[Christmas Homecoming Story] Bagian 8-Kampus FEB Unibraw Tercinta

Last day in Malang!

Ada beberapa agenda di hari terakhir saya dan istri di Kota Malang, yang pasti salah satunya adalah makan bersama dengan keluarga. Tidak harus mewah dan mahal, yang penting kebersamaan kalau orang bilang. Dan agenda yang pasti kami lakukan hari itu adalah: ziarah ke makam keluarga di dua tempat-TPU Samaan dan TPU Landungsari, mampir ke kampus tercinta Universitas Brawijaya Malang, tepatnya ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis (dulu cukup disebut Fakultas Ekonomi saja), dan belanja beberapa bahan olahan makanan untuk oleh-oleh di Pasar Oro-Oro Dowo.

Tujuan pertama: TPU Samaan.

Di pemakaman ini cukup banyak anggota keluarga saya dari garis keturunan bapak saya dikebumikan di sini, dari buyut, kakek, nenek, pakdhe, budhe, bulik (tante) saya. Hanya 2 tempat saja yang saya hafal karena sering singgahi, yaitu makam nenek saya, Mbah Sadikyah (mbah Yah-ibu dari bapak saya) dan kakek saya (ayah dari ibuk saya), Mbak Kung Suitbertus Harjosuprapto (atau dipanggil Mbah Prapto). Hampir setiap saya pulang ke Malang, dan menjelang keberangkatan saya kembali ke perantauan, saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke makam mereka. Mendoakan mereka, agar tenang dan bahagia di alam sana.

TPU/Makam Samaan, Malang
TPU/Makam Samaan, Malang

Tujuan kedua: Kampus FEB Universitas Brawijaya Malang.

“Ngapain ke kampus? Mau daftar jadi dosen disitu? Atau mau kuliah tamu lagi?” tanya Ibnu Broto, rekan semasa kuliah yang kini bekerja di salah satu BUMN migas di Jakarta. “Enggak, belum lah kalau mau jadi dosen disini, mau beresin surat rekomendasi dan legalisir ijazah dan transkrip S1 buat persyaratan sekolah doktoral saya”, saya bilang. Iya, saya mau kuliah lagi. Duh, sampai bosan saya mondar mandir untuk mempersiapkan kuliah saya ini. Sempat tertunda gara-gara keenakan bekerja (baca: procrastinating), deadline pendaftaran di bulan September 2017 pun terlewat dengan santainya. Dan syukurlah, lewat bantuan Yusuf Risanto (rekan saya semasa kuliah yang kini bekerja sebagai dosen tetap di FEB Universitas Brawijaya-kini sedang menempuh studi S3-nya di China) dan mas Sigit Pramono (dosen tetap, junior kami berdua di FEB Unibraw), semua berkas-berkas persyaratan saya pun lengkap sudah. Tinggal saya saja, mau procrastinating lagi atau nggak.

Kampus FEB Universitas Brawijaya Malang
Kampus FEB Universitas Brawijaya Malang
Kampus FEB Universitas Brawijaya Malang

Dan saat saya bersama mas Sigit Pramono hendak masuk ke Gedung PPA Baru (yang kini sudah dibangun megah dengan elevator) untuk finalisasi dokumen (baca: minta stempel), saya sempat melihat sekelompok mahasiswa/i yang sedang merayakan kesuksesan temannya melewati ujian akhir, entah itu skripsi atau TKA. Saya sempat tersenyum dalam hati melihat kesamaan behavior dan treatment dengan sesama rekan mahasiswa di FISIP Universitas Indonesia dalam merayakan kelulusan, balon warna warni, selempang dengan nama dilengkapi gelar kesarjanaan, dan banyak lagi ornamen-ornamen lainnya.

Well, I wish you all good luck entering your next live stage, dear millennials! 🙂

Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Malang

 

Tujuan ketiga: Pasar Oro-Oro Dowo.

Kenapa kok ke Pasar Oro-Oro Dowo? Kok gak ke Pasar Dinoyo atau Pasar Tawangmangu saja yang lebih dekat? Atau sekalian ke Pasar Besar Malang kalau cari sesuatu? Selewatnya saja kok, dari arah kampus menuju lokasi selanjutnya paling dekat ya pasar ini. Sedikit nostalgia juga sebenarnya. Dulu semasa kecil, saya tinggal di perkampungan Oro-Oro Dowo, tak jauh dari pasar ini, sampai usia 5 tahun sebelum pindah ke daerah Tlogomas.

Praktis, dulu semasa kecil saya sering lewat atau keluar masuk ke pasar ini, menemani ibuk atau mbah saya berbelanja. Anak kecil pasti mau lah diajak belanja.  Sebab sebelum pulang, pasti akan dibelikan makanan, jajanan, atau setidaknya es kelapa atau es campur.  Bayangan saya akan pasar yang becek dan kumuh berubah total, Pasar Oro-Oro Dowo kini bersih dan rapi. Tetap berkonsep wet market, namun kebersihannya tetap terjaga. Masih saya temui kedai pangsit cwie mie lama di dalam pasar, kios-kios yang menjual bahan-bahan makanan di depan dimana penjualnya ibu ibu Chinese yang sudah tua.

Dan di pintu masuk, ada kios dengan warna pink cerah yang menarik perhatian saya. Warung Nasi Bok Madura Hajjah Supina-Cabang pasar Besar. Warung ini menjajakan kuliner khas Madura, antara lain nasi bok (nasi dengan lauk pauk lengkap, dengan pilihan lauk utama potongan besar daging atau jerohan sapi) dihargai Rp25.000,-/porsi, jajanan pasar (gatot, jagung bledhus, horog-horog, cenil, lupis, dll disiram gula merah dan taburan parutan kelapa) dihargai Rp10.000,-/porsi. Karena kami akan makan setelah ini, cukup saya pesan 1 porsi jajanan pasar komplit. Nostalgia yang sensasional!

Pasar Oro-Oro Dowo, Malang
Pasar Oro-Oro Dowo, Malang

Tujuan keempat: Pangsit Cwie Mie Gerobak Kuning, Jalan Buring.

Ah, ini dia!

Kedai pangsit cwie mie khas Malang yang dijajakan oleh mas-mas di rombong kuning (gerobak kuning) ini juga jadi salah satu tujuan wajib saya saat pulang kampung. Sempat hilang dari peredaran selama beberapa waktu (entah buka lebih siang atau pindah tempat mangkal), karena saya khawatir mereka mendapat masalah karena berjualan makanan non-halal. Iya, pangsit cwie mie di kedai ini mengandung babi. 1 porsi pangsit cwie mie (dihargai Rp8.000,- saja), sudah lengkap dengan taburan daging babi cincang dan kulit babi melimpah di bawah mie. Kita boleh kok minta tambah kulit babi sebagai lauk, cukup tambah Rp1.000,- saja sudah dapat kulit babi dalam porsi double! Murah meriah!

Kedai Pangsit Cwie Mie “Rombong Kuning”, Jalan Buring
Kedai Pangsit Cwie Mie “Rombong Kuning”, Jalan Buring

Tujuan kelima: TPU Landungsari.

Tujuan terakhir sebelum pulang dan istirahat di rumah, Pemakaman Landungsari. Adik bungsu saya, Amelia Harwinda Sari (7 bulan), nenek saya (Margaretha Wagiyem), dan pakdhe saya (Agustinus Rumeiyanto) dimakamkan di tempat ini. Actually, I felt kinda weird taking pictures at this cemetery, but I have to do it. For the sake of preserving memory.

TPU/Makam Landungsari, Malang
TPU/Makam Landungsari, Malang

Tujuan keenam: Rumah Palmira Graha

 

Bukan tujuan sebenarnya, orang saya tinggal disini 🙂 Sementara saya tidur siang, atau ‘nabung tidur’ sebelum perjalanan jauh nanti, istri saya sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa kembali nanti. I felt like a king! But later on, I’m just a driver. Hehehehehe… 😀

Spot kuliner yang dituju oleh istri saya selama di Kota Malang sebenarnya dua saja, Warung Nasi Lalapan Belut di Jalan Hamid Rusdi dan Bakso Pak Gundhul di Jalan Laksda Adisucipto, jalan menuju Bandara Abdulrahman Saleh.

Untuk nasi lalapan belut, sudah tergantikan dengan sajian serupa di dekat rumah. Warung Lalapan Belut di depan kompleks ruko di Jalan Tlogomas, menjelang belokan masuk ke Jalan Batu Permata ini punya rasa belut dan sambal yang lumayan mirip. Sama-sama enaknya. Belut yang dipilih bukan belut berukuran besar, namun hanya sebesar jari kelingking orang dewasa saja. Tulang dan durinya sudah tercabut bersih, sehingga kita tidak akan khawatir tergigit duri belut tersebut. Satu porsi tanpa nasi dijual Rp12.000,- saja, sudah lengkap dengan sambal, lalapan, dan ekstra kremesan dari gorengan belut, kalau mau 🙂

Nah, kalau yang ini juga salah satu destinasi kuliner saya di Kota Malang. Bakso Pak Gundhul, yang buat saya rasanya tidak ada yang ngalahin. Juara pisan pokoknya mah! Tapi awas, bakso ini non-halal ya!

Isian dari bakso ini cukup beragam, seperti halnya bakso khas Malang lainnya; bakso halus, bakso urat, siomay basah, siomay goreng, bakso goreng, tahu isi daging, kulit dan usus babi. Khusus untuk kulit dan usus dijual Rp500.- per potong, sedangkan bakso, tahu, dan siomay dijual rata-rata Rp3.000,-/biji. One is never enough! Saya nambah beberapa biji siomay goreng dan bakso gorengnya yang enak banget! If you’re into pork (and allowed to eat it), this is a MUST visit place if you’re in Malang!  Istri saya sempat membungkus 10 biji siomay goreng untuk dinikmati di sepanjang perjalanan dari Malang ke Yogyakarta. Tepat pukul 16.00 WIB, kami pun beranjak meninggalkan Kota Malang, mengambil rute Singosari-Lawang-Pandaan.

Warung Bakso Cak Gundhul, Malang

Dan dengan masuknya saya ke tol Pandaan dengan tujuan kota Yogyakarta pukul 18.06 WIB, maka selesailah sudah rangkaian #ChristmasHomecomingStory 2017 saya di Kota Malang, Kota Batu, dan sekitarnya.

GT Pandaan, Pasuruan pukul 18.06 WIB

So Yogyakarta, here we come! Silahkan ikuti petualangan saya selanjutnya di kota gudeg, mulai dari jalan-jalan malam di Malioboro, sarapan pagi di Warung Kopi Klotok, wefie di The Lost World Castle, mengucap syukur dan berdoa untuk tahun 2018 di Taman Doa Gantang-Magelang, berfoto a la pre-wedding di Waduk Sermo, dan masih banyak lagi dengan tagar #YogyakartaTrip!

Sumber:

  1. Menikmati Bakso pak Gundhul Yang Mengandung Babi di Kota Malang. Link: https://www.akulily.com/menikmati-bakso-pak-gundhul-yang-mengandung-babi-di-kota-malang/ | Diakses pada: Senin, 8 Januari 2018 pukul 15.06 WIB.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s