April, Bulan untuk Homecoming (Bagian 3-Malang Trip Day 2)

Masih di Kota Malang!

Setelah hari pertama dihabiskan di Museum Angkut, hari kedua dan ketiga saya habiskan bersama keluarga di sekitaran kota Malang saja. Diantaranya di salah satu cafe yang ada di dekat rumah saya di daerah Joyo Agung/Merjosari, salah satu jalur alternatif ke Kota Batu. Ada beberapa cafe yang hampir semuanya dipenuhi pengunjung, diantaranya adalah Cokelat Klasik Cafe, Camilo Colors and Garden, Bukit Delights, dan beberapa cafe lainnya. Hari Sabtu malam, saya dan istri mengunjungi salah satu cafe, yang pertama kali buka di tempat ini, yaitu Cokelat Klasik Cafe.

Cokelat Klasik Cafe-Merjosari, Malang
Cokelat Klasik Cafe-Merjosari, Malang

Memang target market-nya adalah anak-anak muda, para mahasiswa/i yang suka hang out bersama teman-temannya di sela waktu mereka kuliah. Dan harganya pun tidak mahal.  Kebanyakan cafe yang ada di sebelah kanan jalan (dari arah kota Malang ke arah kota Batu) menjual pemandangan kota Malang dari atas. Kerlap kerlip lampu terlihat cantik saat malam hari. Dengan harga minuman rata-rata Rp10.000,- dan makanan Rp14.000,- s/d Rp25.000,- saya rasa sangat pas untuk kantong mahasiswa yang belajar di kota dingin ini.

Hari Minggu, hari car free day alias hari bebas kendaraan bermotor. Saya sudah coba ber-car free day-ria di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Kali ini saya harus coba car free day di kota Malang! Lokasi car free day terletak di Jalan Ijen, dari depan Gereja Katedral hingga Jalan Kawi, cukup panjang dan asik untuk sekedar olah raga ringan atau jalan-jalan santai bersama orang-orang terdekat dan keluarga. Di sekitar Jalan Ijen pun jadi lokasi berburu kuliner pagi yang tak kalah asyiknya. Lokasi kuliner terbanyak ada di sepanjang jalan Pahlawan Trip. Karena kita masih ada di kota Malang, harganya dijamin murah meriah. Dan enak-enak!

Car Free Day-Ijen, Malang
Car Free Day-Ijen, Malang
Car Free Day-Ijen, Malang

Saya sadari selama berada di kota kelahiran, pasti banyak supan makanan bergizi yang masuk ke perut. Dari serangkaian wisata kuliner, dan masakan ibu sendiri di rumah. Karena itu, saya wajib meluangkan waktu untuk olah raga. Inginnya, saya main basket lagi bareng teman-teman lama saya, namun sayang sekali jadwal basket teman-teman bentrok dengan jadwal jalan-jalan dengan keluarga. Sorry fellas, next homecoming ya!

Bertemu teman SMA, Yanuar Lukman. The Converse Dad 🙂

Lari, yang dari dahulu jadi olah raga yang sangat sederhana-hanya bermodal alas kali apapun atau bahkan bertelanjang kaki, kini jadi olah raga yang trendy. Trend ini melahirkan banyak grup pecinta olah raga lari, event lomba lari berskala lokal bahkan internasional yang diikuti ribuan peserta. Juga, karena sudah masuk gaya hidup, olah raga lari pun membutuhkan pernak pernik khusus yang membuat mereka yang menekuni olah raga ini terlihat keren. You name it, sepatu yang berharga jutaan rupiah, pakaian lari yang juga mahal, belum lagi smart watch untuk mengukur detak jantung, kecepatan lari, dan jarak yang ditempuh. Namun sebenarnya, efek yang dicari adalah stamina yang prima dan jauh dari penyakit. Efek lainnya? Jarum timbangan badan yang semakin beranjak ke kiri 😉

Dan saya sadari ini. Ditengah aktivitas saya, sangat susah untuk bisa main basket seperti dulu, yang hampir setiap hari. Sekarang, olah raga yang sangat ideal dan bisa saya lakukan kapan saja, pagi dan sore/malam hari adalah lari. Karena rutinitas ini, saya yang dulunya hanya kuat lari paling jauh 2 kilometer saja, kini sudah mulai beranjak kuat berari sejauh belasan kilometer. Memang sangat berbeda antara olah raga basket dan lari dari sisi berlari. Di olah raga basket, tidak hanya berlari, namun juga melompat dan aktivitas lainnya yang memerlukan koordinasi kaki dan tangan. Dan basket adalah olah raga team, jadi tidak ada rasa bosan karena berkompetisi dengan orang/team lain.

Main basket dengan teman-teman lama di Hall Champions Tidar, 3 September 2016 yang lalu

Lari? Wah, pertama kali mencoba menekuni olah raga ini, menghilangkan kebosanan adalah hal yang pertama kali saya lakukan. Saya bilang, you have to make peace with yourself, in running. Karena sejauh berlari, lawan terberat adalah diri kita sendiri. Rasa capek, bosan, pegal, dan sebagainya harus perlahan-lahan coba diacuhkan. Diganti dengan dorongan untuk terus dan tetap berlari. Musik yang diputar dan didengarkan lewat earphone hanya pengalih perhatian saja, dari rasa bosan yang melanda saat kita berlari. Bosan karena melakukan hal yang itu-itu saja selama waktu yang lama. Dan selama saya berlari, saya menemukan kedamaian tersendiri, seperti sedang berkontemplasi. Merenungkan dan memikirkan tentang apa yang pernah terjadi dan merencanakan apa yang akan saya lakukan di kemudian hari, sambil terus berlari.

Gereja Santa Maria Bunda Karmel-Jalan Ijen, Malang
Gereja Santa Maria Bunda Karmel-Jalan Ijen, Malang

Dan kedamaian pun saya temukan di tempat ini. Gereja Ijen, nama sebutan untuk Gereja Katedral Santa Maria Bunda Karmel (SMBK), adalah gereja yang selalu saya datangi sejak kecil. Saya dibaptis, menerima sakramen komuni pertama, dan menerima sakramen krisma di gereja ini. Saya pun sebenarnya ingin juga menerima sakramen perkawinan di gereja ini. Namun tenyata sejak saya merantau ke Jakarta di tahun 2005, saya menemukan jodoh saya di Jakarta, dan kemudian menikah disana. Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya sudah pernah beberapa kali mengajak istri datang ke gereja ini untuk berdoa bersama-sama 🙂

Temukan tulisan homecoming trip saya di hari sebelumnya disini dan disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s