Indonesia E-Commerce Summit and Expo Day 2 #IESE2016

Hari kedua!

Sebagai peserta yang didaftarkan sebagai Summit Participant adalah bisa mendapatkan keistimewaan mendengarkan para ahli e-commerce, digital marketing, start up techpreneur, dan orang-orang (penting) dari kementerian berdiskusi dan memberikan key note speech-nya. So, I owe a great gratitude to my company, that kindly sent me to attend this e-commerce summit and expo. There I said it 🙂

20160428_095217_HDR
Bapak Liky Sutikno dari INACHAM, on his key note session

 

Sesi pertama yang saya saksikan di ball room utama di tanggal 28 April 2016 ini adalah tentang e-commerce di China, yang disampaikan oleh Bapak Liky Sutikno dari INACHAM (Indonesia Chamber of Commerce in China). Semacam KADIN (Kamar Dagang Industri) kita di China, yang diisi oleh pebisnis-pebisnis Indonsia yang menjalankan bisnisnya di sana. Satu key highlight dari pidato beliau sudah saya tulis di blogpost #IESE2016 Day 1, yaitu bagaimana internet dan perdagangan cross borders bisa menghidupi sebuah desa di China, sehingga seluruh penduduknya dan warga sekitar bisa hidup dengan sangat sejahtera (baca : kaya raya). Desa tersebut adalah penghasil mainan dan pernak-pernik yang output-nya langsung ditampung oleh eksportir untuk langsung dibawa ke negara-negara tujuan ekspornya, termasuk Amerika dan negara-negara Eropa. Dan bahkan desa ini adalah pemasok 80% dari pernak-pernik Natal ke negara-negara tersebut. Satu hal yang bisa merubah hidup warga desa ini adalah internet, dengan platform e-commerce dan media sosialnya.

Lesson learned dari key note speech Pak Liky :

  1. Invest in long term brand recognition
  2. Engage in multiple channel
  3. Heavy promotion in early stage – to achieve better spot
  4. Create an attractive product description page
  5. Accumulate more consumer ratings or reviews to get better promotion
  6. Maintain a clear rational price policy across multi-channel
  7. Quick response – invest in man power to handle community in digital media

Setelah sesi key note speech ini, saya beralih-pindah ruangan ke ruang-ruang workshop untuk melihat materi yang cukup menarik, yaitu tentang logistik. Dibawakan oleh Pak Mayland Hendar Prasetyo dari JNE.

20160428_111344

Salah satu key take out dari presentasi beliau adalah apa yang diinginkan oleh konsumen e-commerce di Indonesia, berdasarkan survey yang dilakukan oleh JNE sendiri, yaitu :

  1. Pelayanan yang lebih cepat
  2. Pelayanan pengiriman barang yang aman (dengan pengepakan yang layak dan baik)
  3. Dijamin asuransi
  4. Informasi yang jelas akan biaya pengiriman dan estimasi waktu pengiriman

Keempat hal diatas jika selalu dapat dipenuhi oleh JNE dan perusahaan jasa logistik yang lainnya, maka akan menjamin pertumbuhan dari bisnis e-commerce sendiri, yang menurut data (disampaikan hampir di sepanjang summit, expo dan workshop ini) persentase kontribusi online retail masih kurang dari 1% dibandingkan total offline retail value. Kenapa bisa demikian? Karena trust dari konsumen akan semakin kuat ke jual beli online ini, yang secara otomatis akan membantu membangun ekosistem e-commerce itu sendiri. Dari hasil survey internal JNE tadi, kemudian dikembangkan hal-hal berikut ini :

  1. Tariff list of shipment
  2. Trace and tracking package
  3. The detail of information about shipment outlets such as operational hours, addresses, etc.

Intinya adalah keamanan dan kenyamanan di sisi konsumen. Saya selaku online shopper juga merasakan manfaat dari usaha JNE meningkatkan kenyamanan pelanggannya ini dengan menghadirkan airway bill (nomor resi) yang diambil dari nomor kode pengiriman online shop atau marketplace (Lazada, dan sejenisnya). Serupa dengan bar code, kemudian kode ini oleh engine JNE diterjemahkan menjadi airway bill (nomor resi), yang disampaikan oleh si merchant ke customer-nya untuk dapat dilacak lewat website JNE atau aplikasi MyJNE (downloadable at Play Store and Apps Store). 

Salah satu hal yang dibicarakan di beberapa summit dan workshop adalah keberadaan COD (cash on delivery) sebagai pilihan pembayaran. E-commerce hadir untuk melayani gaya hidup cashless society, artinya segala transaksi diselesaikan secara online, entarh lewat bank transfer (internet banking atau mobile banking), e-money, dan kartu kredit. Memang langkah ini dihadirkan oleh ZALORA untuk membantu meningkatkan trust masyarakat akan e-commerce. Namun pada prakteknya ditemukan beberapa hal yang cenderung merugikan :

  1. Resiko yang timbul, karena petugas pengantar membawa uang cash (hilang dan resiko tindak kejahatan)
  2. Banyak kejadian cancel order (barang dibawa kembali ke gudang/returned goods)
  3. Uang palsu

Juga untuk memudahkan pelanggan mengambil pesanannya, JNE menyediakan JNE Pick Up Point yang bisa dipesan oleh penerima paket untuk mengambil paketnya di tempat-tempat strategis dimana layanan JNE ini berada. Ini sama halnya dengan layanan POP BOX, dimana di tempat-tempat keramaian (stastiun KA, mall, dan sebagainya), POP BOX membuat locker-locker khusus yang hanya bisa dibuka dengan kode khusus yang dikirimkan ke smartphone si penerima paket.

Sumer : techinasia.com
Sumber : techinasia.com

Setelah selesai melihat presentasi daru JNE ini, saya kembali ke ball room utama, melihat diskusi panel tentang Money In – Money Out. Yup, kali ini yang dibahas sisi finansial – funding dari start up.

20160428_141539_HDR
David Rimbo, Donald Wihardja, Andi S Budiman, dan Wison Cuaca (ki-ka)

 

Diskusi panel ini dipandu oleh Wilson Cuaca (East Ventures), yang menghadirkan Andi S. Budiman (Ideosource), Donald Wihardja (Convergence Ventures), dan David Rimbo (TAS, EY Indonesia). Dari diskusi ini tidak banyak yang saya tangkap, mungkin karena saya tidak tertarik dengan diskusi yang bertemakan finance. Namun ada beberapa hal penting yang saya saya garis bawahi, yaitu saat Pak Andi S Budiman menjawab pertanyaan seorang audience tentang ketakutan atau kekhawatiran bahwa ide akan dicuri oleh orang lain.

Seloroh beliau, “Ide itu murah, tiak ada harganya. Yang membuat berharga adalah kalau kamu berusaha mewujudkan ide-ide tersebut.” Dan satu hal lagi, sebenarnya agak malu mengakui hal ini, bahwa akhirnya saya mengerti juga apa itu internet bubble 😀

Internet bubble adalah suatu fenomena disaat gap antara current value vs. future/expected value melambung sangat tinggi, sehingga mengakibatkan banyak orang berbondong-bondong (baca : freak out) menanamkan investasinya di bisnis internet. Secara mudah dapat dikatakan salah satu panelis : “Kalau suatu hari kamu melihat ibu atau saudara-saudara kamu ikut-ikutan membeli saham perusahaan internet, artinya kamu mengalami yang namanya internet bubble” Dan semua setuju bahwa fenomena ini kurang baik.

Back to logistic! 

20160428_120218_HDR

Melanjutkan diskusi panel sebelumnya, berikutnya Pak Hadi Kuncoro (CEO aCommerce) memandu jalannya panel discussion yang menghadirkan Yan Hendry Jauwena dari PT Pos Indonesia (yes, that sleeping giant), Madeleine Ong De Guzman (VP Marketing – Elevenia), dan M. Feriadi (Chairman Asperindo-Asosiasi Pengiriman Express Indonesia).

Saya ingat tepat setahun yang lalu pernah duduk satu meja dengan bu Madeleine ini di seminar & workshop ClickZ Digital Marketing Jakarta 2015. Beliau memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia yang kurang lancar dan sempat salah tangkap kalau dia tidak mau bicara banyak  (sebelumnya saya saat itu tidak tahu mengapa). Saya sempat diamkan, mungkin takut terganggu privacy-nya dalam mengikuti sesi workshop. Saya baru tahu kalau beliau Pinoy (orang Filipina), namun sudah belajar bicara dengan Bahasa Indonesia. Dan yang beliau sampaikan adalah : “Maaf, saya belum bisa bicara banyak dalam Bahasa Indonesia”. Saya salah dengar rupanya 🙂

And then I found that at that moment, kalau beliau (di usia yang sangat muda) sudah menjadi VP Marketing di Elevenia, e-commerce start up yang saat itu masih baru tergolong baru.  Later on, saya temukan kalau beliau sudah dapat penghargaan setingkat Asia, dan menjadi panelis di e-commerce summit ini. Hebat!

 

(bersambung ke Indonesia E-Commerce Summit and Expo Day 3 #IESE2016 – my next blogpost)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s