Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 4- How Brand Can Tap In)

Tulisan saya sebelumnya tentang Working-Walking-Talking with Millennials dapat dilihat di link berikut ini:

  • Working-Walking-Talking with Millennials Bagian 1
  • Working-Walking-Talking with Millennials Bagian 2
  • Working-Walking-Talking with Millennials Bagian 3

 

Brand. Company. Millennials. 

Kita sudah lihat potensi yang ada di generasi muda kita, generasi Y dan generasi Z yang bisa memanfaatkan dan memaksimalkan jaringan internet untuk bermacam-macam tujuan. Diantaranya; menunjukkan expertise yang sudah mereka punyai sejak usia muda, berinteraksi dengan sesama anak muda dan jejaringnya, mencari peluang untuk magang (internship), bekerja paruh waktu (part-time), dan juga peluang untuk mendapatkan pekerjaan penuh waktu (full time), dimana mereka sudah mengambil ancang-ancang untuk membangun karirnya sebagai pekerja profesional, entah berlabuh di legacy company atau membangun start up company dengan sejawatnya.

Dari sisi perusahaan yang melihat future employee-nya ini harus juga berani menggeser paradigma. Bahwa bukan selamanya kekuatan tawar menawar ada di tangan HRD, seperti jaman saya melamar pekerjaan, yaitu mengikuti serangkaian test, dimana kekuatan tawar-menawar ada pada perusahaan. Orang-orang HR jaman dulu saya lihat sangat kuat (baca: menakutkan) dalam menentukan calon pekerja ini layak bergabung ke perusahaannya atau tidak. Simply by using singular tools. Mulai dari wawancara user dan HR, psikotest, test kesehatan, dan sebagainya. Felt just want to beg them to give me a good job, back then.

millennials_1
Sumber : http://www.iamagazine.com

Namun kini, kekuatan tawar menawar sedikit bergeser ke calon pekerja. Istilah yang saya pakai, orang-orang HR ini harus mau sedikit ‘ngalah’ jika bertemu dengan anak-anak muda dalam konteks rekrutmen. Orang HR sekarang harus membiasakan diri jika bertemu anak muda yang bergaya casual, sangat santai, lebih mendengarkan apa yang mereka bicarakan dan inginkan dalam konteks bekerja. Termasuk terbiasa dengan pertanyaan semacam ini: “Disini open wi-fi nggak?” Atau “Disini saya boleh browsing dan buka social media nggak?” Sampai pertanyaan semacam: “Saya boleh ke kantor pakai jeans, sneakers, dan kaos oblong/hoodie kan?” atau“Saya nggak harus datang ke kantor setiap hari kan? Saya bisa bekerja juga diluar kantor koq” 😀

 

millennials-v_3
Sumber: http://www.makemac.com/ios-app-development-center

Orang-orang HR jaman lama akan terkaget-kaget jika bertemu dengan ‘tipe manusia’ seperti ini. Well, jaman sudah berubah. Thanks to internet, by the way.

Lalu bagaimana brand (atau company) bisa menggali dan mendapatkan sesuatu dari mereka, sebelum mereka masuk ke tempat kerja? Saat mereka masih kuliah dan memegang idealisme mereka sedemikian rupa?

Saya bisa sampaikan dalam konteks pengalaman saya sebagai pengampu mata kuliah Pemasaran Digital di FISIP Universitas Indonesia. Jadi, anak-anak muda ini sangat suka dengan tantangan yang dibungkus dalam bentuk project. Bisa dalam bentuk presentasi kelompok, atau exhibition. Tantangannya adalah membuat konsep komunikasi (merancang pesan) untuk sebuah brand lewat channel tertentu (let’s call it digital) kepada target market atau target audience tertentu. Surely this is soooo… exciting! Especially for those advertising students, or some  public relation students!

Kita bisa melihat daya imajinasi mereka yang sungguh liar, bahkan diluar batas imajinasi kita, generasi yang tentunya lebih tua dan lebih berpengalaman. Let’s call it this way, generasi yang sudah berpengalaman seperti kita, sudah terbiasa menghadapi dan menyelesaikan permasalahan, tantangan, dan sejenisnya. Sehingga secara tidak sadar, jalan pikiran kita akan mengerucut ke suatu pola tertentu yang sama. Sampai pada tahapan jika ada seseorang yang boleh dibilang belum terlalu berpengalaman mengutarakan ide baru, kita akan dengan mudahnya (dengan arogannya, terkadang) mematikan ide tersebut dengan argumen A-Z hanya berbekal pengalaman kita, men-challenge ide-ide gila dan segar tersebut dari sudut pandang yang terkadang sangat sempit, yang secara otomatis akan menggiring kita ke kesimpulan awal bahwa, “Ide ini tidak akan bisa jalan…” 😦

Ini yang biasanya terjadi. Dimana ide-ide tersebut jika dihadapkan ke team panelis yang close minded, akan ‘selesai’ lebih awal. Apalagi jika ditambahi embel-embel personal interest, menyelamatkan diri sendiri, agar tetap ada di comfort zone mereka. Padahal, keuntungan yang bisa diambil dari idealisme pemikiran para millennials ini oleh brand owner atau company adalah, mereka (atau kami) bisa memperoleh ide-ide segar untuk tetap kompetitif dan relevan dengan pasar. Semacam crowdsourcing, menggali ide dari eksternal. Yang mungkin sudah susah kita dapatkan secara internal. Terlebih jika kita sudah sedemikian sibuk mengurusi hal-hal yang berbau rutinitas.

Sesi Role Play Pitching 1 - Client Brief by Brand Team
Sesi Role Play Pitching 1 – Client Brief by Brand Team

Dari presentation project yang saya berikan ke mahasiswa/i saya sebelum ujian tengah semester semester ganjil 2016 ini, banyak ide-ide yang bisa saya adopsi untuk merancang sebuah campaign untuk sebuah brand. Diantaranya tentang cara melihat permasalahan dan tantangan yang diberikan, kemudian merancang key message sebelum dijadikan campaign dalam sebuah presentation deck yang sangat menarik dan compelling. Dan satu lagi, cara mereka menyajikan deck yang sudah mereka susun sedemikian rupa dengan sangat menarik. Terkadang saya lupa bahwa saat itu saya sedang melihat mahasiswa/i yang tengah presentasi dalam sebuah sesi role play, seolah-olah saya sedang berada dalam pitch meeting dengan seorang account manager/executive didampingi oleh creative director dari sebuah digital agency.

Sesi Role Play Presentasi dari Salah Satu Team Digital Agency
Sesi Role Play Pitching 2 – Presentasi dari Salah Satu Team Digital Agency

In the end, for me, it’s only a game. But for them, it’s an experience. Karena setelah akhir semester ini, jika kuliah mereka selesai (semester 6), mereka akan terjun ke dunia periklanan atau dunia komunikasi pemasaran lainnya. Namun jika mereka masih ada di semester 5, di semester selanjutnya mereka akan bertemu mata kuliah dimana mereka akan mengalami hal yang sama. Membuat konsep komunikasi pemasaran untuk sebuah brand. A real brand. 

Brand bisa tap in disini dengan memberikan project, a real project, dimana dari hasil sesi-sesi role play presentasi seperti ini, mereka bisa mendapatkan banyak sekali ide segar. Bukan hanya dari sisi mengkomunikasikan pesan ke target audience lewat channel yang spesifik, rekan-rekan brand owner dan brand manager bisa melihat cara mereka masing-masing dalam kelompok melihat suatu permasalahan sebagai suatu opportunity. Di semester ganjil 2016 yang lalu, ada sebuah brand yogurt based dessert yang sudah sangat terkenal, dan satu lagi merek otomotif baru (mobil) yang hadir di tengah-tengah mereka untuk memberikan challenge, membuat campaign plan yang integrated antara online dan offline.

20161017_160837
Sesi Role Play Pitching 3 – Digital agency and their partner, the brand team

See? You surely can not take this millennials’ potentials for granted. Not just for your future market, but also for crowd-sourcing fresh ideas! 🙂

Temporarily to be continued… 🙂

Sumber:

  1. http://www.iamagazine.com/strategies/read/2014/07/25/what-millennials-want-and-how-to-deliver/
  2. http://www.makemac.com/ios-app-development-center
Advertisements

2 thoughts on “Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 4- How Brand Can Tap In)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s