Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 3: Instagram)

(dua tulisan saya sebelumnya tentang millennials bisa dibaca disini dan disini)

All work all play!

Salah satu mahasiswi saya yang tergolong talented-in her own way, mengirimkan pesan pribadi ke saya lewat Instagram message/chat di penghujung tahun 2016 yang lalu, mengucapkan terima kasih atas apa yang saya bagikan selama semester ganjil yang lalu. Sayapun membalas pesan dengan ucapan bahwa saya juga belajar banyak dari mereka atas interaksi yang terjadi di dalam dan diluar kelas.  Salah satunya adalah bagaimana saya, sebagai representasi dari sebuah merek (sebagai seorang karyawan yang ditugaskan di divisi marketing communication), melihat dan belajar bagaimana millennials berinteraksi dengan media sosial yang mereka gunakan. Well, sebagian besar dari mereka, mahasiswa Komunikasi FISIP Universitas Indonesia ini adalah pengguna setia Snapchat, Instagram dan Path. Bagaimana dengan Facebook, Twitter, Youtube, Blog? Ada, namun tidak seintens Instagram dan Path.

Khusus untuk Path, saya tidak akan menulis lebih jauh tentang media sosial yang bisa kita atur siapa audience dari pesan yang kita bagikan ini, karena karakteristik media sosial yang sangat private ini. Snapchat? Saya bukan pengguna Snapchat yang intens, malah cenderung pengguna pasif saja. So, no further talks about this Snapchat thing either.

Instagram!

Bagaimana millennials ini menggunakan Instagram sebagai saluran untuk berinteraksi dan berekspresi dengan sekitarnya? Saya temukan adanya pergeseran penggunaan Instagram ini, saat ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan saat-saat awal Instagram booming kembali di Indonesia. Instagram yang diakuisisi oleh Mark Zuckerberg di circa Mei 2012 senilai US$1 miliar dalam bentuk uang tunai dan saham Facebook, kini menjelma menjadi saluran millennials untuk berkomunikasi, berinteraksi dan berekspresi . Bedanya ada pada banyaknya jumlah postingan foto di Instagram feed. Terutama semenjak Instagram meluncurkan produk Instagram Stories di tahun 2016 ini, yang mengadopsi Snapchat dalam banyak sisi. Pesan (photos or videos) dibagikan saat itu juga dari kamera smartphone (tidak melalui gallery), untuk dapat terlihat dalam jangka waktu 24 jam saja (anda juga bisa membaca cara membuat Instagram Stories disini).

Memang, jumlah postingan foto atau video di Instagram feed anak-anak muda (capek bilang millennials terus euy!) yang saya follow ini jauh berkurang dibanding sebelum adanya Instagram Stories, atau mereka sebut sebagai ‘snapgram’.  Mereka cenderung berekspresi di stories mereka. Mereka yang saya follow bisa share belasan bahkan puluhan stories setiap harinya. Foto dan video keseharian mereka. Bayangkan kalau kita, generasi yang sedikit lebih tua ini (I’m 36 years old now which somehow can be categorized as millennials) melihat puluhan atau belasan postingan foto dan video dari mereka, yang membagikan momen-momen dimana mereka sedang di kelas-mengikuti kuliah seorang dosen (baca: bosan) , makan di kantin TAKOR (Taman Korea) atau di POLAY (place for leisure and yawn) di samping gedung komunikasi FISIP UI, tempat dimana saya melihat mereka berkumpul di sela-sela waktu kuliah? Pasti akan ngedumel sendiri, “Ini anak-anak koq sukanya nyampah di Instagram ya?” Belum termasuk melihat iklan yang tiba-tiba muncul di Instagram feed kita 😀

20161108_134737
Pemandangan pertama di kawasan FISIP UI yang selalu saya lihat setelah parkir mobil

Namun lewat Instagram Stories, hal ini tidak terjadi. Mereka lebih bebas berekspresi dan berinteraksi (lewat fitur chat/message didalam Instagram Stories) tanpa menggangu/memberatkan feed jejaringnya.

Anak-anak muda ini juga sangat selektif dalam memilih memilah followers-nya. Mereka cenderung mengunci akun Instagramnya, agar orang-orang yang mereka kenal saja yang bisa melihat postingan di feed mereka, dan terlebih postingan stories mereka. It’s some kind of private thing, Instagram for these millennials. Untuk masuk ke lingkaran mereka, sebenarnya tidak  mudah. Perlu menjadi orang yang mereka rasa friendly enough, yang menjadi semacam pass key untuk masuk ke lingkaran atau jejaring mereka. By sending requests 🙂

Namun tidak semua millennials mengunci akun Instagram mereka koq. Banyak anak muda yang saya follow membuka bebas akun Instagramnya, karena mereka memiliki sesuatu yang mereka ingin orang lain lihat. Mereka sharing expertise, special skills, experiences, showcasing hasil karyanya, dan semacamnya yang dapat menambah values diri mereka secara personal. Misalnya untuk beberapa mahasiswa/i saya yang menekuni dunia modelling, do it your self (DIY), menyanyi, melukis-menggambar karikatur-komik, dan hal-hal kreatif lainnya.

Karena hal-hal yang saya sebutkan diatas itulah, saya merancang ujian akhir mereka semester ini sebagai hal yang (bisa jadi) hal yang menyenangkan. Mereka saya minta membuat personal content, yang mereka buat sendiri berdasarkan apa yang mereka sukai, nikmati di keseharian mereka. Jika mereka suka membuat konten video, maka mereka bisa membuat vlog atau youtube video tentang apapun yang mereka mau. Jika ada yang suka dunia tulis menulis, mereka bisa membuat artikel untuk diunggah di academia.edu, postingan blog di wordpress, tumblr, atau blogspot. Atau bisa juga gabungan keduanya-visual dan tulisan, membuat karya dalam bentuk slide, yang tentunya diunggah di slideshare.net.  Sengaja karya-karya mereka saya wajibkan untuk diunggah ke platform-platform seperti yang disebutkan diatas, lalu dibagikan ke jejaring sosial yang mereka punya, dengan tujuan agar masing-masing konten yang mereka bagikan dapat dibaca, dilihat, dan dinikmati orang banyak.

Mereka yang merancang kontennya sendiri, mereka yang menentukan hendak diunggah ke platform apa konten yang mereka buat, mereka pula yang merancang sendiri cara mem-viralkan konten mereka secara organik, dengan memanfaatkan jejaring sosial dan komunitas mereka sendiri-sendiri.  Dan pada umumnya ujian yang sangat enjoyable buat mereka adalah diberikan tugas khusus untuk dikerjakan di rumah, baik sendiri-sendiri maupun dalam kelompok. And I found that this is exciting for them! 

Dibawah ini adalah contoh Instagram post dari salah satu mahasiswi saya (sudah lulus bulan Desember 2016 yang lalu), Sabila Anata-yang menurut saya tergolong anak muda yang kreatif dan tentunya cerdas.

capture_2016-12-31-05-22-19

 

See the caption? Anak muda ini merasa tertantang dan felt very passionate kalau diberikan tugas seperti ini. Membuat sebuah project bersama-sama untuk ujian akhir semester mereka. So it doesn’t seem to feel they are doing an exam. They’re doing something they are passionate about. It’s priceless for a teacher or lecturer to given a feeling that way. 

Sebelumnya, ujian tengah atau ujian akhir semester di awal-awal saya mengajar (2013), saya berikan dalam bentuk seat in, mereka duduk menjawab soal-soal yang saya susun sedemikian rupa dalam waktu 90-120 menit. Okay, mereka masing-masing mendapatkan nilai dari uraian jawaban yang diberikan. Tapi setelah itu? Kertas jawaban yang mereka akan jadi onggokan kertas-kertas jawaban ujian yang suatu hari akan dimusnahkan, demikian juga dengan soal yang saya susun yang dicetak dan di-copy sebanyak mahasiswa di tiap kelas. Dan yang mereka dapatkan (nilai), hanya menjadi sebuah huruf saja di transkrip mereka.

Namun lain halnya dengan apa yang mereka lakukan di ujian take home (presentasi, pameran, dan sejenisnya) ini, mereka akan ingat apa yang mereka kerjakan dalam waktu yang lama. Mereka akan menghasilkan karya yang bisa ditinggalkan untuk selanjutnya dapat menginspirasi mahasiswa, dosen, anak sekolah (SMA), atau bahkan masyarakat awam diluar kampus. Meninggalkan karya.

So, about them is all work all play!

 

Exit Gate Universitas Indonesia, sesaat sebelum pulang
Exit Gate Universitas Indonesia, melintas sesaat sebelum pulang

 

Sumber :

  1. http://tekno.kompas.com/read/2016/08/03/20150037/Begini.Cara.Membuat.Stories.di.Instagram
  2. https://digitalmarketer.id/news/updatean-terbaru-social-media-instagram-meluncurkan-instagram-stories/
  3. https://m.tempo.co/read/news/2012/04/10/061395922/facebook-akuisisi-instagram-rp-9-1-triliun
  4. http://instagram.com/sabilaanata

 

Advertisements

One thought on “Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 3: Instagram)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s