisa berkolaborasi dengan satu sama lain, untuk memenuhi harapan dari konsumennya, yang sekarang makin ‘banyak maunya’ dan serba on demand. Startup company hadir untuk menjadi solusi atas suatu problem, yang dapat menawarkan jasanya ke pihak-pihak yang membutuhkan. Supplier (misalnya FMCG company) hadir untuk melayani pelanggan dengan lebih baik, on demand, dan customize. Retailer hadir untuk memberikan pelayanan lebih baik ke pelanggan (baca: shopper), sehingga mereka bisa langsung berbelanja tanpa harus keluar rumah. Ride hailing company yang juga menawarkan layanan pembelian makanan-minuman, belanja produk di toko, dan pengiriman barang atas pesanan pelanggan di e-commerce company akan banyak memberikan manfaat untuk masyarakat dalam konteks sharing economy ini. Demikian penjelasannya:

  1. Untuk setiap transaksi yang berhasil, dan tingkat kepuasan pengguna aplikasi yang semakin tinggi, maka bisa diprediksi rating aplikasi di App Store/Google Play Store akan bagus (4-5 bintang) dengan sentimen positif atas pelanggan yang puas di testimoni.
  2. Setiap transaksi yang berhasil, akan ada 3 pihak lainnya yang secara bersamaan merasakan manfaat, yaitu:
    • konsumen yang memesan (karena mendapatkan produk dengan kualitas dan cara yang sesuai harapannya).
    • driver ride hailing company yang mendapatkan pemasukan dan poin atas transaksi yang berhasil tersebut, dan yang tak kalah penting, rating dan testimonial atas pelayanannya.
    • penyedia produk (makanan, minuman, atau barang lainnya langsung dari brand atau toko/resto) yang senang karena produknya bisa dinikmati oleh siapa saja dan dimana saja dalam jangkauan pengiriman driver ride hailing tanpa ia harus menyediakan tenaga delivery khusus.
  3. Konsumen pun dapat secara aktif memberikan penilaian kepada masing-masing pihak yang terlibat di atas sejujur-jujurnya secara egaliter. Sehingga suara konsumen ini akan menjadi word of mouth atau UMOT-ultimate moment of truth untuk konsumen lainnya, yang mungkin belum tahu akan kualitas produk atau layanan pihak-pihak yang terkait dalam ide sharing economy tersebut.

Konsumen masa kini? Itu istilah saya untuk menggambarkan betapa power saat ini sudah shifting dari produsen/brand ke tangan mereka. Ke tangan kita masing-masing. Konsumen (kita), bebas memilih kapan dan bagaimana kita berinteraksi dengan brand lewat produk-pesan-layanannya,  bebas memilih mendapatkan produk dan layanan yang ia inginkan dari mana saja (offline atau online store), bebas memilih cara pembayaran yang dirasa paling nyaman, bebas memilih siapa yang mengirimkan pesanan dan bagaimana pesanan nya dikirim, bebas menyuarakan pendapatnya atas pengalaman yang ia dapatkan dari interaksi dengan brand-e-commerce-ride hailing-payment gateway, dan berhak mendapatkan feedback dari atas ketidakpuasan atas pelayanan yang ia dapatkan. Konsumen masa kini tersebut sangat dekat dengan internet, teknologi informasi, media sosial, gadget, dan berkomunitas, yang menjadikannya sangat powerful.

Referensi:

  1. Artikel – Revolusi Industri Keempat di Depan Mata. Link: https://www.antaranews.com/berita/681304/artikel-revolusi-industri-keempat-di-depan-mata Ditulis oleh: Basuki, Roberto Calvinantya. Diakses pada: Rabu, 7 Februari 2018 pukul 17.00 WIB.
  2. Sparks, Cassandra and Michael Reay. (2015). The Sharing Economy: The Production, Consumption, and Regulation of Community in the Digital Economy. Swarthmore College. Pennsylvania, USA.
  3. Others: http://www.google.co.id
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s