Pontianak Trip, The First Ever (Bagian 2)

Memulai hari ke-2 di Kota Pontianak dengan lari!

Yup, berbekal ingatan perjalanan dari rumah-gereja-rumah kemarin, saya coba mencari rute lari, yang berujung di perbatasan Kotamadya Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, tempat dimana saya menginap. Trek lari yang saya pilih cukup asik, melewati perumahan Korpri, lalu Perumahan Srikandi, dan keluar di Jalan Serdam. Hanya sebagian saja dari jalan ini yang sudah diaspal mulus. Sebagian lagi masih berlubang-lubang, sehingga harus hati-hati agar tidak cedera. Nggak lucu juga kalau ditengah jalan kaki terkilir gara-gara salah injak 🙂

Dari hasil pengukuran aplikasi Nike Run+ dari depan rumah, hingga ke perbatasan kota lalu kembali lagi, milage yang berhasil terkumpul pas 9 kilometer, pace 7 menit 28 detik/km. Lumayan lah, 414 kalori terbakar, tentunya belum seimbang dengan asupan kalori yang masuk dari pesta kemarin.  Sepanjang Jalan Serdam, banyak saya temui pedagang sayur, daging, dan makanan siap saji yang sepertinya banyak dijajakan untuk sarapan (kwe cap dan bubur ayam), dan sangat ramai.

Perbatasan Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya (06.25 WIB)

Sudah direncanakan oleh mbak Uding (panggilan akrab kami ke mbak Victorina Budi Astuti, tuan rumah-kakak sepupu saya), kalau hari ini kami akan diajak jalan-jalan ke kota Singkawang, main ke Pantai Pasir Panjang yang katanya cantik. Let’s go find out!

Minggu, 9 Juli 2017 (09.02 WIB)

Tugu Bambu Runcing di depan Kampus Universitas Tanjung Pura (Untan)

 

The family!

 

Sesaat sebelum menyeberangi Jembatan Kapuas (09.08 WIB)

Minggu, 9 Juli 2017 (09.35 WIB)

Perjalanan kami dari kota Pontianak ke kota Singkawang pun dimulai. Destinasi wisata cukup banyak, melewati 2 sungai besar, Sungai Kapuas dan Sungai Landak, dan tak lama kemudian kami sampai di Tugu Khatulistiwa setelah kurang lebih setengah jam berkendara. Cuaca cukup cerah (baca: terik) dan lalu lintas lancar. Wah, seperti mimpi bisa sampai di spot historis ini, di tugu yang dibangun tepat di garis equator, garis yang seolah-olah membagi bumi (yang bulat, bukan bumi yang datar) tepat menjadi 2 bagian-utara dan selatan.

Tugu Khatulistiwa, bagian luar

Saya sempat heran, koq tugu khatulistiwa ini ujug-ujug jadi gede ya? Perasaan cuma setinggi orang saja. Eh, ternyata tugu ini sudah dipugar, dan dibuatkan rumah untuk menjaganya tetap terawat. Tugu asli ada di dalam bangunan di bawah tugu besar yang ternyata hanya replika (versi besar) dari tugu yang asli.

Tugu Khatulistiwa, bagian dalam

Sebentar saja kami berkunjung dan mengambil foto di Tugu Khatulistiwa ini, dan segera beranjak ke Panta Pasir Panjang. Sebenarnya sepanjang perjalanan kami ke Kota Singkawang, kami menyusuri pesisir barat Pulau Kalimantan. Tampak deretan pantai-pantai di sebelah kiri kami, beberapa terlihat cantik meskipun hanya pantai di pinggir jalan saja. Pemandangan di kiri jalan ini membuat saya tidak cepat capek, dan untungnya tidak cepat ngantuk meskipun belum ngopi dari pagi 🙂

Minggu, 9 Juli 2017 (13.10 WIB)

Sampai di Pantai Pasir Panjang!

Pantai Pasir Panjang, Singkawang
Pantai Pasir Panjang, Singkawang
Pantai Pasir Panjang, Singkawang
Pantai Pasir Panjang, Singkawang

Pantai ini sebenarnya cukup familiar, karena pernah saya lihat review lokasi ini di internet sebelumnya. Yang saya ingat, pantai ini disebut-sebut sebagai duplikasi pantai dengan batu-batu besar di Bangka-Belitung (yang menjadi destinasi wisata saya selannjutnya, doakan saja). Batu-batu besar tertata di salah satu tepi pantai, mempercantik pemandangan yang sebenarnya sudah sanggup membuat kami takjub. Saat itu cuaca sedang mendung, dan beberapa kali hujan rintik-rintik. Namun tidak menghalangi kami untuk bersiap-siap mandi di pantai. Sempat terlihat di foto, saat awan hitam digelayuti hujan di kejauhan, sehingga di pantai pun cuaca cukup berangin dan hujan gerimis.

Pantai Pasir Panjang, Singkawang

Dari rumah kami membawa banyak bekal makanan dan minuman, sirup, dan tak lupa es batu dalam termos besar. It’s a real family picnic!  

Sesaat sebelum pulang, Bang Yan menawari kami, “Mau nggak kalau jalan-jalan sekalian ke Singkawang?” Jawab saya, “Kenapa nggak? Sudah jauh-jauh ada disini, ya sekalian saja” Dan berlanjutlah perjalanan kami, yang dibagi dalam 3 mobil ke Kota Singkawang. Pertama kali masuk kota ini, yang terlihat adalah banyaknya kelenteng di kiri dan kanan jalan, dan juga amoy (panggilan untuk gadis-gadis muda dari etnis Cina, penduduk asli Kota Singkawang). Kota ini selain terkenal dengan banyaknya kelenteng, juga penduduknya yang masih memegang teguh tradisi, dan tak lupa kuliner khas-nya, yang kebanyakan non-halal. My kind of food! 😀

Setelah mengitari kota sejenak, dan melihat kelenteng Tri Dharma yang iconic (ada di tengah jalan) dan tugu naga yang juga ada di tengah jalan (sempat diprotes FP* untuk dibongkar-karena menurut mereka tidak sesuai dengan ajaran agama mereka-cerita sepupu saya), kami tiba di Kelenteng Chi Kung. Oh iya, selain banyak dipandu oleh Okta (Gregorius Oktariadi), kami juga banyak dipandu oleh adiknya, si bungsu Laurentia Christi (Loren) yang sangat mengenal seluk beluk kota Pontianak.

Vihara Budha Chi Kung, Singkawang
Vihara Budha Chi Kung, Singkawang
Vihara Budha Chi Kung, Singkawang
Vihara Budha Chi Kung, Singkawang

Kelenteng atau vihara Budha ini cukup jauh dari pusat kota Singkawang, terletak di pinggiran kota. Dan gede banget! Ada 3 lantai, konon kisahnya, dari cerita ibu saya yang sempat ngobrol-ngobrol dengan para penjaga kelenteng, banyak yang datang ke kelenteng ini untuk meminta penyembuhan atas penyakit yang diderita. Karena Dewa Chi Kung, dewa pelindungnya, adalah dewa penyembuh. Dan kesan yang saya tangkap dari kunjungan saya ke kelenteng ini, selain para penjaga kelenteng yang sangat bersahabat (kami disambut saat masuk, dan diperbolehkan mengambil foto-namun mereka masih mengawasi para pengunjung lewat layar monitor kamera CCTV), semua lantai terlihat bersih dan mengkilap, dan suasananya sangat khidmat. Juga saya lihat di sisi kiri kelenteng, ada panti jompo-terlihat dari banyaknya orang-orang tua yang duduk-duduk di sekitar lokasi. Suasana kelenteng yang tenang, ditambah hawa kota Singkawang yang sejuk saya pikir sesuai untuk mereka yang tengah memasuki masa istirahatnya.

Kota Singkawang juga termasuk kota yang maju, sudah punya mall dengan Studio XXI, dan lengkap dengan hotel berbintang. Tak heran, karena di Hari Raya Cap Go Meh (jatuh tepat seminggu setelah Sin Cia-Tahun Baru Cina), ada festival yang sudah mendapatkan perhatian dunia internasional. Pernah dengar kata ‘tatung’?

Tatung merupakan sosok manusia yang menurut beberapa kepercayaan sedang dirasuki roh dewa. Kata ‘tatung’ sendiri berasal dari bahasa Hakka, yang berarti roh dewa, lalu diserap menjadi bahasa masyarakat lokal. “Tatung memang asalnya dari salah satu kebudayaan Tionghoa, dibawa kesini berbaur dengan budaya lokal. Kalau di Singkawang ada dayak yang jadi tuan rumahnya,” ujar Ajung (58) yang merupakan salah satu tetua masyarakat Tionghoa Singkawang (sumber: KompasTravel, Sabtu (11/2/2017).

Ngeri-ngeri sedap, batin saya. Dan menurut kakak sepupu saya, kota Singkawang sangat penuh di hari -hari menjelang Cap Go Meh, semua hotel dan penginapan penuh. Juga harga tiket pesawat yang menyentuh angka jutaan rupiah, karena banyaknya minat pengunjung pawai Cap Go Meh. Namun cerita ini malah menbuat saya ingin kembali ke Kota Pontianak, sebagai kota transit, dan melaju ke Kota Singkawang untuk melihat pawai tatung yang bisa membuat ‘ngilu’ ini. Yes, surely, I’ll be back!

Minggu, 9 Juli 2017 (pukul 17.15 WIB) 

Kuliner dan Kota Singkawang tidak dapat dipisahkan! Bagaimana tidak? Di sepanjang jalan, kanan dan kiri banyak saya temukan kedai nasi campur dengan tampilan menunya (daging babi panggang, daging babi merah, bebek dan ayam panggang yang digantung) menggugah selera! Namun nasi campur tidak masuk agenda kami hari itu. Alih-alih Bang Yan (panggilan akrab Bang Cyprianus Stepupadeos, kakak sepupu saya) mengajak kami mampir ke kedai Bubur Babi yang terletak di Jalan Yos Sudarso. Saat saya menanyakan apa nama kedai yang selalu ramai ini, jawab keponakan saya cukup singkat, “Bubur Babi Yos Sudarso, oom” 🙂

Bubur Babi Yos Sudarso, Singkawang
Bubur Babi Yos Sudarso, Singkawang

Okay, kita coba seperti apa bubur babi khas Singkawang ini. Mbak Uding menanyakan, “Buburnya komplit apa ada pesanan khusus, Yog?” “Komplit aja, mbak” jawab saya. Maklum first timer, kudu coba versi paling komplit dulu, baru setting dan tentukan apa yang perlu ditambah atau dikurangi di kunjungan berikutnya. Sebelum bubur babi disajikan di meja kami, saya sempatkan mendokumentasikan engkoh dan cicik pemilik kedai meracik bubur-bubur kami. Mereka berdua dibantu anak-anaknya (mungkin), yang masing-masing bertugas meracik minuman dan membersihkan meja. Oh iya, ada cerita lucu. Saat saya sibuk mendokumentasikan proses meracik bubur pesanan kami, ulah saya mengundang tawa dan senyum para pengunjung lainnya, yang duduk di meja depan. Mungkin yang mereka pikirkan: “Ini mas-mas ngapain ya, koq serius banget foto-foto orang bikin bubur?” 🙂

Saya pesan bubur saya komplit, dengan lauk daging dan jerohan babi, telor rebus setengah matang, daun selada, kulit babi goreng, taburan minyak bawang putih, dan daun seledri. Nampak sangat menggugah selera!

Bubur Babi Yos Sudarso, Singkawang

Setelah saya coba, kuah kaldu babinya tergolong ringan, tidak kental. Dan ternyata bukanlah bubur seperti yang saya biasa makan. Jadi di kedai ini, buburnya adalah nasi lembut yang disiram kuah kaldu gurih, dengan topping dan condiment lengkap. Rasanya enak, gurih, dan bikin nagih! Soal kelezatan, buat saya 4,6 dari  skala 5 lah. Kalau ke Singkawang lagi, wajib datang ke kedai ini lagi, dan mencoba nasi campur khas Singkawang (yang katanya beda dibandingkan dengan nasi campur yang ada di Pontianak).  Saya sempat tanya ke cicik (mungkin putri pemilik kedai) harga per porsi bubur ini, dan tenyata harganya sangat terjangkau. Rp17.000,- kalau pakai telor rebus, tanpa telor rebus cukup dibanderol Rp15.000,- saja. Mungkin dengan minum (es liang teh), cukup mengeluarkan Rp20.000,- dari kocek. Kami datang ber-20, jadi bisa ditakar berapa yang harus dijamin (sebutan khas Pontianak, kalau dibahasa umumkan, artinya ditraktir) Bang Yan. “Wah, terima kasih traktirannya, Bang!”

Selesai kami makan, artinya selesai sudah edisi #SingkawangTrip hari ini. Artinya, kembali saya harus mempersiapkan stamina untuk membawa keluarga kembali ke kota Pontianak, selama kurang lebih 4 jam berkendara. Berangkat dari Kota Singkawang pukul 17.30 WIB dan kembali dengan selamat di Kota Pontianak tepat pukul 22.00 WIB. Lelah? Iya. Puas? Banget! Ingin kembali lagi? Pastinya! 🙂

Simak cerita #PontianakTrip saya di keesokan hari (Warkop A Siang, Kue Kia Theng Merapi, jalan-jalan di Pasar Flamboyan, belanja oleh-oleh di Kaisar Supermarket, makan nasi campur hingga menyusuri Sungai Kapuas di malam hari) di sini.

Ingin tahu cerita saya di hari pertama, bisa dibaca disini.

Sumber:

  1. Ngerinya Prosesi Tatung di Singkawang (travel.kompas.com)
  2. Cap Go Meh Singkawang 2017 dalam atraksi tatung yang memukau. Link: 
Advertisements

3 thoughts on “Pontianak Trip, The First Ever (Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s