Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 2-Different Treatment)

(tulisan sebelumnya, Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 1) bisa dilihat disini).

 

Jika saya ditanya, tiga kata apa yang pertama terlintas di benak saya saat mendengar kata millennials: confidence, (easily got) distracted, dan (want to be treated) different(ly). Yang pertama, mereka punya rasa percaya diri akan potensi masing-masing. Karena yang saya lihat mereka sudah mulai tahu kekuatan mereka dimana, minat mereka di apa, dan bagaimana memaksimalkan potensi tersebut. Bagusnya adalah mereka tidak memaksakan diri untuk melakukan apa yang mereka rasa tidak terlalu mereka kuasai. Kalau misalnya mereka bagus di public speaking, mereka tidak perlu memaksa diri untuk bagus juga di creative design atau hal-hal lainnya, misalnya: coding. Sebenarnya mereka cukup fokus untuk meningkatkan level keahlian mereka di (misalnya) public speaking dengan mengembangkan kemampuan creative and critical thinking, dan hal-hal lain yang menunjang.

Yang kedua, generasi yang juga dikenal dengan sebutan ‘langgas’ ini juga sangat mudah ter-distracted, fokus perhatiannya mudah teralih. Hal yang paling mudah mengambil alih perhatian mereka adalah notifikasi dari smartphone mereka, entah dari nada dering atau getaran yang muncul ditengah-tengah sesi kuliah, atau saat mereka sedang asyik ngobrol dengan teman-teman mereka. Bisa jadi mereka langsung melupakan topik bahasan seru dengan teman-teman satu geng-nya, manakala notifikasi chat/obrolan ‘Hi!’ dari orang terdekat (entah pacar, gebetan, atau bahkan mungkin mantan pacar) terbaca di layar smartphone mereka. Reaksi bisa bermacam-macam. Langsung gembira (umumnya), yang ditandai dengan senyum tipis di ujung bibir untuk menyembunyikan instant excitement yang muncul dari teman-temannya, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan berdasar ingin tahu, atau ‘kepo’ 😀

guru-ikhlas
Guru Ikhlas-KH. Maimoen Zubair

 

The thing is, as a lecturer or teacher, the challenge is keeping their focus on what we’re sharing. Tidak dengan menaikkan intonasi atau volume suara kita, bukan saja karena ini kurang baik (apalagi jika di naiknya volume dan intonasi suara kita terbaca rasa kesal atau emosi karena perhatian terpecah). Kalau kata KH. Maimoen Zubair, “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.” Nah kan 🙂

Namun menurut saya, jika ada mahasiswa/i dalam kelas saya yang tidak mengerti apa yang saya sampaikan, saya menganggap kesalahan ada pada diri saya. Misalnya saat mengetahui hasil quiz yang saya jadikan tools menunjukkan hasil yang tidak bagus. Mungkin cara saya berkomunikasi yang membuat  materi tidak diterima dengan baik, entah pengucapan saya, bahasa yang saya pakai, atau saya kurang engage dengan mereka dalam proses berbagi informasi tadi.

20161018_161502
Me and my kids 🙂

Ketiga, mereka masing-masing adalah pribadi dengan karakter, kemampuan, minat yang unik. Tidak ada yang sama. Jadi akan lebih baik kalau alat ukur yang diberikan lebih bersifat memberikan ruang buat mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka minati, ketahui dengan baik. Jadi misalnya saya mengajar tiga puluh dua mahasiswa/i dalam satu kelas, jika diberikan test dalam bentuk take home, dimana mereka bisa memilih sendiri bentuk take home apa yang mereka sukai dan pernah kerjakan, saya akan punya kurang lebih tiga puluh dua tools/cara menguji mereka secara unik.

Caranya sederhana. Buat panduan untuk semuanya, rambu-rambu dan ketentuan-ketentuan apa saja yang harus dipenuhi. Namun cara berekspresi mereka masing-masing bisa berbeda-beda. Sekarang memang jamannya video, dimana youtuber atau vlogger dipandang punya status ‘elite’ di komunitas digital (not mentioning how much money they earned from their works), tapi tidak harus kan, masing-masing dari mereka membuat file video untuk diunggah ke youtube? No!

Tidak semua mahasiswa/i suka membuat konten video. Jadi pilihannya adalah membuat konten tulisan (unggah ke blog, academia.edu, facebook notes, dll), infografis (unggah ke blog, tumblr misalnya), slide presentasi (unggah ke slideshare.net), dan tentunya video untuk diunggah ke youtube.

Masing-masing akan dapat ruang untuk berekspresi, menunjukkan apa yang mereka sukai untuk kerjakan, apa yang mereka minati, apa yang mereka enjoyed the most. Tujuannya adalah agar masing-masing mahasiswa/i punya konten yang searchable, dan tentunya shareworthy-shareable. Bukan saja wajib membuat konten sesuai preferensi masing-masing, mereka juga harus bisa menjelaskan konsep dari konten yang mereka buat, sekaligus menjelaskan cara mereka mendistribusikan konten tersebut di platform media sosial dan jejaring sosial yang mereka punya. Selain itu, agar setelah lulus dari mata kuliah yang saya ampu, mereka meninggalkan sesuatu. Leaving a trace that perhaps someday can inspire others, or just simply want to join them in their faculty of social and political science or especially at communication department.

Here’s the sample, you can click one of these links to find out some of their works : blog post, facebook notes, slides, artikel, and youtube video.

 

(Bersambung)

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 2-Different Treatment)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s