SEAMLESS (Payments E-commerce Retail) Jakarta, 10-11 Oktober 2017 (Day 2 Report)

It’s #seamlessindo day 2!

Sebenarnya agak PR juga tinggal di Bekasi Barat dan harus melintasi tol dalam kota dari Gerbang Tol (GT) Halim ke Pullman Hotel-Central Park Mall, Jakarta Barat pagi-pagi. Tapi pilihan rute ini lebih dekat dibanding harus melintasi tol JORR-masuk GT Kalimalang, ambil rute melingkar lanjut ke tol Priok, dan kemudian masuk ke tol dalam kota lagi, keluar di GT Tomang. Rute 1 (tol dalam kota) hanya tersendat sampai Tegalparang dan wush! Tahu-tahu sampai di Central Park Mall. Di hari ke-2 ini saya masih kebagian contra flow di jalur tol depan Carrefour MT Haryono dan lancar keluar menjelang Jembatan Semanggi. Traffic was quite friendly that day 🙂

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Sesi pertama di plenary hall di buka oleh Lars Voedich dari PREcious Communications. Banyak pesan yang didapatkan dari presentasi dan keynote speech beliau. Antara lain:

  • O2O-online to offline atau yang biasa kita kenal dengan istilah omni-channel, banyak membantu company atau brand mendapatkan trust dari pelanggan/partner maupun dari konsumennya.
  • Di Indonesia dengan pertumbuhan dunia digitalnya, yang mendorong tumbuhnya bisnis e-commerce, masih marak dengan sistem penghantaran dan pembayaran tunai di rumah (COD-cash on delivery). Kenapa COD ini masih menjadi primadona pembayaran konsumen e-commerce? Karena faktor trust!
  • Bisnis offline memperkuat diri dengan menhadirkan platform, dimana kini transaksi banyak terjadi disana.
  • Sejatinya, konsumen harus punya banyak pilihan (produk, pilihan pembayaran, dan pilihan penghantaran produk), sehingga konsumen dapat menentukan tingkat kenyamanannya sendiri dalam berinteraksi dengan brand dalam konteks belanja online.
  • Tidak ada yang dapat meramalkan seperti apa dunia bisnis e-commerce dalam 5-10 tahun yang akan datang. It’s all predictable, thus make it more and more exciting!

Presenter selanjutnya adalah duet dari Alvin Taulu (OJK-Otoritas Jasa Keuangan) dan Vince Gowan (IRDI-Indonesia Research & Development International) yang banyak membahas soal financial technology dan peran pemerintah dalam memberikan regulasi.

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Alvin Taulu, mewakili pemerintah menjabarkan apa-apa saja yang masuk ke dalam global financial technology, diantaranya (karena ada pelarangan pengutipan materi presentasi OJK, maka foto-foto slide tidak dapat saya tampilkan, melainkan hanya highlight dari presentasi beliau yang bersifat umum saja):

  1. Payment
    • card payments
    • point of sale payments
    • e-money
    • transfer
    • remmitances
    • e-wallet (masih dalam proses diskusi)
  2. Funding
    • loan based crowdfunding
    • equity based crowdfunding
    • social based crowdfunding
  3. Digital Banking
    • consumer and commercial banking
    • banking infrastructure
  4. Digital Insurance
    • agent
    • brokerage
  5. Supporting Fintech
    1. Basic Enabler
      • E-KYC (know your customer); biometrical & facial recognition
      • digital signature
      • security system
      • audit trail & recovery
    2. Advanced Enabler
      • credit information & scroring
      • big data analysis (masih dalam proses diskusi)
      • robo advisor (masih dalam proses diskusi)
      • artificial intelegence (masih dalam proses diskusi)
      • blockchain & bitcoin (masih dalam proses diskusi)

Lalu, apa parameter kesuksesan OJK dalam perannya sebagai regulator jasa keuangan dalam mendukung pertumbuhuan digital economy?

  • Kedalaman (financial deepening)
    • ukuran perkembangan nilai pinjaman beserta sebarannya di berbagai sektor dan daerah
  • Keikutsertaan (financial inclusion)
    • ukuran perkembangan jumlah masyarakat termasuk sebarannya di berbagai sektor dan daerah yang dapat dilayani, dan memperoleh akses pendanaan
  • Kecepatan (velocity of money)
    • ukuran percepatan pemberian pinjaman dan perputaran dana yang dipinjamkan
  • Kenyamanan (convenience)
    • ukuran kemudahan penggunaan platform dan penyediaan layanan yang terhubung dengan ekosistem
  • Keamanan (security)
    • ukuran tingkat keamanan dana, data, dan jumlah laporan pengaduan

Selepas sesi AlvinTaulu, panggung diisi oleh seorang yang sudah senior, namun masih tetap enerjik, Vince Gowan dari IRDI-Indonesia Research & Development International. Dari nama instansi-nya dapat ditebak kalau audience di plenary hall akan disuguhi dengan data-data pertumbuhan, seperti di bawah ini:

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)
SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Dari slide diatas bisa dilihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin membaik dari tahun 2014 hingga tahun prediksi 2018. Demikian juga dengan tingkat inflasi yang stabil di angka 3,35% hingga 4%, laju tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran yang semakin rendah. Ada peran sharing economy disini? Saya yakin ada. Diantaranya lewat peran aplikasi ride hailing (GO-JEK, GRAB, UBER) yang mampu menyerap tenaga kerja hingga jutaan orang di berbagai kota di Indonesia. Bukan hanya di Pulau Jawa saja, namun juga di kota-kota besar di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali.

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2015, dilaporkan bahwa konten yang paling banyak diakses oleh pengguna internet adalah situs-situs online shop, dikunjungi oleh 82,2 juta pengguna.

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Slide ini juga perlu di-high light. Dari data Indonesian Consumption Habits Survey 2016, 5 kategori teratas produk yang dibeli konsumen secara online adalah: fashion (42,66%), gadgets & accessories (24,21%), groceries & foods (10,71%), household items (7,34%), dan automotives (2,57%). Dan 5 metode pembayaran belanja online yang menjadi primadona adalah; transfer bank (42,01%), internet banking (21,43%), cash on delivery (13,49%), via kasir minimarket (7,14%), dan kartu kredit (6,15%).

Jadi kesimpulan sementara, jika anda membayar transaksi online apapun dengan menggunakan kartu kredit, anda termasuk konsumen kelas atas di skema belanja online ini. Atau setidaknya, anda sudah teredukasi dan punya rasa percaya yang tinggi akan keamanan belanja online ini, mengingat anda harus menyerahkan informasi pribadi anda ke portal e-commerce tersebut untuk kelancaran pembayaran.

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Transaksi online di tahun 2013 sudah mencapai US$8 miliar (Rp104 triliun), sementara di tahun lalu sudah bertumbuh hampir 3 kali lipat menjadi US$25 miliar (Rp325 triluin). Sehingga diproyeksikan di tahun 2017 ini saja, transaksi online ada diatas US$50 miliar, hingga di tahun 2020, jumlah transaksinya akan booming, di angka US$130 miliar. And surely everybody wants a part of it, or be a part of it!

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Di slide diatas, dari data Kementerian KUKM (BPS 2015) dijelaskan peta perbandingan antara perusahaan besar, menengah, kecil dan mikro dilihat dari sisi penerimaan penjualan, dan besaran aset. Dijelaskan sebagai berikut:

  • Large corporation:
    • Omzet/tahun: diatas Rp50 miliar
    • Besaran aset: diatas Rp10 miliar
  • Medium enterprise:
    • Omzet/tahun: Rp2,5 miliar s/d Rp50 miliar
    • Besaran aset: diatas Rp10 miliar
  • Small enterprise:
    • Omzet/tahun: Rp300 juta s/d Rp2,5 miliar
    • Besaran aset: Rp50 juta s/d 500 juta
  • Micro industry:
    • Omzet/tahun: dibawah Rp300 juta
    • Besaran aset: dibawah Rp50juta
SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Lalu apa yang menjadi summary dari sesi IRDI Dan OJK ini? Hal yang paling saya soroti dari slide diatas adalah poin nomor 3 dan 5, yaitu perilaku konsumen yang berubah. Kini konsumen lebih suka melakukan online shopping untuk tiket (kereta api, pesawat, dll), hotel, pakaian, makanan, dan bahkan untuk jasa pijat, bersih-bersih rumah, cuci mobil, dan jasa lainnya. Trend ini mempengaruhi juga pola konsumsi mereka. Dari yang sebelumnya gemar belanja di pusat-pusat perbelanjaan, kini  konsumen lebih suka menabung, atau menyimpan uang mereka, untuk dihabiskan ke hal-hal yang bersifat leisure. Mengapa demikian? Salah satunya adalah pengaruh media sosial, dimana masing-masing dari mereka berlomba pamer pengalaman jalan-jalan mereka di media sosial. Untuk tujuan ingin eksis, terlihat keren, dan sebagainya.

Baca juga: Rontoknya Bisnis Department Store

Dan juga di poin nomor 5, banyak orang akan berganti pekerjaan, atau bahkan kehilangan pekerjaan karena otomatisasi. Yang terkena pengaruh paling besar adalah mereka yang bekerja di level menengah, dan hanya mereka yang menduduki level tinggi dan dan level paling bawah dalam suatu pekerjaan yang tersisa. Kita sudah lihat lay off yang dilakukan oleh Perum Jasa Marga, berapa banyak penjaga pintu tol dan lini pekerjaan lain (menyiapkan uang receh untuk kembalian, misalnya) akibat pemberlakuan otomatisasi ini. Kini hampir semua ruas tol berlaku sistem pembayaran dengan uang elektronik (UNIK), dimana masing-masing bank besar, BUMN maupun swasta ikut menerbitkan UNIK ini; BCA Flash, BNI Tap Cash, Mandiri e-toll, dan sebagainya.

Dari plenary hall yang tentunya lebih banyak membahas financial technology, kami beralih dari stage/track satu ke track lainnya. Dari track E-commerce luar ke track E-commerce dalam, dan demikian juga dengan track Retail. Saya sempatkan menonton sebentar beberapa presenter di track Retail-Logistic, sebelum menghabiskan waktu sampai seminar e-commerce hari ke-2 ini selesai. Saya menonton beberapa presentasi, diantaranya dari Rachel Lim, seorang perempuan muda yang sukses mengembangkan online brand clothing Love, Bonito. Isi dari diskusi di sesi ini adalah:

  • memperluas peran toko offline sebagai hub digital dari operasional online dan offline.
  • menerima dengan baik transformasi proses bisnis yang menuju digital untuk mengoptimalkan pengalaman berbelanja.
  • berkembang mengikuti perubahan permintaan konsumen dengan menyediakan penawaran yang kontekstual, relevan, dan one on one/personal secara real time.
SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Last presenter of the day: Rizkie Maulana Putra (L’Oréal Indonesia)

Materi yang dibawakan beliau ini cukup berat, Transforming The Mall-Increasing Retail Sales and Store Productivity with Effective e-Commerce and O2O. Kenapa berat? Karena membawa audience, yang sebagian adalah pengelola toko offline di mall, ke sebuah ekspektasi yang lumayan tinggi. Ekspektasinya adalah, dari materi yang disajikan, para penyewa space di mall yang hadir di event ini bisa mendapatkan banyak insights tentang bagaimana membuat mall, atau setidaknya toko mereka bertransformasi menuju format yang lebih digital. Ada sedikit keluhan dari seorang audience, yang kelihatannya adalah seorang tenant di mall, tentang materi yang diiharapkan vs. yang disajikan. But hey, let’s forget about the comedy, let’s just enjoy the show.

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)
SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Slide diatas menunjukkan betapa digital yang sangat disruptive ini mengubah pola perilaku konsumen. Perilaku mereka sudah berubah sedemikian rupa, sementara toko offline dalam skala apapun masih tetap, tidak berubah. Konsumen semakin attached dan inseparable dengan smartphone mereka, sehingga bisa dikatakan semua behavior dari penggunanya tersimpan dalam smartphone yang selalu mereka pegang.

Dan demikian juga dengan traffic yang masuk ke website, semakin banyak yang datang dari smartphone, jauh mengalahkan jumlah traffic dari desktop dan juga tablet PC. Ini sebabnya, para pengelola website wajib menghadirkan tampilan website yang responsive mobile/mobile friendly, terlebih menghadirkan mobile application. Tujuannya bukan untuk terlihat keren, apalagi saat disandingkan dengan pesaingnya, tapi semata-mata untuk memberikan pengalaman berbelanja yang seamless kepada konsumennya.

SEAMLESS Jakarta 2017 (Day 2)

Slide diatas menunjukkan betapa di luar sana, terutama di China, penggunaan uang fisik sudah sangat berkurang. Kini mereka lebih banyak menggunakan e-wallet, yang dikeluarkan oleh beberapa pihak, sebut saja Alibaba.com dengan AliPay-nya, Tencent-Wechat dengan WeChatPay. Bahkan di warung kopi kecil atau pedagang makanan di pinggir jalan pun, sudah mulai tidak menerima uang fisik lagi. “We accept/prefer AliPay or WeChatPay” or “Scan Code, No Cash Acceptable”, said those merchants.

Dan kalau kita lihat, perkembangan quick response code atau QR code sebagai alat pembayaran di Indonesia makin terlihat belakangan ini. Salah satunya adalah BCA, salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, menghadirkan layanan e-wallet Sakuku, yang memungkinkan penggunanya melakukan pembayaran via scan QR code di lembar print out kecil, yang dicetak dari mesin EDC-nya. It’s only a start, but who knows within a very near future, Indonesian starts to get used to this cashless payments, as they did on toll road payment. 

Selesai sudah perhelatan SEAMLESS Payment-E-comerce-Retail Jakarta 10-11 Oktober 2017 ini. Saya mendapatkan banyak insights dari presentasi dan materi-materi yang disajikan. Saya semakin menyadari bahwa gaya hidup digital sudah demikian melekat dengan diri kita, dengan keseharian kita, dan aspek-aspek kehidupan. Digital dihadirkan untuk memudahkan hidup kita, meringankan hidup kita. Antara lain dengan memperkecil kemungkinan kita untuk melakukan hal yang sama secara berulang-ulang, sehingga waktu, tenaga, dan sumber daya kita yang lain dapat dialokasikan untuk hal yang lebih bermanfaat lainnya.  Dan tentunya mempermudah kita mendapatkan apa yang kita inginkan dari sisi konsumen, dan mempermudah brand menyampaikan pesannya ke target audience yang tepat, menciptakan desire, demand, dan selanjutnya purchase decision lewat click. Dan lewat aktivitas click itu pula, barang dan jasa yang ia inginkan dapat hadir langsung di hadapannya, tanpa harus keluar rumah dan pembayaran via uang fisik, akibat terintegrasinya aktivitas pemasaran dan penjualan dengan pembayaran dan logistik.

Simak juga laporan saya di hari pertama acara ini disini.

Sumber:

  1. Website Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Link: https://www.apjii.or.id
  2. Website qmfinancial.com. Link: https://www.qmfinancial.com/mengenal-uang-elektronik-e-money/ (diakses pada: Rabu, 25 Oktober 2017 pukul 12:30 WIB)
  3. Wikipedia. Link: https://id.wikipedia.org/wiki/Uang_elektronik (diakses pada: Rabu, 25 Oktober 2017 pukul 12:30 WIB)
  4. Website forbes.com. Link: https://www.forbes.com/sites/franklavin/2017/08/15/china-e-commerce-taking-root-in-us-and-europe/#7af9f1da4482 (diakses pada: Rabu, 25 Oktober 2017 pukul 13:49 WIB)
  5. Website forbes.com. Link: https://www.forbes.com/sites/quora/2017/06/20/is-wechat-pay-taking-over-alipay/#251cdf543a0b (diakses pada: Rabu, 25 Oktober 2017 pukul 13:52 WIB)
  6. Website cnbc.com. Link: https://www.cnbc.com/2017/07/10/wechat-pay-europe-launch-tencent-to-challenge-alipay.html (diakses pada: Rabu, 25 Oktober 2017 pukul 13:55 WIB)
  7. Website bca.co.id. Link: https://www.bca.co.id/id/individu/produk/e-banking/sakuku (diakses pada: Kamis 26 Oktober 2017 pukul 08:08 WIB).
  8. Website lovebonito.co.id. Link: https://lovebonito.co.id/ (diakses pada: Kamis 26 Oktober 2017 pukul 08:10 WIB).
  9. 9 Website tirto.id. Link: https://tirto.id/rontoknya-bisnis-department-store-cyZd?utm_source=PushNotif&utm_campaign=1113&utm_medium=Notification (diakses pada: Kamis 26 Oktober 2017 pukul 08:55 WIB).
Advertisements

One thought on “SEAMLESS (Payments E-commerce Retail) Jakarta, 10-11 Oktober 2017 (Day 2 Report)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s