Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 1-Getting Close With Them)

Saya ketik keyword ‘millennials adalah’ di google.com dan hal pertama yang keluar adalah pengertian ini :

Millennials adalah mereka yang kelahirannya antara tahun 1981-1994 (beberapa yang lain menyebut hingga sebelum tahun 2000). Mereka juga adalah orang-orang dengan usia produktif sekaligus konsumen yang mendominasi pasar saat ini.”

Dan ada banyak sekali sumber yang menyatakan pembabakan generasi yang berbeda-beda, namun mengacu pada Brotheim, 2014, secara umum pembabakan generasi yang menggambarkan keadaan dalam dunia kerja Amerika Serikat saat ini adalah Veterans (lahir diantara tahun 1922 dan 1945), Baby Boomers (lahir diantara tahun 1946 dan 1964), Generation X (lahir diantara tahun 1965 dan 1979), dan Generation Y (lahir diantara 1980 dan 2000).

Saya lahir di tahun 1980, so I guess I’m more or less one of them 🙂 Saya termasuk dalam generasi langgas 😉

20160926_161040_pano

 

Tahun ini saya masih dipercaya untuk mengajar mata kuliah Pemasaran Digital di Komunikasi-FISIP Universitas Indonesia. Semester ganjil tahun 2016 ini sedikit berbeda dengan semester sebelumnya, bedanya adalah yang saya ajar bukan hanya dari konsentrasi Periklanan, namun juga mahasiswa/i dari Hubungan Masyarakat, Jurnalistik, dan juga Kajian Media. Artinya, saya akan dapat point of view lebih banyak tahun ini. Bukan hanya dari mereka yang memilih penjurusan di periklanan, namun juga dari konsentrasi  ilmu yang lain. I was so excited about how I will got myself inspired by them!

So literally I’m working, walking, and talking with them. The millennials.

Sedikit melihat ke belakang. Saya, yang dahulu diajar oleh dosen yang secara usia sebagian besar masuk ke generasi baby boomers dan bahkan beberapa masuk ke generasi veterans, mengikuti setiap kuliah dengan sangat serius. Sangat serius disini dapat diartikan: duduk manis, menyimak, tidak pegang HP (karena saat itu, di tahun 1998-2001 belum banyak HP, apalagi smartphone) sama sekali, tidak buka laptop (jarang sekali ada teman kuliah yang memiliki laptop saat itu-such a luxurious stuff), mencatat, dan sesekali menguap menahan kantuk, terlebih jika mengikuti kuliah di jam-jam kritis, diatas jam 12 siang sampai jam 4 sore. Jam-jam dimana saya mengajar setiap hari Senin dan Selasa di semester ganjil tahun ini.

Dan dosen saya saat itu pun mengajar lebih banyak mengambil dari buku, so very text book-ish. Maklum saat itu, sangat jarang dosen dari praktisi diundang mengajar di kampus saya, Universitas Brawijaya Malang. Dosen saya saat kuliah S1 dulu kebanyakan adalah para akademisi. Dan gaya berpakaian saya dan teman-teman saat itu cenderung rapi (beberapa dosen mengharuskan kami menggunakan kaos atau kemeja berkerah, celana bahan, dan bersepatu semi formal). Namun ada dosen yang termasuk santai dalam urusan berpakaian ini, cenderung membebaskan mahasiswa/i nya dalam berbusana saat ke kampus, termasuk kaos oblong, jeans, dan sneakers.

Kadang sempat berpikir kalau dulu kuliah berasa capek, karena dalam waktu dua setengah jam harus duduk diam menyimak apapun yang disampaikan oleh dosen, yang kebanyakan searah. Mereka pasti membuka sesi tanya jawab, tapi entah kenapa di jaman saya jarang ada mahasiswa/i yang bertanya. Yang sering mengajukan pertanyaan ya mereka-mereka, mahasiswa/i yang duduk di barisan paling depan. Saya? Saat kuliah saya termasuk yang suka menyimak dan mencatat saja, dan jarang sekali mengajukan pertanyaan. Bukan penghuni barisan paling belakang juga, saya lebih suka duduk di barisan tengah saat kuliah dulu.

20161010_141418

 

Memang di kuliah saya, saya cenderung membebaskan mahasiswa/i saya untuk membawa minuman dan makanan kecil sebagai penghilang kantuk, boleh melihat/membuka laptop atau smartphone saat mendengarkan saya membagikan materi, dan sedikit berdiskusi dengan teman-temannya (atau bisa dibilang ngobrol). Saya buat suasana kuliah se-casual mungkin, namun saya harus pastikan materi yang saya sampaikan bisa dimengerti dengan jelas oleh mereka.

Tools-nya cukup mudah, saya tinggal berikan quiz untuk mengukur seberapa baik mereka menangkap apa yang saya bagikan, kadang saya memberikan pertanyaan-pertanyaan dalam Google Form yang bisa mereka buka dan kerjakan langsung di smartphone atau laptop mereka, materi-materi yang tidak saya cantumkan di slide, tapi materi yang saya sampaikan secara lisan, entah itu case study suatu brand, dan lain-lainnya.

Mungkin kalau dosen-dosen saya jaman kuliah dahulu mengajar para millennials ini sekarang, mereka bakalan stress. Karena beliau akan melihat perhatian para mahasiswa/i nya terpecah, bukan saja fokus ke apa yang disampaikan, tapi mendengarkan sekaligus mengerjakan hal lain. Atau sebaliknya, mahasiswa/i ini yang jadi stress 😀

But that’s what it is. I’m walking, talking, and working with them. I’m not talking to them, but I’m talking with them. Got the difference? 🙂 I involved them in every lecture session. I continuously tried.

(Bersambung. Tulisan saya selanjutnya bisa dilihat disini).

Sumber :

  1. Siregar, Khalya Karamina (2016). Generasi Z: Pertimbangan Brands Untuk Membidiknya Sebagai Target Utama. Universitas Indonesia.
  2. http://www.google.com
Advertisements

2 thoughts on “Working-Walking-Talking With Millennials (bagian 1-Getting Close With Them)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s